Sunday, July 10, 2011

Siak Negeri Istana

"Negeri Istana (gelar kota) itu, mengingatkan aku pada satu kota lain di Malaysia, yakni Negeri Malaka. Dari pengalamanku, kedua kota itu layak disebut sebagai kota kembar, karena tata kotanya sangat mirip. Bedanya, Siak berada dipinggiran sungai, sedangkan Malaka berada di tepian pantai." [Khalik]

Bagi penikmat sejarah, khususnya Melayu, kurang lengkapnya rasanya bila tidak menjejakkan kaki di negeri ini. Sejarahnya yang panjang, telah meninggalkan warisan peradaban Melayu yang mengagumkan dan pantas dibanggakan. Hingga kini, keagungan itu masih terasa, melalui berbagai situs budaya yang terpelihara dengan baik. Tak salah rasanya, jika ungkapan “Takkan Melayu Hilang Di Bumi” dilekatkan pada kota itu. Warisan budaya itu, dilengkapi pula dengan sejumlah bangunan modern yang belakangan dipacu pembangunannya oleh pemerintah daerah setempat. Tak pelak, kota itu menjadi salah satu lokasi wisata sejarah yang sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Dari Pekan Baru, Siak hanya berjarak sekira dua jam ke arah Timur. Aku mengunjungi negeri itu bertolak dari Pangkalan Kerinci, ibu kota Kab. Pelalawan. Dari kota yang dibangun PT Riau Andalan Pulp And Paper (RAPP) itu, dengan mengambil jalan pintas, jaraknya kurang lebih sama. Lintasannya juga mulus, meski pada beberapa ruas jalan ada kerusakan, tapi tidak terlalu mengganggu kenyamanan berkenderaan.

Berbekal pengalaman sebelumnya, Aku langsung berburu ke berbagai lokasi situs budaya peninggalan Kerajaan Siak Sri Indrapura itu. Dari bilboard yang terpampang di taman kota, di kabupaten itu terdapat 17 situs budaya yang bisa dikunjungi, sekaligus mendapatkan data tentang keberadaannya. Situs budaya itu, yakni Masjid Sultan Siak, Makam Sultan Syarif Kasim II (Pahlawan Nasional), Balai Karapatan Tinggi, Makam Syekh Abdurrahman, Jembatan Agung Sulthanah Latifah.

Kemudian, Makam Raja Kecik (Pendiri Kerajaan Siak), Kolam Hijau, Danau Naga Sakti, Monumen Pompa Angguk, Danau Zamrud, Makam Marhum Mempura, Tangsi Belanda, Klenteng Tua, Makam Koto Tinggi, Istana Sultan Siak (Asserayah Hasyimiyah), Kapal Kato dan Gereja Tua. Situs budaya itu berserak di berbagai wilayah Kab. Siak. Namun sebagian besar ada di Kota Siak.

Istana Sultan Siak dengan sebutan Istana Asserayah Hasyimyah (Matahari Timur), lokasi yang pertama kusambangi. Komplek istana berada di areal seluas 32.000 meter, sedangkan istana memiliki luas 1.000 meter. Istana menghadap langsung ke sungai Siak, berjarak sekira 200 meter dari tepian. Bangunan itu didirikan pada 1889 oleh Sultan Assyaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi (1784-1810).

Istana itu terdiri dari dua lantai. Di lantai dasar, terdapat beberapa ruangan, yakni ruang kebesaran, ruang rapat, ruang makan, ruang tamu dan ruang istirahat. Sedangkan dilantai atas, terdapat peraduan sultan dan istri serta ruangan keluarganya. Di luar istana, ada juga kediaman para petugas istana. Dalam beberapa tahun ini, Pemkab Siak juga membangun sebuah istana di belakangnya dengan arsitektur Istana Siak sebelumnya.

Di lantai dasar tersimpan berbagai peninggalan sejarah kerajaan. Beberapa peninggalan yang sempat teramati, yakni meriam kerajaan, sejumlah perjanjian antara sultan dengan beberapa kerajaan luar, silsilah raja-raja Siak. Kemudian foto-foto masa lalu terkait aktifitas kerajaan. Benda-benda peninggalan istana, mulai dari guci (buatan China) hingga piala ucapan selamat rakyat kepada sultan serta berbagai bentuk senjata tombak, keris dan pistol yang digunakan dalam berbagai peperangan. Sebelum memasuki istana, Aku menyempatkan melihat Kapal Kato (kapal api) yang tertambat di halaman samping istana sebagai kenderaan resmi sultan berpergian.

Selanjutnya dengan berjalan kaki sekira 50 meter arah Timur dari Istana, Aku memasuki komplek pemakaman Koto Tinggi. Di pemakaman keluarga kerajaan itu, sebagian besar bisa dilihat makam para sultan. Di antaranya makam Sultan Syarif Hasyim dan keluarga. Komplek itu terdiri dari satu bangunan yang diisi makam para sultan, sedangkan di luarnya ada makam keluarga kerajaan. Luasnya, 15 x 15 meter dengan perkiraan sekira 20 makam.

Berjalan kaki lagi ke arah Timur, Aku bertemu klenteng tua. Diperkirakan, klenteng itu berusia ratusan tahun. Karena dari data yang ada di istana, salah satu etnis yang berdiam di Kerajaan Siak, adalah etnis Tionghoa. Warga Tionghoa kala itu, menjadi salah satu tulang punggung kejayaan ekonomi Kerajaan Siak. Terdapat beberapa piala ucapan selamat kepada sultan dari taipan (pengusaha besar) warga Tionghoa, saat ulang tahun kerajaan maupun sultan, tersimpan di istana. Kebanyakan etnis Tionghoa di kerajaan itu berprofesi pedagang. Klenteng itu, berlokasi di pusat pasar tua Kota Siak.

Hingga kini, wajah pasar itu masih menyisakan cerita masa lalu. Bangunan-bangunan papan berlantai dua, terjaga dengan baik, karena dipelihara penghuninya yang juga keturunan Tionghoa. Pasar tua Siak, berada di bantaran sungai Siak dan berdekatan dengan dok (pelabuhan sungai). Para pedagang juga menggerai usahanya secara tertib. Tak terlihat kesemrawutan di pasar tua Siak itu. Sedangkan jalannya terlihat bersih dan rapi. Sulit menemukan sampah berserakan di jalanan. Kondisi pasar itu lah yang jadi pengingat, adanya hubungan kembar Kota Siak dengan Negeri Malaka di Malaysia.

Lebih ke ujung, terdapat gereja tua, namun kini pengelolaannya diambil oleh HKBP. Dari data yang terpampang di plang gereja, izin pendirian gereja itu bertarikh 1936. Bagian atap gereja terlihat sudah direnovasi, tapi bagian bawahnya, arsitektur klasik sebagai pertanda bangunan itu sudah berusia lama, masih terlihat.
Keberadaan gereja itu, menunjukkan adanya pemeluk Kristiani di Kerajaan Siak. Diperkirakan, pedagang Eropah maupun Belanda punya hubungan baik dengan kerajaan Melayu itu, hingga diijinkan membangun gerejaa. Misalnya, saat pembangunan istana sultan, dikabarkan dirancang dan dikerjakan oleh arsitek dan insinyur Eropah. Bahkan, Sultan Syarif Kassim I mendapat undangan penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada 1889 sebagai salah satu bukti hubungan erat itu. Di istana juga terdapat patung Ratu Wilhelmina setengah badan yang dibuat sultan, sebagai tanda kekagumannya atas ratu kerajaan penjajah itu.

Puas mengitari sisi Timur Kota Siak, setelah rehat sejenak, Aku melacak sebelah Barat kota tua itu. Yang pertama kutemukan adalah Masjid Sultan Siak atau Masjid Syahabuddin. Disamping masjid tua itu, terdapat makam Sultan Syarif Kasim II sultan terakhir Kerajaan Siak. Di masa Presiden BJ Habibie, sultan itu dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, karena pengabdian yang besar pada perjuangan Kemerdekaan RI. Sultan, kabarnya menghibahkan kekayaannya mencapai Rp13 juta Golden serta istana dan negerinya, demi perjuangan kemerdekaan. Makam Sultan Syarif Kassim II berada di sebelah masjid. Jirat makam sultan berbentuk 4 undak dari tegel dan marmer berukuran panjang 305 Cm, lebar 153 Cm dan tinggi 110 Cm.

Masjid Syahabuddin sendiri, berdiri pada 1926 oleh Sultan Syarif Kassim I ayah dari sultan terakhir Kerajaan Siak itu, kemudian selesai pada 1935. Dana pembangunan berasal dari kas kerajaan dan sumbangan masyarakat Siak, kala itu. Posisinya persis berada di bantaran sungai Siak. Luasnya mencapai 21,6x18,5 meter. Telah mengalami tiga kali renovasi tanpa menghilangkan keasliannya, yakni pada 1935, 1956 dan 2003. Nama Syahabuddin diambil dari kata Syahad, satu suku di Arabia asal dari sultan Kerajaan Siak, berawal dari sultan ke 2 Sultan Muhammad Ali. Arsitektur bangunan ini perpaduan antara Timur Tengah dan Eropah.

Asik dengan berbagai situs budaya Kerajaan Melayu Siak Sri Indrapura, tak terasa matahari mulai meninggi. Besar keinginan untuk terus melacak peninggalan keagungan kerajaan itu. Namun, waktu tak memberi peluang melakukannya. Aku pun mengaso di sebuah lokasi yang kusebut “Taman Tepian Sungai Siak.” Taman itu, berada di bantaran sungai Siak dengan Jalan Indragiri.

Jalan ini, merupakan areal jajanan kota yang telah ditata sedemikian rupa oleh Pemkab setempat. Lebar taman antara tepian sungai dan pinggir jalan, sekira 10 meter, tapi panjangnya mencapai 1.000 meter. Pada tepian sungai dibuat beronjong berfungsi sebagai jalan (speksi) dilengkapi pagar pengaman. Sedangkan rumah-rumah warga yang berjualan di pinggir Jalan Indragiri, depan rumah mereka menghadap jalan dan sungai. Penataan bantaran sungai terkesan sederhana, tapi bagi siapa saja yang datang ke sana, pasti akan terpesona. Bagi para pengambil kebijakan yang ingin memanfaatkan sungai sebagai lokasi wisata, tak salah kiranya melihat penataan taman tepian sungai Siak itu.

Sebagai penutup, jangan lupakan pula mengunjungi sejumlah bangunan modern yang dibangun Pemkab Siak, melengkapi kemegahan kota itu. Ada jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah (istri Sultan Syarif Kassim II), Masjid Raya Siak, kantor Bupati Siak dan Gedung DPRD Siak, Balai Karapatan Adat Melayu. Sedang dibangun pula GOR Siak serta beberapa fasilitas publik bercirikan ornamen Melayu. Bangun itu semua masuk kategori megah dan berbiaya miliyaran rupiah. Tak salah, jika Kab. Siak menyebut dirinya sebagai ‘Negeri Istana.’

Jembatan Ratu Agung Sultanah Latifah di atas sungai Siak, misalnya memiliki panjang 1.196 meter, lebar 16.95 meter dengan dua trotoar masing-masing 2,25 meter. Ketinggian 23 meter di atas permukaan sungai dengan lebar sungai Siak sekira 300 meter. Jembatan ditopang dua menara di sisi kedua tepi jembatan setinggi 80 meter. Pada puncak menara dirancang restoran yang dinaiki dengan lift untuk menerima wisatawan yang bakal menikmati kelokan sungai Siak bak ular. Kabarnya jembatan itu dibangun teknisi ITB Bandung dengan biaya Rp27 milyar, murni berasal dari APBD Kab. Siak. Diresmikan Presiden SBY bersama Gubernur Riau H. Rsuli Zainal dan Bupati Siak Arwin AS pada 2002. Jembatan itu dirancang sebagai ikon pariwisata Riau.

Yang lain adalah Masjid Raya Siak. Keluar dari jembatan penyeberangan memasuki inti kota, mata pun akan disambut kehadiran Masjid sangat megah itu. Masjid dengan lima kubah dan satu menara itu, diperkirakan bisa menampung 1.000 jemaah sholat. Terdiri dari ruang utama dan beranda, berhias ornamen dan ukiran Arab dan Melayu. Dilengkapi dengan perpustakaan, area parkir dan taman masjid. Yang jelas, masjid itu merupakan isyarat kemakmuran warga dari pendapatan asli daerah berasal dari minyak bumi dan minyak nabati (sawit) itu. Abdul Khalik

Sejarah Singkat Kerajaan Siak

Kerajaan Siak diperkirakan berdiri pada 1723 M oleh Raja Kecik bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah, putra dari Raja Johor Sultan Mahmudsyah dengan istri Encik Pong. Semasa Raja Kecik masih dalam kandungan, terjadi perebutan tahta di Kerajaan Johor, sekira 1699. Raja Johor Sultan Mahmudsyah tewas dibunuh Megat Sri Rama. Permaisuri Encik Pong yang lagi hamil tua, melarikan diri ke Singapura, kemudian menyeberang Ke Jambi. Dalam pelarian itulah Encik Pong melahirkan Raja Kecik. Belakangan Raja Kecik dipelihara oleh keluarga Kerajaan Pagaruyung Minangkabau.

Sepeninggal Sultan Mahmudyah, Kerajaan Johor diperintah sultan baru Datuk Bendahara Tun Habib bergelar Sultan Abdul Jalil Riayatsyah.

Akan halnya daerah Siak, masuk dalam teritorial Kerajaan Johor. Namun selama 100 tahun wilayah itu tidak memiliki pemimpin, hanya berada dalam pengawasan kesyahbandaran yang bertugas mengutip pajak dan cukai dari rakyat. Kata “Siak” berasal dari nama sejenis tumbuhan yang banyak di daerah itu, yakni siak-siak

Akan halnya Raja Kecik, setelah dewasa pada 1717 berhasil merebut tahta Kerajaan Johor. Namun, pada 1727, tampuk kekuasaan Raja Kecik justru berusaha dikudeta iparnya sendiri Tengku Sulaiman, anak dari Sultan Abdul Jalil Riayatsyah. Tengku Sulaiman, dalam upaya kudeta itu dibantu para bangsawan Bugis. Akibatnya Raja Kecik terpaksa mengundurkan diri dari pusat kekuasaan Kerajaan Johor.

Dalam beberapa kali pertempuran, terjadi pertumpahan darah yang besar. Kedua belah pihak kemudian, melakukan gencatan senjata dan mundur ke wilayah yang dikuasai. Tengku Sulaiman tetap berada di Johor, sedangkan Raja Kecik mundur ke Pulau Bintan. Kemudian, menyusuri sungai Siak dan mendirikan kerajaan di pinggiran sungai Buantan (anak sungai Siak). Dari situlah awal berdirinya Kerajaan Siak.

Sejak berada di tepian sungai Buantan, pusat kerajaan Raja Kecik selalu berpindah-pindah. Dari Buantan berpindah ke Mempura, lalu ke Senapelan Pekan Baru, Kemudian kembali lagi ke Mempura. Semasa pemerintahan Sultan Assyaidis Syarif Ismail Jalil Jalaluddin (1827-1864), pusat Kerajaan Siak berpindah ke Siak Sri Indrapura dan menetap di sana hingga melebur ke dalam NKRI pada 1946.

Kerajaan Siak bertahan selama 223 tahun (1723-1946) dengan sultan yang memerintah sebanyak 12 orang. Mereka adalah, Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah I (1725-1746), Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah II (1746-1765), Sultan Abdul Jalil Jalaluddin Syah (1765-1766), Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (1766-1780), Sultan Mhd. Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (1880-1782), Sultan Yahya Abdul Jalil Muzaffar Syah (1782-1784).

Kemudian, Sultan Assyaidis Asyarif Ali Abdul JalilSyaifuddin Baalawi (1784-1810),Sultan Assyaidis Syarif Ibrahim Abdul Jalil Khaliluddin (1810-1815), Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin (1815-1854), Sultan Assyaidis Syarif Kasyim Abdul Jalil Syaifuddin I (Syarif Kasim I) (1884-1889), Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin (1889-1908) dan Sultan Assyaidis Syarif Kasyim Abdul Jalil Syaifuddin I (Syarif kasim II) (1908-1946).

Sebagai catatan, Kerajaan Siak mencapai masa kegemilangannya di masa Sultan Assyaidis Assyarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi. Di masa pemerintahan sultan itu, kekuasaan Siak mencapai 12 wilayah jajahan, meliputi Temiang, Langkat, Deli, Serdang, Asahan, Kota Pinang, Pagarawan, Batubara, Bedagai, Kualuh, Panai, Bilah, bahkan hingga ke Sambas Kalimantan.Selain itu, kekuasaan di Riau meliputi, Pelalawan, Kubu, Bangka dan Tanah Putih. Itu sebabnya, reputasi Kesultanan Siak telah mewarnai berbagai proses kesejarahan berbagai Kerajaan Melayu di Sumatera Bagian Timur.

Dalam catatan Kerajaan Padang yang berpusat di Kota Tebingtinggi, pendiri kota itu, yakni Datuk Bandar Kajum, merupakan seorang laksamana angkatan laut Kerajaan Siak untuk wilayah Bedagai.

Pasca Sultan Assyaidis Assyarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi memerintah, kekuasaan Kerajaan Siak mulai menyusut. Selain terjadinya berbagai intrik di lingkungan istana, faktor terbesar adalah kehadiran Inggris dan Belanda di perairan Malaka. Dalam salah satu perjanjian antara Kerajaan Siak dan Belanda, seluruh jajahan Siak diserahkan kepada Belanda. Sehingga teritorial Siak hanya sebatas nama yang disandangnya. Wilayah hasil perjanjian dengan Belanda itulah yang kemudian melebur dengan NKRI.

BALAIRUNG SIAK : Balairung Sultan Sika, tempat bermulanya berbagaikebijakan kerajaan dalam rangka kesejhateraan rakyat.

ISTANA SIAK : Pusat pemerintahan Kerajaan Siak yang dibangun 1889.

MASJID RAYA : Masjid Raya Siak yang dibangun Pemkab Siak. Simbol Siak Negeri Istana.

[Dari Blog KhalikNews]
Lihat juga: Kesultanan Siak Sri Inderapura


Tuesday, June 14, 2011

Kesultanan Siak Sri Inderapura

Wikipedia - Kesultanan Siak Sri Inderapura merupakan sebuah Kerajaan Melayu yang pernah berdiri di daerah Provinsi Riau, Indonesia, tepatnya di Kabupaten Siak sekarang.

Awalnya kerajaan ini didirikan di Buantan oleh Raja Kecil, dari Pagaruyung yang bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723, setelah sebelumnya tersingkir atas tahta Kesultanan Johor.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia.

Etimologi
Kata Siak Sri Inderapura, secara harfiah dapat bermakna pusat kota raja yang taat beragama, Siak dalam anggapan masyarakat Melayu sangat bertali erat dengan agama Islam, Orang Siak ialah orang-orang yang ahli agama Islam, kalau seseorang hidupnya tekun beragama dapat dikatakan sebagai Orang Siak. Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti "bercahaya" dan indera atau indra dapat bermakna raja. Sedangkan pura dapat bermaksud dengan "kota" atau "kerajaan".

Membandingkan dengan catatan Tomé Pires yang ditulis antara tahun 1513-1515, belum menyebutkan adanya nama Siak antara kawasan Arcat dan Indragiri yang disebutnya sebagai kawasan pelabuhan raja Minangkabau, serta juga menyebutkan dari tiga raja MInangkabau itu hanya satu raja yang telah memeluk Islam,[2] sehingga jika dikaitkan dengan pepatah Minangkabau yang terkenal: Adat menurun, syara’ mendaki dapat bermakna masuknya Islam ke dataran tinggi pedalaman Minangkabau dari Siak sehingga orang-orang yang ahli dalam agama Islam, sejak dahulu sampai sekarang, masih tetap disebut dengan Orang Siak.

Nama Siak, dapat merujuk kepada sebuah klan di kawasan antara Pakistan dan India, Sihag atau Asiagh yang bermaksud pedang. Masyarakat ini dikaitkan dengan bangsa Asii,[3] masyarakat nomaden yang disebut oleh masyarakat Romawi, dan diidentifikasikan sebagai Sakai oleh Strabo seorang penulis geografi dari Yunani.[4] Berkaitan dengan ini pada sehiliran Sungai Siak sampai hari ini masih dijumpai masyarakat terasing yang dinamakan sebagai Orang Sakai.

Masa awal
Raja Kecil putra Pagaruyung dalam Hikayat Johor disebut juga dengan sang pengelana pewaris Sultan Johor yang kalah dalam perebutan kekuasaan. Sedangkan berdasarkan korespodensi Sultan Indermasyah Yang Dipertuan Pagaruyung dengan Gubernur Jenderal Belanda di Melaka waktu itu menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil merupakan saudaranya yang diutus untuk urusan dagang dengan pihak VOC.[5] Sultan Abdul Jalil dalam suratnya tersendiri yang ditujukan kepada pihak Belanda menyebut dirinya sebagai Raja Kecil dari Pagaruyung.[6]

Sebelumnya dari catatan Belanda, telah mencatat pada tahun 1674, ada datang utusan dari Johor untuk mencari bantuan bagi raja Minangkabau berperang melawan raja Jambi.[7] Kemudian berdasarkan surat dari raja Jambi, Sultan Ingalaga kepada VOC pada tahun 1694, menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil dari Pagaruyung, hadir menjadi saksi perdamaian dari perselisihan mereka.[8]

Pada tahun 1717 Sultan Abdul Jalil berhasil menguasai Kesultanan Johor sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai Sultan Johor, namun di tahun 1722 Sultan Abdul Jalil disingkirkan akibat pengkianatan beberapa bangsawan Johor dan kemudian ia pindah ke Siak serta mendirikan kerajaan baru yang dipimpinnya sendiri di tahun 1723.

Masa Keemasan
Di tahun 1724-1726 Sultan Abdul Jalil melakukan perluasan wilayah dimulai dengan memasukan Rokan ke dalam wilayah Kesultanan Siak, membangun pertahanan armada laut di Bintan bahkan di tahun 1740-1745 menaklukan beberapa kawasan di Kedah.

Pada tahun 1761, putra Sultan Abdul Jalil yang menjadi Sultan Siak berikutnya membuat perjanjian ekslusif dengan pihak Belanda, dalam urusan dagang dan hak atas kedaulatan wilayahnya serta bantuan dalam bidang persenjataan.

Pada abad ke-18 Kesultanan Siak telah menjadi kekuatan yang dominan di pesisir timur Sumatera. Tahun 1780 Kesultanan Siak menaklukkan daerah Langkat, dan menjadikan wilayah tersebut dalam pengawasannya,[9] termasuk wilayah Deli dan Serdang.[10]

Jangkauan terjauh pengaruh Kesultanan Siak sampai ke Sambas di Kalimantan Barat. Kesultanan Siak mengambil keuntungan atas pengawasan perdagangan melalui Selat Melaka dan kemampuan mengendalikan para perompak di kawasan tersebut.

Penurunan
Ekspansi kolonialisasi Belanda ke kawasan timur Pulau Sumatera tidak mampu dihadang oleh Kesultanan Siak, dimulai dengan lepasnya Kesultanan Deli, Kesultanan Asahan dan Kesultanan Langkat, kemudian muncul Kesultanan Inderagiri yang menjadi vassal dari Kesultanan Aceh.

Penguasaan Inggris atas Selat Melaka, mendorong Sultan Siak pada tahun 1840 untuk menerima tawaran perjanjian baru mengganti perjanjian yang telah mereka buat sebelumnya pada tahun 1819. Perjanjian ini menjadikan wilayah Kesultanan Siak semakin kecil dan terjepit antara wilayah kerajaan kecil lainnya yang mendapat perlindungan dari Inggris. Sementara pada tahun 1859 Belanda membatalkan niat mereka untuk menaklukan Kesultanan Siak, dan memilih untuk tetap menjadikan Kesultanan Siak berdaulat atas wilayahnya setelah Sultan Siak menjamin untuk menghancurkan para perompak yang bersembunyi di wilayahnya.

Perubahan peta politik atas penguasaan jalur Selat Malaka dan persaingan dengan beberapa kerajaan lain seperti dengan Kesultanan Aceh, Kesultanan Johor, Kesultanan Jambi bahkan dengan pihak Inggris dan Belanda melemahkan pengaruh hegemoni Kesultanan Siak atas wilayah-wilayah yang pernah dikuasainya. Kemampuan Kesultanan Siak dalam melakukan negoisasi menjadikan kerajaan ini tetap bertahan sampai kemerdekaan Indonesia, walau pada masa pendudukan tentara Jepang sebagian besar kekuatan militer Kesultanan Siak sudah tidak berarti lagi.

Bergabung dengan Indonesia
Sultan Syarif Kasim II, merupakan Sultan Siak terakhir yang tidak memiliki putra, seiring dengan kemerdekaan Indonesia, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan negara Republik Indonesia.

Struktur pemerintahan
Pengaruh Kerajaan Pagaruyung, juga mewarnai sistem pemerintahan pada Kesultanan Siak, setelah Sultan Siak, terdapat Dewan Menteri yang mirip dengan kedudukan Basa Ampek Balai di Minangkabau.

Dewan Menteri ini memiliki kekuasaan untuk memilih dan mengangkat Sultan Siak, sama dengan Undang Empat di Negeri Sembilan. Dewan Menteri bersama dengan Sultan menetapkan undang-undang serta peraturan bagi masyarakatnya. Dewan menteri ini terdiri dari:

1. Datuk Tanah Datar
2. Datuk Limapuluh
3. Datuk Pesisir
4. Datuk Kampar

Potret Sultan Siak, Sultan Syarif Kasim II dan istrinya (1910-1939)

Pada kawasan tertentu dalam Negeri Siak, ditunjuk Kepala Suku yang bergelar Penghulu, yang dibantu oleh Sangko Penghulu, Malim Penghulu serta Lelo Penghulu. Sementara terdapat juga istilah Batin, dengan kedudukan yang sama dengan Penghulu, namun memiliki kelebihan hak atas hasil hutan yang tidak dimiliki oleh Penghulu. Batin ini juga dibantu oleh Tongkat, Monti dan Antan-antan. Istilah Orang Kaya juga digunakan untuk jabatan tertentu dalam Kesultanan Siak, sama halnya dengan pengertian Rangkayo atau Urang Kayo di Minangkabau terutama pada kawasan pesisir.

Dalam pelaksanaan masalah pengadilan umum di Kesultanan Siak diselesaikan melalui Balai Kerapatan Tinggi yang dipimpin oleh Sultan Siak, Dewan Menteri dan dibantu oleh Kadi Negeri Siak serta Controleur Siak sebagai anggota.

Salah satu kitab hukum atau undang-undang di Negeri Siak, dikenal dengan nama Bab Al-Qawa'id. Kitab ini mengurakan hukum yang dikenakan kepada masyarakat Melayu dan masyarakat lain yang terlibat perkara dengan masyarakat Melayu. Namun tidak mengikat orang Melayu yang bekerja dengan pihak pemerintah Hindia-Belanda, di mana jika terjadi permasalahan akan diselesaikan secara bilateral antara Sultan Siak dengan pemerintah Hindia-Belanda.[11]

Dalam administrasi pemerintahannya Kesultanan Siak telah membagi beberapa kawasan dalam bentuk distrik yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Datuk atau Tuanku atau Yang Dipertuan dan bertanggungjawab kepada Sultan Siak yang juga bergelar Yang Dipertuan Besar. Pengaruh Islam dan keturunan Arab mewarnai Kesultanan Siak, salah satunya keturunan Al-Jufri yang bergelar Bendahara Patapahan,[12] serta arsitektur istana Sultan Siak yang dibangun pada tahun 1889.

Daftar Sultan Siak
Berikut adalah daftar Sultan Siak Sri Inderapura.
  1. 1723-1746 Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah I
  2. 1746-1765 Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah II
  3. 1765-1766 Sultan Abdul Jalil Jalaluddin Syah
  4. 1766-1780 Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah
  5. 1780-1782 Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah
  6. 1782-1784 Sultan Yahya Abdul Jalil Muzaffar Syah Dimakamkan di Tanjung Pati (Che Lijah, Dungun, Terengganu, Malaysia)
  7. 1784-1810 Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi
  8. 1810-1815 Sultan Assyaidis Syarif Ibrahim Abdul Jalil Khaliluddin
  9. 1815-1864 Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin Dipaksa Belanda turun tahta tahun 1864
  10. 1864-1889 Sultan Assyaidis Syarif Kasyim Abdul Jalil Syaifuddin I
  11. 1889-1908 Yang Dipertuan Besar Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin[11] Sultan Syarif Hasyim
  12. 1915-1946 Yang Dipertuan Besar Syarif Kasyim Abdul Jalil Saifuddin[13] Sultan Syarif Kasim II Menyerahkan kerajaannya pada pemerintah Republik Indonesia
Warisan sejarah
Siak Sri Inderapura sampai sekarang tetap diabadikan sebagai nama ibu kota dari Kabupaten Siak, dan Istana Siak Sri Inderapura dan Balai Kerapatan Tinggi yang dibangun tahun 1886 masih tegak berdiri sebagai simbol kejayaan masa silam, termasuk Tari Zapin dan Tari Olang-olang yang pernah mendapat kehormatan menjadi pertunjukan utama untuk ditampilkan pada setiap perayaan di Kesultanan Siak Sri Inderapura. Nama Siak masih melekat merujuk kepada nama sebuah sungai di Provinsi Riau sekarang, yaitu Sungai Siak yang bermuara pada kawasan timur pulau Sumatera.

Rujukan
  1. Supplement-catalogus Der Maleische en Minangkabausche Handschriften in de Leidsche Universiteits - Bibliotheek, Brill Archive.
  2. Cortesão, Armando, (1944), The Suma Oriental of Tomé Pires, London: Hakluyt Society, 2 vols.
  3. Tod, James (1899). The annals and antiquities of Rajastʾhan: or the central and ..., Volume 2. Indian Publication Society. hlm. 1010. http://books.google.co.in/books?ei=QfOgS9KvD4TylQSPvZD1CQ&cd=1&id=rjJLAAAAYAAJ&dq=Asiagh+james+tod&q=Asiagh+Asi.
  4. Iaroslav Lebedynsky. (2006). Les Saces: Les «Scythes» d'Asie, VIIIe siècle av. J.-C. — IVe siècle apr. J.-C. Editions Errance, Paris. ISBN 2-87772-337-2
  5. Coolhaas, W.P. (1964). "Generale Missiven der V.O.C.". Journal of Southeast Asian History 2 (7). doi:10.1017/S0217781100003318.
  6. NA, VOC 1895, Malacca, 30 Januari 1718, fols.55-6.
  7. Andaya, L.Y., (1971), The Kingdom of Johor, 1641-1728: a study of economic and political developments in the Straits of Malacca. s.n.
  8. NA, VOC 1557, Jambi, 1 April 1694, fols.35-6.
  9. Penelitian dan pengkajian naskah kuno daerah Jambi, Volume 2, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, 1989
  10. Cribb, R. B., Kahin, A., (2004), Historical dictionary of Indonesia, Scarecrow Press, ISBN 0810849356.
  11. a b Luthfi, A., (1991), Hukum dan perubahan struktur kekuasaan: pelaksanaan hukum Islam dalam Kesultanan Melayu Siak, 1901-1942, Susqa Press.
  12. L.W.C. van de Berg, Le Hadramouth et les colonies Arabes dans l'archipel Indien, Batavia:Imprimerie du gouvernement, 1886.
  13. Dutch East Indies, (1941), Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië, Volume 1.
Daftar Pustaka
  • D. J. Goudie, P. L. Thomas, T. Effendy, (1989), Syair Perang Siak: a court poem presenting the state policy of a Minangkabau Malay royal family in exile, MBRAS.
  • A. Flicher, Les Etats princiers des Indes néerlandaises, Dreux 2009
  • Luthfi, A., (1991), Hukum dan perubahan struktur kekuasaan: pelaksanaan hukum Islam dalam Kesultanan Melayu Siak, 1901-1942, Susqa Press.
  • Ghalib, W. dkk, (1992), Adat istiadat Melayu Riau di bekas Kerajaan Siak Sri Indrapura: pengkajian dan pencetakan kebudayaan Melayu Riau, Lembaga Adat Daerah Riau, Lembaga Adat Riau dan Pemerintah Daerah Tk. I Prop. Riau, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Riau.
  • H. T. S. Umar Muhammad, Tenas Effendy, T. Razak Jaafar, (1988), Silsilah keturunan raja-raja Kerajaan Siak Sri Indrapura dan Kerajaan Pelalawan.s.n.

Lihat Pula Pranala luar
Search Wikimedia Commons Wikimedia Commons memiliki kategori mengenai Kesultanan Siak Sri Inderapura

Friday, June 10, 2011

Redefinisi Melayu

UPAYA MENJEMBATANI PERBEDAAN KEMELAYUAN DUA BANGSA SERUMPUN

Kebudayaan modern dan post-modern menimbulkan perubahan di berbagai aspek kehidupan dengan tingkat kecepatan yang mengejutkan. Perubahan itu dipicu oleh kecepatan pertukaran informasi yang disajikan setiap detiknya oleh cybermedia, televisi, radio dan media-media lain (Bernard T. Adeney, 2004). Media-media informasi itu mengaburkan batas-batas fisik dan budaya -- oleh Arjun Appadurai disebut “deteritorialisasi” -- sehingga menciptakan dunia baru dengan batas-batas wilayah dan nilai yang bersifat relatif.

Proses deteritorialisasi ini merupakan suatu proses penting karena ia menjadi titik balik peradaban kontemporer yang memiliki implikasi yang luas dalam berbagai proses sosial dan budaya (Irwan Abdullah, 2006). Implikasi positif atau negatif dapat terjadi dalam proses sosial dan budaya itu, yang diawali dengan perubahan cara berpikir dan cara memandang dunia. Upaya-upaya menduniakan nilai-nilai luhur Melayu menjadi sangat penting sebagai penyeimbang ide dan gagasan dari luar dunia Melayu yang bersifat destruktif.

Sebelum membicarakan bagaimana seharusnya bangsa Melayu memanfaatkan efektivitas teknologi informasi untuk membangun peradabannya, terlebih dahulu kita membahas tentang apa itu Melayu dengan pengertian yang lebih luas. Pembahasan ini bertujuan memberikan penawaran definisi baru yang tidak berpihak pada suku bangsa Melayu tertentu dan mengesampingkan yang lain. Jika definisi baru yang dimaksud dapat diterima, maka pekerjaan-pekerjaan selanjutnya yang menjadi tanggung jawab kolektif dapat dilaksanakan secara bersama-sama. Perbedaan pendapat tentang apa itu Melayu merupakan isu lama yang terbentuk di bawah pengaruh sejarah, agama, fanatisme ras, batas-batas geografis, dan afiliasi politik setiap individu. Kondisi lingkungan dan afiliasi seseorang pada hal-hal di atas mempengaruhi konsepsinya dalam melihat dan memaknai Melayu, sehingga nilai subyektivitasnya lebih mengemuka. Biasanya pengertian Melayu yang muncul menjadi sempit dengan merujuk kepada pengalaman dan afiliasi pribadinya, seperti Melayu adalah Islam jika yang mendefinisikan adalah penganut agama Islam; Melayu adalah Riau jika yang berbicara orang Riau; Melayu adalah Malaka jika yang berbicara berasal dari Malaka, dan seterusnya.

Oleh karena itu, diperlukan upaya redefinisi Melayu melalui paradigma holistik yang dapat mengakomodir berbagai aspek: sejarah, budaya, agama, ras, dan bahasa dalam satu bingkai pengertian yang utuh sehingga seluruh puak Melayu di dunia dapat diakui identitasnya sebagai orang Melayu. Upaya penawaran redefinisi ini penting karena beberapa alasan: pertama, untuk menumbuhkan kesadaran bahwa seluruh puak Melayu di dunia adalah saudara serumpun, meskipun mereka memiliki beberapa perbedaan, seperti ras, agama, bahasa, dan kewarganegaraan. Kedua, untuk mempersatukan kembali puak-puak Melayu yang telah terkecai-kecai akibat politik pecah belah pemerintah kolonial. Ketiga, untuk mengoptimalkan potensi bangsa Melayu, baik secara kualitas maupun kuantitas, dalam menghadapi persaingan global, sehingga menjadi bangsa yang mandiri dan bermarwah.


UPAYA REDEFINISI MELAYU

Tidak mudah memberikan redefinisi Melayu yang dapat memuaskan semua pihak. Sejauh ini, upaya saya meredefinisikan Melayu dan telah saya wujudkan dalam struktur dan isi di MelayuOnline.com dinilai oleh beberapa orang masih problematis. Melalui MelayuOnline.com, saya meredefiniskan Melayu sebagai “bangsa di manapun mereka berada yang pernah atau masih mempraktekkan budaya Melayu tanpa dibatasi sekat-sekat agama, ras, bahasa, geografi, dan afiliasi politik”. Yang perlu saya tegaskan di sini adalah bahwa upaya redefinisi Melayu tersebut bertujuan untuk mengakomodir dan menyatukan seluruh puak Melayu se-dunia dengan memanfaatkan teknologi informasi, bukan untuk menambah daftar perbedaan definisi.

Kenyataan bahwa bangsa Melayu telah ada sejak zaman pra Hindu-Buddha, kemudian berkembang dan menyebar ke berbagai penjuru dunia merupakan alasan MelayuOnline.com meredefinisikan Melayu berdasarkan kesamaan sejarah dan budaya. Secara umum, identitas bangsa Melayu hingga saat ini ditopang oleh empat pilar yang terdiri dari empat fase sejarah: pilar pertama adalah fase pra Hindu-Buddha; pilar kedua, fase Hindu-Buddha; pilar ketiga, fase Islam; dan pilar keempat, fase kolonialisme.

Oleh karena panjangnya perjalanan sejarah, luasnya persebaran area, dan perbedaan pengalaman interaksi dengan bangsa lain, maka tingkat pengaruh pilar-pilar tersebut terhadap suku bangsa Melayu yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Hal itu tergantung pada tempat di mana suku bangsa Melayu berada, kondisi lingkungannya, dan intensitas interaksinya dengan budaya lain. Misalnya, pengaruh Islam pada suku bangsa Melayu di daerah tertentu sangat kuat, seperti di Minangkabau, tetapi di daerah lain tidak kuat, seperti pada suku-suku Melayu di pedalaman Sumatra. Untuk memperjelas perbedaan tingkat pengaruh masing-masing pilar tersebut, di sini saya mencoba menjelaskan keempat pilar tersebut secara ringkas.


a. Fase Pra-Hindu-Budha

Bangsa Melayu diperkirakan telah ada di kawasan Nusantara sejak 3.000 tahun sebelum Masehi, yang dikenal sebagai “Proto-Melayu” (Harun Mat Piah, 1993). Mereka meninggalkan benda-benda bersejarah yang sangat penting sebagai penanda kemajuan peradaban Melayu saat itu. Di berbagai kawasan di Nusantara banyak ditemukan patung-patung, palungan-palungan tempat menyimpan tengkorak, menhir-menhir untuk menghormati arwah nenek moyang, dan lain-lain. Proto-Melayu merupakan pendukung kebudayaan zaman batu yang mampu menghasilkan bahan-bahan makanan dengan cara bercocok tanam (D.G.E. Hall).

Kemudian, sekitar tahun 300 SM, menyusul pendatang Melayu lainnya, yaitu “Deutro-Melayu”. Kedatangan mereka mendesak sebagian Proto-Melayu hingga mereka pindah ke daerah-daerah pedalaman, dan sisanya bercampur dengan pendatang baru (Mahdini, 2003). Kebudayaan Deutro-Melayu jauh lebih maju dengan mengembangkan peralatan-peralatan dari perunggu dan besi. Peninggalan-peninggalan Proto dan Deutro-Melayu dinilai oleh Hall sebagai peradaban Melayu kuno yang telah memiliki ciri dan karakternya sendiri, sebelum mereka dipengaruhi oleh kebudayaan India. Hall mencatat bahwa beberapa komunitas Proto dan Dutro-Melayu hingga kini masih ada dan tersebar di berbagai kawasan di Indonesia, terutama di daerah-daerah pedalaman, dengan tetap mempraktekkan kepercayaan animisme dan dinamisme (D.G.E. Hall).


b. Fase Hindu-Budha

Peradaban Melayu memasuki babak baru ketika masyarakat Melayu kuno menjalin hubungan dengan bangsa India. Hubungan antara masyarakat Melayu dengan India diperkirakan telah mulai sejak abad ke 3 Masehi melalui jalur-jalur perdagangan. Hall memperkirakan orang-orang Melayu, pada waktu itu, sudah banyak yang sampai ke India, mengingat mereka adalah pelaut ulung. Meski demikian pengaruh Hindu-Buddha baru berkembang pesat di Nusantara pada abad ke 5 M. Kerajaan Kutai di Kalimantan, patung-patung Buddha gaya Amaravati yang ditemukan di beberapa tempat di Sulawesi, Jawa, dan Sumatra menunjukkan perkembangan pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha yang cukup signifikan pada abad itu (D.G.E. Hall).

Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha di Nusantara mencapai puncak kegemilangannya pada abad ke-9 hingga ke-15 M. Di antara kerajaan Hindu- Buddha di Nusantara yang besar adalah Sriwijaya di Sumatra; Kediri, Singasari, dan Majapahit di Jawa. Kitab Nagarakartagama mencatat daerah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya menguasai 22 daerah di Pulau Sumatra. Versi lain menyebutkan bahwa pada masa kegemilangannya, Sriwijaya menguasai sebagian besar daerah di Nusantara, termasuk Kamboja (Harun Mat Piah, 1993). Memasuki abad ke-13, dominasi kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha berangsur angsur memudar. Periode itu ditandai dengan melemahnya kerajaan Majapahit, dan di saat yang sama, terjadi penyebaran ajaran Islam secara aktif dan meluas ke berbagai kawasan di Nusantara.

Pengaruh budaya Hindu-Buddha pada masyarakat Melayu hingga dewasa ini terlihat pada upacara-upacara adat, arsitektur bangunan dan bahasa Melayu. Contoh kata dalam bahasa Melayu yang berasal dari kata Sansekerta di antaranya adalah bulan, berasal dari kata “vulan”, sampan dari “samvau”, seribu dari “sarivu”, dan lain-lain. Sebagian puak Melayu yang masih memeluk agama Hindu-Buddha hidup di beberapa negara, seperti Kamboja, Myanmar, dan Vietnam.


c. Fase Islam

Islam masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan sejak sekitar abad ke-11, dan berkembang semakin cepat mulai abad ke-13. Perbedaan pendapat antarpeneliti terjadi seputar dari mana Islam datang, dan siapa yang membawanya masuk ke Nusantara. Ada yang berpendapat bahwa Islam datang dari Cina, Gujarat, India, Persia atau Turki. Terlepas dari perbedaan tersebut, agama ini telah diterima secara luas oleh bangsa Melayu karena sifatnya yang egaliter dan populis. Islam tidak mengenal sistem kasta dan kependetaan, sehingga memungkinkan keterlibatan semua lapisan masyarakat dalam seluruh bidang kehidupan, termasuk pendidikan (Abdul Hadi, 2008).

Faktor penting lainnya yang menyebabkan Islam cepat berkembang di Nusantara adalah karena penyebaran agama ini didukung oleh tiga kekuatan, yaitu istana, pesantren dan pasar (Taufik Abdullah, 1988). Istana sebagai pusat kekuasaan berperan dalam memberikan legitimasi politis untuk disebarkan kepada rakyat yang bernaung di bawahnya. Pesantren yang dikelola oleh kaum tarekat berperan memberikan penjelasan tentang esensi Islam sebagai agama yang membumi dan mudah dicerna. Sifat pesantren yang terbuka untuk siapapun tanpa memandang latar belakang suku, ras dan status sosial, menjadikan lembaga ini sebagai tempat rujukan masyarakat untuk belajar mendalami ajaran Islam. Sementara itu, pasar merupakan daerah pemukiman para saudagar, kaum terpelajar, dan kelas menengah lain yang berhadapan langsung dengan situasi kultural yang sedang berkembang. Di sini, dialog dan pertukaran pikiran dan informasi tentang masalah perdagangan, politik, sosial dan keagamaan berjalan sangat cepat.

Dengan didukung oleh ketiga kekuatan tersebut, pengaruh Islam dalam masyarakat Melayu begitu mantap. Secara kultural, Islam disebarkan melalui pesantren dan pasar; dan secara politik dilegitimasi oleh istana. Ilmu pengetahuan Islam seperti syariah, tasawuf, kalam, tafsir, dan hadis, dan ilmu pengetahuan umum seperti, ilmu hisab, perkapalan, estetika, astronomi, logika, ekonomi dan perdagangan, dan lain-lain, berkembang begitu pesat. Perkembangan keimanan dan keilmuan secara bersama-sama menempatkan Islam sebagai poros bagi kehidupan masyarakat Melayu, yang mempengaruhi semua dimensi kehidupan mereka. Terdapat ungkapan yang populer yang secara eksplisit menunjukkan kuatnya pengaruh Islam, “adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah”. Namun perlu diingat bahwa Islam menjadi agama mayoritas masyarakat Melayu yang hidup di kawasan pesisir, tidak menjadi agama mayoritas di daerah pedalaman.


d. Fase Kolonialisme

Daerah-daerah pedalaman yang tidak tersentuh oleh persebaran Islam menjadi sasaran utama bagi misionaris Kristen yang dibawa oleh bangsa kolonial Eropa mulai abad ke-16. Pemerintah kolonial, Belanda dan Inggris, tidak melakukan penginjilan Kristen di tengah penduduk Muslim yang sudah mapan karena sadar bahwa hal itu dapat merongrong “keamanan dan ketertiban” yang sangat penting bagi kepentingan material bangsa Eropa (Robert W. Hefner, 2007). Upaya menciptakan kantong-kantong Kristen di daerah pedalaman dirasa oleh pemerintah kolonial lebih aman, di samping untuk membangun keberpihakan penduduk lokal kepada pihak kolonial. Proses kristenisasi berjalan selama bertahun tahun, sehingga beberapa suku bangsa Melayu yang menetap di daerah pedalaman, seperti Batak Karo di Sumatra Utara dan Toraja di pedalaman Sulawesi, mayoritas menganut agama Kristen. Perbedaan agama inilah yang kemudian dijadikan sebagai salah satu batas identitas antara Melayu dan bukan Melayu sampai dewasa ini.

Di samping kristenisasi, peran kolonialisme dalam mengkotak-kotak bangsa Melayu juga ditempuh melalui jalur politik. Perjanjian antara Inggris dan Belanda pada 17 Maret tahun 1824, dikenal dengan Traktat London, secara sepihak telah membagi wilayah Melayu menjadi dua, yaitu sebelah utara menjadi daerah kekuasaan Inggris, dan selatan daerah kekuasaan Belanda. Pembagian administratif kolonialis semacam itu pada perjalanannya melahirkan negara Indonesia, Malaysia dan Singapura. Bahasa Melayu di tiga negara itupun berkembang di bawah pengaruh bahasa masing-masing negara kolonial itu. Bahasa Indonesia banyak dipengaruhi oleh bahasa Belanda, sedangkan bahasa Melayu Malaysia dan Singapura banyak dipengaruhi oleh bahasa Inggris.

Keempat fase tersebut berada dalam frame sejarah peradaban bangsa Melayu dan telah membentuk identitas dan kepribadian mereka secara umum. Namun perbedaan-perbedaan corak kebudayaan antarsuku bangsa Melayu menunjukkan adanya tingkat keterpengaruhan yang berbeda-beda dari setiap fase sejarah itu. Ada suku bangsa Melayu yang kuat tradisi Islam atau Kristennya, namun ada juga yang tetap menjaga tradisi Hindu-Buddha dan dinamisme-animisme. Memang mayoritas masyarakat Melayu telah memeluk agama Islam, berkat keberhasilan para misionaris Islam di Nusantara sejak abad ke-11. Akan tetapi tidak dapat dinafikan bahwa di kawasan tertentu terdapat masyarakat atau komunitas Melayu yang tidak memeluk agama Islam, seperti masyarakat Melayu di SoE, Nusa Tenggara Timur yang mayoritas beragama Kristen, dan komunitas Melayu di daerah-daerah pedalaman Riau, seperti Talang Mamak yang masih menganut tradisi animisme dan dinamisme. Perbedaan-perbedaan keyakinan tersebut tidak serta-merta mengeliminasi komunitas Melayu tertentu dari identitas utamanya (Melayu), karena akar perbedaan tumbuh secara alami atas pengaruh perjalanan sejarah, kondisi lingkungan, dan hasil interaksi dengan bangsa dan budaya lain.

Pemaknaan Melayu dan kemelayuan tampak semakin kompleks ketika seseorang melihat identitas kemelayuannya berdasarkan pengalaman dan afiliasi pribadinya. Bentuk terkecil dari afiliasi seseorang adalah keluarga, kemudian komunitas, masyarakat, dan negara. Di dalam masyarakat dan negara terdapat juga afiliasi kelas sosial, agama, pendidikan, ideologi, politik dan lain-lain yang berpengaruh besar pada upaya pemaknaannya tentang Melayu. Umumnya, Melayu selalu diidentikkan dengan Islam sebagai agama yang paling berpengaruh di masyarakat Melayu hingga dewasa ini. Pengertian ini tidak salah, tetapi bersifat agak sempit dan individual yang jika ditarik dalam konteks yang lebih luas, misalnya pada level masyarakat atau negara, akan memiliki muatan politis. Hefner mencatat bahwa dalam perjalanan sejarah bangsa Melayu, para bangsawan pribumi telah sukses membungkus etnisitas mereka dengan baju Islam untuk mempertahan posisi-posisi strategis di hadapan para penjajah (Robert W. Hefner, 2007). Dengan kata lain, penggunaan Islam sebagai identitas kemelayuan merupakan strategi para bangsawan untuk tetap mendapatkan dukungan dari rakyat dalam menghadapi dominasi penjajah.

Memang sejauh ini definisi umum tentang siapa itu orang Melayu selalu menyandingkan etnisitas Melayu dan agama Islam secara sejajar. Secara ontologis, kemelayuan dan keislaman merupakan dua dimensi yang berbeda. Etnik Melayu merupakan kumpulan individu-individu yang hidup di suatu tempat dan membentuk struktur sosial. Sementara itu Islam adalah agama yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Melayu untuk menjalin hubungan dengan Tuhan. Yang pertama menciptakan hubungan horisontal, sedangkan yang kedua vertikal. Maka jika definisi Melayu dibatasi pada identitas etnik dan agama, akan menciptakan posisi yang tumpang tindih antara agama sebagai sistem kepercayaan yang bersifat individual dan etnisitas sebagai struktur sosial (Ansor, 2005).

Dengan demikian, mendefinisikan Melayu tidak bisa hanya dengan melihat satu fase sejarah atau satu afiliasi saja, misalnya dengan Islam. Tetapi mesti melihat rentang sejarah dan perkembangan budaya yang lebih jauh dan luas, sehingga upaya mendefinisikan Melayu tidak memutus mata rantai sejarah bangsa Melayu itu sendiri. Definisi Melayu akan menjadi sempit jika dibatasi dengan ras, agama, bahasa, batas-batas geografis, atau afiliasi politik.


MELAYU DI INDONESIA DAN MALAYSIA: PEMAKNAAN MELAYU YANG REDUKTIF

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, batas-batas geografis politis bangsa Melayu pertama kali diciptakan oleh bangsa Eropa melalui Traktat London. Kebijakan kolonialis tersebut menyebabkan polarisasi bangsa Melayu menjadi Melayu Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei. Konsep baru tentang negara bangsa semakin menegaskan bahwa secara politis dan geografis bangsa Melayu yang duhulu merupakan kesatuan menjadi terpecah-pecah di masing-masing negara. Pengertian utama dari “bangsa”, yang paling sering dikemukakan dalam literatur, adalah definisi politis. Bangsa meliputi seluruh rakyat yang hidup dan diakui secara legal sebagai warga oleh negara tertentu yang memiliki batas batas teritorial tertentu, sehingga secara politis mereka menjadi satu dan tidak terbagi. Secara politis anggota-anggota suatu nasionalitas berkeinginan untuk berada di bawah pemerintahan yang sama, dan pemerintahan itu dibentuk oleh mereka atau sebagian dari mereka (E.J. Hobsbawm, 1992). Dengan demikian pasca kolonialisme muncul bermacam-macam bangsa di Asia Tenggara. Ada bangsa Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan lain sebagainya.

Sentimen nasional secara demokratis menyatukan seluruh elemen rakyat tanpa membedakan agama, bahasa, ras dan etnisitas. Persatuan dan kesatuan bangsa, dalam pandangan demokratik-revolusioner, jauh lebih penting dari perbedaan-perbedaan itu. Oleh sebab itu baik di Indonesia atau Malaysia, warga keturunan Arab, India dan Cina menjadi satu kesatuan integral dengan orang-orang Melayu dalam masing-masing negara. Pengertian bangsa yang beralaskan definisi politik semacam itu secara perlahan-lahan mendominasi paradigma pemikiran mayoritas manusia modern yang berakibat pada tergusurnya pengertian persatuan bangsa dalam wadah persamaan budaya.

Konsep negara bangsa modern telah membangun self-concept setiap warga suatu negara tentang siapa dia, berasal dari lingkungan apa dan negara mana. Pemikir asal Mesir, Sayyid Yassin, berpendapat bahwa self-concept dibentuk secara sadar, terencana dan dinamis, yaitu selalu berubah dan berkembang sesuai dengan perubahan dan perkembangan kondisi internal dan eksternal. Dari perubahan dan perkembangan self-concept inilah hubungan antar individu atau kelompok, maupun hubungan antar dua bangsa dapat dijelaskan (Sayyid Yassin, 2002). Adanya self-concept dalam diri anggota-anggota sebuah negara menciptakan identifikasi siapa “kita” dan siapa “mereka”. Dalam hal ini bangsa Indonesia memandang Malaysia sebagai “mereka”, begitu juga sebaliknya, meskipun secara etnisitas dan budaya berasal dari rumpun yang satu.

Pencitraan diri melalui self-concept secara politis, dengan tegas membedakan antara warga negara tertentu dengan orang di luar negara itu. Dahulu, sebelum menguatnya identitas Melayu politis, kedua bangsa Indonesia dan Malaysia melakukan shared values yang didasarkan atas persaudaraan serumpun. Namun dalam perkembangannya, hubungan kedua bangsa serumpun ini banyak diwarnai ketegangan-ketegangan. Perkembangan dan perubahan pandangan bangsa Malaysia secara eksternal dipengaruhi pengalaman sejarah ‘ganyang Malaysia‘ oleh Orde Lama, sejumlah pendatang gelap Indonesia di Malaysia, kabut asap (jerebu) tahunan asal Sumatra dan Kalimantan, dan lain sebagainya. Sehingga, muncul conflicting values antara kedua bangsa yang ditandai dengan penilaian bahwa Indonesia adalah “jiran yang problematik” oleh beberapa pihak di Malaysia.

Ketika masing-masing bangsa secara politis telah membangun self-concept nya sendiri-sendiri, maka persamaan-persamaan kultural dan etnisitas yang dahulu secara komunal dapat menyatukan, kini telah luntur. Meluasnya prasangka-prasangka, baik dari pihak warga Indonesia maupun Malaysia, merupakan contoh yang menyangkal bahwa persamaan budaya dan sejarah sebagai fondasi konsep komunalitas yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip solidaritas, persaudaraan (brotherhood) dan kohesi sosial. Konsep negara-bangsa dewasa ini lebih menyatukan daripada persamaan budaya.

Meskipun demikian, di tengah dominasi paradigma pemikiran modern yang cenderung menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai luhur agama, budaya dan norma-norma sosial, masih ada harapan kedua bangsa untuk saling menghargai, menghormati, dan bersatu dalam bingkai kebudayaan. Persamaan budaya (Melayu) tetap menjadi salah satu unsur pokok yang dapat membangun kembali keharmonisan kedua bangsa.

Di bidang bahasa kita telah membangun MABBIM (Majlis Bahasa Brunei-Indonesia-Malaysia), sebuah badan kebahasaan serantau yang ditubuhkan untuk merancang, memantau dan menyerasikan perkembangan bahasa Melayu di tiga negara tersebut. Dalam bidang sastra kita sudah mendirikan MASTERA (Majlis Sastera Asia Tenggara). Dan dalam bidang pendidikan kita telah membentuk SEAMEO (Southeast Asian Ministers of Education Organization), dan kerjasama-kerjasama lainnya. Semua bentuk kerjasama tersebut bertujuan mendorong kemajuan seluruh bangsa Melayu dalam berbagai bidang. Dan, di saat yang sama menghilangkan batas-batas politis dan geografis yang telah menjadi sekat antarmasyarakat Melayu di Asia Tenggara.

Melalui perspektif kebudayaan pula, MelayuOnline.com mencoba membangun kesepahaman akan kesamaan sejarah dan budaya seluruh puak Melayu di dunia. Paradigma holistik MelayuOnline.com menawarkan perspektif baru bahwa bangsa Melayu memiliki setidaknya empat fase sejarah yang tidak dapat dipisahkan antara fase yang satu dengan lainnya. Akan tetapi setiap fase/zaman dan tempat melahirkan produk-produk budaya dengan ciri yang berbeda-beda sebagai hasil dari proses dialektik dengan budaya-budaya lain dalam kurun waktu yang panjang. Dengan terbangunnya kesadaran persamaan sejarah ini diharapkan muncul inisiatif secara bersama-sama membangun bangsa Melayu di berbagai bidang kehidupan.


MEWUJUDKAN PARADIGMA HOLISTIK KE DALAM KARYA NYATA

Pandangan saya tentang Melayu tidak mungkin dapat mempengaruhi masyarakat Melayu secara massiv jika saya berhenti berbicara pada tataran teoritis. Oleh karena itu, dengan segala tekad dan keterbatasan, saya memberanikan diri mewujudkan gagasan besar itu ke dalam bentuk pangkalan data, www.melayuonline.com.

MelayuOnline.com diorentasikan untuk menjadi pangkalan data tentang dunia Melayu terbesar di dunia. Paradigma holistik seperti telah dijelaskan di atas, diwujudkan ke dalam struktur-struktur yang sistematis, integratif, dan komprehensif. Penyusunan struktur yang demikian itu bertujuan memudahkan bagi siapa saja yang ingin mengetahui Melayu dan kemelayuan, baik secara ringkas sepintas maupun serius mendalam. Seluruh aspek Melayu, seperti sejarah, budaya, sastra, bahasa dan lain-lain telah diklasifikasi sedemikian rupa, sehingga menjadi sebuah struktur yang menunjukkan betapa sejarah dan budaya Melayu begitu kompleks dan mengagumkan. Dari struktur tersebut tampak jelas perjalanan sejarah bangsa Melayu dan keelokan budayanya dari masa ke masa.

MelayuOnline.com memiliki 24 menu. Menu sejarah, budaya, dan sastra Melayu merupakan menu utamanya. Pertama, Sejarah Melayu. Sejarah Melayu mencakup dimensi yang luas, dengan rentan masa yang panjang. Sejarah yang dimaksud di sini adalah kejadian atau peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lampau. Jejak-jejaknya dapat dilacak melalui kejadian sejarah, baik berupa manuskrip, prasasti, sejarah lisan maupun artefak. Dalam MelayuOnline.com, sejarah Melayu dibagi dalam tiga kategori: (1), naskah sejarah, (2), sejarah kerajaan Melayu dan (3), peninggalan sejarah di situs sejarah, seperti candi, masjid, istana, benteng, dan makam.

Kedua, Budaya Melayu. Budaya dapat dipahami sebagai sistem dalam masyarakat yang berkaitan dengan nilai, kepercayaan, perilaku, dan artefak yang dihasilkan. Kebudayaan Melayu yang dibahas oleh MelayuOnline.com tidak lepas dari hal-hal tersebut yang berkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan yang universal, seperti pandangan hidup, kesenian, sistem religi, sastra, kuliner, upacara adat, organisasi sosial, peralatan, busana, artefak, bahasa, bangunan, pengobatan tradisional, dan hukum adat Melayu. Semua unsur itu ditulis dalam struktur penulisan tertentu dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

Ketiga, Sastra Melayu. Sastra Melayu yang dimaksud oleh MelayuOnline.com adalah sastra yang berkembang di kawasan Melayu. Sastra tersebut dibagi dua, yaitu sastra lisan dan tulisan. Sastra lisan sulit diketahui awal kemunculannya, sedangkan sastra tulisan muncul dan berkembang bersama dengan masuknya pengaruh Hindu-Buddha dalam masyarakat Melayu. Perkembangan itu semakin pesat dengan masuknya agama Islam ke kawasan ini. Maka tidaklah mengherankan jika sebagian besar naskah sastra tulisan masyarakat Melayu merupakan peninggalan periode Islam. Contoh tradisi lisan adalah pantun, bidal, tambo, koba, dan sebagainya. Sedangkan contoh tradisi tulisan adalah gurindam, hikayat, puisi, syair, sajak, dan sebagainya. MelayuOnline.com memaparkan secara rinci apa saja yang berkaitan dengan sastra lisan dan sastra tulisan itu.

Untuk memudahkan identifikasi sejarah atau budaya Melayu di berbagai daerah di dalam dan luar Nusantara, sebagian struktur disusun berdasarkan geo budaya. Berikut adalah salah satu contoh dari klasifikasi Sejarah Melayu: Naskah Sejarah, Kerajaan Melayu, dan Situs Melayu yang dibagi berdasarkan geo budaya. Kerajaan Melayu, misalnya, diklasifikasi menjadi Kerajaan Melayu di Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, Madagaskar dan Afrika Selatan. Dari klasifikasi struktur tersebut masih dibagi-bagi lagi lebih rinci berdasarkan geo budaya di masing-masing negara.

Dengan cara demikian, paradigma holistik dapat diwujudkan ke dalam struktur-struktur yang memuat seluruh perjalanan sejarah dan perkembangan budaya Melayu di berbagai kawasan. Misi yang dibawa oleh MelayuOnline.com adalah memberikan pencerahan (enlightenment) dan menyatukan puak-puak Melayu di seluruh dunia. Ide dan gagasan MelayuOnline.com dipublikasikan melalui teknologi informasi, supaya secara efektif dapat dibaca dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat Melayu, dan memberikan inspirasi akan pentingnya persatuan mereka di era gelombang ketiga ini.


PENUTUP

Secara garis besar terdapat dua kubu yang menawarkan pandangannya tentang Melayu melalui paradigma yang berbeda. Yang pertama mengusung paradigma holistik, yaitu bahwa Melayu adalah bangsa yang pernah atau masih memelihara dan menjunjung budaya Melayu, tanpa membedakan fase sejarah atau tempat tertentu; juga tidak membedakan ras, agama, bahasa, batas geografis, dan afiliasi politik.

Yang kedua adalah yang memaknai Melayu dengan paradigma eksklusif. Dikatakan eksklusif karena pandangan yang ditawarkan cenderung sempit dan reduktif karena menekankan keberpihakan secara mutlak pada satu atau dua fase sejarah dan afiliasi agama, politik, atau ras tertentu. Pendapat bahwa orang Melayu adalah yang beragama Islam, secara membabi buta memotong rantai sejarah bangsa Melayu yang telah terangkai sejak 3.000 tahun sebelum Masehi. Sejarah kedatangan Islam di bumi Melayu merupakan satu dari empat fase sejarah yang telah dilalui bangsa Melayu, sehingga Islam tidak dapat dipandang sebagai satu-satunya alat identifikasi kemelayuan seseorang. Demikian juga dengan pendapat yang mengatakan bahwa Melayu asli adalah Melayu Malaysia, Brunei, atau Riau. Pendapat terakhir ini nampaknya dipengaruhi oleh konsep negara bangsa yang lahir pada pertengahan abad ke-19 di Eropa.


Baca juga: Definisi Tentang Melayu Salah Kaprah?

___________________

Mahyudin Al Mudra, SH.MM., adalah Pendiri dan Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), lembaga induk MelayuOnline.com.


Daftar Pustaka

Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Abdullah, Taufik. 1988. “Ke Arah Perencanaan Strategi Kultural Pembinaan Umat”. Dalam Pak Natsir 80 Tahun. H. Endang Saifuddin Anshari dan M. Amien Rais (ed). Jakarta: Media Dakwah.

Adeney, T. Bernard. 2005. “Tantangan dan Dampak Kebudayaan Modern dan Pasca Modern” dalam Sociology of Religion Reader, Benard T. Adeney (eds).Yogyakarta: CRCS.

Ansor, Muhammad. 2005. “Pembacaan Kontemporer Atas Islam, Melayu dan Etnisitas” dalam Lima Kebanggaan Anak Melayu Riau, Baharuddin Husin dan Dasril Affandi (ed). Jakarta: Persatuan Masyarakat Riau-Jakarta.

Hadi, Abdul. 2008. Islam di Nusantara dan Transformasi Kebudayaan Melayu. http://ahmadsamantho.wordpress.com. Diakses pada 23 April 2008.

Hall, D.G.E. Tanpa tahun. Sejarah Asia Tenggara. Surabaya: Usaha Nasional.

Hefner. W. Robert. “Multikulturalisme dan Kewarganegaraan di Malaysia, Singapura, dan Indonesia”. Dalam Politik Multikulturalisme: Menggugat Realitas Kebangsaan. Robert W. Hefner (ed). Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Hobsbawm, E.J. 1992. Nasionalisme Menjelang Abad XXI. Yogjakarta: Tiara Wacana.

Mahdini. 2003. Islam dan Kebudayaan Melayu. Pekanbaru: Daulat Riau.

Mat Piah, Harun. 1993. “Tamadun Melayu Sebagai Asas Kebudayaan Kebangsaan: Suatu Tinjauan dan Justifikasi”. Dalam Tamadun Melayu, jilid II. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Yassin, Sayyid. 2002. As-Syakhshiyah Al-Arabiyah baina Mafhumi Az-Zaat wa Shurati Al-Akhor. Cairo: Maktabah Usrah

Sampai 10 Juni 2011 Dibaca: 7.402 kali (di situs Melayu Online).



Thursday, June 2, 2011

Diaspora Melayu Minoriti

PENDAHULUAN

1. Rumpun Melayu sebagai kumpulan minoriti tetapi merupakan peribumi kepada negara-negara itu terdapat di Singapura, Selatan Thailand, Vietnam, Selatan Myanmar dan Taiwan (Farmosa). Di negara-negara di luar Alam Melayu mereka adalah penghijrah atau kelompok Melayu diaspora.


2. Fenomena penghijrahan ini mula berlaku pada zaman Sriwijaya antara abad ke-7 hingga abad ke-13 secara kecil-kecilan dan mungkin berkeluarga. Rumpun Melayu itu berhijrah dengan belayar ke Pulau Madagaskar di pantai timur benua Afrika. Mereka dikatakan penyumbang kepada tamadun awal di pantai timur benua Afrika dengan memperkenalkan kegiatan bercucuk tanam dan memelihara ternakan.


4. Rumpun Melayu sebagai minoriti terdapat di Pulau Hainan dan wilayah Kwantung di Selatan Negeri Cina. Mereka dipercayai adalah daripada keturunan Champa yang mendiami pesisiran pantai Semenanjung Indo-China. Sekumpulan yang agak besar keturunan Melayu Champa dari Vietnam itu, disebabkan oleh peperangan berhijrah dan menjadi penduduk tetap di negara Cambodia, dianggarkan hampir sejuta orang. Di Vietnam mereka adalah penduduk peribumi yang pernah menubuhkan kerajaan Melayu Champa yang bertahan agak lama dari abad ke-2 hingga ke pertengahan abad ke-15 Masihi. Kerajaan Champa itu tumbang setelah sekian lama berperang dengan bangsa Daiviets dari utara yang kini menjadikan wilayah itu sebagai Vietnam.


Di Segenting Kra, terdapat sekitar 100,000 pribumi Melayu tetapi perkampungan mereka termasuk ke dalam sempadan Selatan Myanmar.


5. Sebahagian besar Melayu diaspora, iaitu mereka yang berhijrah dan menjadi kelompok minoriti di negara-negara di luar Alam Melayu, melakukan penghijrahan pada zaman penjajahan di wilayah budaya Alam Melayu ini. Ini termasuklah kewujudan Melayu diaspora di Australia, Britain, Sri Lanka, Afrika Selatan, Surinam, Arab Saudi dan beberapa lagi. Tetapi penghijrahan juga berlaku pada zaman selepas penjajahan seperti kehadiran rumpun Melayu keturunan Champa di Amerika Syarikat dan Perancis serta rumpun Melayu dari wilayah Patani (Selatan Siam) dan Malaysia di Arab Saudi dan Mesir, serta rumpun Melayu Sri Lanka di Canada.


6. Di sesetengah negara seperti Australia, Arab Saudi, Britain dan Amerika Syarikat, penghijrahan rumpun Melayu dari Alam Melayu ke negara-negara tersebut berterusan hingga akhir abad ke-20 serta memasuki abad ke-21 ini. Berbeza daripada zaman penjajahan apabila sebahagian penghijrahan itu adalah kerana dipaksa, penghijrahan pada zaman pasca merdeka dari negara-negara Malaysia, Indonesia, Singapura dan Brunei berlaku secara sukarela, iaitu untuk mencari pekerjaan ataupun untuk mendapatkan ilmu tetapi kemudiannya memilih untuk tinggal menetap di negara-negara berkenaan.


7. Sebagai rumusan kepada bahagian ini, kesemua kelompok Melayu diaspora yang berada di negara-negara di luar Alam Melayu seperti China, Australia, Madagaskar, Sri Lanka, Afrika Selatan, Kemboja, Mesir, Arab Saudi, Perancis, Belanda, Britain, Amerika Syarikat dan Surinam adalah juga kumpulan minoriti di negara-negara tersebut. Bagi negara-negara seperti Singapura, Thailand, Vietnam, Myanmar dan Taiwan, mereka adalah kumpulan minoriti tetapi kedudukan mereka adalah sebagai pribumi di negara-negara tersebut.


8. Untuk Pulau Madagaskar, rumpun Melayu di sana sudah dianggap sebagai pribumi kerana kehadiran mereka di pulau itu sudah begitu lama, di sekitar seribu tahun. Juga, bangsa Merina dari rumpun Melayu itu adalah bangsa yang pertama menubuhkan Kerajaan Merina di negara itu.


DIASPORA MELAYU PADA ZAMAN PENJAJAHAN PORTUGIS, BELANDA, INGGERIS DAN PERANCIS


9. Kedatangan penjajahan Portugis pada awal abad ke-16 (1509) disusuli oleh penjajah Belanda yang berjaya menguasai sebagai kepulauan Alam Melayu, yang kemudiannya diberi nama Hindia Belanda Indonesia (1600) serta mengambil alih penguasaan ke atas Melaka dari Portugis pada 1641, disusuli pula oleh kedatangan Inggeris pada suku ketiga abad ke-18 (bertapak di Pulau Pinang pada 1786) meninggalkan dua kesan yang besar kepada penduduk di Alam Melayu yang sebelum ini belum lagi terpisah kepada lima negara bangsa baru seperti Malaysia, Indonesia, Filipina, Brunei dan Singapura.


10. Kesan pertama penjajahan adalah kewujudan dua kelompok Melayu sebagai kumpulan minoriti di tanah air mereka sendiri; iaitu di Singapura dan di Wilayah Melayu Selatan Thailand. Rumpun Melayu ini adalah peribumi di negara-negara berkenaan, iaitu Singapura dan Thailand.


11. Kesan kedua adalah penghijrahan kelompok-kelompok kecil dari Alam Melayu, khususnya dari Indonesia dan Malaysia, ke negara-negara di luar Alam Melayu.


Penjajahan Portugis

12. Portugis yang menguasai Ceylon (Sri Lanka), Melaka, dan kawasan pesisir India seperti Bandar pelabuhan Goa mulai awal abad ke-16 membuka lembaran sejarah ‘diaspora Melayu’ dengan membawa kumpulan-kumpulan kecil Melayu dari Melaka ke Ceylon sebagai hamba tawanan, pekerja kapal dan sebagai askar upahan. Namun, penguasaan Portugis ke atas Melaka walaupun lama dari segi masa (1511 – 1641 untuk selama 130 tahun) tetapi tidak berjaya meluaskan wilayah penjajahannya dan tidak begitu rancak kegiatan perdagangannya. Ini bermakna perpindahan rumpun Melayu ke luar wilayah Alam Melayu terhad dari segi bilangannya, iaitu terhad ke Ceylon sahaja.


Penjajahan Belanda

13. Dalam persaingan merebut wilayah di antara Portugis dan Belanda, kompeni Belanda ternyata lebih bersedia dengan angkatan laut dan tenaga manusia yang lebih besar. Belanda berjaya mengambil alih Ceylon daripada Portugis melalui peperangan; menguasai sebahagian wilayah kepulauan Alam Melayu yang diberi nama baru Indonesia bermaksud ‘India Yang Jauh’ atau Further India, serta mengambil alih Melaka dari Portugis dengan secara perundingan pada 1641.


14. Belanda menguasai kawasan atau wilayah kepulauan Melayu yang amat luas serta lama, melebihi 300 tahun, berbanding dengan penguasaan ke atas Melaka di Semenanjung Tanah Melayu yang agak kecil dan untuk selama 183 tahun (1641 – 1824). Pengaruh serta penguasaan Belanda ke atas apa yang kemudiannya diberi nama Indonesia adalah amat luas lagi mendalam. Ia menerima tentangan daripada penduduk peribumi yang agak hebat yang mengambil masa agak lama untuk mematahkannya. Penguasaan ke atas Semenanjung amatlah terbatas dan terhad di wilayah Melaka sahaja manakala tentangan terhadapnya juga tidak begitu sengit dari orang Melayu di Semenanjung.


15. Akibat daripada penjajahan, peperangan dan juga perdagangan itu telah membawa kepada perpindahan penduduk rumpun-Melayu ke luar Alam Melayu, seperti ke Ceylon (Sri Lanka), Afrika Selatan, Surinam dan Belanda. Sebahagian besar mereka berhijrah secara paksaan sebagai hamba yang diperdagang, pesalah dan buangan politik yang di antaranya adalah ulama dan kerabat diraja, serta golongan merdahika yang berhijrah secara sukarela sebagai pekerja atau kelasi kapal dan sebagai tentera upahan. Merekalah yang membawa agama Islam ke sana, dan Islam kekal sebagai salah satu agama yang dianuti oleh kelompok minoriti yang diiktiraf kehadiran mereka oleh kerajaan majoriti yang beragama Buddha di Sri Lanka, yang beragama Kristian di Afrika Selatan, Surinam dan Belanda.


Penjajahan Inggeris


16. Inggeris menjajah Persekutuan Tanah Melayu termasuk Singapura dan Borneo Utara sekadar 80 tahun sahaja tetapi ia meninggalkan kesan yang amat mendalam dari segi mentransformasikan ekonomi tradisional kepada ekonomi perdagangan, membina prasarana komunikasi moden, pengenalan urusan pentadbiran birokrasi, undang-undang tanah, pendidikan moden, serta pengenalan sistem politik demokrasi dan kehakiman menggantikan Sistem Kerajaan Melayu Lama. Di antara kesan yang paling besar sekali ialah menjadikan wilayah Alam Melayu ini sebagai masyarakat majmuk menerusi migrasi besar-besaran orang Cina dan India ke wilayah ini. Kesan kedua ialah menjadikan orang Melayu di Pulau Singapura, di Segenting Kra Selatan Myanmar dan di Selatan Thailand sebagai pribumi yang berstatus minoriti.


17. Namun pada zaman penjajahan Inggeris juga diaspora rumpun Melayu adalah secara kecil-kecilan seperti penghijrahan mereka ke Pulau Cocos dan Pulau Kerismas yang akhirnya membawa sebahagian mereka berhijrah ke benua Australia. Terdapat sebahagian kecil mereka yang bekerja dengan kapal perdagangan Inggeris dan akhirnya memilih untuk tinggal menetap di England seperti di Liverpool.


18. Kehadiran kapal-kapal perdagangan yang menggunakan enjin kuasa wap yang berulang-alik dari Alam Melayu ke Timur Tengah telah membolehkan orang-orang Melayu belayar ke Arab Saudi dan Mesir untuk menuntut ilmu agama Islam serta untuk menunaikan fardu haji di Makkah. Sebahagian kecil daripada mereka ini yang berasal dari Malaysia dan Selatan Thailand memilih untuk mencari pekerjaan dan tinggal menetap di sana sebagai kelompok Melayu diaspora. Fenomena ini berlanjutan sehingga selepas zaman penjajahan.


Penjajahan Perancis dan Sepanyol


19. Penjajahan Perancis di negara-negara di Semenanjung Indo-China (Vietnam, Kemboja, Laos) dan penjajahan Sepanyol ke atas negara Filipina tidak secara langsung membawa akibat berlakunya penghijrahan rumpun Melayu ke negara-negara di luar Alam Melayu tidak wujud tekanan dan juga kemudahan untuk mereka meninggalkan tanah air dan berhijrah ke Perancis atau negara-negara Eropah lainnya.


20. Tetapi tekanan untuk berhijrah berlaku selepas penjajah Perancis dan Sepanyol kembali ke nagara mereka kemudiannya disusuli oleh perang saudara kerana perebutan untuk berkuasa untuk sekian lama; di antaranya kemunculan pengaruh komunisme yang sedang meningkat dan berjuang untuk menguasai negara-negara di Semenanjung Indo-China.


21. Semasa Perang Vietnam memuncak pada awal 70-an, antara Vietnam Utara yang berfahaman komunis dengan Vietnam Selatan yang menganuti sistem liberal-demokrasi kedudukan puak minoriti Melayu Champa tersepit di tengah-tengah gelanggang. Sekumpulan kecil yang mempunyai kemampuan membayar untuk lari keluar sebagai pelarian perang berhijrah ke Perancis atau Amerika Syarikat. Majoriti mereka lari mengikut jalan darat untuk berhijrah ke Kemboja dan menjadi diaspora di sana mewujudkan beberapa buah penempatan yang diberi nama ‘kampung’.


22. Nasib rumpun Melayu Champa sama seperti pepatah Melayu ‘sudah jatuh ditimpa tangga’. Hegemoni komunisme yang ingin mengambil tampuk kuasa di Vietnam merebak ke Kemboja yang menyaksikan kehadiran gerila komunis Khmer Rouge yang ganas itu. Mereka akhirnya berjaya mengambil alih pemerintahan dan kekal memerintah untuk beberapa tahun. Pada waktu itu dianggarkan 750,000 atau separuh daripada 1.5 juta orang-orang Champa beragama Islam di Kemboja terkorban akibat keganasan gerila dan pemerintah Khmer Rouge.


23. Kumpulan-kumpulan kecil mereka ini berjaya melarikan diri menyeberangi sempadan Thailand dan akhirnya diberi perlindungan di Malaysia. Sebahagian lain yang mampu dan mempunyai kewangan berhijrah ke negara-negara yang memberi perlindungan seperti Perancis dan Amerika Syarikat atas nama peri kemanusiaan.


DIASPORA RUMPUN MELAYU FILIPINA, SINGAPURA DAN SELATAN THAILAND


24. Perpindahan atau migrasi rumpun Melayu Filipina secara kecil-kecilan kemungkinannya lebih banyak berlaku pada zaman pasca-penjajahan Sepanyol daripada semasa sebelum zaman penjajahan. Di antara negara-negara di Dunia Melayu, Filipina merupakan negara yang lebih mundur dari segi kemajuan dan pembangunan ekonomi dibandingkan dengan Indonesia, Brunei, Singapura dan Malaysia.


25. Bagi mereka yang beragama Kristian di pulau-pulau bahagian utara seperti Luzon, perpindahan ke luar Alam Melayu berlaku dalam kalangan golongan yang berpendidikan tinggi dan profesional ke negara-negara Barat yang lebih maju seperti Amerika Syarikat dan Australia. Bagi penduduk di selatan Filipina yang beragama Islam, perpindahan lebih merupakan akibat tekanan keadaan politik yang tidak stabil disebabkan oleh perjuangan untuk mendapatkan kuasa autonomi dari kerajaan pusat di Manila. Mereka yang beragama Islam ini lebih banyak terdapat di Arab Saudi dan negara-negara Islam di Timur Tengah.


26. Sekumpulan lain yang tidak tergolong dalam kategori ‘diaspora’ atau bermigrasi secara kekal adalah pekerja peringkat bawahan seperti buruh, pemandu dan terutama sekali pembantu rumah. Mereka ke Hong Kong dan Arab Saudi untuk bekerja dalam sektor bawahan tetapi status mereka adalah perpindahan sementara sebagai pekerja kontrak dan bukan untuk tinggal menetap. Namun jika ada pilihan, pastinya mereka akan memohon untuk diterima sebagai pemastautin tetap atau warganegara di negara-negara yang mereka sedang bekerja di luar Filipina.


27. Pada masa-masa lalu, terdapat kelompok kecil rumpun Melayu dari Singapura yang mencari pekerjaan di Pulau Kerismas (dalam pentadbiran Australia) dan di Australia sebagai penyelam mutiara di utara Australia Barat di Bandar kecil Broome. Mereka yang bekerja di Pulau Kerismas kemudiannya berpindah ke tanah besar Australia untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang jauh lebih lumayan. Sebahagian besar mereka akhirnya memilih untuk tinggal menetap di Australia kerana jaminan kehidupan dan gaji yang lumayan.


28. Pada dekad-dekad yang terbaru, penghijrahan secara kecil-kecilan berlaku dalam kalangan yang berpendidikan tinggi dan golongan profesional. Penghijrahan ini dikatakan untuk mencari suasana serta peluang pekerjaan baru yang lebih baik dibandingkan jika mereka kekal berada di Singapura. Mereka ini bersama-sama Melayu dari Malaysia serta dari Pulau Cocos dan Pulau Kerismas mewujudkan komuniti Melayu diaspora di beberapa bandar besar dan kecil di tanah besar Australia seperti di Perth, Geraldton, South Headland, Kattaning, Melbourne, Sydney, Brisbane, Darwin dan sebagainya.


29. Rumpun Melayu keturunan Patani dari wilayah Melayu Selatan Thailand sudah berada secara kecil-kecilan di Arab Saudi khususnya di kota suci Makkah dan Madinah sejak beberapa abad yang lalu.


Tujuan asal mereka ke sana adalah untuk menunaikan fardu haji dan untuk mencari ilmu. Sebahagian kecil mereka ini kemudiannya mendapat pekerjaan terutamanya pada musim haji yang menguruskan para jemaah yang datang dari Alam Melayu. Mereka ini kemudiannya mendapat peluang untuk tinggal menetap di sana.


30. Gelombang kedua penghijrahan mereka ini ke Arab Saudi disebabkan oleh keadaan politik yang tidak stabil dan kerana penindasan oleh pemerintah Siam ke atas penduduk minoriti Melayu di 4 wilayah Selatan Thailand (Yala, Narathiwat, Patani dan Songkla).


31. Selain Melayu etnik Patani, terdapat juga sebilangan Melayu dari Malaysia yang diterima untuk tinggal menetap di Arab Saudi.


Rata-ratanya mereka ini telah mendapat pekerjaan tetap dalam pelbagai sektor awan serta di sektor swasta. Bagi mereka dan lebih-lebih lagi anak-anak mereka (generasi kedua) yang berpendidikan tinggi dan berjaya memasuki sektor pekerjaan profesional, sebahagian besar mereka ini tinggal di kota pelabuhan Jeddah atau di ibu kota Riyard.


"…relations between dominants and minorities as moving through a definite cycle, with one outcomes, the assimilation of the minority into the dominant society." (Robert B.Park).


37. Kita akan menggunakan budaya serta ciri-ciri jati diri penduduk asal di Alam Melayu ini sebagai kerangka rujukan walaupun kita memahami bahawa kaedah ini mempunyai masalahnya yang tersendiri disebabkan oleh kepelbagaian budaya masyarakat rumpun Melayu di Alam Melayu ini. Begitu juga mereka yang telah berhijrah ke luar lingkungan budaya Alam Melayu datangnya daripada wilayah-wilayah yang berbeza seperti Melaka (Malaysia), Singapura, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kepulauan Ternate, Patani (Selatan Thailand), Kemboja, Vietnam, dan sebagainya. Yang akan cuba kita cari jawapan ialah apakah ciri-ciri utama yang digunakan apabila menganggap diri mereka sebagai orang Melayu atau sebahagian daripada rumpun Melayu.


Perbandingan Melayu Sri Lanka dan Afrika Selatan


PERSOALAN BUDAYA DAN JATI DIRI


32. Para sarjana dan pelajar bidang antropologi dan sosiologi sering merujuk kepada satu takrifan klasik tentang kebudayaan yang pernah diutarakan oleh Edward Bernard Taylor yang merumuskan ciri-ciri berikut sebagai konsep kebudayaan; ‘satu kesatuan yang kompleks mencakupi ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, tatasusila, unsur-unsur moral, adat resam, serta segala kebolehan dan tabiat manusia sebagai ahli dalam sesebuah masyarakat’ (E.B. Taylor 1871).


33. Dari perspektif yang lain, perkataan budaya adalah cantuman daripada dua perkataan budi dan daya. ‘Budi’ bermaksud akal atau kebijaksanaan manakala ‘daya’ bermaksud tenaga, kekuatan atau kemampuan. Cantuman dua perkataan ini memberi erti segala yang dicipta oleh manusia menerusi pemikiran serta perbuatannya yang dimanifestasikan dalam bentuk material mahupun bukan material (Wan Hashim 1995: 218).


34. Jati diri atau identiti pula adalah ciri-ciri budaya dan latar belakang sejarah yang memperkenalkan seseorang atau satu-satu kaum atau kelompok manusia seperti etnik atau ras yang membezakan mereka daripada kelompok lain. Tanggapan orang lain terhadap sesuatu kelompok manusia atau kaum juga menyumbang kepada pembentukan jati diri sesuatu kelompok manusia atau kaum.


35. Walaupun rupa, wajah atau warna kulit tidak semestinya dijadikan sebagai unsur penting jati diri sesuatu kaum tetapi dalam konteks kajian ini, ia boleh dianggap sebagai suatu unsur yang boleh diambil kira. Ini guna untuk dibuat perbandingan persamaan atau perbezaan di antara wajah atau paras rupa Melayu diaspora yang sesetengahnya telah berada jauh dari Alam Melayu sejak 200 – 300 tahun yang lalu dan sesetengah yang lain merupakan generasi pertama atau generasi kedua yang baru berhijrah ke negara-negara lain kurang daripada 100 tahun.


36. Kertas kerja ini menggunakan pernyataan atau kerangka sebuah teori besar yang diajukan oleh Robert E. Park mengenai hubungan kumpulan minoriti dengan masyarakat domain seperti katanya:


38. Ada persamaan yang nyata ciri-ciri dua kelompok Melayu diaspora di Sri Lanka dan Afrika Selatan. Pertama, masa penghijrahan ke luar yang hampir sama, iaitu bermula pada awal kurun ke-16 apabila Portugis menguasai Melaka. Sebahagian mereka dari Melaka dibawa ke Ceylon sebagai hamba, kelasi kapal, atau pekerja sukarela yang menyertai pasukan askar upahan. Penghijrahan ke Ceylon dan Afrika Selatan meningkat dari segi bilangan apabila Belanda menguasai Melaka dan sebahagian besar wilayah kepulauan Alam Melayu. Selain hamba, pekerja sukarela dan banduan, turut sama berhijrah tetapi dengan secara paksaan ialah ulama dan kerabat diraja yang ditawan dan akhirnya dibuang negeri kerana mengetuai pasukan atau kebangkitan peribumi menentang penjajah Belanda. Bilangan mereka di Sri Lanka hari ini dalam sekitar 60,000 orang manakala di Afrika Selatan sekitar 500,000 hingga 600,000 penduduk.


39. Dari segi bentuk rupa, warna kulit atau wajah, sebahagian besar tidak lagi menyerupai bentuk rupa atau wajah rumpun-rumpun Melayu di Alam Melayu ini. Di Sri Lanka, majoriti mempunyai rupa dan wajah orang India Muslim, termasuk pakaian wanitanya yang memakai sari sebagai pakaian harian. Dalam perkahwinan, mereka mengikut adat resam Hindu apabila pihak wanita menghantar mas kahwin kepada keluarga pengantin lelaki. Bahasa Melayu yang pernah menjadi bahasa persuratan dan pertuturan rumpun Melayu di Afrika Selatan telah mula pupus sejak akhir abad ke-19 atau awal kurun ke-20 yang lalu. Di Sri Lanka, golongan tuanya masih bertutur dalam bahasa Melayu creole atau pidgin yang tidak mudah difahami oleh orang Melayu dari Malaysia atau Indonesia.


40. Tiga unsur penting yang meletakkan mereka sebagai orang Melayu adalah pertama, beragama Islam; kedua, mampu menyusur galur keturunan mereka yang berasal dari Alam Melayu dan ketiga; pengenalan diri (self identification) atau memperkenalkan diri mereka sebagai orang Melayu. Sebagai tambahan, mereka juga menyimpan beberapa artifak budaya serta bahan tulisan seperti kitab suci al-Quran tulisan tangan dan khat jawi yang ditulis oleh nenek moyang mereka pada kurun-kurun ke-18 atau ke-19 dahulu. Perlu diperingatkan di sini bahawa, mereka telah berada di Afrika selatan dan Sri Lanka sejak 200 hingga 300 tahun yang lalu. Ini membawa kepada penghakisan jati diri dan budaya mereka yang asal termasuk bahasa Melayu yang telah pupus, serta amalan adat resam. Yang masih kekal kukuh pegangan mereka ialah kepada agama Islam.


Perbandingan Rumpun Melayu di Australia, Arab Saudi dan Surinam


41. Sebahagian besar rumpun Melayu yang kini tinggal menetap di Australia dan Arab Saudi berhijrah ke sana pada sekitar abad ini. Di Australia, masih ramai mereka itu dari kalangan generasi pertama yang berhijrah dari Pulau Cocos atau Pulau Kerismas serta Malaysia dan Singapura. Amat jelas mereka masih bertutur dalam bahasa Melayu sebagai bahasa ibunda, berpegang kuat kepada agama Islam, mengamal adat resam Melayu dan berpakaian cara Melayu seperti orang-orang Melayu di Malaysia dan Indonesia.


42. Bagi generasi kedua yang dilahirkan di sana, mereka masih bertutur dalam bahasa Melayu tetapi fasih bertutur dalam bahasa Inggeris dan mulai menerima budaya kehidupan golongan remaja di sana seperti meminati lagu dan muzik pop dan filem cereka dari barat. Budaya popular termasuk juga cara mereka berpakaian amat mempengaruhi kehidupan seharian mereka. Adalah dijangkakan bahawa kemungkinan besar bahasa Melayu akan secara perlahan-lahan terpinggir, manakala bahasa Inggeris akan menjadi bahasa utama bagi generasi ketiga dan seterusnya.


43. Keadaannya agak sama dengan budaya dan kehidupan orang-orang Melayu yang kini menetap di Arab Saudi. Bilangan mereka relatifnya lebih ramai terutama di kota suci Makkah dan di Jeddah. Kedua-dua generasi pertama dan kedua masih fasih berbahasa Melayu, tetapi lebih selesa berpakaian cara orang-orang tempatan, amalan adat resam campuran Arab dan Melayu, serta berpegang kuat kepada agama Islam. Ciri-ciri jati diri Melayu mereka ialah beragama Islam, bertutur dalam bahasa Melayu, dan mengamalkan sebahagian adat resam Melayu serta Arab (tempatan). Mereka juga fasih bertutur dalam bahasa Arab yang bakal mengambil alih dan menjadi bahasa ibunda bagi generasi ketiga dan seterusnya. Ini berdasarkan kepada pemerhatian bahawa ibu bapa mereka lebih cenderung bertutur dalam bahasa Arab dengan anak-anak mereka (generasi kedua yang dilahirkan di sana).


44. Keadaannya agak sama dengan rumpun Melayu di Surinam yang sebahagian besarnya berasal dari Jawa dan Sumatera. Generasi pertama penduduknya berhijrah pada sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20; bermakna mereka sudah berada di sana sekitar 100 tahun. Namun mereka masih tetap dapat mengekalkan ciri-ciri jati diri yang demikian, malah lebih dominan daripada rumpun Melayu di Australia dan Arab Saudi. Mereka mengamalkan kehidupan berkampung sesama mereka, fasih bertutur dalam bahasa Melayu ala Indonesia; berpegang teguh kepada agama Islam serta mengamalkan adat resam yang dibawa dari Jawa dan Sumatera. Mereka juga mempunyai pasukan-pasukan kesenian tradisi seperti tarian kuda kepang dan enggau-enggau, lagu dan muzik Melayu-Indonesia, seni pencak-silat, bergendang rebana dan berkompang. Faktor jumlah dan peratus penduduk yang relatifnya tinggi iaitu 30% daripada keseluruhan jumlah penduduk sebanyak 400,000 orang sahaja di Surinam. Tiadanya unsur budaya dominan seperti di Australia (budaya Eropah) dan di Arab Saudi (budaya Arab-Islam) membolehkan rumpun Melayu Surinam mengekalkan jati diri mereka sebagai penduduk diaspora (pendatang) dari rumpun Melayu.


Perbandingan Melayu Minoriti di Singapura, Selatan Thailand dan Selatan Myanmar


45. Pertukaran status kelompok Melayu menjadi minoriti di Singapura, adalah akibat secara langsung kehadiran Inggeris sebagai kuasa besar kolonial yang telah membenarkan penghijrahan orang-orang Cina ke selatan memasuki Alam Melayu secara besar-besaran mulai pertengahan abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 yang menjadikan pulau Singapura dulunya dihuni oleh orang Melayu sahaja tetapi kini didominasi oleh kaum pendatang dari negeri Cina. Ciri-ciri asal kemelayuan pulau itu hampir tidak kelihatan lagi apabila kampung-kampung tradisi Melayu dipecah dan dimusnahkan menjadikan kawasan-kawasan enclaves itu sebagai tempat tinggal untuk semua kaum melalui pembinaan rumah-rumah pangsa. Para intelektual cerdik pandainya serta mereka yang berkemampuan sebahagian besarnya telah berpindah ke Malaysia atau ke negara-negara lain seperti Australia.


46. Peratus penduduk Melayu kini dianggarkan sekitar 15% sahaja dan mereka tidak memainkan peranan penting dalam menguruskan negara itu sejak Singapura dipisahkan dari Malaysia pada 1965 dahulu. Dalam bahasa salah seorang pengkajinya Lily Zubaidah Rahim yang kini telah berhijrah ke Australia, masyarakat Melayu di Singapura hari ini adalah masyarakat pinggiran dalam segala segi terutamanya dalam bidang kehidupan yang strategik seperti ekonomi dan pendidikan (Lily Zubaidah Rahman 2004). Namun disebabkan kedudukan mereka berada di tengah-tengah masyarakat Melayu induk di Malaysia, Brunei dan Indonesia, mereka masih berusaha dan berjaya mengekalkan jati diri yang berpaksikan agama Islam dan amalan adat resam Melayu yang mereka warisi dari nenek moyang mereka. Jika tahun-tahun 40, 50 dan 60-an dahulu, untuk selama 30 tahun atau lebih Singapura amat dikenali sebagai nadi dalam perkembangan intelektual dan kegiatan persuratan Melayu, kini saki bakinya pun sukar untuk dicari, hasil daripada usaha meminggirkan penduduk peribumi Melayu itu dengan secara terancang.


47. Sejarah rumpun Melayu Patani di utara Semenanjung atau kini dikenali sebagai Wilayah Melayu Selatan Thailand merupakan satu lagi episod sejarah rumpun bangsa Melayu yang malang. Ia adalah salah satu masyarakat Melayu berkerajaan yang paling awal di wujudkan selepas kerajaan Melayu Champa, iaitu dipercayai muncul pada kurun pertama atau kedua kurun Masehi menggunakan nama Langkasuka atau mengikut catatan Cina "Lang-Ya-Shu". Pada abad ke-15 atau awal abad ke-16 namanya bertukar menjadi Patani.


48. Bermula sekitar abad ke-13, bangsa Tai dari pinggir selatan negeri China mula berhijrah ke selatan untuk menguasai kawasan Segenting Kra hingga ke Semenanjung. Penjajahan ke atas negeri-negeri Melayu utara Semenanjung oleh bangsa Tai itu berhasil dalam abad ke-19 melalui dasar pecah dan perintah. Apabila memasuki abad ke-20, dan dengan bantuan kerajaan Inggeris, perjanjian Anglo-Siamese Treaty 1909 dimeterai yang meletakkan negeri-negeri Melayu Selatan Thailand di bawah kerajaan Thailand.


49. Untuk selama lebih 100 tahun, kerajaan Thailand menggalakkan penduduknya berhijrah ke wilayah selatan secara beramai-ramai untuk menduduki wilayah Melayu itu. Dasar asimiliasi kerajaan Thailand yang agresif mempercepatkan kehilangan jati diri bangsa Melayu yang berjumlah sekitar 3 juta orang itu. Perjuangan untuk pemisahan oleh puak radikal dan militannya sudah lama berjalan tanpa menampakkan hasil kecuali menambahkan ramai rakyatnya terkorban. Pertumpahan darah berlaku tanpa belas kasihan. Terbaru, Perdana Menteri Malaysia cuba mencetuskan idea untuk diberi autonomi pada wilayah yang sentiasa bergolak itu seperti yang diperjuangkan oleh rumpun Melayu-Islam di Selatan Filipina, tetapi disambut dingin dan amarah oleh pemimpin-pemimpin di Bangkok. Jalan untuk mendapatkan penyelesaian adalah amat sukar kecuali jika mendapat restu dan campur tangan dari Bangsa-bangsa Bersatu.


50. Sekitar 100,000 masyarakat Melayu Selatan Myanmar di Segenting Kra masih mampu hidup berkampung mengamalkan adat resam bangsa Melayu serta berpegang teguh kepada ajaran Islam. Tetapi dalam aspek kehidupan yang strategik seperti kegiatan ekonomi dan pendidikan, mereka turut terpinggir dan ketinggalan.


RUMUSAN


51. Kedudukan rumpun Melayu diaspora amatlah pelbagai. Mereka yang berhijrah sejak 200 hingga 300 tahun yang silam sudah berasimilasi dengan masyarakat dan budaya masyarakat dominan seperti di Afrika Selatan dan Sri Lanka. Namun, Islam serta susur galur sejarah penghijrahan mereka ke sana serta pengakuan diri mereka sebagai orang Melayu merupakan unsur penting untuk mereka dilabelkan sebagai orang atau keturunan Melayu.


52. Lebih awal daripada itu ialah penghijrahan rumpun Melayu ke Pulau Madagaskar sekitar 500 hingga 1000 tahun yang silam. Kelompok ini sudah berjaya membina jati diri baru yang unik serta berjaya menubuhkan kerajaan yang pertama di pulau itu yang melayakkan mereka diiktiraf sebagai peribumi Pulau Madagaskar.


53. Rumpun-pumpun Melayu yang berhijrah kurang daripada 100 tahun ke beberapa negara seperti Arab Saudi, Australia, Eropah dan Amerika serta mereka yang berhijrah ke Surinam masih berjaya mengekalkan jati diri dengan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pertuturan seharian, mengamalkan adat resam Melayu, dan berpegang teguh kepada ajaran Islam.


54. Masyarakat Melayu minoriti di Selatan Thailand, Selatan Myanmar serta di Singapura berada di bawah dominasi budaya dan masyarakat dominan yang cuba mengasimilasikan mereka ke dalam masyarakat dominan bukan Melayu. Mereka menghadapi cabaran yang getir untuk mempertahankan atau mengekalkan jati diri sebagai rumpun bangsa Melayu.


RUJUKAN

Achmat Davids. 1980. The Mosques of Bo-Kaap, South African Institute and Islamic Research. Athlone: Cape Town.

Asmah Hj. Omar. 2008. The Malays in Australia. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.


Husseinmiya, B.A. 1989. Orang Regiment, the Malays of the Ceylon rifle. Bangi: Penerbit UKM.

Bunce, Pauline. 1993. Kepulauan Cocos (Keeling): Masyarakat Melayu di Australia. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Lily Zubaidah Rahim. 2004. Dilema Singapura, peminggiran politik dan pelajaran masyarakat Melayu. ITNM.

Md. Sidin Ahmad Ishak & M. Redzuan Othman. 2000. The Malays in the middle east. Universiti of Malaya Press.

Wan Hashim Wan Teh. 1995. Interaksi Kaum Imigran dengan Bangsa Melayu dan Kesannya Terhadap Kebudayaan Melayu. Dalam Hanapi Dollah, Lokman Mohd Zen (pnyt) Kebudayaan Melayu di Ambang Abad Baru: Satu Himpunan Makalah. Bangi: Jabatan Persuratan Melayu.

Wan Hashim Wan Teh. Rumpun Melayu Minoriti dan Diaspora. Terbitan Khas RUMPUN, ATMA UKM.

Wan Hashim & A. Halim Ali. 1999.

Rumpun Melayu Australia Barat. Penerbit UKM.

Huntington, Samuel, 2008. Siapa kita? Cabaran kepada identiti nasional Amerika. ITNM

Wan Hashim & Hanapi Dollah. Melayu Cape di Afrika Selatan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

_____________________________________

Disampaikan dalam Seminar Peradaban Melayu

oleh Prof. Dato' Dr. Wan Hashim Wan Teh
Universiti Pertahanan Nasional Malaysia





Jika anda memiliki akun di facebook, silahkan klik tombol FOLLOW THIS NETWORK di atas, atau klik di sini. Jika diminta, loginlah seperti biasa. Lalu klik tombol FOLLOW. Tunggu beberapa saat sampai notifikasi kofirmasi muncul, saat mana anda dapat segera logout. Satu klik dari anda sangat berarti bagi blog ini. Atas semua sumbangsih yang telah diberikan, tidak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebesarnya



KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT DAFTAR SELURUH ARSIP