<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561</id><updated>2012-02-16T21:20:48.365+07:00</updated><category term='Introduction'/><category term='Brunei'/><category term='Perak'/><category term='Trengganu'/><category term='Pahang'/><category term='Kontak'/><category term='Budaya'/><category term='Muhar Omtatok'/><category term='Cendikiawan'/><category term='Tengku Puteh Tippi'/><category term='Komentar Buku'/><category term='Benua Tamiang'/><category term='Minangkabau'/><category term='Makassar'/><category term='Wikipedia'/><category term='Buku'/><category term='Singapore'/><category term='Kajian'/><category term='Artikel Pilihan'/><category term='Suriname'/><category term='Johor'/><category term='Buku Tamu'/><category term='Legenda'/><category term='Aceh'/><category term='Asahan'/><category term='Samudra Pasai'/><category term='Berita'/><category term='News'/><category term='Sastra'/><category term='Riau'/><category term='Deli'/><category term='Bulungan'/><category term='Sejarah'/><category term='Book Review'/><category term='Asal Usul'/><category term='Opini'/><category term='Penulis'/><category term='Siak'/><category term='Melaka'/><category term='English Readings'/><category term='Kelantan'/><category term='Adat'/><category term='Kedah'/><category term='Tradisi'/><category term='Malaysia'/><category term='Video Clips'/><category term='Negeri Sembilan'/><category term='Contributors'/><category term='Kesultanan'/><category term='Ragam'/><category term='Pantun'/><category term='Selangor'/><category term='Tengku Ryo Riezqan'/><category term='Tuanku Luckman Sinar Basyarsyah II'/><category term='Resensi Buku'/><category term='Uncategorized'/><category term='Langkat'/><category term='Seni Budaya'/><category term='Jurnal'/><category term='Tengku Irham Kelana'/><title type='text'>SERAMBI MELAYU</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>119</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-3175485008651531395</id><published>2011-07-10T03:08:00.000+07:00</published><updated>2011-07-10T03:09:31.906+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riau'/><title type='text'>Siak Negeri Istana</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://members.ziggo.nl/zoontjes/photos/riau/siak_01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 600px; height: 350px;" src="http://members.ziggo.nl/zoontjes/photos/riau/siak_01.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Negeri Istana (gelar kota) itu, mengingatkan aku pada satu kota lain di Malaysia, yakni Negeri Malaka. Dari pengalamanku, kedua kota itu layak disebut sebagai kota kembar, karena tata kotanya sangat mirip. Bedanya, Siak berada dipinggiran sungai, sedangkan Malaka berada di tepian pantai."&lt;/span&gt;  [&lt;a href="http://abdulkhalik-news.blogspot.com/2011/04/siak-negeri-istana-takkan-melayu-hilang.html"&gt;Khalik&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Bagi penikmat sejarah, khususnya Melayu, kurang lengkapnya rasanya bila tidak menjejakkan kaki di negeri ini. Sejarahnya yang panjang, telah meninggalkan warisan peradaban Melayu yang mengagumkan dan pantas dibanggakan. Hingga kini, keagungan itu masih terasa, melalui berbagai situs budaya yang terpelihara dengan baik. Tak salah rasanya, jika ungkapan “Takkan Melayu Hilang Di Bumi” dilekatkan pada kota itu. Warisan budaya itu, dilengkapi pula dengan sejumlah bangunan modern yang belakangan dipacu pembangunannya oleh pemerintah daerah setempat. Tak pelak, kota itu menjadi salah satu lokasi wisata sejarah yang sayang untuk dilewatkan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Pekan Baru, Siak hanya berjarak sekira dua jam ke arah Timur. Aku mengunjungi negeri itu bertolak dari Pangkalan Kerinci, ibu kota Kab. Pelalawan. Dari kota yang dibangun PT Riau Andalan Pulp And Paper (RAPP) itu, dengan mengambil jalan pintas, jaraknya kurang lebih sama. Lintasannya juga mulus, meski pada beberapa ruas jalan ada kerusakan, tapi tidak terlalu mengganggu kenyamanan berkenderaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal pengalaman sebelumnya, Aku langsung berburu ke berbagai lokasi situs budaya peninggalan Kerajaan Siak Sri Indrapura itu. Dari bilboard yang terpampang di taman kota, di kabupaten itu terdapat 17 situs budaya yang bisa dikunjungi, sekaligus mendapatkan data tentang keberadaannya. Situs budaya itu, yakni Masjid Sultan Siak, Makam Sultan Syarif Kasim II (Pahlawan Nasional), Balai Karapatan Tinggi, Makam Syekh Abdurrahman, Jembatan Agung Sulthanah Latifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Makam Raja Kecik (Pendiri Kerajaan Siak), Kolam Hijau, Danau Naga Sakti, Monumen Pompa Angguk, Danau Zamrud, Makam Marhum Mempura, Tangsi Belanda, Klenteng Tua, Makam Koto Tinggi, Istana Sultan Siak (Asserayah Hasyimiyah), Kapal Kato dan Gereja Tua. Situs budaya itu berserak di berbagai wilayah Kab. Siak. Namun sebagian besar ada di Kota Siak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istana Sultan Siak dengan sebutan Istana Asserayah Hasyimyah (Matahari Timur), lokasi yang pertama kusambangi. Komplek istana berada di areal seluas 32.000 meter, sedangkan istana memiliki luas 1.000 meter. Istana menghadap langsung ke sungai Siak, berjarak sekira 200 meter dari tepian. Bangunan itu didirikan pada 1889 oleh Sultan Assyaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi (1784-1810).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istana itu terdiri dari dua lantai. Di lantai dasar, terdapat beberapa ruangan, yakni ruang kebesaran, ruang rapat, ruang makan, ruang tamu dan ruang istirahat. Sedangkan dilantai atas, terdapat peraduan sultan dan istri serta ruangan keluarganya. Di luar istana, ada juga kediaman para petugas istana. Dalam beberapa tahun ini, Pemkab Siak juga membangun sebuah istana di belakangnya dengan arsitektur Istana Siak sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lantai dasar tersimpan berbagai peninggalan sejarah kerajaan. Beberapa peninggalan yang sempat teramati, yakni meriam kerajaan, sejumlah perjanjian antara sultan dengan beberapa kerajaan luar, silsilah raja-raja Siak. Kemudian foto-foto masa lalu terkait aktifitas kerajaan. Benda-benda peninggalan istana, mulai dari guci (buatan China) hingga piala ucapan selamat rakyat kepada sultan serta berbagai bentuk senjata tombak, keris dan pistol yang digunakan dalam berbagai peperangan. Sebelum memasuki istana, Aku menyempatkan melihat Kapal Kato (kapal api) yang tertambat di halaman samping istana sebagai kenderaan resmi sultan berpergian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dengan berjalan kaki sekira 50 meter arah Timur dari Istana, Aku memasuki komplek pemakaman Koto Tinggi. Di pemakaman keluarga kerajaan itu, sebagian besar bisa dilihat makam para sultan. Di antaranya makam Sultan Syarif Hasyim dan keluarga. Komplek itu terdiri dari satu bangunan yang diisi makam para sultan, sedangkan di luarnya ada makam keluarga kerajaan. Luasnya, 15 x 15 meter dengan perkiraan sekira 20 makam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan kaki lagi ke arah Timur, Aku bertemu klenteng tua. Diperkirakan, klenteng itu berusia ratusan tahun. Karena dari data yang ada di istana, salah satu etnis yang berdiam di Kerajaan Siak, adalah etnis Tionghoa. Warga Tionghoa kala itu, menjadi salah satu tulang punggung kejayaan ekonomi Kerajaan Siak. Terdapat beberapa piala ucapan selamat kepada sultan dari taipan (pengusaha besar) warga Tionghoa, saat ulang tahun kerajaan maupun sultan, tersimpan di istana. Kebanyakan etnis Tionghoa di kerajaan itu berprofesi pedagang. Klenteng itu, berlokasi di pusat pasar tua Kota Siak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, wajah pasar itu masih menyisakan cerita masa lalu. Bangunan-bangunan papan berlantai dua, terjaga dengan baik, karena dipelihara penghuninya yang juga keturunan Tionghoa. Pasar tua Siak, berada di bantaran sungai Siak dan berdekatan dengan dok (pelabuhan sungai). Para pedagang juga menggerai usahanya secara tertib. Tak terlihat kesemrawutan di pasar tua Siak itu. Sedangkan jalannya terlihat bersih dan rapi. Sulit menemukan sampah berserakan di jalanan. Kondisi pasar itu lah yang jadi pengingat, adanya hubungan kembar Kota Siak dengan Negeri Malaka di Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih ke ujung, terdapat gereja tua, namun kini pengelolaannya diambil oleh HKBP. Dari data yang terpampang di plang gereja, izin pendirian gereja itu bertarikh 1936. Bagian atap gereja terlihat sudah direnovasi, tapi bagian bawahnya, arsitektur klasik sebagai pertanda bangunan itu sudah berusia lama, masih terlihat.&lt;br /&gt;Keberadaan gereja itu, menunjukkan adanya pemeluk Kristiani di Kerajaan Siak. Diperkirakan, pedagang Eropah maupun Belanda punya hubungan baik dengan kerajaan Melayu itu, hingga diijinkan membangun gerejaa. Misalnya, saat pembangunan istana sultan, dikabarkan dirancang dan dikerjakan oleh arsitek dan insinyur Eropah. Bahkan, Sultan Syarif Kassim I mendapat undangan penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada 1889 sebagai salah satu bukti hubungan erat itu. Di istana juga terdapat patung Ratu Wilhelmina setengah badan yang dibuat sultan, sebagai tanda kekagumannya atas ratu kerajaan penjajah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas mengitari sisi Timur Kota Siak, setelah rehat sejenak, Aku melacak sebelah Barat kota tua itu. Yang pertama kutemukan adalah Masjid Sultan Siak atau Masjid Syahabuddin. Disamping masjid tua itu, terdapat makam Sultan Syarif Kasim II sultan terakhir Kerajaan Siak. Di masa Presiden BJ Habibie, sultan itu dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, karena pengabdian yang besar pada perjuangan Kemerdekaan RI. Sultan, kabarnya menghibahkan kekayaannya mencapai Rp13 juta Golden serta istana dan negerinya, demi perjuangan kemerdekaan. Makam Sultan Syarif Kassim II berada di sebelah masjid. Jirat makam sultan berbentuk 4 undak dari tegel dan marmer berukuran panjang 305 Cm, lebar 153 Cm dan tinggi 110 Cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Syahabuddin sendiri, berdiri pada 1926 oleh Sultan Syarif Kassim I ayah dari sultan terakhir Kerajaan Siak itu, kemudian selesai pada 1935. Dana pembangunan berasal dari kas kerajaan dan sumbangan masyarakat Siak, kala itu. Posisinya persis berada di bantaran sungai Siak. Luasnya mencapai 21,6x18,5 meter. Telah mengalami tiga kali renovasi tanpa menghilangkan keasliannya, yakni pada 1935, 1956 dan 2003. Nama Syahabuddin diambil dari kata Syahad, satu suku di Arabia asal dari sultan Kerajaan Siak, berawal dari sultan ke 2 Sultan Muhammad Ali. Arsitektur bangunan ini perpaduan antara Timur Tengah dan Eropah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asik dengan berbagai situs budaya Kerajaan Melayu Siak Sri Indrapura, tak terasa matahari mulai meninggi. Besar keinginan untuk terus melacak peninggalan keagungan kerajaan itu. Namun, waktu tak memberi peluang melakukannya. Aku pun mengaso di sebuah lokasi yang kusebut “Taman Tepian Sungai Siak.” Taman itu, berada di bantaran sungai Siak dengan Jalan Indragiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan ini, merupakan areal jajanan kota yang telah ditata sedemikian rupa oleh Pemkab setempat. Lebar taman antara tepian sungai dan pinggir jalan, sekira 10 meter, tapi panjangnya mencapai 1.000 meter. Pada tepian sungai dibuat beronjong berfungsi sebagai jalan (speksi) dilengkapi pagar pengaman. Sedangkan rumah-rumah warga yang berjualan di pinggir Jalan Indragiri, depan rumah mereka menghadap jalan dan sungai. Penataan bantaran sungai terkesan sederhana, tapi bagi siapa saja yang datang ke sana, pasti akan terpesona. Bagi para pengambil kebijakan yang ingin memanfaatkan sungai sebagai lokasi wisata, tak salah kiranya melihat penataan taman tepian sungai Siak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, jangan lupakan pula mengunjungi sejumlah bangunan modern yang dibangun Pemkab Siak, melengkapi kemegahan kota itu. Ada jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah (istri Sultan Syarif Kassim II), Masjid Raya Siak, kantor Bupati Siak dan Gedung DPRD Siak, Balai Karapatan Adat Melayu. Sedang dibangun pula GOR Siak serta beberapa fasilitas publik bercirikan ornamen Melayu. Bangun itu semua masuk kategori megah dan berbiaya miliyaran rupiah. Tak salah, jika Kab. Siak menyebut dirinya sebagai ‘Negeri Istana.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jembatan Ratu Agung Sultanah Latifah di atas sungai Siak, misalnya memiliki panjang 1.196 meter, lebar 16.95 meter dengan dua trotoar masing-masing 2,25 meter. Ketinggian 23 meter di atas permukaan sungai dengan lebar sungai Siak sekira 300 meter. Jembatan ditopang dua menara di sisi kedua tepi jembatan setinggi 80 meter. Pada puncak menara dirancang restoran yang dinaiki dengan lift untuk menerima wisatawan yang bakal menikmati kelokan sungai Siak bak ular. Kabarnya jembatan itu dibangun teknisi ITB Bandung dengan biaya Rp27 milyar, murni berasal dari APBD Kab. Siak. Diresmikan Presiden SBY bersama Gubernur Riau H. Rsuli Zainal dan Bupati Siak Arwin AS pada 2002. Jembatan itu dirancang sebagai ikon pariwisata Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lain adalah Masjid Raya Siak. Keluar dari jembatan penyeberangan memasuki inti kota, mata pun akan disambut kehadiran Masjid sangat megah itu. Masjid dengan lima kubah dan satu menara itu, diperkirakan bisa menampung 1.000 jemaah sholat. Terdiri dari ruang utama dan beranda, berhias ornamen dan ukiran Arab dan Melayu. Dilengkapi dengan perpustakaan, area parkir dan taman masjid. Yang jelas, masjid itu merupakan isyarat kemakmuran warga dari pendapatan asli daerah berasal dari minyak bumi dan minyak nabati (sawit) itu. Abdul Khalik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sejarah Singkat Kerajaan Siak&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Siak diperkirakan berdiri pada 1723 M oleh Raja Kecik bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah, putra dari Raja Johor Sultan Mahmudsyah dengan istri Encik Pong. Semasa Raja Kecik masih dalam kandungan, terjadi perebutan tahta di Kerajaan Johor, sekira 1699. Raja Johor Sultan Mahmudsyah tewas dibunuh Megat Sri Rama. Permaisuri Encik Pong yang lagi hamil tua, melarikan diri ke Singapura, kemudian menyeberang Ke Jambi. Dalam pelarian itulah Encik Pong melahirkan Raja Kecik. Belakangan Raja Kecik dipelihara oleh keluarga Kerajaan Pagaruyung Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Sultan Mahmudyah, Kerajaan Johor diperintah sultan baru Datuk Bendahara Tun Habib bergelar Sultan Abdul Jalil Riayatsyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan halnya daerah Siak, masuk dalam teritorial Kerajaan Johor. Namun selama 100 tahun wilayah itu tidak memiliki pemimpin, hanya berada dalam pengawasan kesyahbandaran yang bertugas mengutip pajak dan cukai dari rakyat. Kata “Siak” berasal dari nama sejenis tumbuhan yang banyak di daerah itu, yakni siak-siak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan halnya Raja Kecik, setelah dewasa pada 1717 berhasil merebut tahta Kerajaan Johor. Namun, pada 1727, tampuk kekuasaan Raja Kecik justru berusaha dikudeta iparnya sendiri Tengku Sulaiman, anak dari Sultan Abdul Jalil Riayatsyah. Tengku Sulaiman, dalam upaya kudeta itu dibantu para bangsawan Bugis. Akibatnya Raja Kecik terpaksa mengundurkan diri dari pusat kekuasaan Kerajaan Johor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kali pertempuran, terjadi pertumpahan darah yang besar. Kedua belah pihak kemudian, melakukan gencatan senjata dan mundur ke wilayah yang dikuasai. Tengku Sulaiman tetap berada di Johor, sedangkan Raja Kecik mundur ke Pulau Bintan. Kemudian, menyusuri sungai Siak dan mendirikan kerajaan di pinggiran sungai Buantan (anak sungai Siak). Dari situlah awal berdirinya Kerajaan Siak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak berada di tepian sungai Buantan, pusat kerajaan Raja Kecik selalu berpindah-pindah. Dari Buantan berpindah ke Mempura, lalu ke Senapelan Pekan Baru, Kemudian kembali lagi ke Mempura. Semasa pemerintahan Sultan Assyaidis Syarif Ismail Jalil Jalaluddin (1827-1864), pusat Kerajaan Siak berpindah ke Siak Sri Indrapura dan menetap di sana hingga melebur ke dalam NKRI pada 1946.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Siak bertahan selama 223 tahun (1723-1946) dengan sultan yang memerintah sebanyak 12 orang. Mereka adalah, Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah I (1725-1746), Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah II (1746-1765), Sultan Abdul Jalil Jalaluddin Syah (1765-1766), Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (1766-1780), Sultan Mhd. Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (1880-1782), Sultan Yahya Abdul Jalil Muzaffar Syah (1782-1784).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Sultan Assyaidis Asyarif Ali Abdul JalilSyaifuddin Baalawi (1784-1810),Sultan Assyaidis Syarif Ibrahim Abdul Jalil Khaliluddin (1810-1815), Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin (1815-1854), Sultan Assyaidis Syarif Kasyim Abdul Jalil Syaifuddin I (Syarif Kasim I) (1884-1889), Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin (1889-1908) dan Sultan Assyaidis Syarif Kasyim Abdul Jalil Syaifuddin I (Syarif kasim II) (1908-1946).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan, Kerajaan Siak mencapai masa kegemilangannya di masa Sultan Assyaidis Assyarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi. Di masa pemerintahan sultan itu, kekuasaan Siak mencapai 12 wilayah jajahan, meliputi Temiang, Langkat, Deli, Serdang, Asahan, Kota Pinang, Pagarawan, Batubara, Bedagai, Kualuh, Panai, Bilah, bahkan hingga ke Sambas Kalimantan.Selain itu, kekuasaan di Riau meliputi, Pelalawan, Kubu, Bangka dan Tanah Putih. Itu sebabnya, reputasi Kesultanan Siak telah mewarnai berbagai proses kesejarahan berbagai Kerajaan Melayu di Sumatera Bagian Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan Kerajaan Padang yang berpusat di Kota Tebingtinggi, pendiri kota itu, yakni Datuk Bandar Kajum, merupakan seorang laksamana angkatan laut Kerajaan Siak untuk wilayah Bedagai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca Sultan Assyaidis Assyarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi memerintah, kekuasaan Kerajaan Siak mulai menyusut. Selain terjadinya berbagai intrik di lingkungan istana, faktor terbesar adalah kehadiran Inggris dan Belanda di perairan Malaka. Dalam salah satu perjanjian antara Kerajaan Siak dan Belanda, seluruh jajahan Siak diserahkan kepada Belanda. Sehingga teritorial Siak hanya sebatas nama yang disandangnya. Wilayah hasil perjanjian dengan Belanda itulah yang kemudian melebur dengan NKRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BALAIRUNG SIAK&lt;/span&gt; : Balairung Sultan Sika, tempat bermulanya berbagaikebijakan kerajaan dalam rangka kesejhateraan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ISTANA SIAK&lt;/span&gt; : Pusat pemerintahan Kerajaan Siak yang dibangun 1889.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MASJID RAYA&lt;/span&gt; : Masjid Raya Siak yang dibangun Pemkab Siak. Simbol Siak Negeri Istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari &lt;a href="http://abdulkhalik-news.blogspot.com/"&gt;Blog KhalikNews&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;Lihat juga: &lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/06/kesultanan-siak-sri-inderapura.html"&gt;Kesultanan Siak Sri Inderapura&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-3175485008651531395?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/3175485008651531395/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/07/siak-negeri-istana.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/3175485008651531395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/3175485008651531395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/07/siak-negeri-istana.html' title='Siak Negeri Istana'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-5020903716781884100</id><published>2011-06-14T00:52:00.012+07:00</published><updated>2011-06-14T01:46:29.023+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wikipedia'/><title type='text'>Kesultanan Siak Sri Inderapura</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://images.travelpod.com/users/venoth/50.1267401273.siak-sri-indrapura-palace.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 600px; height: 400px;" src="http://images.travelpod.com/users/venoth/50.1267401273.siak-sri-indrapura-palace.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Siak_Sri_Inderapura"&gt;Wikipedia&lt;/a&gt; - Kesultanan Siak Sri Inderapura merupakan sebuah Kerajaan Melayu yang pernah berdiri di daerah Provinsi Riau, Indonesia, tepatnya di Kabupaten Siak sekarang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Awalnya kerajaan ini didirikan di Buantan oleh Raja Kecil, dari Pagaruyung yang bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723, setelah sebelumnya tersingkir atas tahta &lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/kesultanan-johor-riau-lingga.html"&gt;Kesultanan Johor&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Etimologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kata Siak Sri Inderapura, secara harfiah dapat bermakna pusat kota raja yang taat beragama, Siak dalam anggapan masyarakat Melayu sangat bertali erat dengan agama Islam, Orang Siak ialah orang-orang yang ahli agama Islam, kalau seseorang hidupnya tekun beragama dapat dikatakan sebagai Orang Siak. Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti "bercahaya" dan indera atau indra dapat bermakna raja. Sedangkan pura dapat bermaksud dengan "kota" atau "kerajaan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membandingkan dengan catatan Tomé Pires yang ditulis antara tahun 1513-1515, belum menyebutkan adanya nama Siak antara kawasan Arcat dan Indragiri yang disebutnya sebagai kawasan pelabuhan raja Minangkabau, serta juga menyebutkan dari tiga raja MInangkabau itu hanya satu raja yang telah memeluk Islam,[2] sehingga jika dikaitkan dengan pepatah Minangkabau yang terkenal: Adat menurun, syara’ mendaki dapat bermakna masuknya Islam ke dataran tinggi pedalaman Minangkabau dari Siak sehingga orang-orang yang ahli dalam agama Islam, sejak dahulu sampai sekarang, masih tetap disebut dengan Orang Siak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Siak, dapat merujuk kepada sebuah klan di kawasan antara Pakistan dan India, Sihag atau Asiagh yang bermaksud pedang. Masyarakat ini dikaitkan dengan bangsa Asii,[3] masyarakat nomaden yang disebut oleh masyarakat Romawi, dan diidentifikasikan sebagai Sakai oleh Strabo seorang penulis geografi dari Yunani.[4] Berkaitan dengan ini pada sehiliran Sungai Siak sampai hari ini masih dijumpai masyarakat terasing yang dinamakan sebagai Orang Sakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masa awal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Raja Kecil putra Pagaruyung dalam Hikayat Johor disebut juga dengan sang pengelana pewaris Sultan Johor yang kalah dalam perebutan kekuasaan. Sedangkan berdasarkan korespodensi Sultan Indermasyah Yang Dipertuan Pagaruyung dengan Gubernur Jenderal Belanda di Melaka waktu itu menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil merupakan saudaranya yang diutus untuk urusan dagang dengan pihak VOC.[5] Sultan Abdul Jalil dalam suratnya tersendiri yang ditujukan kepada pihak Belanda menyebut dirinya sebagai Raja Kecil dari Pagaruyung.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya dari catatan Belanda, telah mencatat pada tahun 1674, ada datang utusan dari Johor untuk mencari bantuan bagi raja Minangkabau berperang melawan raja Jambi.[7] Kemudian berdasarkan surat dari raja Jambi, Sultan Ingalaga kepada VOC pada tahun 1694, menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil dari Pagaruyung, hadir menjadi saksi perdamaian dari perselisihan mereka.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1717 Sultan Abdul Jalil berhasil menguasai Kesultanan Johor sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai Sultan Johor, namun di tahun 1722 Sultan Abdul Jalil disingkirkan akibat pengkianatan beberapa bangsawan Johor dan kemudian ia pindah ke Siak serta mendirikan kerajaan baru yang dipimpinnya sendiri di tahun 1723.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masa Keemasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1724-1726 Sultan Abdul Jalil melakukan perluasan wilayah dimulai dengan memasukan Rokan ke dalam wilayah Kesultanan Siak, membangun pertahanan armada laut di &lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/03/bintan-in-malay-history.html"&gt;Bintan &lt;/a&gt;bahkan di tahun 1740-1745 menaklukan beberapa kawasan di&lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/selayang-pandang-kesultanan-kedah.html"&gt; Kedah.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1761, putra Sultan Abdul Jalil yang menjadi Sultan Siak berikutnya membuat perjanjian ekslusif dengan pihak Belanda, dalam urusan dagang dan hak atas kedaulatan wilayahnya serta bantuan dalam bidang persenjataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-18 Kesultanan Siak telah menjadi kekuatan yang dominan di pesisir timur Sumatera. Tahun 1780 Kesultanan Siak menaklukkan daerah Langkat, dan menjadikan wilayah tersebut dalam pengawasannya,[9] termasuk wilayah Deli dan Serdang.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangkauan terjauh pengaruh Kesultanan Siak sampai ke Sambas di Kalimantan Barat. Kesultanan Siak mengambil keuntungan atas pengawasan perdagangan melalui Selat Melaka dan kemampuan mengendalikan para perompak di kawasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penurunan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ekspansi kolonialisasi Belanda ke kawasan timur Pulau Sumatera tidak mampu dihadang oleh Kesultanan Siak, dimulai dengan lepasnya &lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/03/kerajaan-aru-dan-kerajaan-deli.html"&gt;Kesultanan Deli&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/03/selayang-pandang-sejarah-kesultanan.html"&gt;Kesultanan Asahan&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2009/01/kesultanan-langkat.html"&gt;Kesultanan Langkat&lt;/a&gt;, kemudian muncul Kesultanan Inderagiri yang menjadi vassal dari &lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/kesultanan-aceh-darussalam.html"&gt;Kesultanan Aceh&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan Inggris atas Selat Melaka, mendorong Sultan Siak pada tahun 1840 untuk menerima tawaran perjanjian baru mengganti perjanjian yang telah mereka buat sebelumnya pada tahun 1819. Perjanjian ini menjadikan wilayah Kesultanan Siak semakin kecil dan terjepit antara wilayah kerajaan kecil lainnya yang mendapat perlindungan dari Inggris. Sementara pada tahun 1859 Belanda membatalkan niat mereka untuk menaklukan Kesultanan Siak, dan memilih untuk tetap menjadikan Kesultanan Siak berdaulat atas wilayahnya setelah Sultan Siak menjamin untuk menghancurkan para perompak yang bersembunyi di wilayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan peta politik atas penguasaan jalur Selat Malaka dan persaingan dengan beberapa kerajaan lain seperti dengan Kesultanan Aceh, Kesultanan Johor, Kesultanan Jambi bahkan dengan pihak Inggris dan Belanda melemahkan pengaruh hegemoni Kesultanan Siak atas wilayah-wilayah yang pernah dikuasainya. Kemampuan Kesultanan Siak dalam melakukan negoisasi menjadikan kerajaan ini tetap bertahan sampai kemerdekaan Indonesia, walau pada masa pendudukan tentara Jepang sebagian besar kekuatan militer Kesultanan Siak sudah tidak berarti lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bergabung dengan Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/17/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Studioportret_van_de_Sultan_van_Siak_met_zijn_echtgenote_TMnr_60003230.jpg/250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Studioportret_van_de_Sultan_van_Siak_met_zijn_echtgenote_TMnr_60003230.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 0px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 250px; height: 407px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/17/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Studioportret_van_de_Sultan_van_Siak_met_zijn_echtgenote_TMnr_60003230.jpg/250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Studioportret_van_de_Sultan_van_Siak_met_zijn_echtgenote_TMnr_60003230.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sultan Syarif Kasim II, merupakan Sultan Siak terakhir yang tidak memiliki putra, seiring dengan kemerdekaan Indonesia, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Struktur pemerintahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Kerajaan Pagaruyung, juga mewarnai sistem pemerintahan pada Kesultanan Siak, setelah Sultan Siak, terdapat Dewan Menteri yang mirip dengan kedudukan Basa Ampek Balai di Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Menteri ini memiliki kekuasaan untuk memilih dan mengangkat Sultan Siak, sama dengan Undang Empat di &lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/selayang-pandang-kesultanan-negeri_839.html"&gt;Negeri Sembilan&lt;/a&gt;. Dewan Menteri bersama dengan Sultan menetapkan undang-undang serta peraturan bagi masyarakatnya. Dewan menteri ini terdiri dari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Datuk Tanah Datar&lt;br /&gt;2. Datuk Limapuluh&lt;br /&gt;3. Datuk Pesisir&lt;br /&gt;4. Datuk Kampar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Potret Sultan Siak, Sultan Syarif Kasim II dan istrinya (1910-1939)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kawasan tertentu dalam Negeri Siak, ditunjuk Kepala Suku yang bergelar Penghulu, yang dibantu oleh Sangko Penghulu, Malim Penghulu serta Lelo Penghulu. Sementara terdapat juga istilah Batin, dengan kedudukan yang sama dengan Penghulu, namun memiliki kelebihan hak atas hasil hutan yang tidak dimiliki oleh Penghulu. Batin ini juga dibantu oleh Tongkat, Monti dan Antan-antan. Istilah Orang Kaya juga digunakan untuk jabatan tertentu dalam Kesultanan Siak, sama halnya dengan pengertian Rangkayo atau Urang Kayo di Minangkabau terutama pada kawasan pesisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaan masalah pengadilan umum di Kesultanan Siak diselesaikan melalui Balai Kerapatan Tinggi yang dipimpin oleh Sultan Siak, Dewan Menteri dan dibantu oleh Kadi Negeri Siak serta Controleur Siak sebagai anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kitab hukum atau undang-undang di Negeri Siak, dikenal dengan nama Bab Al-Qawa'id. Kitab ini mengurakan hukum yang dikenakan kepada masyarakat Melayu dan masyarakat lain yang terlibat perkara dengan masyarakat Melayu. Namun tidak mengikat orang Melayu yang bekerja dengan pihak pemerintah Hindia-Belanda, di mana jika terjadi permasalahan akan diselesaikan secara bilateral antara Sultan Siak dengan pemerintah Hindia-Belanda.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam administrasi pemerintahannya Kesultanan Siak telah membagi beberapa kawasan dalam bentuk distrik yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Datuk atau Tuanku atau Yang Dipertuan dan bertanggungjawab kepada Sultan Siak yang juga bergelar Yang Dipertuan Besar. Pengaruh Islam dan keturunan Arab mewarnai Kesultanan Siak, salah satunya keturunan Al-Jufri yang bergelar Bendahara Patapahan,[12] serta arsitektur istana Sultan Siak yang dibangun pada tahun 1889.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daftar Sultan Siak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah daftar Sultan Siak Sri Inderapura.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;1723-1746  Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah I  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;1746-1765  Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah II  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;1765-1766  Sultan Abdul Jalil Jalaluddin Syah  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;1766-1780  Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;1780-1782  Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;1782-1784  Sultan Yahya Abdul Jalil Muzaffar Syah  Dimakamkan di Tanjung Pati (Che Lijah, Dungun, Terengganu, Malaysia)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;1784-1810  Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;1810-1815  Sultan Assyaidis Syarif Ibrahim Abdul Jalil Khaliluddin  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;1815-1864  Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin  Dipaksa Belanda turun tahta tahun 1864&lt;/li&gt;&lt;li&gt;1864-1889  Sultan Assyaidis Syarif Kasyim Abdul Jalil Syaifuddin I  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;1889-1908  Yang Dipertuan Besar Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin[11] Sultan Syarif Hasyim  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;1915-1946  Yang Dipertuan Besar Syarif Kasyim Abdul Jalil Saifuddin[13] Sultan Syarif Kasim II  Menyerahkan kerajaannya pada pemerintah Republik Indonesia&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Warisan sejarah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siak Sri Inderapura sampai sekarang tetap diabadikan sebagai nama ibu kota dari Kabupaten Siak, dan Istana Siak Sri Inderapura dan Balai Kerapatan Tinggi yang dibangun tahun 1886 masih tegak berdiri sebagai simbol kejayaan masa silam, termasuk Tari Zapin dan Tari Olang-olang yang pernah mendapat kehormatan menjadi pertunjukan utama untuk ditampilkan pada setiap perayaan di Kesultanan Siak Sri Inderapura. Nama Siak masih melekat merujuk kepada nama sebuah sungai di Provinsi Riau sekarang, yaitu Sungai Siak yang bermuara pada kawasan timur pulau Sumatera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rujukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Supplement-catalogus Der Maleische en Minangkabausche Handschriften in de Leidsche Universiteits - Bibliotheek, Brill Archive.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;   Cortesão, Armando, (1944), The Suma Oriental of Tomé Pires, London: Hakluyt Society, 2 vols.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;   Tod, James (1899). The annals and antiquities of Rajastʾhan: or the central and ..., Volume 2. Indian Publication Society. hlm. 1010. http://books.google.co.in/books?ei=QfOgS9KvD4TylQSPvZD1CQ&amp;amp;cd=1&amp;amp;id=rjJLAAAAYAAJ&amp;amp;dq=Asiagh+james+tod&amp;amp;q=Asiagh+Asi. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;   Iaroslav Lebedynsky. (2006). Les Saces: Les «Scythes» d'Asie, VIIIe siècle av. J.-C. — IVe siècle apr. J.-C. Editions Errance, Paris. ISBN 2-87772-337-2&lt;/li&gt;&lt;li&gt;   Coolhaas, W.P. (1964). "Generale Missiven der V.O.C.". Journal of Southeast Asian History 2 (7). doi:10.1017/S0217781100003318. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;   NA, VOC 1895, Malacca, 30 Januari 1718, fols.55-6.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;   Andaya, L.Y., (1971), The Kingdom of Johor, 1641-1728: a study of economic and political developments in the Straits of Malacca. s.n.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;   NA, VOC 1557, Jambi, 1 April 1694, fols.35-6.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;   Penelitian dan pengkajian naskah kuno daerah Jambi, Volume 2, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, 1989&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  Cribb, R. B., Kahin, A., (2004), Historical dictionary of Indonesia, Scarecrow Press, ISBN 0810849356.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  a b Luthfi, A., (1991), Hukum dan perubahan struktur kekuasaan: pelaksanaan hukum Islam dalam Kesultanan Melayu Siak, 1901-1942, Susqa Press.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  L.W.C. van de Berg, Le Hadramouth et les colonies Arabes dans l'archipel Indien, Batavia:Imprimerie du gouvernement, 1886.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  Dutch East Indies, (1941), Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië, Volume 1.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;D. J. Goudie, P. L. Thomas, T. Effendy, (1989), Syair Perang Siak: a court poem presenting the state policy of a Minangkabau Malay royal family in exile, MBRAS.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    A. Flicher, Les Etats princiers des Indes néerlandaises, Dreux 2009&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    Luthfi, A., (1991), Hukum dan perubahan struktur kekuasaan: pelaksanaan hukum Islam dalam Kesultanan Melayu Siak, 1901-1942, Susqa Press.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    Ghalib, W. dkk, (1992), Adat istiadat Melayu Riau di bekas Kerajaan Siak Sri Indrapura: pengkajian dan pencetakan kebudayaan Melayu Riau, Lembaga Adat Daerah Riau, Lembaga Adat Riau dan Pemerintah Daerah Tk. I Prop. Riau, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Riau.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    H. T. S. Umar Muhammad, Tenas Effendy, T. Razak Jaafar, (1988), Silsilah keturunan raja-raja Kerajaan Siak Sri Indrapura dan Kerajaan Pelalawan.s.n.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lihat Pula&lt;/span&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pagaruyung"&gt;Kerajaan Pagaruyung&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Inderapura"&gt;Kerajaan Inderapura&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Kuntu"&gt;Kesultanan Kuntu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pranala luar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Search Wikimedia Commons  Wikimedia Commons memiliki kategori mengenai &lt;a href="http://commons.wikimedia.org/wiki/Category:Sultans_of_Siak"&gt;Kesultanan Siak Sri Inderapura&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;    (id) &lt;a href="http://www.siak.go.id/content.php?p=79"&gt;Sejarah Singkat Kerajaan Siak&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    (id) &lt;a href="http://www.majalahsagang.com/web/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=35&amp;amp;Itemid=16"&gt;Kronik mengenai pusat Kesultanan Siak&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    (id) &lt;a href="http://history.melayuonline.com/?a=bVQva0xRL1lYcXRCeDdraQ%3D%3D="&gt;Sejarah Kerajaan Siak di MelayuOnline.com&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    (en) &lt;a href="http://www.uq.net.au/%7Ezzhsoszy/states/indonesia/siak.html"&gt;Kesultanan Siak di University of Queensland&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-5020903716781884100?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/5020903716781884100/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/06/kesultanan-siak-sri-inderapura.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/5020903716781884100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/5020903716781884100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/06/kesultanan-siak-sri-inderapura.html' title='Kesultanan Siak Sri Inderapura'/><author><name>Si Bungsu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15032113615760295721</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-WO9uV3dnsao/TdQQDdEpyCI/AAAAAAAAAFk/dJ2llVmwAf4/s220/bungsu.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-8010298170415567284</id><published>2011-06-10T00:24:00.014+07:00</published><updated>2011-06-11T13:03:59.221+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Introduction'/><title type='text'>Redefinisi Melayu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;UPAYA MENJEMBATANI PERBEDAAN KEMELAYUAN DUA BANGSA SERUMPUN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-qGTsDWR35aA/TfEHkaPUU6I/AAAAAAAAAGM/zqGddijkJv8/s1600/MAM-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 0px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 221px; height: 257px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-qGTsDWR35aA/TfEHkaPUU6I/AAAAAAAAAGM/zqGddijkJv8/s320/MAM-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5616278532407972770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kebudayaan modern dan post-modern menimbulkan perubahan di berbagai aspek  kehidupan dengan tingkat kecepatan yang mengejutkan. Perubahan itu dipicu oleh  kecepatan pertukaran informasi yang disajikan setiap detiknya oleh cybermedia,  televisi, radio dan media-media lain (Bernard T. Adeney, 2004). Media-media  informasi itu mengaburkan batas-batas fisik dan budaya -- oleh Arjun Appadurai  disebut “deteritorialisasi” -- sehingga menciptakan dunia baru dengan  batas-batas wilayah dan nilai yang bersifat relatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses deteritorialisasi  ini merupakan suatu proses penting karena ia menjadi titik balik peradaban  kontemporer yang memiliki implikasi yang luas dalam berbagai proses sosial dan  budaya (Irwan Abdullah, 2006). Implikasi positif atau negatif dapat terjadi  dalam proses sosial dan budaya itu, yang diawali dengan perubahan cara berpikir  dan cara memandang dunia. Upaya-upaya menduniakan nilai-nilai luhur Melayu  menjadi sangat penting sebagai penyeimbang ide dan gagasan dari luar dunia Melayu  yang bersifat destruktif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;   &lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Sebelum membicarakan bagaimana seharusnya bangsa Melayu memanfaatkan  efektivitas &lt;a href="http://melayuonline.com/article/?a=SlJQL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D="&gt;teknologi informasi&lt;/a&gt; untuk membangun peradabannya, terlebih dahulu kita  membahas tentang apa itu Melayu dengan pengertian yang lebih luas. Pembahasan  ini bertujuan memberikan penawaran definisi baru yang tidak berpihak pada suku  bangsa Melayu tertentu dan mengesampingkan yang lain. Jika definisi baru yang  dimaksud dapat diterima, maka pekerjaan-pekerjaan selanjutnya yang menjadi  tanggung jawab kolektif dapat dilaksanakan secara bersama-sama. Perbedaan  pendapat tentang apa itu Melayu merupakan isu lama yang terbentuk di bawah  pengaruh &lt;a href="http://melayuonline.com/history"&gt;sejarah&lt;/a&gt;, agama, fanatisme ras, batas-batas geografis, dan afiliasi  politik setiap individu. Kondisi lingkungan dan afiliasi seseorang pada hal-hal  di atas mempengaruhi konsepsinya dalam melihat dan memaknai Melayu, sehingga nilai  subyektivitasnya lebih mengemuka. Biasanya pengertian Melayu yang muncul  menjadi sempit dengan merujuk kepada pengalaman dan afiliasi pribadinya,  seperti Melayu adalah Islam jika yang mendefinisikan adalah penganut agama  Islam; Melayu adalah Riau jika yang berbicara orang Riau; Melayu adalah Malaka jika  yang berbicara berasal dari Malaka, dan seterusnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Oleh karena itu, diperlukan upaya redefinisi Melayu melalui paradigma  holistik yang dapat mengakomodir berbagai aspek: sejarah, budaya, agama, ras, dan  bahasa dalam satu bingkai pengertian yang utuh sehingga seluruh puak Melayu di  dunia dapat diakui identitasnya sebagai orang Melayu. Upaya penawaran redefinisi  ini penting karena beberapa alasan: &lt;i style=""&gt;pertama&lt;/i&gt;,  untuk menumbuhkan kesadaran bahwa seluruh puak Melayu di dunia adalah saudara  serumpun, meskipun mereka memiliki beberapa perbedaan, seperti ras, agama,  bahasa, dan kewarganegaraan. &lt;i style=""&gt;Kedua&lt;/i&gt;, untuk  mempersatukan kembali puak-puak Melayu yang telah terkecai-kecai akibat politik  pecah belah pemerintah kolonial. &lt;i style=""&gt;Ketiga&lt;/i&gt;,  untuk mengoptimalkan potensi bangsa Melayu, baik secara kualitas maupun  kuantitas, dalam menghadapi persaingan global, sehingga menjadi bangsa yang  mandiri dan bermarwah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;UPAYA REDEFINISI MELAYU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Tidak mudah memberikan redefinisi Melayu yang dapat memuaskan semua pihak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sejauh ini, upaya  saya meredefinisikan Melayu dan telah saya wujudkan dalam &lt;a href="http://melayuonline.com/sitemap"&gt;struktur dan isi&lt;/a&gt; di &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;MelayuOnline.com&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;  dinilai oleh beberapa orang masih problematis. Melalui &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;MelayuOnline.com&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, saya  meredefiniskan Melayu sebagai “bangsa di manapun mereka berada yang pernah atau  masih mempraktekkan budaya Melayu tanpa dibatasi sekat-sekat agama, ras,  bahasa, geografi, dan afiliasi politik”. Yang perlu saya tegaskan di sini  adalah bahwa upaya redefinisi Melayu tersebut bertujuan untuk mengakomodir dan  &lt;a href="http://melayuonline.com/about/"&gt;menyatukan seluruh puak Melayu se-dunia&lt;/a&gt; dengan memanfaatkan teknologi informasi,  bukan untuk menambah daftar perbedaan definisi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kenyataan bahwa  bangsa Melayu telah ada sejak zaman pra Hindu-Buddha, kemudian berkembang dan  menyebar ke berbagai penjuru dunia merupakan alasan &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;MelayuOnline.com&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; meredefinisikan  Melayu berdasarkan kesamaan sejarah dan budaya. Secara umum, identitas bangsa Melayu  hingga saat ini ditopang oleh empat pilar yang terdiri dari empat fase sejarah:  pilar pertama adalah fase pra Hindu-Buddha; pilar kedua, fase Hindu-Buddha;  pilar ketiga, fase Islam; dan pilar keempat, fase kolonialisme. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Oleh karena  panjangnya perjalanan sejarah, &lt;a href="http://www.wisatamelayu.com/"&gt;luasnya persebaran area&lt;/a&gt;, dan perbedaan  pengalaman interaksi dengan bangsa lain, maka tingkat pengaruh pilar-pilar tersebut  terhadap suku bangsa Melayu yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Hal itu  tergantung pada tempat di mana suku bangsa Melayu berada, kondisi lingkungannya,  dan intensitas interaksinya dengan budaya lain. Misalnya, &lt;a href="http://melayuonline.com/article?a=SkpvL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D="&gt;pengaruh Islam pada  suku bangsa Melayu&lt;/a&gt; di daerah tertentu sangat kuat, seperti di Minangkabau, tetapi  di daerah lain tidak kuat, seperti pada suku-suku Melayu di pedalaman &lt;st1:place st="on"&gt;Sumatra&lt;/st1:place&gt;. Untuk memperjelas perbedaan tingkat pengaruh  masing-masing pilar tersebut, di sini saya mencoba menjelaskan keempat pilar tersebut  secara ringkas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a. Fase Pra-Hindu-Budha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bangsa Melayu diperkirakan  telah ada di kawasan Nusantara sejak 3.000 tahun sebelum Masehi, yang dikenal  sebagai “Proto-Melayu” (Harun Mat Piah, 1993). Mereka meninggalkan benda-benda  bersejarah yang sangat penting sebagai penanda kemajuan &lt;a href="http://melayuonline.com/culture"&gt;peradaban Melayu&lt;/a&gt; saat  itu. Di berbagai kawasan di Nusantara banyak ditemukan patung-patung,  palungan-palungan tempat menyimpan tengkorak, menhir-menhir untuk menghormati  arwah nenek moyang, dan lain-lain. Proto-Melayu merupakan pendukung kebudayaan  zaman batu yang mampu menghasilkan bahan-bahan makanan dengan cara bercocok  tanam (D.G.E. Hall). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kemudian, sekitar  tahun 300 SM, menyusul pendatang Melayu lainnya, yaitu “Deutro-Melayu”.  Kedatangan mereka mendesak sebagian Proto-Melayu hingga mereka pindah ke  daerah-daerah pedalaman, dan sisanya bercampur dengan pendatang baru (Mahdini,  2003). Kebudayaan Deutro-Melayu jauh lebih maju dengan mengembangkan peralatan-peralatan  dari perunggu dan besi. Peninggalan-peninggalan Proto dan Deutro-Melayu dinilai  oleh Hall sebagai peradaban &lt;a href="http://melayuonline.com/article?a=aW9xL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D="&gt;Melayu kuno&lt;/a&gt; yang telah memiliki ciri dan  karakternya sendiri, sebelum mereka dipengaruhi oleh kebudayaan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.  Hall mencatat bahwa beberapa komunitas Proto dan Dutro-Melayu hingga kini masih  ada dan tersebar di berbagai kawasan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, terutama di daerah-daerah  pedalaman, dengan tetap mempraktekkan kepercayaan animisme dan dinamisme (D.G.E.  Hall).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b. Fase Hindu-Budha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Peradaban Melayu  memasuki babak baru ketika masyarakat Melayu kuno menjalin hubungan dengan  bangsa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.  Hubungan antara masyarakat Melayu dengan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; diperkirakan telah mulai  sejak abad ke 3 Masehi melalui jalur-jalur perdagangan. Hall memperkirakan  orang-orang Melayu, pada waktu itu, sudah banyak yang sampai ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;,  mengingat mereka adalah pelaut ulung. Meski demikian pengaruh Hindu-Buddha baru  berkembang pesat di Nusantara pada abad ke 5 M. Kerajaan Kutai di Kalimantan,  patung-patung Buddha gaya Amaravati yang ditemukan di beberapa tempat di  Sulawesi, Jawa, dan Sumatra menunjukkan perkembangan &lt;a href="http://melayuonline.com/article?a=aW9xL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D="&gt;pengaruh kebudayaan  Hindu-Buddha&lt;/a&gt; yang cukup signifikan pada abad itu (D.G.E. Hall).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kerajaan-kerajaan  Hindu dan Buddha di Nusantara mencapai puncak kegemilangannya pada abad ke-9  hingga ke-15 M. Di antara kerajaan Hindu- Buddha di Nusantara yang besar adalah  &lt;a href="http://melayuonline.com/history/?a=c3NWL29QTS9VenVwRnRCb20%3D="&gt;Sriwijaya&lt;/a&gt; di Sumatra; &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Kediri&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;,  Singasari, dan Majapahit di Jawa. Kitab &lt;i style=""&gt;Nagarakartagama&lt;/i&gt;  mencatat daerah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya menguasai 22 daerah di Pulau &lt;st1:place st="on"&gt;Sumatra&lt;/st1:place&gt;. Versi lain menyebutkan bahwa pada masa  kegemilangannya, Sriwijaya menguasai sebagian besar daerah di Nusantara,  termasuk Kamboja (Harun Mat Piah, 1993). Memasuki abad ke-13, dominasi  kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha berangsur angsur memudar. Periode itu ditandai  dengan melemahnya kerajaan Majapahit, dan di saat yang sama, terjadi penyebaran  ajaran Islam secara aktif dan meluas ke berbagai kawasan di &lt;a href="http://melayuonline.com/history/?a=SC9nSFUveVRteDdaM2dl="&gt;Nusantara&lt;/a&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pengaruh budaya  Hindu-Buddha pada masyarakat Melayu hingga dewasa ini terlihat pada  upacara-upacara adat, arsitektur bangunan dan bahasa Melayu. Contoh kata dalam  bahasa Melayu yang berasal dari kata Sansekerta di antaranya adalah bulan,  berasal dari kata &lt;i style=""&gt;“vulan”,&lt;/i&gt; sampan  dari &lt;i style=""&gt;“samvau”&lt;/i&gt;, seribu dari &lt;i style=""&gt;“sarivu”&lt;/i&gt;, dan lain-lain. Sebagian puak  Melayu yang masih memeluk agama Hindu-Buddha hidup di beberapa negara, seperti &lt;st1:city st="on"&gt;Kamboja&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Myanmar&lt;/st1:country-region&gt;,  dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Vietnam&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;c. Fase Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://melayuonline.com/article?a=Sm1vL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D="&gt;Islam masuk ke Nusantara&lt;/a&gt;  melalui jalur perdagangan sejak sekitar abad ke-11, dan berkembang semakin cepat  mulai abad ke-13. Perbedaan pendapat antarpeneliti terjadi seputar dari mana  Islam datang, dan siapa yang membawanya masuk ke Nusantara. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Ada yang berpendapat bahwa Islam datang dari Cina, Gujarat, India, Persia atau  Turki. Terlepas dari perbedaan tersebut, agama ini telah diterima secara luas  oleh bangsa Melayu karena sifatnya yang egaliter dan populis. Islam tidak  mengenal sistem kasta dan kependetaan, sehingga memungkinkan keterlibatan semua  lapisan masyarakat dalam seluruh bidang kehidupan, termasuk pendidikan (Abdul  Hadi, 2008).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Faktor penting lainnya yang menyebabkan Islam cepat berkembang di Nusantara  adalah karena penyebaran agama ini didukung oleh tiga kekuatan, yaitu istana,  pesantren dan pasar (Taufik Abdullah, 1988). Istana sebagai pusat kekuasaan  berperan dalam memberikan legitimasi politis untuk disebarkan kepada rakyat yang  bernaung di bawahnya. Pesantren yang dikelola oleh kaum tarekat berperan memberikan  penjelasan tentang esensi Islam sebagai agama yang membumi dan mudah dicerna.  Sifat pesantren yang terbuka untuk siapapun tanpa memandang latar belakang  suku, ras dan status sosial, menjadikan lembaga ini sebagai tempat rujukan  masyarakat untuk belajar mendalami ajaran Islam. Sementara itu, pasar merupakan  daerah pemukiman para saudagar, kaum terpelajar, dan kelas menengah lain yang  berhadapan langsung dengan situasi kultural yang sedang berkembang. Di sini,  dialog dan pertukaran pikiran dan informasi tentang masalah perdagangan,  politik, sosial dan keagamaan berjalan sangat cepat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Dengan didukung oleh ketiga kekuatan tersebut, &lt;a href="http://melayuonline.com/article?a=bWtQL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D="&gt;pengaruh Islam dalam  masyarakat Melayu&lt;/a&gt; begitu mantap. Secara kultural, Islam disebarkan melalui  pesantren dan pasar; dan secara politik dilegitimasi oleh istana. Ilmu pengetahuan  Islam seperti syariah, tasawuf, kalam, tafsir, dan hadis, dan ilmu pengetahuan  umum seperti, ilmu hisab, perkapalan, estetika, astronomi, logika, ekonomi dan  perdagangan, dan lain-lain, berkembang begitu pesat. Perkembangan keimanan dan  keilmuan secara bersama-sama menempatkan Islam sebagai poros bagi kehidupan  masyarakat Melayu, yang mempengaruhi semua dimensi kehidupan mereka. Terdapat ungkapan  yang populer yang secara eksplisit menunjukkan kuatnya pengaruh Islam, “adat  bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah”. Namun perlu diingat bahwa Islam  menjadi agama mayoritas masyarakat Melayu yang hidup di kawasan pesisir, tidak  menjadi agama mayoritas di daerah pedalaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;d. Fase Kolonialisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Daerah-daerah pedalaman yang tidak tersentuh oleh persebaran Islam menjadi  sasaran utama bagi misionaris Kristen yang dibawa oleh bangsa kolonial Eropa  mulai abad ke-16. Pemerintah kolonial, Belanda dan Inggris, tidak melakukan  penginjilan Kristen di tengah penduduk Muslim yang sudah mapan karena sadar  bahwa hal itu dapat merongrong “keamanan dan ketertiban” yang sangat penting  bagi kepentingan material bangsa Eropa (Robert W. Hefner, 2007). Upaya  menciptakan kantong-kantong Kristen di daerah pedalaman dirasa oleh pemerintah  kolonial lebih aman, di samping untuk membangun keberpihakan penduduk lokal  kepada pihak kolonial. Proses kristenisasi berjalan selama bertahun tahun,  sehingga beberapa suku bangsa Melayu yang menetap di daerah pedalaman, seperti  Batak Karo di Sumatra Utara dan Toraja di pedalaman Sulawesi, mayoritas  menganut agama Kristen. Perbedaan agama inilah yang kemudian dijadikan sebagai salah  satu batas identitas antara &lt;a href="http://melayuonline.com/article?a=SFJUL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D="&gt;Melayu dan bukan Melayu&lt;/a&gt; sampai dewasa ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Di samping kristenisasi, peran kolonialisme dalam mengkotak-kotak bangsa  Melayu juga ditempuh melalui jalur politik. Perjanjian antara Inggris dan  Belanda pada 17 Maret tahun 1824, dikenal dengan &lt;a href="http://melayuonline.com/article?a=aUpxL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D="&gt;Traktat London&lt;/a&gt;, secara sepihak  telah membagi wilayah Melayu menjadi dua, yaitu sebelah utara menjadi daerah  kekuasaan Inggris, dan selatan daerah kekuasaan Belanda. Pembagian  administratif kolonialis semacam itu pada perjalanannya melahirkan negara  Indonesia, Malaysia dan Singapura. &lt;a href="http://melayuonline.com/culture/?a=bW11L29QTS9VenVwRnRCb20%3D="&gt;Bahasa Melayu&lt;/a&gt; di tiga negara itupun  berkembang di bawah pengaruh bahasa masing-masing negara kolonial itu. Bahasa  Indonesia banyak dipengaruhi oleh bahasa Belanda, sedangkan bahasa Melayu  Malaysia dan Singapura banyak dipengaruhi oleh bahasa Inggris.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Keempat fase tersebut berada dalam &lt;i style=""&gt;frame&lt;/i&gt;  sejarah peradaban bangsa Melayu dan telah membentuk identitas dan kepribadian  mereka secara umum. Namun perbedaan-perbedaan corak kebudayaan antarsuku bangsa  Melayu menunjukkan adanya tingkat keterpengaruhan yang berbeda-beda dari setiap  fase sejarah itu. Ada suku bangsa Melayu yang kuat tradisi Islam atau  Kristennya, namun ada juga yang tetap menjaga tradisi Hindu-Buddha dan  dinamisme-animisme. Memang mayoritas masyarakat Melayu telah memeluk agama  Islam, berkat keberhasilan para misionaris Islam di Nusantara sejak abad ke-11.  Akan tetapi tidak dapat dinafikan bahwa di kawasan tertentu terdapat masyarakat  atau komunitas Melayu yang tidak memeluk agama Islam, seperti masyarakat Melayu  di SoE, Nusa Tenggara Timur yang mayoritas beragama Kristen, dan komunitas  Melayu di daerah-daerah pedalaman Riau, seperti &lt;a href="http://melayuonline.com/article?a=TEpxL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D="&gt;Talang Mamak&lt;/a&gt; yang masih  menganut tradisi animisme dan dinamisme. Perbedaan-perbedaan keyakinan tersebut  tidak serta-merta mengeliminasi komunitas Melayu tertentu dari identitas utamanya  (Melayu), karena akar perbedaan tumbuh secara alami atas pengaruh perjalanan  sejarah, kondisi lingkungan, dan hasil interaksi dengan bangsa dan budaya lain.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Pemaknaan Melayu dan kemelayuan tampak semakin kompleks ketika seseorang  melihat identitas kemelayuannya berdasarkan pengalaman dan afiliasi pribadinya.  Bentuk terkecil dari afiliasi seseorang adalah keluarga, kemudian komunitas,  masyarakat, dan negara. Di dalam masyarakat dan negara terdapat juga afiliasi kelas  sosial, agama, pendidikan, ideologi, politik dan lain-lain yang berpengaruh besar  pada upaya pemaknaannya tentang Melayu. Umumnya, Melayu selalu diidentikkan  dengan Islam sebagai agama yang paling berpengaruh di masyarakat Melayu hingga  dewasa ini. Pengertian ini tidak salah, tetapi bersifat agak sempit dan individual  yang jika ditarik dalam konteks yang lebih luas, misalnya pada level masyarakat  atau negara, akan memiliki muatan politis. Hefner mencatat bahwa dalam  perjalanan sejarah bangsa Melayu, para bangsawan pribumi telah sukses  membungkus etnisitas mereka dengan baju Islam untuk mempertahan posisi-posisi  strategis di hadapan para penjajah (Robert W. Hefner, 2007). Dengan kata lain, penggunaan  Islam sebagai &lt;a href="http://melayuonline.com/article?a=TkpxL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D="&gt;identitas kemelayuan&lt;/a&gt; merupakan strategi para bangsawan untuk  tetap mendapatkan dukungan dari rakyat dalam menghadapi dominasi penjajah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Memang sejauh ini definisi umum tentang siapa itu orang Melayu selalu menyandingkan  etnisitas Melayu dan agama Islam secara sejajar. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Secara ontologis, kemelayuan dan keislaman merupakan dua dimensi yang  berbeda. Etnik Melayu merupakan kumpulan individu-individu yang hidup di suatu  tempat dan membentuk struktur sosial. Sementara itu Islam adalah agama yang  dianut oleh sebagian besar masyarakat Melayu untuk menjalin hubungan dengan  Tuhan. Yang pertama menciptakan hubungan horisontal, sedangkan yang kedua vertikal.  Maka jika definisi Melayu dibatasi pada identitas etnik dan agama, akan  menciptakan posisi yang tumpang tindih antara agama sebagai sistem kepercayaan yang  bersifat individual dan etnisitas sebagai struktur sosial (Ansor, 2005). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Dengan demikian, mendefinisikan Melayu tidak bisa hanya dengan melihat satu  fase sejarah atau satu afiliasi saja, misalnya dengan Islam. Tetapi mesti  melihat rentang sejarah dan perkembangan budaya yang lebih jauh dan luas,  sehingga upaya mendefinisikan Melayu tidak memutus mata rantai sejarah bangsa  Melayu itu sendiri. Definisi Melayu akan menjadi sempit jika dibatasi dengan  ras, agama, bahasa, batas-batas geografis, atau afiliasi politik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MELAYU DI INDONESIA DAN MALAYSIA: PEMAKNAAN  MELAYU YANG REDUKTIF&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, batas-batas geografis politis  bangsa Melayu pertama kali diciptakan oleh bangsa Eropa melalui Traktat London.  Kebijakan kolonialis tersebut menyebabkan polarisasi bangsa Melayu menjadi Melayu  Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei. Konsep baru tentang negara bangsa  semakin menegaskan bahwa secara politis dan geografis bangsa Melayu yang duhulu  merupakan kesatuan menjadi terpecah-pecah di masing-masing negara. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Pengertian utama dari “bangsa”, yang paling sering dikemukakan dalam  literatur, adalah definisi politis. Bangsa meliputi seluruh rakyat yang hidup  dan diakui secara legal sebagai warga oleh negara tertentu yang memiliki batas  batas teritorial tertentu, sehingga secara politis mereka menjadi satu dan  tidak terbagi. Secara politis anggota-anggota suatu nasionalitas berkeinginan  untuk berada di bawah pemerintahan yang sama, dan pemerintahan itu dibentuk  oleh mereka atau sebagian dari mereka (E.J. Hobsbawm, 1992). Dengan demikian  pasca kolonialisme muncul bermacam-macam bangsa di Asia Tenggara. Ada bangsa  Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Sentimen nasional secara demokratis menyatukan seluruh elemen rakyat tanpa  membedakan agama, bahasa, ras dan etnisitas. Persatuan dan kesatuan bangsa,  dalam pandangan demokratik-revolusioner, jauh lebih penting dari perbedaan-perbedaan  itu. Oleh sebab itu baik di Indonesia atau Malaysia, warga keturunan Arab,  India dan &lt;a href="http://melayuonline.com/article?a=SFJUL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D="&gt;Cina&lt;/a&gt; menjadi satu kesatuan integral dengan orang-orang Melayu dalam  masing-masing negara. Pengertian bangsa yang beralaskan definisi politik  semacam itu secara perlahan-lahan mendominasi paradigma pemikiran mayoritas  manusia modern yang berakibat pada tergusurnya pengertian persatuan bangsa  dalam wadah persamaan budaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Konsep negara bangsa modern telah membangun &lt;i style=""&gt;self-concept&lt;/i&gt; setiap warga suatu negara tentang siapa dia, berasal  dari lingkungan apa dan negara mana. Pemikir asal Mesir, Sayyid Yassin,  berpendapat bahwa &lt;i style=""&gt;self-concept&lt;/i&gt;  dibentuk secara sadar, terencana dan dinamis, yaitu selalu berubah dan  berkembang sesuai dengan perubahan dan perkembangan kondisi internal dan  eksternal. Dari perubahan dan perkembangan &lt;i style=""&gt;self-concept&lt;/i&gt;  inilah hubungan antar individu atau kelompok, maupun hubungan antar dua bangsa  dapat dijelaskan (Sayyid Yassin, 2002). Adanya &lt;i style=""&gt;self-concept&lt;/i&gt; dalam diri anggota-anggota sebuah negara menciptakan  identifikasi siapa “kita” dan siapa “mereka”. Dalam hal ini bangsa Indonesia memandang  Malaysia sebagai “mereka”, begitu juga sebaliknya, meskipun secara etnisitas  dan budaya berasal dari rumpun yang satu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Pencitraan diri melalui &lt;i style=""&gt;self-concept&lt;/i&gt;  secara politis, dengan tegas membedakan antara warga negara tertentu dengan  orang di luar negara itu. Dahulu, sebelum menguatnya identitas Melayu politis,  kedua bangsa Indonesia dan Malaysia melakukan &lt;i style=""&gt;shared values&lt;/i&gt; yang didasarkan atas persaudaraan serumpun. Namun  dalam perkembangannya, hubungan kedua bangsa serumpun ini banyak diwarnai  ketegangan-ketegangan. Perkembangan dan perubahan pandangan bangsa Malaysia secara  eksternal dipengaruhi pengalaman sejarah ‘ganyang Malaysia‘ oleh Orde Lama,  sejumlah pendatang gelap Indonesia di Malaysia, kabut asap (jerebu) tahunan  asal Sumatra dan Kalimantan, dan lain sebagainya. Sehingga, muncul &lt;i style=""&gt;conflicting values &lt;/i&gt;antara kedua bangsa yang  ditandai dengan penilaian bahwa Indonesia adalah “jiran yang problematik” oleh  beberapa pihak di Malaysia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Ketika masing-masing bangsa secara politis telah membangun &lt;i style=""&gt;self-concept&lt;/i&gt; nya sendiri-sendiri, maka  persamaan-persamaan kultural dan etnisitas yang dahulu secara komunal dapat  menyatukan, kini telah luntur. Meluasnya prasangka-prasangka, baik dari pihak  warga Indonesia maupun Malaysia, merupakan contoh yang menyangkal bahwa persamaan  budaya dan sejarah sebagai fondasi konsep komunalitas yang menjunjung tinggi  prinsip-prinsip solidaritas, persaudaraan (&lt;i style=""&gt;brotherhood&lt;/i&gt;)  dan kohesi sosial. Konsep negara-bangsa dewasa ini lebih menyatukan daripada  persamaan budaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Meskipun demikian, di tengah dominasi paradigma pemikiran modern yang  cenderung menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai luhur agama, budaya dan  norma-norma sosial, masih ada harapan kedua bangsa untuk saling menghargai,  menghormati, dan bersatu dalam bingkai kebudayaan. Persamaan budaya (Melayu)  tetap menjadi salah satu unsur pokok yang dapat membangun kembali &lt;a href="http://melayuonline.com/article/?a=Sk5SL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D="&gt;keharmonisan  kedua bangsa&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Di bidang bahasa kita telah membangun MABBIM (Majlis Bahasa  Brunei-Indonesia-Malaysia), sebuah badan kebahasaan serantau yang ditubuhkan  untuk merancang, memantau dan menyerasikan perkembangan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;color:black;"  &gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:black;"  lang="SV"&gt;bahasa Melayu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;color:black;"   lang="SV"&gt; di&lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt; tiga negara tersebut.  Dalam bidang &lt;a href="http://melayuonline.com/literature?a=TFZzL29QTS9VenVwRnRCb20%3D="&gt;sastra&lt;/a&gt; kita sudah mendirikan MASTERA (Majlis Sastera Asia  Tenggara). Dan dalam bidang pendidikan kita telah membentuk SEAMEO (Southeast  Asian Ministers of Education Organization), dan kerjasama-kerjasama lainnya. Semua  bentuk kerjasama tersebut bertujuan mendorong kemajuan seluruh bangsa Melayu  dalam berbagai bidang. Dan, di saat yang sama menghilangkan batas-batas politis  dan geografis yang telah menjadi sekat antarmasyarakat Melayu di Asia Tenggara.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Melalui perspektif kebudayaan pula, &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;MelayuOnline.com&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; mencoba membangun  kesepahaman akan kesamaan sejarah dan budaya seluruh puak Melayu di dunia. &lt;a href="http://melayuonline.com/article?a=bU5QL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D="&gt;Paradigma  holistik&lt;/a&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;MelayuOnline.com&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; menawarkan perspektif baru bahwa bangsa Melayu  memiliki setidaknya empat fase sejarah yang tidak dapat dipisahkan antara fase  yang satu dengan lainnya. Akan tetapi &lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;setiap fase/zaman  dan tempat melahirkan produk-produk budaya dengan ciri yang berbeda-beda sebagai  hasil dari proses dialektik dengan budaya-budaya lain dalam kurun waktu yang  panjang. Dengan terbangunnya kesadaran persamaan sejarah ini diharapkan muncul inisiatif  secara bersama-sama membangun bangsa Melayu di berbagai bidang kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MEWUJUDKAN PARADIGMA HOLISTIK KE DALAM KARYA NYATA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Pandangan saya tentang Melayu tidak mungkin dapat mempengaruhi masyarakat  Melayu secara massiv jika saya berhenti berbicara pada tataran teoritis. Oleh  karena itu, dengan segala tekad dan keterbatasan, saya memberanikan diri mewujudkan  gagasan besar itu ke dalam bentuk pangkalan data, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://www.melayuonline.com/"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:black;"  lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.melayuonline.com./"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;www.melayuonline.com.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;MelayuOnline.com&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; diorentasikan untuk  menjadi pangkalan data tentang dunia Melayu terbesar di dunia. Paradigma holistik  seperti telah dijelaskan di atas, diwujudkan ke dalam struktur-struktur yang  sistematis, integratif, dan komprehensif. Penyusunan struktur yang demikian itu  bertujuan memudahkan bagi siapa saja yang ingin mengetahui Melayu dan  kemelayuan, baik secara ringkas sepintas maupun serius mendalam. Seluruh aspek  Melayu, seperti sejarah, budaya, sastra, bahasa dan lain-lain telah  diklasifikasi sedemikian rupa, sehingga menjadi sebuah struktur yang  menunjukkan betapa sejarah dan budaya Melayu begitu kompleks dan mengagumkan.  Dari struktur tersebut tampak jelas perjalanan sejarah bangsa Melayu dan keelokan  budayanya dari masa ke masa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;MelayuOnline.com&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt; memiliki 24 menu. Menu  sejarah, budaya, dan sastra Melayu merupakan menu utamanya. &lt;i style=""&gt;Pertama&lt;/i&gt;, Sejarah Melayu. Sejarah Melayu  mencakup dimensi yang luas, dengan rentan masa yang panjang. Sejarah yang  dimaksud di sini adalah kejadian atau peristiwa yang benar-benar terjadi di  masa lampau. Jejak-jejaknya dapat dilacak melalui kejadian sejarah, baik berupa  manuskrip, prasasti, sejarah lisan maupun artefak. Dalam &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;MelayuOnline.com&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, sejarah  Melayu dibagi dalam tiga kategori: (1), naskah sejarah, (2), sejarah kerajaan  Melayu dan (3), peninggalan sejarah di situs sejarah, seperti candi, masjid,  istana, benteng, dan makam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;, Budaya Melayu. Budaya dapat dipahami sebagai sistem dalam masyarakat yang  berkaitan dengan nilai, kepercayaan, perilaku, dan artefak yang dihasilkan.  Kebudayaan Melayu yang dibahas oleh &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;MelayuOnline.com&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; tidak lepas dari  hal-hal tersebut yang berkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan yang universal,  seperti pandangan hidup, kesenian, sistem religi, sastra, kuliner, upacara  adat, organisasi sosial, peralatan, busana, artefak, bahasa, bangunan,  pengobatan tradisional, dan hukum adat Melayu. Semua unsur itu ditulis dalam  struktur penulisan tertentu dan dapat dipertanggungjawabkan secara  akademis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;, Sastra Melayu. Sastra Melayu yang dimaksud oleh &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;MelayuOnline.com&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; adalah  sastra yang berkembang di kawasan Melayu. Sastra tersebut dibagi dua, yaitu  sastra lisan dan tulisan. Sastra lisan sulit diketahui awal kemunculannya,  sedangkan sastra tulisan muncul dan berkembang bersama dengan masuknya pengaruh  Hindu-Buddha dalam masyarakat Melayu. Perkembangan itu semakin pesat dengan  masuknya agama Islam ke kawasan ini. Maka tidaklah mengherankan jika sebagian  besar naskah sastra tulisan masyarakat Melayu merupakan peninggalan periode  Islam. Contoh tradisi lisan adalah pantun, bidal, tambo, koba, dan sebagainya.  Sedangkan contoh tradisi tulisan adalah gurindam, hikayat, puisi, syair, sajak,  dan sebagainya. &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;MelayuOnline.com&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; memaparkan secara rinci apa saja yang  berkaitan dengan sastra lisan dan sastra tulisan itu.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Untuk memudahkan identifikasi  sejarah atau budaya Melayu di berbagai daerah di dalam dan luar Nusantara, sebagian  struktur disusun berdasarkan geo budaya. Berikut adalah salah satu contoh dari  klasifikasi Sejarah Melayu: Naskah Sejarah, Kerajaan Melayu, dan Situs Melayu  yang dibagi berdasarkan geo budaya. Kerajaan Melayu, misalnya, diklasifikasi  menjadi Kerajaan Melayu di Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam,  Thailand, Filipina, Madagaskar dan Afrika Selatan. Dari klasifikasi struktur  tersebut masih dibagi-bagi lagi lebih rinci berdasarkan geo budaya di  masing-masing negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Dengan cara demikian, paradigma holistik dapat diwujudkan ke dalam struktur-struktur  yang memuat seluruh perjalanan sejarah dan perkembangan budaya Melayu di  berbagai kawasan. Misi yang dibawa oleh &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;MelayuOnline.com&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; adalah memberikan  pencerahan (&lt;i style=""&gt;enlightenment&lt;/i&gt;) dan menyatukan  puak-puak Melayu di seluruh dunia. Ide dan gagasan &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;MelayuOnline.com&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;  dipublikasikan melalui teknologi informasi, supaya secara efektif dapat dibaca  dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat Melayu, dan memberikan inspirasi  akan pentingnya persatuan mereka di era gelombang ketiga ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Secara garis besar terdapat dua kubu yang menawarkan pandangannya tentang  Melayu melalui paradigma yang berbeda. Yang pertama mengusung paradigma  holistik, yaitu bahwa Melayu adalah bangsa yang pernah atau masih memelihara  dan menjunjung budaya Melayu, tanpa membedakan fase sejarah atau tempat tertentu;  juga tidak membedakan ras, agama, bahasa, batas geografis, dan afiliasi  politik. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Yang kedua adalah yang memaknai Melayu dengan paradigma eksklusif. Dikatakan  eksklusif karena pandangan yang ditawarkan cenderung sempit dan reduktif karena  menekankan keberpihakan secara mutlak pada satu atau dua fase sejarah dan afiliasi  agama, politik, atau ras tertentu. Pendapat bahwa orang Melayu adalah yang  beragama Islam, secara membabi buta memotong &lt;a href="http://melayuonline.com/article?a=aW9xL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D="&gt;rantai sejarah bangsa Melayu&lt;/a&gt; yang  telah terangkai sejak 3.000 tahun sebelum Masehi. Sejarah kedatangan Islam di  bumi Melayu merupakan satu dari empat fase sejarah yang telah dilalui bangsa  Melayu, sehingga Islam tidak dapat dipandang sebagai satu-satunya alat  identifikasi kemelayuan seseorang. Demikian juga dengan pendapat yang  mengatakan bahwa Melayu asli adalah Melayu Malaysia, Brunei, atau Riau. Pendapat  terakhir ini nampaknya dipengaruhi oleh konsep negara bangsa yang lahir pada  pertengahan abad ke-19 di Eropa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Baca juga: &lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/06/definisi-melayu-salah-kaprah.html"&gt;Definisi Tentang Melayu Salah Kaprah?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;___________________&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/03/putra-melayu-itu-bernama-mahyudin-al.html"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mahyudin Al Mudra&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;, SH.MM.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;adalah&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Pendiri dan Pemangku &lt;b style=""&gt;Balai Kajian  dan Pengembangan Budaya Melayu&lt;/b&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(BKPBM)&lt;/span&gt;, lembaga induk &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;MelayuOnline.com&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;h3  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Abdullah, Irwan. 2006. &lt;i style=""&gt;Konstruksi dan  Reproduksi Kebudayaan&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-size:100%;"&gt;Yogyakarta: Pustaka  Pelajar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-size:100%;"&gt;Abdullah,  Taufik. 1988. “Ke Arah Perencanaan Strategi Kultural Pembinaan Umat”. Dalam &lt;i style=""&gt;Pak Natsir 80 Tahun&lt;/i&gt;. H. Endang Saifuddin  Anshari dan M. Amien Rais (ed). Jakarta: Media Dakwah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Adeney, T.  Bernard. 2005. “Tantangan dan Dampak Kebudayaan Modern dan Pasca Modern” dalam &lt;i style=""&gt;Sociology of Religion Reader&lt;/i&gt;, Benard T.  Adeney (eds).Yogyakarta: CRCS.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Ansor, Muhammad. 2005. “Pembacaan Kontemporer Atas Islam, Melayu dan  Etnisitas” dalam &lt;i style=""&gt;Lima Kebanggaan Anak  Melayu Riau&lt;/i&gt;, Baharuddin Husin dan Dasril Affandi (ed). Jakarta: Persatuan  Masyarakat Riau-Jakarta. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Hadi, Abdul.  2008. &lt;i style=""&gt;Islam di Nusantara dan Transformasi  Kebudayaan Melayu&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;color:black;"  &gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:black;" &gt;http://ahmadsamantho.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;. Diakses pada 23  April 2008.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hall, D.G.E. Tanpa tahun. &lt;i style=""&gt;Sejarah Asia Tenggara&lt;/i&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: Usaha Nasional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hefner. W. Robert. “Multikulturalisme dan  Kewarganegaraan di Malaysia, Singapura, dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;”. Dalam &lt;i style=""&gt;Politik Multikulturalisme: Menggugat  Realitas Kebangsaan&lt;/i&gt;. Robert W. Hefner (ed). &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;:  Penerbit Kanisius.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hobsbawm, E.J. 1992. &lt;i style=""&gt;Nasionalisme Menjelang Abad XXI&lt;/i&gt;. Yogjakarta: Tiara Wacana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="georgia" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-size:100%;"&gt;Mahdini. 2003. &lt;i style=""&gt;Islam dan Kebudayaan Melayu&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Pekanbaru: Daulat Riau.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Mat Piah, Harun.  1993. “Tamadun Melayu Sebagai Asas Kebudayaan Kebangsaan: Suatu Tinjauan dan  Justifikasi”. Dalam &lt;i style=""&gt;Tamadun Melayu,&lt;/i&gt;  jilid II. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="georgia" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Yassin, Sayyid.  2002. &lt;i style=""&gt;As-Syakhshiyah Al-Arabiyah baina Mafhumi  Az-Zaat wa Shurati Al-Akhor. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style=""&gt;Cairo&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;: Maktabah Usrah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;              &lt;/div&gt;&lt;div  style="margin-top: 10px; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sampai 10 Juni 2011 Dibaca: 7.402 kali (di situs Melayu Online).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-8010298170415567284?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/8010298170415567284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/06/redefinisi-melayu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/8010298170415567284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/8010298170415567284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/06/redefinisi-melayu.html' title='Redefinisi Melayu'/><author><name>Si Bungsu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15032113615760295721</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-WO9uV3dnsao/TdQQDdEpyCI/AAAAAAAAAFk/dJ2llVmwAf4/s220/bungsu.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-qGTsDWR35aA/TfEHkaPUU6I/AAAAAAAAAGM/zqGddijkJv8/s72-c/MAM-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-5445457049148405159</id><published>2011-06-02T23:38:00.007+07:00</published><updated>2011-06-03T07:53:55.907+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kajian'/><title type='text'>Diaspora Melayu Minoriti</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://resam-melayu.com/wp-content/uploads/2010/01/kahwin.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 600px; height: 400px;" src="http://resam-melayu.com/wp-content/uploads/2010/01/kahwin.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Rumpun Melayu sebagai kumpulan minoriti tetapi merupakan peribumi kepada negara-negara itu terdapat di Singapura, Selatan Thailand, Vietnam, Selatan Myanmar dan Taiwan (Farmosa). Di negara-negara di luar Alam Melayu mereka adalah penghijrah atau kelompok Melayu diaspora.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2. Fenomena penghijrahan ini mula berlaku pada zaman Sriwijaya antara abad ke-7 hingga abad ke-13 secara kecil-kecilan dan mungkin berkeluarga. Rumpun Melayu itu berhijrah dengan belayar ke Pulau Madagaskar di pantai timur benua Afrika. Mereka dikatakan penyumbang kepada tamadun awal di pantai timur benua Afrika dengan memperkenalkan kegiatan bercucuk tanam dan memelihara ternakan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;4. Rumpun Melayu sebagai minoriti terdapat di Pulau Hainan dan wilayah Kwantung di Selatan Negeri Cina. Mereka dipercayai adalah daripada keturunan Champa yang mendiami pesisiran pantai Semenanjung Indo-China. Sekumpulan yang agak besar keturunan Melayu Champa dari Vietnam itu, disebabkan oleh peperangan berhijrah dan menjadi penduduk tetap di negara Cambodia, dianggarkan hampir sejuta orang. Di Vietnam mereka adalah penduduk peribumi yang pernah menubuhkan kerajaan Melayu Champa yang bertahan agak lama dari abad ke-2 hingga ke pertengahan abad ke-15 Masihi. Kerajaan Champa itu tumbang setelah sekian lama berperang dengan bangsa Daiviets dari utara yang kini menjadikan wilayah itu sebagai Vietnam.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Di Segenting Kra, terdapat sekitar 100,000 pribumi Melayu tetapi perkampungan mereka termasuk ke dalam sempadan Selatan Myanmar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;5. Sebahagian besar Melayu diaspora, iaitu mereka yang berhijrah dan menjadi kelompok minoriti di negara-negara di luar Alam Melayu, melakukan penghijrahan pada zaman penjajahan di wilayah budaya Alam Melayu ini. Ini termasuklah kewujudan Melayu diaspora di Australia, Britain, Sri Lanka, Afrika Selatan, Surinam, Arab Saudi dan beberapa lagi. Tetapi penghijrahan juga berlaku pada zaman selepas penjajahan seperti kehadiran rumpun Melayu keturunan Champa di Amerika Syarikat dan Perancis serta rumpun Melayu dari wilayah Patani (Selatan Siam) dan Malaysia di Arab Saudi dan Mesir, serta rumpun Melayu Sri Lanka di Canada.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;6. Di sesetengah negara seperti Australia, Arab Saudi, Britain dan Amerika Syarikat, penghijrahan rumpun Melayu dari Alam Melayu ke negara-negara tersebut berterusan hingga akhir abad ke-20 serta memasuki abad ke-21 ini. Berbeza daripada zaman penjajahan apabila sebahagian penghijrahan itu adalah kerana dipaksa, penghijrahan pada zaman pasca merdeka dari negara-negara Malaysia, Indonesia, Singapura dan Brunei berlaku secara sukarela, iaitu untuk mencari pekerjaan ataupun untuk mendapatkan ilmu tetapi kemudiannya memilih untuk tinggal menetap di negara-negara berkenaan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;7. Sebagai rumusan kepada bahagian ini, kesemua kelompok Melayu diaspora yang berada di negara-negara di luar Alam Melayu seperti China, Australia, Madagaskar, Sri Lanka, Afrika Selatan, Kemboja, Mesir, Arab Saudi, Perancis, Belanda, Britain, Amerika Syarikat dan Surinam adalah juga kumpulan minoriti di negara-negara tersebut. Bagi negara-negara seperti Singapura, Thailand, Vietnam, Myanmar dan Taiwan, mereka adalah kumpulan minoriti tetapi kedudukan mereka adalah sebagai pribumi di negara-negara tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;8. Untuk Pulau Madagaskar, rumpun Melayu di sana sudah dianggap sebagai pribumi kerana kehadiran mereka di pulau itu sudah begitu lama, di sekitar seribu tahun. Juga, bangsa Merina dari rumpun Melayu itu adalah bangsa yang pertama menubuhkan Kerajaan Merina di negara itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DIASPORA MELAYU PADA ZAMAN PENJAJAHAN PORTUGIS, BELANDA, INGGERIS DAN PERANCIS&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;9. Kedatangan penjajahan Portugis pada awal abad ke-16 (1509) disusuli oleh penjajah Belanda yang berjaya menguasai sebagai kepulauan Alam Melayu, yang kemudiannya diberi nama Hindia Belanda Indonesia (1600) serta mengambil alih penguasaan ke atas Melaka dari Portugis pada 1641, disusuli pula oleh kedatangan Inggeris pada suku ketiga abad ke-18 (bertapak di Pulau Pinang pada 1786) meninggalkan dua kesan yang besar kepada penduduk di Alam Melayu yang sebelum ini belum lagi terpisah kepada lima negara bangsa baru seperti Malaysia, Indonesia, Filipina, Brunei dan Singapura.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;10. Kesan pertama penjajahan adalah kewujudan dua kelompok Melayu sebagai kumpulan minoriti di tanah air mereka sendiri; iaitu di Singapura dan di Wilayah Melayu Selatan Thailand. Rumpun Melayu ini adalah peribumi di negara-negara berkenaan, iaitu Singapura dan Thailand.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;11. Kesan kedua adalah penghijrahan kelompok-kelompok kecil dari Alam Melayu, khususnya dari Indonesia dan Malaysia, ke negara-negara di luar Alam Melayu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt; &lt;p&gt;Penjajahan Portugis&lt;/p&gt; &lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;12. Portugis yang menguasai Ceylon (Sri Lanka), Melaka, dan kawasan pesisir India seperti Bandar pelabuhan Goa mulai awal abad ke-16 membuka lembaran sejarah ‘diaspora Melayu’ dengan membawa kumpulan-kumpulan kecil Melayu dari Melaka ke Ceylon sebagai hamba tawanan, pekerja kapal dan sebagai askar upahan. Namun, penguasaan Portugis ke atas Melaka walaupun lama dari segi masa (1511 – 1641 untuk selama 130 tahun) tetapi tidak berjaya meluaskan wilayah penjajahannya dan tidak begitu rancak kegiatan perdagangannya. Ini bermakna perpindahan rumpun Melayu ke luar wilayah Alam Melayu terhad dari segi bilangannya, iaitu terhad ke Ceylon sahaja.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Penjajahan Belanda&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;13. Dalam persaingan merebut wilayah di antara Portugis dan Belanda, kompeni Belanda ternyata lebih bersedia dengan angkatan laut dan tenaga manusia yang lebih besar. Belanda berjaya mengambil alih Ceylon daripada Portugis melalui peperangan; menguasai sebahagian wilayah kepulauan Alam Melayu yang diberi nama baru Indonesia bermaksud ‘India Yang Jauh’ atau Further India, serta mengambil alih Melaka dari Portugis dengan secara perundingan pada 1641.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;14. Belanda menguasai kawasan atau wilayah kepulauan Melayu yang amat luas serta lama, melebihi 300 tahun, berbanding dengan penguasaan ke atas Melaka di Semenanjung Tanah Melayu yang agak kecil dan untuk selama 183 tahun (1641 – 1824). Pengaruh serta penguasaan Belanda ke atas apa yang kemudiannya diberi nama Indonesia adalah amat luas lagi mendalam. Ia menerima tentangan daripada penduduk peribumi yang agak hebat yang mengambil masa agak lama untuk mematahkannya. Penguasaan ke atas Semenanjung amatlah terbatas dan terhad di wilayah Melaka sahaja manakala tentangan terhadapnya juga tidak begitu sengit dari orang Melayu di Semenanjung.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;15. Akibat daripada penjajahan, peperangan dan juga perdagangan itu telah membawa kepada perpindahan penduduk rumpun-Melayu ke luar Alam Melayu, seperti ke Ceylon (Sri Lanka), Afrika Selatan, Surinam dan Belanda. Sebahagian besar mereka berhijrah secara paksaan sebagai hamba yang diperdagang, pesalah dan buangan politik yang di antaranya adalah ulama dan kerabat diraja, serta golongan merdahika yang berhijrah secara sukarela sebagai pekerja atau kelasi kapal dan sebagai tentera upahan. Merekalah yang membawa agama Islam ke sana, dan Islam kekal sebagai salah satu agama yang dianuti oleh kelompok minoriti yang diiktiraf kehadiran mereka oleh kerajaan majoriti yang beragama Buddha di Sri Lanka, yang beragama Kristian di Afrika Selatan, Surinam dan Belanda.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt; &lt;p&gt;Penjajahan Inggeris&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;16. Inggeris menjajah Persekutuan Tanah Melayu termasuk Singapura dan Borneo Utara sekadar 80 tahun sahaja tetapi ia meninggalkan kesan yang amat mendalam dari segi mentransformasikan ekonomi tradisional kepada ekonomi perdagangan, membina prasarana komunikasi moden, pengenalan urusan pentadbiran birokrasi, undang-undang tanah, pendidikan moden, serta pengenalan sistem politik demokrasi dan kehakiman menggantikan Sistem Kerajaan Melayu Lama. Di antara kesan yang paling besar sekali ialah menjadikan wilayah Alam Melayu ini sebagai masyarakat majmuk menerusi migrasi besar-besaran orang Cina dan India ke wilayah ini. Kesan kedua ialah menjadikan orang Melayu di Pulau Singapura, di Segenting Kra Selatan Myanmar dan di Selatan Thailand sebagai pribumi yang berstatus minoriti.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;17. Namun pada zaman penjajahan Inggeris juga diaspora rumpun Melayu adalah secara kecil-kecilan seperti penghijrahan mereka ke Pulau Cocos dan Pulau Kerismas yang akhirnya membawa sebahagian mereka berhijrah ke benua Australia. Terdapat sebahagian kecil mereka yang bekerja dengan kapal perdagangan Inggeris dan akhirnya memilih untuk tinggal menetap di England seperti di Liverpool.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;18. Kehadiran kapal-kapal perdagangan yang menggunakan enjin kuasa wap yang berulang-alik dari Alam Melayu ke Timur Tengah telah membolehkan orang-orang Melayu belayar ke Arab Saudi dan Mesir untuk menuntut ilmu agama Islam serta untuk menunaikan fardu haji di Makkah. Sebahagian kecil daripada mereka ini yang berasal dari Malaysia dan Selatan Thailand memilih untuk mencari pekerjaan dan tinggal menetap di sana sebagai kelompok Melayu diaspora. Fenomena ini berlanjutan sehingga selepas zaman penjajahan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt; &lt;p&gt;Penjajahan Perancis dan Sepanyol&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;19. Penjajahan Perancis di negara-negara di Semenanjung Indo-China (Vietnam, Kemboja, Laos) dan penjajahan Sepanyol ke atas negara Filipina tidak secara langsung membawa akibat berlakunya penghijrahan rumpun Melayu ke negara-negara di luar Alam Melayu tidak wujud tekanan dan juga kemudahan untuk mereka meninggalkan tanah air dan berhijrah ke Perancis atau negara-negara Eropah lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;20. Tetapi tekanan untuk berhijrah berlaku selepas penjajah Perancis dan Sepanyol kembali ke nagara mereka kemudiannya disusuli oleh perang saudara kerana perebutan untuk berkuasa untuk sekian lama; di antaranya kemunculan pengaruh komunisme yang sedang meningkat dan berjuang untuk menguasai negara-negara di Semenanjung Indo-China.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;21. Semasa Perang Vietnam memuncak pada awal 70-an, antara Vietnam Utara yang berfahaman komunis dengan Vietnam Selatan yang menganuti sistem liberal-demokrasi kedudukan puak minoriti Melayu Champa tersepit di tengah-tengah gelanggang. Sekumpulan kecil yang mempunyai kemampuan membayar untuk lari keluar sebagai pelarian perang berhijrah ke Perancis atau Amerika Syarikat. Majoriti mereka lari mengikut jalan darat untuk berhijrah ke Kemboja dan menjadi diaspora di sana mewujudkan beberapa buah penempatan yang diberi nama ‘kampung’.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;22. Nasib rumpun Melayu Champa sama seperti pepatah Melayu ‘sudah jatuh ditimpa tangga’. Hegemoni komunisme yang ingin mengambil tampuk kuasa di Vietnam merebak ke Kemboja yang menyaksikan kehadiran gerila komunis Khmer Rouge yang ganas itu. Mereka akhirnya berjaya mengambil alih pemerintahan dan kekal memerintah untuk beberapa tahun. Pada waktu itu dianggarkan 750,000 atau separuh daripada 1.5 juta orang-orang Champa beragama Islam di Kemboja terkorban akibat keganasan gerila dan pemerintah Khmer Rouge.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;23. Kumpulan-kumpulan kecil mereka ini berjaya melarikan diri menyeberangi sempadan Thailand dan akhirnya diberi perlindungan di Malaysia. Sebahagian lain yang mampu dan mempunyai kewangan berhijrah ke negara-negara yang memberi perlindungan seperti Perancis dan Amerika Syarikat atas nama peri kemanusiaan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt; &lt;p&gt;DIASPORA RUMPUN MELAYU FILIPINA, SINGAPURA DAN SELATAN THAILAND&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;24. Perpindahan atau migrasi rumpun Melayu Filipina secara kecil-kecilan kemungkinannya lebih banyak berlaku pada zaman pasca-penjajahan Sepanyol daripada semasa sebelum zaman penjajahan. Di antara negara-negara di Dunia Melayu, Filipina merupakan negara yang lebih mundur dari segi kemajuan dan pembangunan ekonomi dibandingkan dengan Indonesia, Brunei, Singapura dan Malaysia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;25. Bagi mereka yang beragama Kristian di pulau-pulau bahagian utara seperti Luzon, perpindahan ke luar Alam Melayu berlaku dalam kalangan golongan yang berpendidikan tinggi dan profesional ke negara-negara Barat yang lebih maju seperti Amerika Syarikat dan Australia. Bagi penduduk di selatan Filipina yang beragama Islam, perpindahan lebih merupakan akibat tekanan keadaan politik yang tidak stabil disebabkan oleh perjuangan untuk mendapatkan kuasa autonomi dari kerajaan pusat di Manila. Mereka yang beragama Islam ini lebih banyak terdapat di Arab Saudi dan negara-negara Islam di Timur Tengah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;26. Sekumpulan lain yang tidak tergolong dalam kategori ‘diaspora’ atau bermigrasi secara kekal adalah pekerja peringkat bawahan seperti buruh, pemandu dan terutama sekali pembantu rumah. Mereka ke Hong Kong dan Arab Saudi untuk bekerja dalam sektor bawahan tetapi status mereka adalah perpindahan sementara sebagai pekerja kontrak dan bukan untuk tinggal menetap. Namun jika ada pilihan, pastinya mereka akan memohon untuk diterima sebagai pemastautin tetap atau warganegara di negara-negara yang mereka sedang bekerja di luar Filipina.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;27. Pada masa-masa lalu, terdapat kelompok kecil rumpun Melayu dari Singapura yang mencari pekerjaan di Pulau Kerismas (dalam pentadbiran Australia) dan di Australia sebagai penyelam mutiara di utara Australia Barat di Bandar kecil Broome. Mereka yang bekerja di Pulau Kerismas kemudiannya berpindah ke tanah besar Australia untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang jauh lebih lumayan. Sebahagian besar mereka akhirnya memilih untuk tinggal menetap di Australia kerana jaminan kehidupan dan gaji yang lumayan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;28. Pada dekad-dekad yang terbaru, penghijrahan secara kecil-kecilan berlaku dalam kalangan yang berpendidikan tinggi dan golongan profesional. Penghijrahan ini dikatakan untuk mencari suasana serta peluang pekerjaan baru yang lebih baik dibandingkan jika mereka kekal berada di Singapura. Mereka ini bersama-sama Melayu dari Malaysia serta dari Pulau Cocos dan Pulau Kerismas mewujudkan komuniti Melayu diaspora di beberapa bandar besar dan kecil di tanah besar Australia seperti di Perth, Geraldton, South Headland, Kattaning, Melbourne, Sydney, Brisbane, Darwin dan sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;29. Rumpun Melayu keturunan Patani dari wilayah Melayu Selatan Thailand sudah berada secara kecil-kecilan di Arab Saudi khususnya di kota suci Makkah dan Madinah sejak beberapa abad yang lalu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Tujuan asal mereka ke sana adalah untuk menunaikan fardu haji dan untuk mencari ilmu. Sebahagian kecil mereka ini kemudiannya mendapat pekerjaan terutamanya pada musim haji yang menguruskan para jemaah yang datang dari Alam Melayu. Mereka ini kemudiannya mendapat peluang untuk tinggal menetap di sana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;30. Gelombang kedua penghijrahan mereka ini ke Arab Saudi disebabkan oleh keadaan politik yang tidak stabil dan kerana penindasan oleh pemerintah Siam ke atas penduduk minoriti Melayu di 4 wilayah Selatan Thailand (Yala, Narathiwat, Patani dan Songkla).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;31. Selain Melayu etnik Patani, terdapat juga sebilangan Melayu dari Malaysia yang diterima untuk tinggal menetap di Arab Saudi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Rata-ratanya mereka ini telah mendapat pekerjaan tetap dalam pelbagai sektor awan serta di sektor swasta. Bagi mereka dan lebih-lebih lagi anak-anak mereka (generasi kedua) yang berpendidikan tinggi dan berjaya memasuki sektor pekerjaan profesional, sebahagian besar mereka ini tinggal di kota pelabuhan Jeddah atau di ibu kota Riyard.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN"&gt; &lt;p&gt;"…relations between dominants and minorities as moving through a definite cycle, with one outcomes, the assimilation of the minority into the dominant society." (Robert B.Park).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;37. Kita akan menggunakan budaya serta ciri-ciri jati diri penduduk asal di Alam Melayu ini sebagai kerangka rujukan walaupun kita memahami bahawa kaedah ini mempunyai masalahnya yang tersendiri disebabkan oleh kepelbagaian budaya masyarakat rumpun Melayu di Alam Melayu ini. Begitu juga mereka yang telah berhijrah ke luar lingkungan budaya Alam Melayu datangnya daripada wilayah-wilayah yang berbeza seperti Melaka (Malaysia), Singapura, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kepulauan Ternate, Patani (Selatan Thailand), Kemboja, Vietnam, dan sebagainya. Yang akan cuba kita cari jawapan ialah apakah ciri-ciri utama yang digunakan apabila menganggap diri mereka sebagai orang Melayu atau sebahagian daripada rumpun Melayu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;p&gt;Perbandingan Melayu Sri Lanka dan Afrika Selatan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt; &lt;p&gt;PERSOALAN BUDAYA DAN JATI DIRI&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;32. Para sarjana dan pelajar bidang antropologi dan sosiologi sering merujuk kepada satu takrifan klasik tentang kebudayaan yang pernah diutarakan oleh Edward Bernard Taylor yang merumuskan ciri-ciri berikut sebagai konsep kebudayaan; ‘satu kesatuan yang kompleks mencakupi ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, tatasusila, unsur-unsur moral, adat resam, serta segala kebolehan dan tabiat manusia sebagai ahli dalam sesebuah masyarakat’ (E.B. Taylor 1871).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;33. Dari perspektif yang lain, perkataan budaya adalah cantuman daripada dua perkataan budi dan daya. ‘Budi’ bermaksud akal atau kebijaksanaan manakala ‘daya’ bermaksud tenaga, kekuatan atau kemampuan. Cantuman dua perkataan ini memberi erti segala yang dicipta oleh manusia menerusi pemikiran serta perbuatannya yang dimanifestasikan dalam bentuk material mahupun bukan material (Wan Hashim 1995: 218).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;34. Jati diri atau identiti pula adalah ciri-ciri budaya dan latar belakang sejarah yang memperkenalkan seseorang atau satu-satu kaum atau kelompok manusia seperti etnik atau ras yang membezakan mereka daripada kelompok lain. Tanggapan orang lain terhadap sesuatu kelompok manusia atau kaum juga menyumbang kepada pembentukan jati diri sesuatu kelompok manusia atau kaum.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;35. Walaupun rupa, wajah atau warna kulit tidak semestinya dijadikan sebagai unsur penting jati diri sesuatu kaum tetapi dalam konteks kajian ini, ia boleh dianggap sebagai suatu unsur yang boleh diambil kira. Ini guna untuk dibuat perbandingan persamaan atau perbezaan di antara wajah atau paras rupa Melayu diaspora yang sesetengahnya telah berada jauh dari Alam Melayu sejak 200 – 300 tahun yang lalu dan sesetengah yang lain merupakan generasi pertama atau generasi kedua yang baru berhijrah ke negara-negara lain kurang daripada 100 tahun.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;36. Kertas kerja ini menggunakan pernyataan atau kerangka sebuah teori besar yang diajukan oleh Robert E. Park mengenai hubungan kumpulan minoriti dengan masyarakat domain seperti katanya:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;p&gt;38. Ada persamaan yang nyata ciri-ciri dua kelompok Melayu diaspora di Sri Lanka dan Afrika Selatan. Pertama, masa penghijrahan ke luar yang hampir sama, iaitu bermula pada awal kurun ke-16 apabila Portugis menguasai Melaka. Sebahagian mereka dari Melaka dibawa ke Ceylon sebagai hamba, kelasi kapal, atau pekerja sukarela yang menyertai pasukan askar upahan. Penghijrahan ke Ceylon dan Afrika Selatan meningkat dari segi bilangan apabila Belanda menguasai Melaka dan sebahagian besar wilayah kepulauan Alam Melayu. Selain hamba, pekerja sukarela dan banduan, turut sama berhijrah tetapi dengan secara paksaan ialah ulama dan kerabat diraja yang ditawan dan akhirnya dibuang negeri kerana mengetuai pasukan atau kebangkitan peribumi menentang penjajah Belanda. Bilangan mereka di Sri Lanka hari ini dalam sekitar 60,000 orang manakala di Afrika Selatan sekitar 500,000 hingga 600,000 penduduk.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;39. Dari segi bentuk rupa, warna kulit atau wajah, sebahagian besar tidak lagi menyerupai bentuk rupa atau wajah rumpun-rumpun Melayu di Alam Melayu ini. Di Sri Lanka, majoriti mempunyai rupa dan wajah orang India Muslim, termasuk pakaian wanitanya yang memakai sari sebagai pakaian harian. Dalam perkahwinan, mereka mengikut adat resam Hindu apabila pihak wanita menghantar mas kahwin kepada keluarga pengantin lelaki. Bahasa Melayu yang pernah menjadi bahasa persuratan dan pertuturan rumpun Melayu di Afrika Selatan telah mula pupus sejak akhir abad ke-19 atau awal kurun ke-20 yang lalu. Di Sri Lanka, golongan tuanya masih bertutur dalam bahasa Melayu creole atau pidgin yang tidak mudah difahami oleh orang Melayu dari Malaysia atau Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;40. Tiga unsur penting yang meletakkan mereka sebagai orang Melayu adalah pertama, beragama Islam; kedua, mampu menyusur galur keturunan mereka yang berasal dari Alam Melayu dan ketiga; pengenalan diri (self identification) atau memperkenalkan diri mereka sebagai orang Melayu. Sebagai tambahan, mereka juga menyimpan beberapa artifak budaya serta bahan tulisan seperti kitab suci al-Quran tulisan tangan dan khat jawi yang ditulis oleh nenek moyang mereka pada kurun-kurun ke-18 atau ke-19 dahulu. Perlu diperingatkan di sini bahawa, mereka telah berada di Afrika selatan dan Sri Lanka sejak 200 hingga 300 tahun yang lalu. Ini membawa kepada penghakisan jati diri dan budaya mereka yang asal termasuk bahasa Melayu yang telah pupus, serta amalan adat resam. Yang masih kekal kukuh pegangan mereka ialah kepada agama Islam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;p&gt;Perbandingan Rumpun Melayu di Australia, Arab Saudi dan Surinam&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;41. Sebahagian besar rumpun Melayu yang kini tinggal menetap di Australia dan Arab Saudi berhijrah ke sana pada sekitar abad ini. Di Australia, masih ramai mereka itu dari kalangan generasi pertama yang berhijrah dari Pulau Cocos atau Pulau Kerismas serta Malaysia dan Singapura. Amat jelas mereka masih bertutur dalam bahasa Melayu sebagai bahasa ibunda, berpegang kuat kepada agama Islam, mengamal adat resam Melayu dan berpakaian cara Melayu seperti orang-orang Melayu di Malaysia dan Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;42. Bagi generasi kedua yang dilahirkan di sana, mereka masih bertutur dalam bahasa Melayu tetapi fasih bertutur dalam bahasa Inggeris dan mulai menerima budaya kehidupan golongan remaja di sana seperti meminati lagu dan muzik pop dan filem cereka dari barat. Budaya popular termasuk juga cara mereka berpakaian amat mempengaruhi kehidupan seharian mereka. Adalah dijangkakan bahawa kemungkinan besar bahasa Melayu akan secara perlahan-lahan terpinggir, manakala bahasa Inggeris akan menjadi bahasa utama bagi generasi ketiga dan seterusnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;43. Keadaannya agak sama dengan budaya dan kehidupan orang-orang Melayu yang kini menetap di Arab Saudi. Bilangan mereka relatifnya lebih ramai terutama di kota suci Makkah dan di Jeddah. Kedua-dua generasi pertama dan kedua masih fasih berbahasa Melayu, tetapi lebih selesa berpakaian cara orang-orang tempatan, amalan adat resam campuran Arab dan Melayu, serta berpegang kuat kepada agama Islam. Ciri-ciri jati diri Melayu mereka ialah beragama Islam, bertutur dalam bahasa Melayu, dan mengamalkan sebahagian adat resam Melayu serta Arab (tempatan). Mereka juga fasih bertutur dalam bahasa Arab yang bakal mengambil alih dan menjadi bahasa ibunda bagi generasi ketiga dan seterusnya. Ini berdasarkan kepada pemerhatian bahawa ibu bapa mereka lebih cenderung bertutur dalam bahasa Arab dengan anak-anak mereka (generasi kedua yang dilahirkan di sana).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;44. Keadaannya agak sama dengan rumpun Melayu di Surinam yang sebahagian besarnya berasal dari Jawa dan Sumatera. Generasi pertama penduduknya berhijrah pada sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20; bermakna mereka sudah berada di sana sekitar 100 tahun. Namun mereka masih tetap dapat mengekalkan ciri-ciri jati diri yang demikian, malah lebih dominan daripada rumpun Melayu di Australia dan Arab Saudi. Mereka mengamalkan kehidupan berkampung sesama mereka, fasih bertutur dalam bahasa Melayu ala Indonesia; berpegang teguh kepada agama Islam serta mengamalkan adat resam yang dibawa dari Jawa dan Sumatera. Mereka juga mempunyai pasukan-pasukan kesenian tradisi seperti tarian kuda kepang dan enggau-enggau, lagu dan muzik Melayu-Indonesia, seni pencak-silat, bergendang rebana dan berkompang. Faktor jumlah dan peratus penduduk yang relatifnya tinggi iaitu 30% daripada keseluruhan jumlah penduduk sebanyak 400,000 orang sahaja di Surinam. Tiadanya unsur budaya dominan seperti di Australia (budaya Eropah) dan di Arab Saudi (budaya Arab-Islam) membolehkan rumpun Melayu Surinam mengekalkan jati diri mereka sebagai penduduk diaspora (pendatang) dari rumpun Melayu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;p&gt;Perbandingan Melayu Minoriti di Singapura, Selatan Thailand dan Selatan Myanmar&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;45. Pertukaran status kelompok Melayu menjadi minoriti di Singapura, adalah akibat secara langsung kehadiran Inggeris sebagai kuasa besar kolonial yang telah membenarkan penghijrahan orang-orang Cina ke selatan memasuki Alam Melayu secara besar-besaran mulai pertengahan abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 yang menjadikan pulau Singapura dulunya dihuni oleh orang Melayu sahaja tetapi kini didominasi oleh kaum pendatang dari negeri Cina. Ciri-ciri asal kemelayuan pulau itu hampir tidak kelihatan lagi apabila kampung-kampung tradisi Melayu dipecah dan dimusnahkan menjadikan kawasan-kawasan enclaves itu sebagai tempat tinggal untuk semua kaum melalui pembinaan rumah-rumah pangsa. Para intelektual cerdik pandainya serta mereka yang berkemampuan sebahagian besarnya telah berpindah ke Malaysia atau ke negara-negara lain seperti Australia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;46. Peratus penduduk Melayu kini dianggarkan sekitar 15% sahaja dan mereka tidak memainkan peranan penting dalam menguruskan negara itu sejak Singapura dipisahkan dari Malaysia pada 1965 dahulu. Dalam bahasa salah seorang pengkajinya Lily Zubaidah Rahim yang kini telah berhijrah ke Australia, masyarakat Melayu di Singapura hari ini adalah masyarakat pinggiran dalam segala segi terutamanya dalam bidang kehidupan yang strategik seperti ekonomi dan pendidikan (Lily Zubaidah Rahman 2004). Namun disebabkan kedudukan mereka berada di tengah-tengah masyarakat Melayu induk di Malaysia, Brunei dan Indonesia, mereka masih berusaha dan berjaya mengekalkan jati diri yang berpaksikan agama Islam dan amalan adat resam Melayu yang mereka warisi dari nenek moyang mereka. Jika tahun-tahun 40, 50 dan 60-an dahulu, untuk selama 30 tahun atau lebih Singapura amat dikenali sebagai nadi dalam perkembangan intelektual dan kegiatan persuratan Melayu, kini saki bakinya pun sukar untuk dicari, hasil daripada usaha meminggirkan penduduk peribumi Melayu itu dengan secara terancang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;47. Sejarah rumpun Melayu Patani di utara Semenanjung atau kini dikenali sebagai Wilayah Melayu Selatan Thailand merupakan satu lagi episod sejarah rumpun bangsa Melayu yang malang. Ia adalah salah satu masyarakat Melayu berkerajaan yang paling awal di wujudkan selepas kerajaan Melayu Champa, iaitu dipercayai muncul pada kurun pertama atau kedua kurun Masehi menggunakan nama Langkasuka atau mengikut catatan Cina "Lang-Ya-Shu". Pada abad ke-15 atau awal abad ke-16 namanya bertukar menjadi Patani.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;48. Bermula sekitar abad ke-13, bangsa Tai dari pinggir selatan negeri China mula berhijrah ke selatan untuk menguasai kawasan Segenting Kra hingga ke Semenanjung. Penjajahan ke atas negeri-negeri Melayu utara Semenanjung oleh bangsa Tai itu berhasil dalam abad ke-19 melalui dasar pecah dan perintah. Apabila memasuki abad ke-20, dan dengan bantuan kerajaan Inggeris, perjanjian Anglo-Siamese Treaty 1909 dimeterai yang meletakkan negeri-negeri Melayu Selatan Thailand di bawah kerajaan Thailand.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;49. Untuk selama lebih 100 tahun, kerajaan Thailand menggalakkan penduduknya berhijrah ke wilayah selatan secara beramai-ramai untuk menduduki wilayah Melayu itu. Dasar asimiliasi kerajaan Thailand yang agresif mempercepatkan kehilangan jati diri bangsa Melayu yang berjumlah sekitar 3 juta orang itu. Perjuangan untuk pemisahan oleh puak radikal dan militannya sudah lama berjalan tanpa menampakkan hasil kecuali menambahkan ramai rakyatnya terkorban. Pertumpahan darah berlaku tanpa belas kasihan. Terbaru, Perdana Menteri Malaysia cuba mencetuskan idea untuk diberi autonomi pada wilayah yang sentiasa bergolak itu seperti yang diperjuangkan oleh rumpun Melayu-Islam di Selatan Filipina, tetapi disambut dingin dan amarah oleh pemimpin-pemimpin di Bangkok. Jalan untuk mendapatkan penyelesaian adalah amat sukar kecuali jika mendapat restu dan campur tangan dari Bangsa-bangsa Bersatu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;50. Sekitar 100,000 masyarakat Melayu Selatan Myanmar di Segenting Kra masih mampu hidup berkampung mengamalkan adat resam bangsa Melayu serta berpegang teguh kepada ajaran Islam. Tetapi dalam aspek kehidupan yang strategik seperti kegiatan ekonomi dan pendidikan, mereka turut terpinggir dan ketinggalan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;p&gt;RUMUSAN&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;51. Kedudukan rumpun Melayu diaspora amatlah pelbagai. Mereka yang berhijrah sejak 200 hingga 300 tahun yang silam sudah berasimilasi dengan masyarakat dan budaya masyarakat dominan seperti di Afrika Selatan dan Sri Lanka. Namun, Islam serta susur galur sejarah penghijrahan mereka ke sana serta pengakuan diri mereka sebagai orang Melayu merupakan unsur penting untuk mereka dilabelkan sebagai orang atau keturunan Melayu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;52. Lebih awal daripada itu ialah penghijrahan rumpun Melayu ke Pulau Madagaskar sekitar 500 hingga 1000 tahun yang silam. Kelompok ini sudah berjaya membina jati diri baru yang unik serta berjaya menubuhkan kerajaan yang pertama di pulau itu yang melayakkan mereka diiktiraf sebagai peribumi Pulau Madagaskar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;53. Rumpun-pumpun Melayu yang berhijrah kurang daripada 100 tahun ke beberapa negara seperti Arab Saudi, Australia, Eropah dan Amerika serta mereka yang berhijrah ke Surinam masih berjaya mengekalkan jati diri dengan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pertuturan seharian, mengamalkan adat resam Melayu, dan berpegang teguh kepada ajaran Islam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;54. Masyarakat Melayu minoriti di Selatan Thailand, Selatan Myanmar serta di Singapura berada di bawah dominasi budaya dan masyarakat dominan yang cuba mengasimilasikan mereka ke dalam masyarakat dominan bukan Melayu. Mereka menghadapi cabaran yang getir untuk mempertahankan atau mengekalkan jati diri sebagai rumpun bangsa Melayu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN"&gt; &lt;p&gt;RUJUKAN&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt; &lt;p&gt;Achmat Davids. 1980. The Mosques of Bo-Kaap, South African Institute and Islamic Research. Athlone: Cape Town.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Asmah Hj. Omar. 2008. The Malays in Australia. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN"&gt;Husseinmiya, B.A. 1989. Orang Regiment, the Malays of the Ceylon rifle. Bangi: Penerbit UKM.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bunce, Pauline. 1993. Kepulauan Cocos (Keeling): Masyarakat Melayu di Australia. &lt;span lang="SV"&gt;Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lily Zubaidah Rahim. 2004. Dilema Singapura, peminggiran politik dan pelajaran masyarakat Melayu. ITNM.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Md. Sidin Ahmad Ishak &amp;amp; M. Redzuan Othman. 2000. The Malays in the middle east. Universiti of Malaya Press.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Wan Hashim Wan Teh. 1995. Interaksi Kaum Imigran dengan Bangsa Melayu dan Kesannya Terhadap Kebudayaan Melayu. Dalam Hanapi Dollah, Lokman Mohd Zen (pnyt) Kebudayaan Melayu di Ambang Abad Baru: Satu Himpunan Makalah. Bangi: Jabatan Persuratan Melayu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Wan Hashim Wan Teh. Rumpun Melayu Minoriti dan Diaspora. &lt;span lang="SV"&gt;Terbitan Khas RUMPUN, ATMA UKM.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Wan Hashim &amp;amp; A. Halim Ali. 1999.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Rumpun Melayu Australia Barat. Penerbit UKM.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN"&gt; &lt;p&gt;Huntington, Samuel, 2008. Siapa kita? Cabaran kepada identiti nasional Amerika. ITNM&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Wan Hashim &amp;amp; Hanapi Dollah. Melayu Cape di Afrika Selatan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;_____________________________________&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Disampaikan dalam &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seminar Peradaban Melayu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;oleh Prof. Dato' Dr. Wan Hashim Wan Teh&lt;br /&gt;Universiti Pertahanan Nasional Malaysia&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h2 class="art-PostHeaderIcon-wrapper"&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-5445457049148405159?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/5445457049148405159/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/06/melayu-minoriti-dan-diaspora.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/5445457049148405159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/5445457049148405159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/06/melayu-minoriti-dan-diaspora.html' title='Diaspora Melayu Minoriti'/><author><name>Si Bungsu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15032113615760295721</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-WO9uV3dnsao/TdQQDdEpyCI/AAAAAAAAAFk/dJ2llVmwAf4/s220/bungsu.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-8367282726766853484</id><published>2011-06-02T23:06:00.007+07:00</published><updated>2011-06-02T23:25:54.864+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Adat'/><title type='text'>Adat-Istiadat Dalam Pergaulan Orang Melayu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dmI6VyjvZSo/S_o13a13vrI/AAAAAAAABYE/20sFnbh0M6U/s320/tepak+sirih.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 0px 0pt; cursor: pointer; width: 294px; height: 259px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dmI6VyjvZSo/S_o13a13vrI/AAAAAAAABYE/20sFnbh0M6U/s320/tepak+sirih.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Orang Melayu mengaku identitas kepribadiannya yang utama adalah adat istiadat Melayu, dan agama Islam. Dengan demikian, seseorang yang mengaku dirinya orang Melayu harus beradat-istiadat Melayu, berbahasa Melayu, dan beragama Islam. Dari tiga ciri utama kepribadian orang Melayu tersebut, yang menjadi pondasi pokok adalah agama Islam, karena agama Islam menjadi sumber adat-istiadat Melayu. Oleh karena itu, adat-istiadat Melayu Riau bersendikan syarak dan syarak bersendikan kitabullah. Dalam bahasa Melayu berbagai ungkapan, pepatah, perumpamaan, pantun, syair, dan sebagainya menyiratkan norma sopan-santun dan tata pergaulan orang Melayu.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;1. Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Orang Melayu menetapkan identitasnya dengan tiga ciri pokok, yaitu berbahasa Melayu, beradat-istiadat Melayu, dan beragama Islam. Dalam makalah ini, penulis akan mengemukakan beberapa hal pokok yang berkaitan dengan adat istiadat Melayu Riau.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify;"&gt;Seperti diketahui bersama, segala hal yang bersangkutan dengan adat-istiadat Melayu belum banyak ditulis atau dicatat dengan jelas. &lt;span lang="IT"&gt;Sejak dulu segala ketentuan adat-istiadat disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya secara lisan. Saat ini ketentuan adat yang disampaikan hanya terbatas pada adat sopan-santun saja. Untuk dapat memahami adat-istiadat yang berlaku dalam pergaulan, perlu diketahui sumbernya terlebih dahulu, yaitu adat yang disebut “adat yang sebenar adat”&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; Sebelumnya, akan dibahas pengertian adat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(0, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);" lang="IT"&gt;Buku yang membahas tentang adat sangat banyak, baik yang ditulis oleh ahli Indonesia sendiri maupun ahli asing. Kata adat juga tercantum dalam kamus-kamus Indonesia (baca: Melayu) dan ensiklopedi-ensiklopedi. Akan tetapi, penulis berpendapat bahwa semua buku itu belum dapat menjelaskan adat secara tuntas dan fundamental.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;2. Pengertian “Adat” Secara Umum&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Banyak orang keliru mengartikan adat, terutama generasi muda. Adat diartikan sama dengan kebiasaan lama dan kuno. Kalau mendengar kata adat, maka yang terbayang dalam khayalan adalah orang tua berpakaian daerah, upacara perkawinan, atau upacara-upacara lainnya. Oleh karena itu, jangan heran jika media massa pun sering keliru, sehingga pakaian daerah disebut pakaian adat atau rumah yang berbentuk khas daerah disebut rumah adat. Tegasnya, apa yang berbentuk tradisional dianggap adat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Dalam &lt;i&gt;Ensiklopedi Umum&lt;/i&gt;, kata “adat” diartikan sebagai:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Aturan-aturan tentang beberapa segi kehidupan manusia yang tumbuh dari usaha orang dalam suatu daerah yang terbentuk di Indonesia sebagai kelompok sosial untuk mengatur tata tertib tingkah-laku anggota masyarakatnya. Di Indonesia, aturan-aturan tentang segi kehidupan manusia itu menjadi aturan hukum yang mengikat dan disebut hukum adat &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;(Yayasan Kanisius, 1973).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pengertian adat di sini sangat terbatas, karena hanya berupa aturan-aturan tentang beberapa segi kehidupan. &lt;/span&gt;Hal ini berbeda dengan pendapat Prof. Dr. J. Prins yang mengatakan, “&lt;i&gt;De adat overheerste tot voor kort alle terrein van het leven juist wat de plichtenleer idealiter beoogt te doen&lt;/i&gt;” (Prins, 1954). Pendapat Prins ini lebih mendekati pengertian yang sebenarnya, karena ia mengatakan bahwa adat meliputi semua segi kehidupan dan hanya untuk jangka waktu yang singkat.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Ensiklopedi Indonesia&lt;/i&gt; memberikan uraian yang lebih panjang, tetapi sulit untuk diambil kesimpulan. Kata adat berasal dari bahasa Arab &lt;i&gt;urf&lt;/i&gt; dan Islam telah memberikan corak khusus dalam ketentuan-ketentuan adat dalam lingkungan pemeluk agama Islam.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Pengertian adat di Riau sendiri adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur tingkah-laku dan hubungan antara anggota masyarakat dalam segala segi kehidupan. Oleh karena itu, adat merupakan hukum tidak tertulis dan sekaligus sebagai sumber hukum. Sebelum hukum Barat masuk ke Indonesia, adat adalah satu-satunya hukum rakyat yang kemudian disempurnakan dengan hukum Islam, sehingga disebut “adat bersendikan syarak”. Menyatunya adat Melayu dengan hukum syarak diperkirakan terjadi setelah Islam masuk ke Malaka pada akhir abad ke-14, sebagaimana diungkapkan Tonel (1920):&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Adat Melayu pada mulanya berpangkal pada adat-istiadat Melayu yang digunakan dalam negeri Tumasik, Bintan, dan Malaka. Pada zaman Malaka, adat itu menjadi Islam karena rajanya pun telah memeluk Islam.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Ketentuan-ketentuan hukum syarak telah dianggap sebagai adat yang dipatuhi oleh anggota masyarakat, sehingga sukar untuk membedakan ketentuan-ketentuan yang berasal dari adat murni dan ketentuan-ketentuan yang berasal dari hukum syarak.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;3. Adat Dalam Masyarakat Melayu Riau&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Adat yang berlaku dalam masyarakat Melayu di Riau bersumber dari Malaka dan Johor, karena dahulu Malaka, Johor, dan Riau merupakan Kerajaan Melayu dan adatnya berpunca dari istana, seperti disebutkan Tonel (1920) dalam bagian lain seperti berikut:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Maka segala adat-istiadat Melayu itu pun sah menurut syarak Islam dan syariat Islam. Adat-istiadat itulah yang turun-temurun berkembang sampai ke negeri Johor, negeri Riau, negeri Indragiri, negeri Siak, negeri Pelalawan, dan sekalian negeri orang Melayu adanya. Segala adat yang tidak bersendikan syariat Islam salah dan tidak boleh dipakai lagi. Sejak itu, adat-istiadat Melayu disebut adat bersendi syarak yang berpegang kepada kitab Allah dan sunah Nabi.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Dalam bagian lain juga dikatakan:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Adapun negeri Indragiri setelah Raja Narasinga masuk Islam sebab dimenantukan oleh Sultan Mahmudsyah, Sultan Malaka, maka raja itu pun dirajakan di Indragiri. Mulanya ia ditolak oleh orang Indragiri, namun karena kedatangan orang Talang di sana yang mengangkatnya sebagai raja, maka mufakatlah mereka membuat perjanjian. Perjanjian itu menyatakan bahwa orang Talang mengaku sebagai rakyat Indragiri. Raja pun memberi tahu mereka tentang adat Melayu, sehingga mereka mufakat untuk memakai adat itu kala mereka hidup di dalam negeri Indragiri. Di dalam kampungnya, mereka tetap memakai adat mereka. Dengan demikian asal mula adat di negeri Siak dan negeri Pelalawan itu adalah dari Johor jua. Apabila Raja Kecik menjadikan dirinya raja di negeri Siak yang disebut Buantan, maka adat itulah yang dipakainya, yang kemudian diwariskan ke semua anak cucunya, dan daerah taklukannya (Tonel, 1920).&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Walaupun kutipan-kutipan di atas diambil dari naskah tulisan tangan yang belum diterbitkan, tetapi keterangan tersebut dapat dipercaya, karena kenyataan yang dijumpai memang demikian.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Adat Melayu di Riau dapat dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu adat sebenar adat, adat yang diadatkan, dan adat yang teradat.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;a. Adat Sebenar Adat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “adat sebenar adat” adalah prinsip adat Melayu yang tidak dapat diubah-ubah. Prinsip tersebut tersimpul dalam “adat bersendikan syarak”. Ketentuan-ketentuan adat yang bertentangan dengan hukum syarak tidak boleh dipakai lagi dan hukum syaraklah yang dominan. Dalam ungkapan dinyatakan:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;              &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Adat berwaris kepada Nabi&lt;br /&gt;Adat berkhalifah kepada Adam&lt;br /&gt;Adat berinduk ke ulama&lt;br /&gt;Adat bersurat dalam kertas&lt;br /&gt;Adat tersirat dalam sunah&lt;br /&gt;Adat dikungkung kitabullah&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Itulah adat yang tahan banding&lt;br /&gt;Itulah adat yang tahan asak&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;                      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Adat terconteng di lawang&lt;br /&gt;Adat tak lekang oleh panas&lt;br /&gt;Adat tak lapuk oleh hujan&lt;br /&gt;Adat dianjak layu diumbut mati&lt;br /&gt;Adat ditanam tumbuh dikubur hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kalau tinggi dipanjatnya&lt;br /&gt;Bila rendah dijalarnya&lt;br /&gt;Riaknya sampai ke tebing&lt;br /&gt;Umbutnya sampai ke pangkal&lt;br /&gt;Resamnya sampai ke laut luas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Sampai ke pulau karam-karaman&lt;br /&gt;Sampai ke tebing lembak-lembakan&lt;br /&gt;Sampai ke arus yang berdengung&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Kalau tali boleh diseret&lt;br /&gt;Kalau rupa boleh dilihat&lt;br /&gt;Kalau rasa boleh dimakan&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;            &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Itulah adat sebenar adat&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Adat turun dari syarak&lt;br /&gt;Dilihat dengan hukum syariat&lt;br /&gt;Itulah pusaka turun-temurun&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Warisan yang tak putus oleh cencang&lt;br /&gt;Yang menjadi galang lembaga&lt;br /&gt;Yang menjadi ico dengan pakaian&lt;br /&gt;Yang digenggam di peselimut &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;                &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Adat yang keras tidak tertarik&lt;br /&gt;Adat lunak tidak tersudu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibuntal singkat, direntang panjang&lt;br /&gt;Kalau kendur berdenting-denting&lt;br /&gt;Kalau tegang berjela-jela&lt;br /&gt;Itulah adat sebenar adat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;Dari ungkapan di atas jelas terlihat betapa &lt;i&gt;bersebatinya&lt;/i&gt; adat Melayu dengan ajaran Islam. &lt;span style="" lang="IT"&gt;Dasar adat Melayu menghendaki sunah Nabi dan Al Quran sebagai sandarannya. Prinsip itu tidak dapat diubah, tidak dapat dibuang, apalagi dihilangkan, itulah yang disebut “adat sebenar adat”&lt;i&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;b. Adat yang Diadatkan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;“Adat yang diadatkan” adalah adat yang dibuat oleh penguasa pada suatu kurun waktu dan adat itu terus berlaku selama tidak diubah oleh penguasa berikutnya. Adat ini dapat berubah-ubah sesuai dengan situasi dan perkembangan zaman, sehingga dapat disamakan dengan peraturan pelaksanaan dari suatu ketentuan adat. Perubahan terjadi karena menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan perkembangan pandangan pihak penguasa, seperti kata pepatah “Sekali air bah, sekali tepian beralih”. Dalam ungkapan disebutkan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;            &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Adat yang diadatkan&lt;br /&gt;Adat yang turun dari raja&lt;br /&gt;Adat yang datang dari datuk&lt;br /&gt;Adat yang cucur dari penghulu&lt;br /&gt;Adat yang dibuat kemudian&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;                &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Putus mufakat adat berubah&lt;br /&gt;Bulat kata adat berganti&lt;br /&gt;Sepanjang hari ia lekang&lt;br /&gt;Beralih musim ia layu&lt;br /&gt;Bertuhan angin ia melayang&lt;br /&gt;Bersalin baju ia tercampak&lt;br /&gt;Adat yang dapat dibuat-buat&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;(Nyanyian Panjang dan Bilang Undang)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Panuti H. M. Sujiman (1983) menyebutkan syarat dan sifat manusia yang baik dan ideal berdasarkan pandangan adat Melayu adalah sebagai berikut:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Adapun syarat menjadi raja sekurang-kurangnya memenuhi empat perkara, pertama tua hati betul, kedua bermuka manis, ketiga berlidah fasih, dan keempat bertangan murah. Demikian syarat bagi semua raja. Hukum terdiri atas empat perkara juga, pertama hukum yang adil, kedua hukum mengasihani, ketiga hukum kekerasan, dan keempat berani.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Selanjutnya petuah-petuah yang diajarkan oleh Raja Ali Haji dalam Gurindam Dua Belas&lt;i&gt; &lt;/i&gt;juga memberikan bimbingan bagi anggota masyarakat Melayu tentang seharusnya orang Melayu bersikap dan bertingkah-laku sesuai dengan yang diinginkan oleh adat Melayu. &lt;i&gt;Gurindam Dua Belas &lt;/i&gt;memuat dua belas pasal. Sebagai gambaran, berikut kutipan pasalnya:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;            &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Pasal lima&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Jika hendak mengenal orang yang berbangsa&lt;br /&gt;Lihat kepada budi dan bahasa&lt;br /&gt;Jika hendak mengenal orang yang berbahagia&lt;br /&gt;sangat memeliharakan yang sia-sia&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;          &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Jika hendak mengenal orang yang mulia&lt;br /&gt;Lihat kepada kelakuan dia&lt;br /&gt;Jika hendak mengenal orang berilmu&lt;br /&gt;bertanya dan belajar tidaklah jemu&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;          &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Jika hendak mengenal orang yang berakal&lt;br /&gt;di dalam dunia mengambil bekal&lt;br /&gt;Jika hendak mengenal orang yang baik perangai&lt;br /&gt;Lihat kepada ketika bercampur dengan orang ramai&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;                      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Pasal dua belas&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Raja bermufakat dengan menteri&lt;br /&gt;seperti kebun berpagar duri&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Betul hati kepada raja&lt;br /&gt;tanda jadi sembarang kerja&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hukum adil kepada rakyat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;tanda raja beroleh inayat&lt;br /&gt;Kasihkan orang yang berilmu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;tanda rahmat atas dirimu&lt;br /&gt;Hormat akan orang pandai&lt;br /&gt;tanda mengenal kasa dan cindai&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Selanjutnya para penguasa (raja) mengatur hak dan kewajiban para kawula menurut tingkat sosial mereka. Hak-hak istimewa raja dan para pembesar diatur dan diwujudkan dalam bentuk rumah, bentuk dan warna pakaian, kedudukan dalam upacara-upacara, dan larangan bagi rakyat biasa untuk memakai atau mempergunakan jenis yang sama. Dengan demikian tercipta ketentuan-ketentuan yang berisi suruhan dan pantangan. Di samping itu juga tercipta kelas-kelas dalam masyarakat yang pada umumnya terdiri dari raja dan anak raja-raja, orang baik-baik, dan orang kebanyakan. Stratifikasi sosial dalam masyarakat Melayu itu telah menciptakan hak dan kewajiban yang berbeda bagi tiap-tiap tingkatan, sebagaimana kutipan berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pasal menyatakan, adat Raja-raja Melayu yang tidak boleh dipakai oleh orang luar yaitu, rumah yang bersayap layang atau jamban dan pagar kampung yang di atasnya tertutup; rumah beranak keluang dan rumah yang tengahnya berpintu sama; geta yang bersulur bayung lima, tilam berulas kuning, dan memakai bantal yang bersibar kuning; tikar berhuma kuning dan baju pandakpun, yaitu baju lepas kuning; tilam pandak dan tudung hidangan kuning; sapu tangan tuala kuning; memakai kain yang tipis berbayang-bayang; tidak boleh memakai payung di depan istana raja dan tidak boleh berhasut pada majelis balai raja; tiada boleh membuang sapu tangan kepala di hadapan raja; tidak boleh duduk bertelekan di hadapan raja; tiada boleh melintangkan keris ketika menghadap raja; tidak boleh memakai hulu keris panjang yang tutupnya berkunam; tidak boleh membawa senjata yang tidak bersarung ke hadapan raja besar; di hadapan raja jangan banyak tertawa-tawa dan berkipas-kipas; jangan menyangkutkan kain, baju, atau sapu tangan di atas bahu di hadapan raja; tatkala duduk pada majelis, jangan menentang kepada raja; jika raja menyorongkan sesuatu (makanan atau piala minuman), hendaknya segera disambut dan diletakkan ke bawah, kemudian disembah &lt;i&gt;kewah duli&lt;/i&gt; seraya duduk undur pada tempat kita sambil memberi hormat. Baru kita minum atau makan. Sebenarnya tidak seperti itu adabnya, melainkan makanlah dengan laku yang sederhana. Jika menerima pakaian dari baginda sendiri atau dibawa oleh pegawainya, hendaknya pakailah pakaian itu di hadapan majelis baginda, serta memberi hormat kepada raja. Jika tidak kita pakai pun boleh, akan tetapi menurut Melayu disebut kurang adab (Sujiman, 1983).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Contoh lain penulis kutip dari kitab &lt;i&gt;Babul Qawaa‘id &lt;/i&gt;(1901) dari Kerajaan Siak Sri Indrapura:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pasal empat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kuasa melarang orang yang hendak menghadap Sri Paduka Sultan jikalau orang itu naik sahaja tidak memberi tahu kepada Penghulu Balai waktu Sri Paduka Sultan bersemayam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pasal lima&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kuasa melarang dengan keras kepada sekalian orang besar- besar, datuk-datuk, pegawai-pegawai, jurutulisjurutulis yang bekerja datang ke balai tiada memakai baju kot, seluar pentalon, sepatu, dan kupiah.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pasal tujuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Jikalau hamba rakyat atau siapa juga tiada dikecualikan orangnya hendak menghadap atau datang ke balai tiada boleh berkain gumbang seperti yang tersebut dalam “Ingat Jabatan” bahagian yang kesebelas pada pasal lima, maka jika berkain gumbang kuasa Penghulu Balai menghalaunya dikecuali jikalau orang terkejut di tengah jalan karena hendak meminta pertolongan kepada polisi apa-apa kesusahannya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Ungkapan-ungkapan yang dikemukakan di atas adalah “adat yang diadatkan”. Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa adat mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan kemajuan zaman. Seorang tokoh ideal di zaman Malaka ialah orang yang telah memenuhi empat sifat dan empat syarat. Empat sifat dan empat syarat itu di zaman Kerajaan Riau telah disempurnakan oleh Raja Ali Haji dengan &lt;i&gt;Gurindam Dua Belas&lt;/i&gt; yang terdiri dari dua belas pasal dan tiap-tiap pasal menggambarkan beberapa sifat baik dan tidak baik. Ukuran sopan-santun pada zaman Kerajaan Malaka telah berkembang pada zaman Kerajaan Siak Sri Indrapura yang menetapkan bahwa semua pejabat kerajaan diharuskan berpakaian sesuai perkembangan zaman, yaitu baju kot dan &lt;i&gt;seluar &lt;/i&gt;pantalon.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Dalam perjalanan sejarah adat-istiadat Melayu, “adat yang diadatkan” mengalami berbagai perubahan dan variasi. Hampir dapat dipastikan bahwa adat ini merupakan adat yang paling banyak ragamnya, sesuai dengan wilayah tumbuh dan berkembangnya. “Adat yang diadatkan” yang terdapat di daerah Riau beragam, karena di daerah Riau pernah terdapat kerajaan-kerajaan yang tersebar dari kepulauan sampai ke hulu-hulu sungai. Setiap kerajaan tentu mempunyai corak dan variasinya yang disesuaikan dengan kondisi dan latar belakang sejarah, serta pengaruh yang masuk ke sana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Jika “adat yang diadatkan” di seluruh wilayah Provinsi Riau dibahas secara mendalam, akan dijumpai perbedaan dan persamaan antara kerajaan-kerajaan tersebut. Akan tetapi, perbedaannya hanya terbatas dalam masalah “tingkat adat” saja, sedangkan “adat sebenar adat” tetap sama. Demikian pula dengan ketentuan-ketentuan dalam upacara, seperti dalam upacara nikah kawin, upacara yang menyangkut daur hidup, dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;c. Adat yang Teradat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Adat ini merupakan konsensus bersama yang dirasakan baik, sebagai pedoman dalam menentuhan sikap dan tindakan dalam menghadapi setiap peristiwa dan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Konsensus itu dijadikan pegangan bersama, sehingga merupakan kebiasaan turun-temurun. Oleh karena itu, “adat yang teradat” ini pun dapat berubah sesuai dengan nilai-nilai baru yang berkembang. &lt;/span&gt;Tingkat adat nilai-nilai baru yang berkembang ini kemudian disebut sebagai tradisi. Dalam ungkapan disebutkan:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Adat yang teradat&lt;br /&gt;Datang tidak bercerita&lt;br /&gt;Pergi tidak berkabar&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Adat disarung tidak berjahit&lt;br /&gt;Adat berkelindan tidak bersimpul&lt;br /&gt;Adat berjarum tidak berbenang&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;                    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Yang terbawa burung lalu&lt;br /&gt;Yang tumbuh tidak ditanam&lt;br /&gt;Yang kembang tidak berkuntum&lt;br /&gt;Yang bertunas tidak berpucuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat yang datang kemudian&lt;br /&gt;Yang diseret jalan panjang&lt;br /&gt;Yang betenggek di sampan lalu&lt;br /&gt;Yang berlabuh tidak bersauh&lt;br /&gt;Yang berakar berurat tunggang&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;          &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Itulah adat sementara&lt;br /&gt;Adat yang dapat dialih-alih&lt;br /&gt;Adat yang dapat ditukar salin&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;Pelanggaran terhadap adat ini sanksinya tidak seberat kedua tingkat adat yang disebutkan di atas. Jika terjadi pelanggaran, maka orang yang melanggar hanya ditegur atau dinasihati oleh pemangku adat atau orang-orang yang dituakan dalam masyarakat. Namun, si pelanggar tetap dianggap sebagai orang yang kurang adab atau tidak tahu adat. Ketentuan adat ini biasanya tidak tertulis, sehingga pengukuhannya dilestarikan dalam ungkapan yang disebut “pepatah adat” atau “undang adat”. Apabila terjadi kasus, maka diadakan musyawarah. Dalam musyawarah digunakan “ungkapan adat” yang disebut “bilang undang”. Hal ini dijelaskan dalam ungkapan berikut:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;                            &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Rumah ada adatnya&lt;br /&gt;Tepian ada bahasanya&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tebing ditingkat dengan undang&lt;br /&gt;Negeri dihuni dengan lembaga&lt;br /&gt;Kampung dikungkung dengan adat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayu besar berkayu kecil&lt;br /&gt;Kayu kecil beranak laras&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt; Laut seperintah raja&lt;br /&gt;Rantau seperintah datuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luhak seperintah penghulu&lt;br /&gt;Ulayat seperintah batin&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Anak rumah tangga rumah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Berselaras tangga turun&lt;br /&gt;Bertelaga tangga naik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;          &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pusaka banyak pusaka&lt;br /&gt;Pusaka di atas tumbuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilang adat karena dibuat&lt;br /&gt;Hilang lembaga karena diikat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Selanjutnya “bilang undang” itu mempunyai sifat-sifat petunjuk, seperti yang tersirat dalam ungkapan berikut:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Hukum sipalu palu ular&lt;br /&gt;Ular dipalu tidak mati&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Kayu pemalu tidak patah&lt;br /&gt;Rumput dipalu tidak layu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah terpalu tidak lembang&lt;br /&gt;Hukum jatuh benar terletak &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Gelak berderai timbal balik&lt;br /&gt;Undang menarik rambut dalam tepung&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Rambut ditarik tidak putus&lt;br /&gt;Tepung tertarik tidak berserak&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;              &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Minta wasiat kepada yang tua&lt;br /&gt;Minta petuah kepada yang alim&lt;br /&gt;Minta akal kepada yang cerdik&lt;br /&gt;Minta daulat kepada raja&lt;br /&gt;Minta suara kepada enggang&lt;br /&gt;Minta kuat kepada gajah&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;          &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Yang hesat diampelas&lt;br /&gt;Yang berbongkol ditarah&lt;br /&gt;Yang keruh dijernihkan&lt;br /&gt;Yang kusut diuraikan&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Dari uraian dapat disimpulkan bahwa ketentuan-ketentuan adat yang lebih dikenal sebagai hukum tidak tertulis telah diwariskan dalam bentuk undang-undang, ungkapan, atau pepatah-petitih.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;4. Adat-Istiadat Dalam Pergaulan Orang Melayu Di Riau&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Bertolak dari dasar pemikiran diadakannya Seminar Kebudayaan Melayu ini, penulis mencoba mengemukakan pemikiran sebagai sumbangan dalam penyempurnaan tata-pergaulan nasional. Berikut satu alenia yang menjadi dasar pemikiran tersebut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Interaksi sosial antara sesama warga negara dalam masyarakat majemuk itu menuntut kerangka rujukan (term of reference) maupun mekanisme pengendali yang mampu memberikan arah dan makna kehidupan bermasyarakat, yaitu kebudayaan yang dapat menjembatani pergaulan sesama warga negara secara efektif.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Adat-istiadat yang merupakan pola sopan-santun dalam pergaulan orang Melayu di Riau sebenarnya sudah lama menjadi pola pergaulan nasional sesama warga negara. Bahasa Melayu yang telah menjadi bahasa nasional Indonesia mengikutsertakan pepatah, ungkapan, peribahasa, pantun, seloka, dan sebagainya yang hidup dalam masyarakat Melayu menjadi milik nasional dan dipahami oleh semua warga negara Indonesia. Ajaran, tuntunan, dan falsafah yang diajarkan melalui pepatah, peribahasa, dan sebagainya itu telah membudaya di seluruh Indonesia, sehingga tidak mudah untuk mengidentifikasi pepatah dan peribahasa yang berasal dari Melayu dan yang bukan dari Melayu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Dalam masyarakat Melayu di Riau, sikap dan tingkah-laku yang baik telah diajarkan sejak dari buaian hingga dewasa. Sikap itu diajarkan secara lisan dan dikembangkan melalui tulisan-tulisan. Raja Ali Haji, pujangga besar Riau telah banyak meninggalkan ajaran-ajaran seperti &lt;i&gt;Gurindam Dua Belas, Samaratul Muhimmah, &lt;/i&gt;dan manuskrip-manuskrip lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Sopan-santun dalam pergaulan sesama masyarakat menyangkut beberapa hal, yaitu tingkah-laku, tutur-bahasa, kesopanan berpakaian, serta sikap menghadapi orang tua/orang sebaya, orang yang lebih muda, para pembesar, dan sebagainya. Tingkah-laku yang terpuji adalah yang bersifat sederhana. Pola hidup sederhana yang dicanangkan oleh pemerintah Republik Indonesia sejalan dengan sifat ideal orang Melayu. Sebagaimana penggalan dalam kitab &lt;i&gt;Adat Raja-raja Melayu:&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Syahdan maka lagi adalah yang dikehendaki oleh istiadat orang Melayu itu dan dibilang orang yang majelis yaitu apabila ada ia mengada ia atas sesuatu kelakuan melainkan dengan pertengahan jua adanya. Yakni daripada segala kelakuan dan perbuatan dan pakaian dan perkataan dan makanan dan perjalanannya, sekalian itu tiada dengan berlebih-lebihan dan dengan kekurangan, melainkan sekaliannya itu diadakan dengan keadaan yang sederhana jua adanya. &lt;/span&gt;Maka orang itulah yang dibilang anak yang majelis. Tambahan pula dengan adab pandai ia menyimpan dirinya. Maka tambah-tambahlah landib atau sindib adanya, seperti kata hukuman, “Hendaklah kamu hukumkan kerongkongan kamu tatkala dalam majelis makan, dan hukumkan matamu tatkala melihat perempuan, dan tegahkan lidahmu dan pada banyak perkataan yang siasia dan tulikan telingamu dan pada perkataan-perkataan yang keji-keji”. Maka apabila sampailah seseorang kepada segala syarat ini ia itulah orang yang majelis namanya &lt;/i&gt;(Sujiman, 1983).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Kesederhanaan memang sudah menjadi sifat dasar orang Melayu sehingga terkadang karena “salah bawa” menjadi sangat berlebihan. Kesederhanaan ini membawa sifat ramah dan toleransi yang tinggi dalam pergaulan. Kesederhanaan ini digambarkan pula dalam pepatah “&lt;i&gt;Mandi di hilir-hilir, berkata di bawah-bawah, “Ibarat padi, kian berisi kian runduk&lt;/i&gt;” .&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Gotong-royong dan seia sekata sangat dianjurkan. Banyak pepatah dan ungkapan yang menjadi falsafah hidup orang Melayu bertahan sampai sekarang, seperti misalnya:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Berat sama dipikul&lt;br /&gt;Ringan sama dijinjing&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Ke bukit sama mendaki&lt;br /&gt;Ke lurah sama menurun&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;          &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Hati gajah sama dilapah&lt;br /&gt;Hati tungau sama dicecah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Hidup jelang-menjelang&lt;br /&gt;Sakit jenguk-menjenguk&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Lapang sama berlegar&lt;br /&gt;Sempit sama berhimpit &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Lebih beri-memberi&lt;br /&gt;Kalau berjalan beriringan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;                                &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Yang dulu jangan menunjang&lt;br /&gt;Yang tengah jangan membelok&lt;br /&gt;Yang di belakang jangan menumit&lt;br /&gt;Yang lupa diingatkan&lt;br /&gt;Yang bengkok diluruskan&lt;br /&gt;Yang tidur dijagakan&lt;br /&gt;Yang salah tegur-menegur&lt;br /&gt;Yang rendah angkat-mengangkat&lt;br /&gt;Yang tinggi junjung-menjunjung&lt;br /&gt;Yang tua memberi wasiat&lt;br /&gt;Yang alim memberi amanat&lt;br /&gt;Yang berani memberi kuat&lt;br /&gt;Yang berkuasa memberi daulat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuat lidi karena diikat&lt;br /&gt;Kuat hati karena mufakat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Ungkapan-ungkapan yang menyangkut kebersamaan masih sangat banyak, karena masalah gotong royong dan kerukunan bersama merupakan masalah penting dalam pergaulan orang Melayu. Ungkapan-ungkapan itu antara lain tercermin dalam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;a. Tutur-Kata&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Dalam bertutur dan berkata, banyak dijumpai nasihat, karena kata sangat berpengaruh bagi keselarasan pergaulan, “&lt;i&gt;Bahasa menunjukkan bangsa&lt;/i&gt;”. Pengertian “bangsa” yang dimaksud di sini adalah “orang baik-baik” atau orang berderajat yang juga disebut “orang berbangsa”. Orang baik-baik tentu mengeluarkan kata-kata yang baik dan tekanan suaranya akan menimbulkan simpati orang. Orang yang menggunakan kata-kata kasar dan tidak senonoh, dia tentu orang yang “tidak berbangsa” atau derajatnya rendah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Bahasa selalu dikaitkan dengan budi, oleh karena itu selalu disebut “budi bahasa”. Dengan demikian, ketinggian budi seseorang juga diukur dari kata-katanya, seperti ungkapan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;          &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Hidup sekandang sehalaman&lt;br /&gt;tidak boleh tengking-menengking&lt;br /&gt;tidak boleh tindih-menindih&lt;br /&gt;tidak boleh dendam kesumat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pantang membuka aib orang&lt;br /&gt;Pantang merobek baju di badan&lt;br /&gt;Pantang menepuk air di dulang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Hilang budi karena bahasa&lt;br /&gt;Habis daulat karena kuasa  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pedas lada hingga ke mulut&lt;br /&gt;Pedas kata menjemput maut&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;            &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Bisa ular pada taringnya&lt;br /&gt;Bisa lebah pada sengatnya&lt;br /&gt;Bisa manusia pada mulutnya&lt;br /&gt;Bisa racun boleh diobat&lt;br /&gt;Bisa mulut nyawa padannya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Oleh karena kata dan ungkapan memegang peran penting dalam pergaulan, maka selalu diberikan tuntunan tentang kata dan ungkapan agar kerukunan tetap terpelihara. Tinggi rendah budi seseorang diukur dari cara berkata-kata. Seseorang yang mengeluarkan kata-kata yang salah akan menjadi aib baginya, seperti kata pepatah “&lt;i&gt;Biar salah kain asal jangan salah cakap&lt;/i&gt;”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;b. Sopan-Santun Berpakaian&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Dari pepatah “&lt;i&gt;Biar salah kain asal jangan salah cakap&lt;/i&gt;” juga tercermin bahwa salah kain juga merupakan aib. Dalam masyarakat Melayu, kesempurnaan berpakaian menjadi ukuran bagi tinggi rendahnya budaya seseorang. Makin tinggi kebudayaannya, akan semakin sempurna pakaiannya. Selain itu, sopan-santun berpakaian menurut Islam telah menyatu dengan adat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Orang yang sopan, pakaiannya akan sempurna, tidak bertelanjang dada, dan lututnya tidak terbuka, seperti dinyatakan dalam ungkapan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;            &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Elok sanggam menutup malu&lt;br /&gt;Sanggam dipakai helat jamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elok dipakai berpatut-patut&lt;br /&gt;Letak tidak membuka aib&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Orang Melayu sejak dahulu sudah mengenal mode, terbukti dengan adanya berbagai jenis pakaian, baik pakaian pria maupun wanita. Demikian pula perhiasan sebagai pelengkap berpakaian. Melayu mengenal penutup kepala bagi lakilaki yang disebut “tengkolok” atau “tanjak” dengan 42 jenis ikatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Pakaian daerah atau pakaian tradisonal Melayu bermacam-macam dan cara memakainya pun disesuaikan dengan keperluan. Cara berpakaian untuk ke pasar, ke masjid, bertandang ke rumah orang, atau ke majelis perjamuan dan upacara ada etikanya sendiri-sendiri. Sebagai intermezo, penulis sajikan beberapa ungkapan mengenai pakaian (Effendy, 1985):&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Seluar panjang semata kaki&lt;br /&gt;Goyang bergoyang ditiup angina&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Kibarnya tidak lebih sejengkal&lt;br /&gt;Pesaknya tidak dalam amat&lt;br /&gt;Elok sanggam menutup malu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Kalau melangkah tidak menyemak&lt;br /&gt;Kalau duduk tidak menyesak&lt;br /&gt;Kaki diberi awan-awanan&lt;br /&gt;Berkelingking berbenang emas &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;          &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Bayang membayang pucuk rebung&lt;br /&gt;Tabur bertabur tampuk manggis&lt;br /&gt;Elok dipakai dalam majelis&lt;br /&gt;Sanggam dipakai helat jamu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;            &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Patut bertempat nikah kawin&lt;br /&gt;Peratama disebut teluk belanga&lt;br /&gt;Tebuk leher bertulang belut&lt;br /&gt;Cengkam dijalin menjari lipan&lt;br /&gt;Buah baju tunggal-tunggalan&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;                      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Kalau bulat menelur burung&lt;br /&gt;Kalau bertangkai memudung petai&lt;br /&gt;Atau bermata bagai cincin&lt;br /&gt;Labuhnya sampai segenggam tangan&lt;br /&gt;Lebar dapat kipas berkipas&lt;br /&gt;Lapang tidak menyangkut ranting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kain tenun-tenunan&lt;br /&gt;Bertabuh berkepala emas&lt;br /&gt;Tabur berserak bunga hutan&lt;br /&gt;Kepala pekat berpucuk rebung&lt;br /&gt;Dipakai dalam helat jamu &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;                    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Dalam mejelis yang patut-patut&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kalau dibuat kain samping&lt;br /&gt;Kepala kain sebelah kanan&lt;br /&gt;Atau membelit kepala belakang&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kalau dipakai labuh-labuhan&lt;br /&gt;Kepala terletak di belakang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Seperti yang telah penulis ungkapkan pada bagian depan, Kerajaan Siak Sri Indrapura telah menetapkan cara berpakaian bagi para pejabat yang bekerja di balai (kantor) dan cara berpakaian rakyat yang datang ke balai dalam &lt;i&gt;Babul Qawa‘id&lt;/i&gt;. Dari uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam pergaulan orang Melayu di Riau, kesopanan berpakaian tidak boleh diabaikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;c. Adab dalam Pergaulan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kerangka acuan adab dan sopan-santun dalam pergaulan adalah norma Islam yang sudah melembaga menjadi adat. Di dalamnya terdapat berbagai pantangan, larangan, dan hal-hal yang dianggap “sumbang”. Pelanggaran dalam hal ini menimbulkan aib besar dan si pelanggar dianggap tidak beradab.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Terdapat beberapa sumbang, yaitu sumbang dipandang mata, sumbang sikap, dan sumbang kata yang pada umumnya disebut “tidak baik”. Karakter anggota masyarakat dibentuk oleh norma-norma ini. Dengan demikian tercipta pola sikap dalam pergaulan, seperti sikap terhadap orang tua, terhadap ibu bapak, terhadap penguasa atau pejabat, terhadap orang sebaya, terhadap orang yang lebih muda, antara pria dan wanita, bertamu ke rumah orang, dalam upacara, dan sebagainya. Banyak ungkapan yang kita jumpai di dalam masyarakat Melayu yang digunakan sebagai tuntunan, di antaranya sebagai berikut (Effendy, 1985):&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;                              &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Guru kencing berdiri&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Murid kencing berlari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menyengat kupiah imam&lt;br /&gt;Akan melintang kupiah makmum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berseloroh sama sebaya&lt;br /&gt;Berunding sama setara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergelut di halaman&lt;br /&gt;Berunding di rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat baik berpada-pada&lt;br /&gt;Berbuat jahat jangan sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang patut dipatutkan&lt;br /&gt;Yang tua dituakan&lt;br /&gt;Yang berbangsa dibangsakan&lt;br /&gt;Yang berbahasa dibahasakan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Kalau lepas ke halaman orang&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Berkata dulu agak sepatah&lt;br /&gt;Memberi tahu orang di rumah&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Entah orang salah duduk&lt;br /&gt;Entah orang salah tegak&lt;br /&gt;Entah orang salah kain&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Kalau betina turun di tangga&lt;br /&gt;Surut selangkah kita dahulu&lt;br /&gt;Jangan bersinggung turun naik&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Kalau haus di kampung orang&lt;br /&gt;Haus boleh minta air&lt;br /&gt;Lapar boleh minta nasi&lt;br /&gt;Tapi terbatas hingga di pintu &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Sebelah kaki berjuntai&lt;br /&gt;Sebelah boleh di atas bendul&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;          &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Di mana bumi dipijak&lt;br /&gt;Di situ langit dijunjung&lt;br /&gt;Di mana air disauk&lt;br /&gt;Di situ ranting dipatah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Karena begitu banyaknya ungkapan, maka tidak mungkin jika semuanya dikemukakan di sini. &lt;/span&gt;Yang jelas, dalam masyarakat Melayu Riau etika pergaulan sangat dipentingkan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;5. Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dengan kerangka rujukan “adat bersendikan syarak” adat-istiadat Melayu Riau tidak statis dan tidak menutup diri terhadap perkembangan zaman. Etika pergaulan orang Melayu Riau telah memberikan saham dalam pergaulan antarwarga Indonesia. Ajaran sopan-santun akhir-akhir ini telah diabaikan, sehingga kebiasaan ini perlu dipulihkan dengan cara-cara yang sesuai dengan keadaan sekarang, yakni dengan:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Menghidupkan dan menyebarluaskan ungkapan, pepatah, dan sebagainya yang mengandung adab sopan-santun melalui media cetak dan media massa.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Menerjemahkan dan menyebarluaskan pepatah, ungkapan, dan manuskrip yang mengandung ajaran-ajaran.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Menulis buku pelajaran yang mengajarkan adab sopan-santun dengan kerangka rujukan falsafah dan nilai yang terkandung dalam pepatah, ungkapan, pantun, dan sebagainya, mulai dari tingkat dasar.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Daftar Pustaka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Effendy, T. 1985. &lt;i&gt;Kumpulan Ungkapan&lt;/i&gt;. Naskah yang belum diterbitkan, Pekanbaru.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Hoeve, I. B. van. 1984. &lt;i&gt;Ensiklopedi Indonesia&lt;/i&gt;. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Kerajaan Siak. 1901. &lt;i&gt;Babul Qawa‘id&lt;/i&gt;. Siak Sri Indrapura: Percetakan Kerajaan Siak Sri Indrapura. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Prins, J. 1954. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Adat en Islamietische Plichtenleer In Indonesia.&lt;/i&gt; Bandung: W. Van Hoeve s‘Gravenhage. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Sujiman, P. H. M. 1983. &lt;i&gt;Adat Raja-raja Melayu. &lt;/i&gt;Jakarta: Universitas Indonesia Press. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Tonel, T. 1920. &lt;i&gt;Adat-istiadat Melayu. &lt;/i&gt;Naskah tulisan tangan huruf Melayu Arab, Pelalawan.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Yayasan Kanisius. 1973. &lt;i&gt;Ensiklopedi Umum. &lt;/i&gt;Yogyakarta: Kanisius.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;___________________&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;Makalah ini disampaikan pada Seminar “Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya”, yang diselenggarakan di Tanjung Pinang, Riau.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;[Dari &lt;a href="http://wisatadanbudaya.blogspot.com/2009/09/adat-istiadat-dalam-pergaulan-orang.html"&gt;Informasi Wisata Dan Budaya&lt;/a&gt; | Oleh: Wan Ghalib]&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-8367282726766853484?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/8367282726766853484/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/06/adat-istiadat-dalam-pergaulan-orang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/8367282726766853484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/8367282726766853484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/06/adat-istiadat-dalam-pergaulan-orang.html' title='Adat-Istiadat Dalam Pergaulan Orang Melayu'/><author><name>Si Bungsu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15032113615760295721</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-WO9uV3dnsao/TdQQDdEpyCI/AAAAAAAAAFk/dJ2llVmwAf4/s220/bungsu.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dmI6VyjvZSo/S_o13a13vrI/AAAAAAAABYE/20sFnbh0M6U/s72-c/tepak+sirih.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-3194930846925472420</id><published>2011-05-22T01:11:00.004+07:00</published><updated>2011-06-12T12:23:23.427+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wikipedia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kedah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Kerajaan Melayu Purba Langkasuka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_G13wtJ_T2uI/SbuVnNhJ0vI/AAAAAAAAAd4/uRgBZ_E6NXs/s400/NDVD_026.BMP"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 0px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 352px; height: 288px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_G13wtJ_T2uI/SbuVnNhJ0vI/AAAAAAAAAd4/uRgBZ_E6NXs/s400/NDVD_026.BMP" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Langkasuka atau juga dikenali sebagai Lang-ya-shiu, Lang-chia-shu (China), Langasyuka (Arab) dan Ilangasoka (inkripsi Tangore) yang terletak di kawasan yang dikenali sebagai Pattani (dahulunya Kedah). Langkasuka ialah sebuah kerajaan Hindu Melayu silam yang terletak di Semenanjung Malaysia. Kerajaan ini bersama-sama dengan Kerajaan Kedah Tua berkemungkinan merupakan kerajaan yang paling awal di Tanah Melayu. Mengikut satu sumber, kerajaan ini diasaskan pada kurun ke-2 masihi. Legenda orang Melayu mendakwa bahawa Langkasuka diasaskan di Kedah, dan kemudian berpindah ke Pattani. Dipercayai bahawa Langkawi mendapat namanya daripada perkataan Langkasuka. Sumber-sumber sejarah tidak banyak tetapi mengikut satu rekod sejarah Dinasti Liang China (500 M) merujuk kerajaan itu sebagai "Langgasu" yang diasaskan pada kurun pertama masihi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Nama Langkasuka juga ada disebut dalam tulisan-tulisan Melayu dan Jawa, sementara tulisan-tulisan dari China pernah menyebut sebuah negeri iaitu Lang-ya-hsiu atau Lang-chia-shu. Pada tahun 515 M Raja Bhagadatta menjalinkan hubungan dengan China. Hubungan itu dikukuhkan lagi dengan duta-duta dihantar pada tahun 523, 531 dan 568 masihi. Pada kurun ke-12, Langkasuka merupakan negeri naungan kepada Kerajaan Srivijaya dan pada kurun ke-15 ia digantikan dengan Kerajaan Pattani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1963, Stewart Wavell mengetuai satu ekspedisi Cambridge ke Langkasuka dan Tambralinga. Maklumat mengenai ekspedisi ini boleh didapati melalui buku &lt;a href="http://www.find-a-book.com/db/detail.php?booknr=353325668"&gt;"The Naga King's Daughter"&lt;/a&gt;, terbitan Antara Books.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Patani dan Langkasuka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Negeri Patani memiliki sejarah yang cukup lama, jauh lebih lama daripada sejarah negeri-negeri di Semenanjung Melayu seperti Melaka, Johor dan Selangor. Sejarah lama Patani merujuk kepada kerajaan Melayu tua pengaruh Hindu-India bernama Langkasuka sebagaimana dikatakan oleh seorang ahli antropologi sosial di Prince of Songkla University di Patani, Seni Madakakul bahawa Langkasuka itu terletak di Patani. Pendapat beliau ini didukung oleh sejarawan lain seperti Prof. Zainal Abidin Wahid, Mubin Shepard, Prof. Hall dan Prof. Paul Wheatly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh bahkan Sir John Braddle menegaskan bahawa kawasan timur Langkasuka meliputi daerah pantai timur Semenanjung, dari Senggora, Patani, Kelantan sampai ke Trengganu, termasuk juga kawasan sebelah utara negeri Kedah (M. Dahlan Mansoer, 1979).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku sejarah negeri Kedah, Hikayat Merong Mahawangsa, ada menyebut bahawa negeri Langkasuka terbahagi kepada dua: Sebahagian terletak di negeri Kedah iaitu terletak di kawasan tebing sungai Merbok. Sebagian lainnya terletak di sebelah timur Kedah, yaitu di pantai Laut China Selatan. Dalam hal ini Prof. Paul Wheatly tanpa ragu mengatakan bahwa Langkasuka terletak di Patani sekarang. Pendapat beliau dikuatkan dengan temuan kepingan batu-batu purba peninggalan kerajaan Langkasuka di daerah Jerang dan Pujud (nama-nama kota pada masa itu). Konon, menurut buku Negarakertagama, Jerang atau Djere merupakan ibukota Langkasuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan asal usul orang Patani menurut para antropolog berasal dari suku Jawa-Melayu. Sebab ketika itu suku inilah yang mula-mula mendiami Tanah Melayu. Kemudian berdatangan pedagang Arab dan India yang melakukan persemendaan sehingga menurunkan keturunan Melayu Patani di selatan Thai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah Melayu telah didatangi pedagang dari Arab, India dan China sejak sebelum masehi. Seorang pengembara China menyebut bahawa ketika kedatangannya ke Langkasuka pada tahun 200 masehi, ia mendapati negeri itu telah lama dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari &lt;a href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Langkasuka"&gt;Wikipedia &lt;/a&gt;| Kategori: Sejarah Malaysia]&lt;br /&gt;Lihat juga: &lt;a href="http://www.kdhlib.gov.my/wacana/DI%20MANAKAH%20LANGKASUKA.pdf"&gt;DIMANAKAH LANGKASUKA?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-3194930846925472420?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/3194930846925472420/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/05/kerajaan-melayu-purba-langkasuka.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/3194930846925472420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/3194930846925472420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/05/kerajaan-melayu-purba-langkasuka.html' title='Kerajaan Melayu Purba Langkasuka'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_G13wtJ_T2uI/SbuVnNhJ0vI/AAAAAAAAAd4/uRgBZ_E6NXs/s72-c/NDVD_026.BMP' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-3966496480673744877</id><published>2011-05-19T00:11:00.010+07:00</published><updated>2011-05-19T05:54:25.971+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asal Usul'/><title type='text'>Asal Usul Bahasa Melayu, Sebuah Kajian.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-ZNhftqTKK3c/TdQDgbrAkpI/AAAAAAAAFts/_pKoOd_prBQ/s1600/Melayu%2Bpeta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 600px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ZNhftqTKK3c/TdQDgbrAkpI/AAAAAAAAFts/_pKoOd_prBQ/s400/Melayu%2Bpeta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608111291701957266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.1 ASAL USUL BAHASA MELAYU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apabila kita ingin mengetahui asal usul sesuatu bahasa, kita perlu mengetahui asal bangsa yang menjadi penutur utama bahasa tersebut. Hal ini demikian adalah kerana bahasa itu dilahirkan oleh sesuatu masyarakat penggunanya dan pengguna bahasa itu membawa bahasanya ke mana pun ia pergi. Demikianlah juga halnya dengan bahasa Melayu. Apabila kita ingin mengetahui asal usul bahasa Melayu, maka kita perlu menyusurgaluri asal usul bangsa Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sudah ada beberapa kajian dilakukan terhadap asal usul bangsa Melayu, tetapi kata sepakat para ahli belum dicapai. Setakat ini ada dua pandangan yang dikemukakan. Pandangan yang pertama menyatakan bahawa bangsa Melayu berasal dari utara (Asia Tengah) dan pandangan yang kedua menyatakan bahawa bangsa Melayu memang sudah sedia ada di Kepulauan Melayu atau Nusantara ini.&lt;br /&gt;Sebagai perbandingan, kedua-dua pandangan tersebut diperlihatkan seperti yang berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.1.1 Berasal dari Asia Tengah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;R.H. Geldern ialah seorang ahli prasejarah dan menjadi guru besar di &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD6"&gt;Iranian&lt;/span&gt; Institute and &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD4"&gt;School&lt;/span&gt; for &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD9"&gt;Asiatic&lt;/span&gt; Studies telah membuat kajian tentang asal usul bangsa Melayu. Sarjana yang berasal dari Wien, Austria ini telah membuat kajian terhadap kapak tua (beliung batu). Beliau menemui kapak yang diperbuat daripada batu itu di sekitar hulu Sungai &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD1"&gt;Brahmaputra&lt;/span&gt;, Irrawaddy, Salween, Yangtze, dan Hwang. Bentuk dan jenis kapak yang sama, beliau temui juga di beberapa tempat di kawasan Nusantara. Geldern berkesimpulan, tentulah kapak tua tersebut dibawa oleh orang Asia Tengah ke Kepulauan Melayu ini (lihat peta pada Lampiran 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J.H.C. Kern ialah seorang ahli filologi Belanda yang pakar dalam bahasa Sanskrit dan pelbagai bahasa Austronesia yang lain telah membuat kajian berdasarkan beberapa perkataan yang digunakan sehari-hari terutama nama tumbuh-tumbuhan, haiwan, dan nama perahu. Beliau mendapati bahawa perkataan yang terdapat di Kepulauan Nusantara ini terdapat juga di &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD11"&gt;Madagaskar&lt;/span&gt;, Filipina, Taiwan, dan beberapa buah pulau di Lautan Pasifik (lihat peta pada Lampiran 1). Perkataan tersebut di antara lain ialah: padi, buluh, rotan, nyiur, pisang, pandan, dan ubi. Berdasarkan senarai perkataan yang dikajinya itu Kern berkesimpulan bahawa bahasa Melayu ini berasal daripada satu induk yang ada di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;W. &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD10"&gt;Marsden&lt;/span&gt; pula dalam kajiannya mendapati bahawa bahasa Melayu dan bahasa &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD3"&gt;Polinesia&lt;/span&gt; (bahasa yang digunakan di beberapa buah pulau yang terdapat di Lautan Pasifik) merupakan bahasa yang serumpun. E. Aymonier dan A. Cabaton pula mendapati bahawa bahasa Campa serumpun dengan bahasaPolinesia , manakala Hamy berpendapat bahawa bahasa Melayu dan bahasa Campa merupakan warisan daripada bahasa Melayu Kontinental. Di samping keserumpunan bahasa, W. &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD7"&gt;Humboldt&lt;/span&gt; dalam kajiannya mendapati bahawa bahasa Melayu (terutama bahasa Jawa) telah banyak menyerap bahasa Sanskrit yang berasal dari India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J.R. &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD5"&gt;Foster&lt;/span&gt; yang membuat kajiannya berdasarkan pembentukan kata berpendapat bahawa terdapat kesamaan pembentukan kata dalam bahasa Melayu dan bahasaPolinesia. Beliau berpendapat bahawa kedua-dua bahasa ini berasal daripada bahasa yang lebih tua yang dinamainya Melayu Polinesia Purba. Seorang ahli filologi bernama A.H. Keane pula berkesimpulan bahawa struktur bahasa Melayu serupa dengan bahasa yang terdapat di &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD8"&gt;Kampuchea&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J.R. Logan yang membuat kajiannya berdasarkan adat resam suku bangsa mendapati bahawa ada persamaan adat resam kaum Melayu dengan adat resam suku Naga di Assam (di daerah Burma dan Tibet). Persamaan adat resam ini berkait rapat dengan bahasa yang mereka gunakan. Beliau mengambil kesimpulan bahawa bahasa Melayu tentulah berasal dari Asia. G.K. Nieman dan R.M. Clark yang juga membuat kajian mereka berdasarkan adat resam dan bahasa mendapati bahawa daratan Asia merupakan tanah asal nenek moyang bangsa Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang sarjana Melayu, iaitu Slametmuljana dan Asmah Haji Omar juga menyokong pendapat di atas. Slametmuljana yang membuat penyelidikannya berdasarkan perbandingan bahasa, sampai pada suatu kesimpulan bahawa bahasa Austronesia yang dalamnya termasuk bahasa Melayu, berasal dari Asia. Asmah Haji Omar membuat huraian yang lebih terperinci lagi. Beliau berpendapat bahawa perpindahan orang Melayu dari daratan Asia ke Nusantara ini tidaklah sekaligus dan juga tidak melalui satu laluan. Ada yang melalui daratan, iaitu Tanah Semenanjung, melalui Lautan Hindi dan ada pula yang melalui Lautan China. Namun, beliau menolak pendapat yang mengatakan bahawa pada mulanya asal bahasa mereka satu dan perbezaan yang berlaku kemudian adalah kerana faktor geografi dan komunikasi. Dengan demikian, anggapan bahawa bahasa Melayu &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD12"&gt;Moden&lt;/span&gt; merupakan perkembangan daripada bahasa Melayu Klasik, bahasa Melayu Klasik berasal daripada bahasa Melayu Kuno dan bahasa Melayu Kuno itu asalnya daripada bahasa Melayu Purba merupakan anggapan yang keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berpendapat bahawa hubungan bahasa Melayu Moden dengan bahasa Melayu Purba berdasarkan skema seperti yang ditunjukkan di dalam &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD2"&gt;rajah&lt;/span&gt; 1.1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rajah 1.1. Hubungan bahasa Melayu Moden dengan bahasa Melayu Purba&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Skema di atas memperlihatkan bahawa bahasa Melayu Moden berasal daripada bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Klasik berasal daripada bahasa Melayu Induk. Bahasa Melayu Induk berasal daripada bahasa Melayu Purba yang juga merupakan asal daripada bahasa Melayu Kuno. Skema ini juga memperlihatkan bahawa bahasa MelayuModen bukanlah merupakan pengembangan daripada dialek Johor-Riau dan bahasa Melayu Moden tidak begitu rapat hubungannya dengan dialek yang lain (Da, Db, dan Dn). Dialek yang lain berasal daripada Melayu Induk manakala dialek Johor-Riau berasal daripada Melayu Klasik.&lt;br /&gt;Berikut ini akan diperlihatkan cara perpindahan orang Melayu dari Asia Tengah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(a) Orang Negrito&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapat Asmah Haji Omar sebelum perpindahan penduduk dari Asia berlaku, Kepulauan Melayu (Nusantara) ini telah ada penghuninya yang kemudian dinamai sebagai penduduk asli. Ada ahli sejarah yang mengatakan bahawa mereka yang tinggal di Semenanjung Tanah Melayu ini dikenali sebagai orang Negrito. Orang Negrito ini diperkirakan telah ada sejak tahun 8000 SM (Sebelum Masihi). Mereka tinggal di dalam gua dan mata pencarian mereka memburu binatang. Alat perburuan mereka diperbuat daripada batu dan zaman ini disebut sebagai Zaman Batu Pertengahan. Di Kedah sebagai contoh, pada tahun 5000 SM, iaitu pada Zaman Paleolit dan Mesolit, telah didiami oleh orang Austronesia yang menurunkan orang Negrito, Sakai, Semai, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(b) Melayu-Proto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pendapat yang mengatakan bahawa orang Melayu ini berasal dari Asia Tengah, perpindahan tersebut (yang pertama) diperkirakan pada tahun 2500 SM. Mereka ini kemudian dinamai sebagai Melayu-Proto. Peradaban orang Melayu-Proto ini lebih maju sedikit daripada orang Negrito. Orang Melayu-Proto telah pandai membuat alat bercucuk tanam, membuat barang pecah belah, dan alat perhiasan. Kehidupan mereka berpindah-randah. Zaman mereka ini dinamai Zaman Neolitik atau Zaman Batu Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(c) Melayu-Deutro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perpindahan penduduk yang kedua dari Asia yang dikatakan dari daerah Yunan diperkirakan berlaku pada tahun 1500 SM. Mereka dinamai Melayu-Deutro dan telah mempunyai peradaban yang lebih maju daripada Melayu-Proto. Melayu-Deutro telah mengenal kebudayaan logam. Mereka telah menggunakan alat perburuan dan pertanian daripada besi. Zaman mereka ini dinamai Zaman Logam. Mereka hidup di tepi pantai dan menyebar hampir di seluruh Kepulauan Melayu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan orang Melayu-Deutro ini dengan sendirinya telah mengakibatkan perpindahan orang Melayu-Proto ke pedalaman sesuai dengan cara hidup mereka yang berpindah-randah. Berlainan dengan Melayu-Proto, Melayu-Deutro ini hidup secara berkelompok dan tinggal menetap di sesuatu tempat. Mereka yang tinggal di tepi pantai hidup sebagai nelayan dan sebahagian lagi mendirikan kampung berhampiran sungai dan lembah yang subur. Hidup mereka sebagai petani dan berburu binatang. Orang Melayu-Deutro ini telah pandai bermasyarakat. Mereka biasanya memilih seorang ketua yang tugasnya sebagai ketua pemerintahan dan sekaligus ketua agama. Agama yang mereka anuti ketika itu ialah animisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.1.2 Berasal dari Nusantara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang sarjana Inggeris bernama J. Crawfurd telah membuat kajian perbandingan bahasa yang ada di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan kawasan Polinesia. Beliau berpendapat bahawa asal bahasa yang tersebar di Nusantara ini berasal daripada bahasa di Pulau Jawa (bahasa Jawa) dan bahasa yang berasal dari Pulau Sumatera (bahasa Melayu). Bahasa Jawa dan bahasa Melayulah yang merupakan induk bagi bahasa serumpun yang terdapat di Nusantara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J. Crawfurd menambah hujahnya dengan bukti bahawa bangsa Melayu dan bangsa Jawa telah memiliki taraf kebudayaan yang tinggi dalam abad kesembilan belas. Taraf ini hanya dapat dicapai setelah mengalami perkembangan budaya beberapa abad lamanya. Beliau sampai pada satu kesimpulan bahawa:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; &lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Orang Melayu itu tidak berasal dari mana-mana, tetapi malah merupakan induk yang menyebar ke tempat lain.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Bahasa Jawa ialah bahasa tertua dan bahasa induk daripada bahasa yang lain.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;K. Himly, yang mendasarkan kajiannya terhadap perbandingan bunyi dan bentuk kata bahasa Campa dan pelbagai bahasa di Asia Tenggara menyangkal pendapat yang mengatakan bahawa bahasa Melayu Polinesia serumpun dengan bahasa Campa. Pendapat ini disokong oleh P.W. Schmidt yang membuat kajiannya berdasarkan struktur ayat dan perbendaharaan kata bahasa Campa dan Mon-Khmer. Beliau mendapati bahawa bahasa Melayu yang terdapat dalam kedua-dua bahasa di atas merupakan bahasa ambilan sahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutan Takdir Alisjahbana, ketika menyampaikan Syarahan Umum di Universiti Sains Malaysia (Julai 1987) menggelar bangsa yang berkulit coklat yang hidup di Asia Tenggara, iaitu Thailand Selatan, Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei, dan Filipina Selatan sebagai bangsa Melayu yang berasal daripada rumpun bangsa yang satu. Mereka bukan sahaja mempunyai persamaan kulit bahkan persamaan bentuk dan anggota badan yang berbeza daripada bangsa Cina di sebelah timur dan bangsa India di sebelah barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gorys Keraf di dalam bukunya Linguistik bandingan historis (1984) mengemukakan teori Leksikostatistik dan teori Migrasi bagi mengkaji asal usul bangsa dan bahasa Melayu. Setelah mengemukakan hujah tentang kelemahan pendapat terdahulu seperti: Reinhold Foster (1776), William Marsden (1843), John Crawfurd (1848), J.R. Logan (1848), A.H. Keane (1880), H.K. Kern (1889), Slametmuljana (1964), dan Dyen (1965) beliau mengambil kesimpulan bahawa "...negeri asal (tanahair, homeland) nenek moyang bangsa Austronesia haruslah daerah Indonesia dan Filipina (termasuk daerah-daerah yang sekarang merupakan laut dan selat), yang dulunya merupakan kesatuan geografis".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat lain yang tidak mengakui bahawa orang Melayu ini berasal dari daratan Asia mengatakan bahawa pada Zaman Kuarter atau Kala Wurn bermula dengan Zaman Ais Besar sekitar dua juta sehingga lima ratus ribu tahun yang lalu. Zaman ini berakhir dengan mencairnya ais secara perlahan-lahan dan air laut menggenangi dataran rendah. Dataran tinggi menjadi pulau. Ada pulau yang besar dan ada pulau yang kecil. Pemisahan di antara satu daratan dengan daratan yang lain berlaku juga kerana berlakunya letusan gunung berapi atau gempa bumi. Pada masa inilah Semenanjung Tanah Melayu berpisah dengan yang lain sehingga kemudian dikenali sebagai Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, dan pulau lain di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proto homonoid yang dianggap sebagai pramanusia dianggarkan sudah ada sejak satu juta tahun yang lalu dan ia berkembang secara evolusi. Namun, manusia yang sesungguhnya baru bermula sejak 44,000 tahun yang lalu dan manusia moden (Homo sapiens sapiens) muncul sekitar 11,000 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pramanusia dan manusia yang sesungguhnya di Asia Tenggara, Asia Timur, dan Australia telah ada manusia. Hal ini dibuktikan dengan ditemuinya Homo soloinensis dan Homo wajakensis (Manusia Jawa = "Java Man") yang diperkirakan berusia satu juta tahun.&lt;br /&gt;Pada masa ini wilayah tersebut didiami oleh tiga kelompok Homo sapiens sapiens, iaitu orang Negrito di sekitar Irian dan Melanesia, orang Kaukasus di Indonesia Timur, Sulawesi, dan Filipina, serta orang Mongoloid di sebelah utara dan barat laut Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing bangsa ini berpisah dengan berlakunya pemisahan daratan. Mereka berpindah dengan cara yang perlahan. Orang Kaukasus ada yang berpindah ke sebelah barat dan ada pula yang ke sebelah timur. Yang berpindah ke arah timur seperti ke Maluku, Flores, dan Sumba bercampur dengan orang Negrito. Yang berpindah ke arah barat mendiami Kalimantan, Aceh, Tapanuli, Nias, Riau, dan Lampung. Yang berpindah ke arah utara menjadi bangsa Khmer, Campa, Jarai, Palaung, dan Wa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Bunyi yang diperkenalkan oleh H.N. van der Tuuk dan diperluas oleh J.L.A. Brandes yang menghasilkan Hukum R-G-H dan Hukum R-D-L dikatakan oleh C.A. Mees bahawa "Segala bahasa Austronesia itu, walaupun berbeza kerana pelbagai pengaruh dan sebab yang telah disebut, memperlihatkan titik kesamaan yang banyak sekali, baik pada kata-kata yang sama, seperti mata, lima, talinga, dan sebagainya, mahupun pada sistem imbuhan, dan susunan tatabahasanya. Perbezaan yang besar seperti dalam bahasa Indo-Eropah, misalnya: antara bahasa Perancis dan Jerman, antara Sanskrit dan Inggeris, tidak ada pada bahasa-bahasa Austronesia. Apalagi Kata Dasar (terutama bahasa Melayu) tidak berubah dalam morfologi" juga menunjukkan bahawa bahasa yang terdapat di Asia Selatan dan Tenggara berbeza dengan bahasa yang terdapat di Asia Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.2 KESIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Geldern tentang kapak tua masih boleh diperdebatkan. Budaya kapak tua yang diperbuat daripada batu sebenarnya bukan hanya terdapat di Asia Tengah dan Nusantara. Budaya yang sama akan ditemui pada semua masyarakat primitif sama ada di Amerika dan juga di Eropah pada zaman tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, secara kebetulan Geldern membuat kajiannya bermula dari Asia kemudian ke Nusantara. Kesimpulan beliau tersebut mungkin akan lain sekiranya kajian itu bermula dari Nusantara, kemudian ke Asia Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian Kern berdasarkan bukti Etnolinguistik memperlihatkan bahawa persamaan perkataan tersebut hanya terdapat di alam Nusantara dengan pengertian yang lebih luas dan perkataan tersebut tidak pula ditemui di daratan Asia Tengah. Ini menunjukkan bahawa penutur bahasa ini tentulah berpusat di tepi pantai yang strategik yang membuat mereka mudah membawa bahasa tersebut ke barat, iaitu Madagaskar dan ke timur hingga ke Pulau Easter di Lautan Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus, penyebaran bahasa Melayu itu dapat dilihat di sepanjang pantai timur Pulau Sumatera, di sepanjang pantai barat Semenanjung Tanah Melayu; di Pulau Jawa terdapat dialek Jakarta (Melayu-Betawi), bahasa Melayu Kampung di Bali, bahasa Melayu di Kalimantan Barat, bahasa Melayu Banjar di Kalimantan Barat dan Selatan, Sabah, Sarawak, dan bahasa Melayu di Pulau Seram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Marsden bahawa bahasa Melayu yang termasuk rumpun bahasa Nusantara serumpun dengan rumpun bahasa Mikronesia, Melanesia, dan Polinesia dengan induknya bahasa Austronesia secara tidak langsung memperlihatkan adanya kekerabatan dua bahasa tersebut yang tidak ditemui di Asia Tengah. Penyebaran bahasa Austronesia juga terlihat hanya bahagian pesisir pantai timur (Lautan Pasifik), pantai barat (Lautan Hindi), dan Selatan Asia (kawasan Nusantara) sahaja dan ia tidak masuk ke wilayah Asia Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesamaan pembentukan kata di antara bahasa Melayu dengan bahasa Polinesia yang dinyatakan oleh J.R. Foster dan kesamaan struktur bahasa Melayu dengan struktur bahasa Kampuchea juga memperlihatkan bahawa bahasa yang berada di Asia Selatan dan Asia Timur berbeza dengan bahasa yang berada di Asia Tengah. Jika kita lihat rajah kekeluargaan bahasa akan lebih nyata lagi bahawa bahasa di Asia Tengah berasal dari keluarga Sino-Tibet yang melahirkan bahasa Cina, Siam, Tibet, Miao, Yiu, dan Burma. Berdekatan dengannya agak ke selatan sedikit ialah keluarga Dravida, iaitu: Telugu, Tamil, Malayalam, dan lain-lain. Kedua-dua keluarga bahasa ini berbeza dengan bahasa di bahagian Timur, Tenggara, dan Selatan Asia, iaitu keluarga Austronesia yang menurunkan empat kelompok besar, iaitu Nusantara, Melanesia, Mikronesia, dan Polinesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditinjau dari sudut ilmu kaji purba pula, penemuan tengkorak yang terdapat di Nusantara ini memberi petunjuk bahawa manusia telah lama ada di sini. Penemuan tersebut di antara lain ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pithecanthropus Mojokerto (Jawa), yang kini berusia kira-kira 670,000 tahun.&lt;br /&gt;2. Pithecanthropus Trinil (Jawa), kira-kira 600,000 tahun.&lt;br /&gt;3. Manusia Wajak (Jawa), kira-kira 210,000 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tiga fosil tersebut dibandingkan dengan fosil Manusia Peking atau Sinanthropus Pekinensis (China) yang hanya berusia kira-kira 550,000 tahun terlihat bahawa manusia purba lebih selesa hidup dan beranak-pinak berdekatan dengan Khatulistiwa. Hal ini diperkuat lagi dengan penemuan fosil tengkorak manusia yang terdapat di Afrika yang dinamai Zinjanthropus yang berusia 1,750,000 tahun. Beberapa hujah ini menambah kukuh kesimpulan Gorys Keraf di atas yang menyatakan bahawa nenek moyang bangsa Melayu ini tentulah sudah sedia ada di Kepulauan Melayu yang menggunakan bahasa keluarga Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada soalan yang belum terjawab, iaitu jika betul bangsa Melayu ini sememangnya berasal dari Alam Melayu ini, sebelum itu dari manakah asal mereka? Pendapat orang Minangkabau di Sumatera Barat bahawa keturunan mereka ada hubungan dengan pengikut Nabi Nuh, iaitu bangsa Ark yang mendarat di muara Sungai Jambi dan Palembang semasa berlakunya banjir besar seperti yang diungkapkan oleh W. Marsden (1812) masih boleh dipertikaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang agak berkemungkinan disusurgaluri ialah dari salasilah Nabi Nuh daripada tiga anaknya, iaitu Ham, Yafit, dan Sam. Dikatakan bahawa Ham berpindah ke Afrika yang keturunannya kemudian disebut Negro berkulit hitam, Yafit berpindah ke Eropah yang kemudian dikenali sebagai bangsa kulit putih, dan Sam tinggal di Asia menurunkan bangsa kulit kuning langsat. Putera kepada Sam ialah Nabi Hud yang tinggal di negeri Ahqaf yang terletak di antara Yaman dan Oman. Mungkinkah keturunan Nabi Hud yang tinggal di tepi laut, yang sudah sedia jadi pelaut, menyebar ke Pulau Madagaskar di Lautan Hindi hingga ke Hawaii di Lautan Pasifik lebih mempunyai kemungkinan menurunkan bangsa Melayu? Satu kajian baru perlu dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari &lt;a href="http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=3011&amp;amp;s=15e86638959481385fb5411716cda5a9"&gt;rh0m4ir4m4&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga: &lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/03/asal-usul-bahasa-melayu.html" target="_top"&gt;Asal Usul bahasa Melayu&lt;/a&gt;&lt;h1 class="blocksubhead prof_blocksubhead"&gt;&lt;/h1&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-3966496480673744877?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/3966496480673744877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/05/asal-usul-bahasa-melayu-sebuah-kajian.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/3966496480673744877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/3966496480673744877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/05/asal-usul-bahasa-melayu-sebuah-kajian.html' title='Asal Usul Bahasa Melayu, Sebuah Kajian.'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ZNhftqTKK3c/TdQDgbrAkpI/AAAAAAAAFts/_pKoOd_prBQ/s72-c/Melayu%2Bpeta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-3096148140987775941</id><published>2011-03-30T02:11:00.003+07:00</published><updated>2011-03-30T02:19:22.565+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Pekan Kebudayaan Melayu ITB 2011</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-OPyuq58YwV0/TZIwUz5Tf_I/AAAAAAAAFgQ/XS2cLIBz7No/s1600/196744_1899873574209_1162747254_32249670_3287948_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 600px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-OPyuq58YwV0/TZIwUz5Tf_I/AAAAAAAAFgQ/XS2cLIBz7No/s400/196744_1899873574209_1162747254_32249670_3287948_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589583221606285298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Unit Kebudayaan Melayu Riau ITB Presents:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lustrum 1 UKMR ITB, Pekan Kebudayaan Melayu ITB 2011 : “Satu Melayu Satu Bahasa Satu Dunia Satu Cita-cita”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRE-EVENT&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;11 April 2011, 16.30-18.00, Boulevard Kampus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pangung Rakyat, "Taratak Melayu”&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Performance Unit-unit Serupun Melayu ITB&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Stand Budaya Melayu, Taster Cita Rasa Kuliner Melayu, Gratis&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;EVENT&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;16 April 2011, 08.00-13.00, Galeri Utama CC Timur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panel Diskusi, "Indonesia Sebenar-benar Melayu : Menguak Tabir Kebudayaan Melayu dalam Keberagaman Nusantara"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keynote Speech : Peran Wanita Melayu dalam Pembangunan Bangsa, Ibu Linda Amalia Sari Gumelar - Menteri Pemberdayaan Wanita RI **&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicara :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra (Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mahyudin Al Mudra (Direktur Melayuonline Group, Tokoh Pemersatu Melayu Serantau)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tengku Ryo Riezqan (Musisi Melayu Ethnic)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dr. H. Tenas Effendy (Pengarang Buku “Tunjuk Ajar Melayu”, Sastrawan, Tokoh Adat Melayu)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;17 April 2011, 19.00-22.00, Sasana Budaya Ganesha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam Kebudayaan Melayu 2011, "In Harmony of Great Malay"&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Teater Melayu : Pendekar Bujang Lapok&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kolaborasi Musik, Malay Orchestra, lead by : Tengku Ryo Riezqan UKMR, APRES, ISO&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Soul Ethnica : The Rhythm of Malay Youth&lt;/li&gt;&lt;li&gt;MC : Revi Lonna (Finalis Miss Indonesia 2010)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rempak Marwas Melayu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tari Serampang XII&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tari Zapin Tabal Gempita&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Musik Langgam, Silat Bunga, Syair, Pantun dan Tari Kontemporer Melayu&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;follow us on twitter @PKMITB2011&lt;br /&gt;facebook event Pekan Kebudayaan Melayu ITB 2011&lt;br /&gt;tumblr www.pkmitb2011.tumblr.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For Ticket Reservation :&lt;br /&gt;amrinal(085659072291)&lt;br /&gt;azlan(085265676005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;vector photo design : Tengku Mira Sinar dan Tommy Hariawan from Sanggar Budaya Group&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-3096148140987775941?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/3096148140987775941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/03/pekan-kebudayaan-melayu-itb-2011.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/3096148140987775941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/3096148140987775941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/03/pekan-kebudayaan-melayu-itb-2011.html' title='Pekan Kebudayaan Melayu ITB 2011'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-OPyuq58YwV0/TZIwUz5Tf_I/AAAAAAAAFgQ/XS2cLIBz7No/s72-c/196744_1899873574209_1162747254_32249670_3287948_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-5476109861137329666</id><published>2011-01-20T21:31:00.010+07:00</published><updated>2011-07-26T12:29:16.667+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Sejarah Yang Disembunyikan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i292.photobucket.com/albums/mm17/BangNonki/Serambi%20Melayu/aceh.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 600px; height: 400px;" src="http://i292.photobucket.com/albums/mm17/BangNonki/Serambi%20Melayu/aceh.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Aceh, Nusantara, Dan Daulah Khilafah Islamiyah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, yang dulu dikenal dengan istilah Nusantara, merupakan negeri Muslim terbesar di dunia Islam. Jauh sebelum merdeka dari penjajahan fisik (militer) dan menjadi sebuah negara Indonesia, di wilayah Nusantara telah berdiri pusat-pusat kekuasaan Islam yang berbentuk kesultanan. Mulai dari kesultanan Aceh yang terletak di ujung barat, hingga kesultanan Ternate di ujung timur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h6 style="font-weight: normal; text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span class="messageBody"  style="font-size:100%;"&gt;Berbagai catatan sejarah membuktikan bahwa kesultanan-kesultanan Islam tersebut tidaklah berdiri sendiri, melainkan memiliki hubungan sangat erat dengan Kekhilafahan Islam, khususnya Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Tulisan ini akan mengulas secara ringkas beberapa bukti sejarah yang menggambarkan hubungan kesatuan antara kesultanan-kesultanan Islam di wilayah Nusantara dengan Khilafah Islamiyah&lt;/span&gt;.&lt;/h6&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;engakuan Nusantara terhadap Khilafah Islamiyah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengaruh keberadaan khalifahterhadap kehidupan politik Nusantara sudah terasa sejak masa-masa awal berdirinya kekhilafahan (baca: Daulah Islamiyah). Keberhasilan umat Islam melakukan futuhat terhadap Kerajaan Persia dan menduduki sebagian besar wilayah Romawi Timur, seperti Mesir, Siria, dan Palestina, di bawah kepemimpinan Umar bin al-Khaththab telah menempatkan Daulah Islamiyah sebagai superpower dunia sejak abad ke-7 M. Ketika kekhilafahan berada di tangan Bani Umayyah (660-749 M), penguasa di Nusantara -yang masih beragama Hindu sekalipun– mengakui kebesaran khilafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h6 style="font-weight: normal; text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span class="messageBody"  style="font-size:100%;"&gt;Pengakuan terhadap kebesaran khalifah dibuktikan dengan adanya dua pucuk surat yang dikirimkan oleh Maharaja Sriwijaya kepada khalifah masa Bani Umayyah. Surat pertama dikirim kepada Muawiyyah, dan surat kedua dikirim kepada Umar bin Abdul Aziz. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Surat pertama ditemukan dalam sebuah diwan (arsip, pen.) Bani Umayyah oleh Abdul Malik bin Umayr yang disampaikan kepada Abu Ya’yub Ats-Tsaqofi, yang kemudian disampaikan kepada Al-Haytsam bin Adi. Al-Jahizh yang mendengar surat itu dari Al-Haytsam menceriterakan pendahuluan surat itu sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Dari Raja Al-Hind yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar yang mengairi pohon gaharu, kepada Muawiyah….”&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;h6 style="font-weight: normal; text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span class="messageBody"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Surat kedua didokumentasikan oleh Abd Rabbih (246-329 H/860-940 M) dalam karyanya Al-Iqd Al-Farid. Potongan surat tersebut sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dari Raja di Raja…; yang adalah keturunan seribu raja … kepada Raja Arab (Umar bin Abdul Aziz) yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.”&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Farooqi menemukan sebuah arsip Utsmani yang berisi sebuah petisi dari Sultan Ala Al-Din Riayat Syah kepada Sultan Sulayman Al-Qanuni yang dibawa Huseyn Effendi. Dalam surat ini, Aceh mengakui penguasa Utsmani sebagai khalifah Islam. Selain itu, surat ini juga berisi laporan tentang aktivitas militer Portugis yang menimbulkan masalah besar terhadap para pedagang muslim dan jamaah haji dalam perjalanan ke Makkah. Karena itu, bantuan Utsmani sangat mendesak untuk menyelamatkan kaum Muslim yang terus dibantai Farangi (Portugis) kafir. &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulayman Al-Qanuni wafat tahun 974 H/1566 M. Akan tetapi petisi Aceh mendapat dukungan Sultan Selim II (974-982 H/1566-1574 M), yang mengeluarkan perintah kesultanan untuk melakukan ekspedisi besar militer ke Aceh. Sekitar September 975 H/1567 M, Laksamana Turki di Suez, Kurtoglu Hizir Reis, diperintahkan berlayar menuju Aceh dengan sejumlah ahli senapan api, tentara, dan artileri. Pasukan ini diperintahkan berada di Aceh selama masih dibutuhkan oleh Sultan. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Namun dalam perjalanan, armada besar ini hanya sebagian yang sampai ke Aceh karena dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman yang berakhir tahun 979 H/1571 M. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Menurut catatan sejarah, pasukan Turki yang tiba di Aceh pada tahun 1566-1577 M sebanyak 500 orang, termasuk ahli-ahli senjata api, penembak, dan ahli-ahli teknik. Dengan bantuan ini, Aceh menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1568 M. &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Kurtoglu Hizir Reis bersama armada dan tentaranya disambut dengan suka cita oleh umat Islam Aceh. Mereka disambut dengan upacara besar. Kurtoglu Hizir Reis kemudian diberi gelar sebagai gubernur (wali) Aceh, &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; yang merupakan utusan resmi khalifah yang ditempatkan di daerah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan Nusantara dengan Khilafah Utsmaniyah bukanlah sebatas hubungan persaudaraan melainkan hubungan politik kenegaraan. Adanya wali Turki di Aceh lebih mengisyaratkan bahwa Aceh merupakan bagian tak terpisahkan dari Khilafah Islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, banyak institusi politik melayu di Nusantara mendapatkan gelar sultan dari penguasa-penguasa tertentu di Timur tengah. Pada tahun 1048H/1638 M, Penguasa Banten, Abd al-Qodir (berkuasa 1037-1063H/1626-1651) dianugerahi gelar sultan oleh Syarif Makkah sebagai hasil dari misi khusus yang dikirimnya untuk tujuan itu ke Tanah Suci. Sementara itu, kesultanan Aceh terkenal mempunyai hubungan erat dengan penguasa Turki Ustmani dan Haramayn. Begitu juga Palembang dan Makasar yang turut menjalin hubungan khusus dengan penguasa Makkah. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Pada saat itu, para penguasa Makkah merupakan bagian tak terpisahkan dari Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari penggunaan istilah, kesultanan Islam di Nusantara mengasosiasikan dirinya tak terpisahkan dari kekhalifahan. Beberapa kitab Jawi klasik menyebut hal ini. Hikayat Raja-raja Pasai (hal. 58, 61-62, 64), misalnya, menyebut nama resmi kesultanan Samudea Pasai sebagai “Samudera Dar al-Islam”. Istilah Dar al-Islam juga digunakan kitab Undang-undang Pahang untuk menyebut kesultanan Pahang. Adapun Nur al-Din al-Raniri, dalam Bustan al-Salatin (misalnya, pada hlm. 31, 32, 47), menyebut kesultanan Aceh sebagai Dar al-Salam. Istilah ini juga digunakan di Pattani ketika penguasa setempat, Paya Tu Naqpa, masuk Islam dan mengambil nama Sultan Ismail Shah Zill Allah fi-Alam yang bertahta di negeri Pattani Dar al-Salam (Hikayat Patani, 1970:75).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilmu politik Islam klasik, dunia ini terbagi dua, yaitu Dar al-Islam dan Dar al-Harb. Dar al-Islam merupakan daerah yang diterapkan hukum Islam dan keamanannya ada pada tangan kaum Muslim. Sedangkan Dar al-Harb adalah lawan kata dari Dar al-Islam. Penggunaan istilah “Dar al-Islam” atau “Dar al-Salam” menunjukkan bahwa para penguasa Melayu Nusantara menerima konsepsi geopolitik Islam tentang pembagian dua wilayah dunia itu. Konsep geopolitik ini semakin mengkristal ketika bangsa-bangsa Eropa —dimulai oleh “bangsa Peringgi” (Portugis) yang kemudian disusul bangsa-bangsa Eropa lainnya, khususnya Belanda dan Inggris— mulai merajalela di kawasan Lautan India dan Selat Malaka (Sulalat al-Salatin, 1979:244-246). Mereka melakukan penjajahan fisik dan menyebarkan agama Kristen melalui missi dan zending.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khilafah Turki Utsmani, seperti disebutkan oleh Hurgronje (1994, halaman 1631), &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; bersifat pro-aktif dalam memberikan perhatian kepada penderitaan kaum Muslim di Indonesia dengan cara membuka perwakilan pemerintahannya (konsulat) di Batavia pada akhir abad ke-19. Kepada kaum Muslim yang ada di Batavia para konsul Turki berjanji akan memperjuangkan emansipasi hak-hak orang-orang Arab sederajat dengan orang-orang Eropa. Selain itu, Turki juga akan mengusahakan agar seluruh kaum Muslim di Hindia Belanda terbebas dari penindasan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari semua itu, Aceh banyak didatangi para ulama dari berbagai belahan dunia Islam lainnya. Syarif Makkah mengirimkan utusannya ke Aceh seorang ulama bernama Syekh Abdullah Kan’an sebagai guru dan muballigh. Sekitar tahun 1582, datang dua orang ulama besar dari negeri Arab, yakni Syekh Abdul Khayr dan Syekh Muhammad Yamani. Di samping itu, di Aceh sendiri lahir sejumlah ulama besar, seperti Syamsuddin Al-Sumatrani dan Abdul Rauf al-Singkeli. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Rauf Singkel mendapat tawaran dari Sultan Aceh, Safiyat al-Din Shah untuk menduduki jabatan Kadi dengan sebutan Qadi al-Malik al-Adil yang sudah lowong beberapa lama karena Nur al-Din Al-Raniri kembali ke Ranir (Gujarat). Setelah melakukan berbagai pertimbangan, Abdul Rauf menerima tawaran tersebut. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Karena itu, ia resmi menjadi qadi dengan sebutan Qadi al-Malik al-Adil. Selanjutnya sebagai seorang Qadi, Abd Rauf diminta Sultan untuk menulis sebuah kitab sebagai patokan (qaanun) penerapan syariat Islam. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[13] &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Buku tersebut kemudian diberi judul Mir’at al-Tullab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kenyataan sejarah tadi lebih menegaskan adanya pengakuan dan hubungan erat antara Aceh dan Nusantara dengan Khilafah Utsmaniyah. Bahkan, bukan sebatas hubungan persaudaraan atau pertemanan melainkan hubungan ‘kesatuan’ sebagai bagian tak terpisahkan dari Khilafah Utsmaniyah (Dar al-Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penjaga Perjalanan Haji Nusantara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Turki Utsmani sebagai khilafah Islam, terutama setelah berhasil melakukan futuhat atas Konstantinopel, ibu kota Romawi Timur, pada 857 H/1453 M, menyebabkan nama Turki melekat di hati umat Islam Nusantara. Nama yang terkenal bagi Turki di Nusantara ialah “Sultan Rum.” &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Istilah “Rum” tersebar untuk menyebut Kesultanan Turki Utsmani. Mulai masa ini, supremasi politik dan kultural Rum (Turki Utsmani) menyebar ke berbagai wilayah Dunia Muslim, termasuk ke Nusantara. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan politik dan militer Khilafah Utsmaniyah mulai terasa di kawasan lautan India pada awal abad ke-16. Sebagai khalifah kaum Muslim, Turki Utsmani memiliki posisi sebagai khadimul haramayn (penjaga dua tanah haram, yakni Makkah dan Madinah). Pada posisi ini, para Sultan Utsmani mengambil langkah-langkah khusus untuk menjamin keamanan bagi perjalanan haji. Seluruh rute haji di wilayah kekuasaan Utsmani ditempatkan di bawah kontrolnya. Kafilah haji dengan sendirinya dapat langsung menuju Makkah tanpa hambatan berarti atau rasa takut menghadapi gangguan Portugis. Pada 954 H/1538 M, Sultan Sulayman I (berkuasa 928 H/1520-1566 M) mengirim armada yang tangguh di bawah komando Gubernur Mesir, Khadim Sulayman Pasya, untuk membebaskan semua pelabuan yang dikuasai Portugis guna mengamankan pelayaran haji ke Jeddah. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turki Utsmani juga mengamankan rute haji dari wilayah sebelah Barat Sumatera dengan menempatkan angkatan lautnya di Samudra Hindia. Kehadiran angkataan laut Utsmani di Lautan Hindia setelah 904 H/1498 M tidak hanya mengamankan perjalanan haji bagi umat Islam Nusantara, tetapi juga mengakibatkan semakin besarnya saham Turki dalam perdagangan di kawasan ini. Pada gilirannya, hal ini memberikan kontribusi penting bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi sebagai dampak sampingan perjalanan ibadah haji. Pada saat yang sama Portugis juga meningkatkan kehadiran armadanya di Lautan India, tapi angkatan laut Utsmani mampu menegakkan supremasinya di kawasan Teluk Persia, Laut Merah, dan Lautan India sepanjang abad ke-16. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan dengan pengamanan rute haji, Selman Reis (w 936/1528), laksanama Turki di Laut Merah, terus memantau gerak maju pasukan Portugis di Lautan Hindia, dan melaporkannya ke pusat pemerintahan di Istanbul. Salah satu bunyi laporan yang dikutip Obazan ialah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“(Portugis) juga menguasai pelabuhan (Pasai) di pulau besar yang disebut Syamatirah (Sumatera)… Dikatakan, mereka mempunyai 200 orang kafir di sana (Pasai). Dengan 200 orang kafir, mereka juga menguasai pelabuan Malaka yang berhadapan dengan Sumatera…. Karena itu, ketika kapal-kapal kita sudah siap dan, insyaallah, bergerak melawan mereka, maka kehancuran total mereka tidak terelakkan lagi, karena satu benteng tidak bisa menyokong yang lain, dan mereka tidak dapat membentuk perlawanan yang bersatu.”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan ini memang cukup beralasan, karena pada tahun 941 H/1534 M, sebuah skuadron Portugis yang dikomandoi Diego da Silveira menghadang sejumlah kapal asal Gujarat dan Aceh di lepas Selat Bab el-Mandeb pada Mulut Laut Merah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h6&gt;&lt;br /&gt;&lt;h6 style="font-weight: normal; text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span class="messageBody"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bentuk-bentuk Hubungan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Portugis terus meluaskan pengaruhnya bukan hanya ke Timur Tengah melainkan juga ke Samudera India. Raja Portugis Emanuel I terang-terangan menyampaikan tujuan utama ekspedisi tersebut dengan mengatakan, “Sesungguhnya tujuan dari pencarian jalan laut ke India adalah untuk menyebarkan agama Kristen, dan merampas kekayaan orang-orang Timur.”&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt; [19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Khilafah Utsmaniyah pun tidak tinggal diam. Pada tahun 925H/1519 M, Portugis di Malaka digemparkan oleh kabar tentang pelepasan armada ‘Utsmani’ untuk membebaskan Muslim Malaka dari penjajahan kafir. Kabar ini tentu saja sangat menggembirakan kaum Muslim setempat.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt; [20]&lt;/span&gt;&lt;span class="messageBody"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Sultan Ala Al-Din Riayat Syah Al-Qahhar naik tahta di Aceh pada tahun 943 H/1537 M, ia kelihatan menyadari kebutuhan Aceh untuk meminta bantuan militer kepada Turki. Bukan hanya untuk mengusir Portugis di Malaka, tetapi juga untuk melakukan futuhat ke wilayah-wilayah yang lain, khususnya daerah pedalaman Sumatera, seperti daerah Batak. Al-Kahar menggunakan pasukan Turki, Arab dan Abesinia. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Pasukan Turki sebanyak 160 orang ditambah 200 orang tentara dari Malabar, mereka membentuk kelompok elit angkatan bersenjata Aceh. Selanjutnya dikerahkan Al-Kahhar untuk menaklukkan wilayah Batak di pedalaman Sumatera pada tahun 946 H/1539 M. Mendez Pinto, yang mengamati perang antara pasukan Aceh dengan Batak, melaporkan kembalinya armada Aceh di bawah komando seorang Turki bernama Hamid Khan, keponakan Pasya Utsmani di Kairo. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sejarawan Universitas Kebangsaan Malaysia, Lukman Thaib, mengakui adanya bantuan Turki Utsmani untuk melakukan futuhat terhadap wilayah sekitar Aceh. Menurut Thaib, hal ini merupakan ekspresi solidaritas umat Islam yang memungkinkan bagi Turki melakukan serangan langsung terhadap wilayah sekitar Aceh. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Bahkan, Turki Utsmani membangun akademi militer di Aceh bernama ‘Askeri Beytul Mukaddes’ yang diubah menjadi ‘Askar Baitul Makdis’ yang lebih sesuai dengan dialek Aceh. Pendidikan militer ini merupakan pusat yang melahirkan para pahlawan dalam sejarah Aceh dan Indonesia. &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt;[24]&lt;/span&gt; Demikianlah, hubungan Aceh dengan Turki sangat dekat. Aceh seakan-akan merupakan bagian dari wilayah Turki. Persoalan umat Islam Aceh dianggap Turki sebagai persoalan dalam negeri yang harus segera diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur Al-Din Al-Raniri dalam Bustan Al-Salathin meriwayatkan, Sultan Ala Al-Din Riayat Syah Al-Qahhar mengirim utusan ke Istanbul untuk menghadap “Sultan Rum.” Utusan ini bernama Huseyn Effendi yang fasih berbahasa Arab. Ia datang ke Turki setelah menunaikan ibadah haji. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Pada Juni 1562 M, utusan Aceh tersebut tiba di Istanbul untuk meminta bantuan militer Utsmani guna menghadapi Portugis. Ketika duta itu berhasil lolos dari serangan Portugis dan sampai di Istanbul, ia berhasil mendapat bantuan Turki, yang menolong Aceh membangkitkan kebesaran militernya sehingga memadai untuk menaklukkan Aru dan Johor pada 973 H/1564 M. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Aceh dengan Turki Utsmani terus berlanjut, terutama untuk menjaga keamanan Aceh dari serangan Portugis. Menurut seorang penulis Aceh, pengganti Al-Qahhar Kedua yakni Sultan Mansyur Syah (985-998 H/1577-1588 M) memperbaharui hubungan politik dan militer dengan Utsmani. &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt;[27]&lt;/span&gt; Hal ini dibenarkan sumber-sumber historis Portugis. Uskup Jorge de Lemos, sekretaris Raja Muda Portugis di Goa, pada tahun 993 H/1585 M, melaporkan kepada Lisbon bahwa Aceh telah kembali berhubungan dengan Khalifah Utsmani untuk mendapatkan bantuan militer guna melancarkan offensif baru terhadap Portugis. Penguasa Aceh berikutnya, Sultan Ala Al-Din Riayat Syah (988-1013 H/1588-1604 M) juga dilaporkan telah melanjutkan pula hubunghan politik dengan Turki. Dikatakan, Khilafah Utsmaniyah bahkan telah mengirimkan sebuah bintang kehormatan kepada Sultan Aceh, dan memberikan izin kepada kapal-kapal Aceh untuk mengibarkan bendera Turki. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;span class="messageBody"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapal-kapal atau perahu yang dipakai Aceh dalam setiap peperangan terdiri dari kapal kecil yang gesit dan kapal-kapal besar. Kapal-kapal besar atau jung yang mengarungi lautan hingga Jeddah berasal dari Turki, India, dan Gujarat. Dua daerah terakhir ini merupakan bagian dari wilayah kekhilafahan Turki Utsmani. Menurut Court, kapal-kapal ini cukup besar, berukuran 500 sampai 2000 ton. &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt;[29]&lt;/span&gt; Kapal-kapal besar dari Turki yang dilengkapi meriam dan persenjataan lainnya dipergunakan Aceh untuk menyerang penjajah dari Eropa yang mengganggu wilayah-wilayah muslim di Nusantara. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Aceh benar-benar tampil sebagai kekuatan besar yang sangat ditakuti Portugis karena diperkuat oleh para ahli persenjataan dari Turki sebagai bantuan kekhilafahan tersebut terhadap Aceh. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sumber-sumber Aceh, Sultan Iskandar Muda (1016-1046 H/1607-1636 M) mengirimkan armada kecil yang terdiri dari tiga kapal, yang mencapai Istanbul setelah dua setengah tahun pelayaran melalu Tanjung Harapan. Ketika misi ini kembali ke Aceh, mereka diberi bantuan sejumlah senjata, 12 pakar militer, dan sepucuk surat yang merupakan keputusan Utsmani tentang persahabataan dan hubungan dengan Aceh. Kedua belas pakar militer itu disebut sebagai pahlawan di Aceh. Mereka juga dikatakan begitu ahli sehingga mampu membantu Sultan Iskandar Muda, tidak hanya dalam membangun benteng tangguh di Banda Aceh, tetapi juga dalam membangun istana kesultanan. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[32]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;Dampak dari keberhasilan Khilafah Utsmaniyah menghadang Portugis di Lautan Hindia tersebut amat besar. Diantaranya mampu mempertahankan tempat-tempat suci dan jalan-jalan menuju haji; kesinambungan pertukaran barang-barang India dengan pedagang Eropa di pasar Aleppo, Kairo, dan Istambul; serta kesinambungan jalur-jalur bisnis antara India dan Indonesia dengan Timur Jauh melalui Teluk Arab dan Laut Merah. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[33]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h6 style="font-weight: normal; text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="messageBody"&gt;Hubungan beberapa kesultanan di Nusantara dengan Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki nampak jelas. Misalnya, Islam masuk Buton (Sulawesi Selatan) abad 16M. Silsilah Raja-Raja Buton menunjukkan bahwa setelah masuk Islam, Lakilaponto dilantik menjadi ‘sultan’ dengan gelar Qaim ad-Din (penegak agama) yang dilantik oleh Syekh Abd al-Wahid dari Makkah. Sejak itu, dia dikenal sebagai Sultan Marhum. Sejak itu pula nama sultan dipuja dalam khuthbah Jum’at. Menurut sumber setempat, penggunaan gelar ‘sultan’ ini terjadi setelah diperoleh persetujuan dari Sultan Turki (ada juga yang menyebutkan dari penguasa Makkah). Dan Syekh Wahid pula yang mengirim kabar (tentang hal ini, pen.) kepada Sultan Rum (Khalifah) di Turki. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[34]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Realitas ini menunjukkan bahwa Makkah berada dalam kepemimpinan Turki, dan Buton memiliki hubungan ‘struktural’ dalam bentuknya yang masih sederhana dengan Khilafah Turki Utsmani melalui perantaraan Syekh Wahid dari Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di wilayah yang saat ini disebut Sumatera Barat, Penguasa Alam Minangkabau yang menyebut dirinya sebagai “Aour Allum Maharaja Diraja” dipercaya merupakan adik laki-laki sultan Ruhum (Rum). Orang Minangkabau percaya bahwa penguasa pertama mereka adalah keturunan Khalifah Rum (Utsmani) yang ditugaskan untuk menjadi Syarif di wilayah tersebut. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[35]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Hal ini memberikan informasi bahwa kesultanan tersebut memiliki hubungan dengan Khilafah Utsmaniyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping ada kesultanan di Nusantara (Indonesia) yang berhubungan langsung dengan Khilafah Utsmaniyah, ada pula beberapa kesultanan yang berhubungan secara tidak langsung, yaitu melalui kesultanan lainnya, misalnya, kesultanan Ternate. Pada tahun 1570-an, saat perang Soya-soya melawan Portugis, sultan Ternate, Baabullah, dibantu oleh para sangaji dari Nusa Tenggara yang terkenal dengan armada gurap dan Demak dengan laskar Jawanya. Begitu juga Aceh dengan armada maritim yang perkasa berkekuatan 30.000 kapal perang telah memblokir pelabuhan Sumatera dan memblokade pengiriman bahan makanan, amunisi Portugis lewat jalur India dan Selat Malaka. Musuh Ternate berarti musuh Demak. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[36]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa realitas ini terlihat bahwa kesultanan Islam di Nusantara memiliki hubungan dengan Khilafah Utsmaniyah. Bentuk hubungan tersebut berupa perdagangan, militer, politik, dakwah, dan kekuasaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Respon Kaum Muslim Indonesia atas Penyatuan Umat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di saat Khilafah Islamiyah berada pada masa sulit, di mana beberapa daerahnya mulai hendak diduduki oleh kaum penjajah, muncullah upaya untuk terus mengokohkan persatuan Islam yang dimotori oleh Sultan Abdul Hamid II. Beliau menyatakan, “Kita wajib menguatkan ikatan kita dengan kaum Muslim di belahan bumi yang lain. Kita wajib saling mendekat dan merapat dalam intensitas yang sangat kuat. Sebab, tidak ada harapan lagi di masa depan kecuali dengan kesatuan ini.” &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[37]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Inilah gagasan yang kelak dikenal sebagai Pan-Islamisme. Upaya penguatan kesatuan Islam pun sampai ke Indonesia (Hindia Belanda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h6 style="font-weight: normal; text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="messageBody"&gt;Snouck Hourgronje, penasihat kolonial Belanda, senantiasa menyampaikan informasi kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda bahwa ada usaha gerakan pan-Islamisme untuk membujuk raja-raja dan pembesar-pembesar Hindia Belanda (kaum Muslim) untuk datang ke Istana Sultan Abdul Hamid II di Istambul. Tujuan jangka pendek yang ingin dicapainya di Batavia, lanjut Snouck, adalah mendapatkan persamaan status orang-orang Arab dan kemudian untuk semua orang Islam sederajat dengan orang-orang Eropa. Jika tujuan sudah tercapai maka orang-orang Islam tidak sukar lagi mendapat kedudukan yang lebih tinggi dari orang Eropa, yang kemudian bahkan bisa memojokkan mereka sama sekali. Pemerintah kolonial Hindia Belanda amat khawatir bila kaum Muslim tahu bahwa Sultan Abdul Hamid II menyediakan beasiswa untuk pemuda Islam. Atas biaya Sultan Abdul Hamid II, mereka dapat masuk sekolah-sekolah yang paling tinggi untuk menerima pendidikan ilmiah dan menemukan kesadaran yang mendalam tentang superioritas setiap muslim atas orang-orang kafir, kesadaran dan kehinaan yang mendalam yang tidak harus mereka terima dengan membiarkan diri mereka diperintah oleh orang kafir itu. Jika mereka telah menyelesaikan studinya dan telah melakukan ibadah haji ke Makkah, mereka diharapkan dapat berperan dalam menumbuhkembangkan pemikiran Islam di daerah mereka. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[38]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya pengokohan penyatuan ini terus dilakukan. Hingga tahun 1904 telah ada 7 sampai 8 konsul (‘utusan’ pen.) yang pernah ditempatkan Khilafah Utsmaniyah di Hindia Belanda. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[39]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Diantara aktivitas para konsul ini adalah membagi-bagikan mushaf al-Quran atas nama sultan, dan pencetakan karya-karya theologi Islam dalam bahasa Melayu yang dicetak di Istambul. Di antara kitab tersebut adalah tafsir al-Quran yang di halaman judulnya menyebut “Sultan Turki Raja semua orang Islam.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="messageBody"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[40]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messageBody"&gt; Istilah Raja di sini sebenarnya mengacu pada kata al-Malik yang berarti penguasa, dan semua orang Islam mengacu pada istilah Muslimin. Jadi, sebutan tersebut menunjukkan deklarasi dari sang Khalifah bahwa beliau adalah penguasa kaum Muslim sedunia. Hal ini menunjukkan bahwa khilafah Utsmaniyah terus berupaya untuk menyatukan kesultanan Melayu ke dalamnya, termasuk melalui penyebaran al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai respon terhadap gerakan penyatuan Islam oleh Khilafah Utsmaniyah ini, di Hindia Belanda terdapat beberapa organisasi pergerakan Islam di Hindia Belanda yang mendukung gerakan tersebut. Abu Bakar Atjeh menyebutkan di antara organisasi tersebut adalah Jam’iyat Khoir yang didirikan pada 17 Juli 1905 oleh keturunan Arab. Karangan-karangan pergerakan Islam ini di Hindia Belanda dimuat dalam surat-surat kabar dan majalah di Istambul, di antaranya majalah Al-Manar. Khalifah Abdul Hamid II yang tinggal di Istambul pun pernah mengirimkan utusannya ke Indonesia, bernama Ahmed Amin Bey, atas permintaan dari perkumpulan tersebut untuk menyelidiki keadaan kaum Muslim di Indonesia. Akibatnya, pemerintah kolonial Hindia Belanda menetapkan pelarangan bagi orang-orang Arab mendatangi beberapa daerah tertentu. &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt;[41]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi pergerakan Islam lain yang muncul sebagai respon positif terhadap penyatuan ini adalah Sarikat Islam. Peristiwa dikibarkannya bendera Turki Utsmani pada Kongres Nasional Sarikat Islam di Bandung pada tahun 1916, sebagai simbol solidaritas sesama muslim dan penentangan terhadap penjajahan, menunjukkan hal tersebut. Pada masa itu, salah satu usaha yang dilakukan Khilafah Ustmaniyah adalah menyebarkan seruan jihad dengan mengatasnamakan khalifah kepada segenap umat Islam, termasuk Indonesia, yang dikenal sebagai Jawa. Di antara seruan tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Wahai saudara seiman, perhatikanlah berapa negara lain menjajah dunia Islam. India yang luas dan berpenduduk seratus juta muslim dijajah oleh sekelompok kecil musuh dari orang-orang kafir Inggris. 40 juta muslim jawa dijajah oleh Belanda. Maroko, Al-Jazair, Tunisa, Mesir dan Sudan menderita dibawah cengkraman musuh Tuhan dan Rasul-Nya. Juga Kuzestan, berada dibawah tekanan penjajah musuh iman. Persia yang dipecah-belah. Bahkan tahta khilafah pun, oleh musuh-musuh Tuhan selalu ditentang dengan segala macam cara.”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[42]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas ini memberikan gambaran bagaimana khilafah Utsmaniyah memberikan dukungan dan bantuan kepada kaum Muslim Indonesia serta memandangnya sebagai satu kesatuan tubuh, bahkan menyerukan untuk membebaskan diri dari penjajah musuh iman. Dalam hal ini kaum Muslim memberikan respon positif terhadap upaya pengokohan kesatuan umat Islam sedunia tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h6 style="font-weight: normal; text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="messageBody"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Respon kaum Muslim Indonesia atas keruntuhan Khilafah Utsmaniyah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tanggal 3 Maret 1924, Mustafa Kamal la’natullahu ’alaih memutuskan untuk melakukan pembubaran Khilafah yang disebutnya sebagai “bisul sejak abad pertengahan.”&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[43]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Pada pagi hari 1924, diumumkan bahwa Majelis Nasional telah menyetujui penghapusan Khilafah dan pemisahan agama dari urusan-urusan negara. Malamnya, Khalifah pun diusir secara paksa oleh kesatuan polisi dan militer. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[44]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Secara resmi, runtuhlah Khilafah Utsmaniyah pada 3 Maret 1924 tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h6 style="font-weight: normal; text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="messageBody"&gt;Penghancuran kepemimpinan umat Islam sedunia tersebut mengguncang seantero alam, termasuk Indonesia. Sebagai respon terhadap keruntuhan Khilafah, sebuah Komite Khilafah didirikan di Surabaya tanggal 4 Oktober 1924 dengan ketua Wondosudirdjo (kemudian dikenal dengan nama Wondoamiseno) dari Sarikat Islam dan wakil ketua K.H.A. Wahab Hasbullah. Tujuannya untuk membahas undangan kongres kekhilafahan di Kairo. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[45]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Pertemuan ini ditindaklanjuti dengan menyelenggarakan kongres Al-Islam Hindia ketiga di Surabaya tanggal 24-27 Desember 1924. Kongres ini diikuti oleh 68 organisasi Islam yang mewakili pimpinan pusat (hoofd bestuur) maupun cabang (afdeling), serta mendapat dukungan tertulis dari 10 cabang organisasi lainnya. Kongres ini dihadiri pula oleh banyak ulama dari seluruh penjuru Indonesia. Keputusan penting Kongres ini adalah melibatkan diri dalam pergerakan khilafah dan mengirimkan utusan yang harus dianggap sebagai wakil umat Islam Indonesia ke kongres dunia Islam. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[46]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Kongres ini memutuskan untuk mengirim sebuah delegasi ke Kairo yang terdiri dari Surjopranoto (Sarikat Islam), Haji Fachruddin (Muhammadiyah), dan K.H.A. Wahab dari kalangan tradisi. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[47]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ada perbedaan pendapat dengan kalangan Muhammadiyah, K.H.A. Wahab dan tiga penyokongnya mengadakan rapat dengan kalangan ulama kaum tua dari Surabaya, Semarang, Pasuruan, Lasem, dan Pati. Mereka sepakat mendirikan Komite Merembuk Hijaz. Komite ini dibangun dengan dua maksud, yaitu pertama untuk mengimbangi Komite Khilafat yang secara berangsur-angsur jatuh ke tangan golongan pembaharu, dan kedua, untuk berseru kepada Ibnu Su’ud penguasa baru di tanah Arab agar kebiasaan beragama secara tradisi dapat diteruskan. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[48]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Komite inilah yang diubah namanya menjadi Nahdlatul Ulama (NU) pada suatu rapat di Surabaya tanggal 31 Januari 1926. Rapat ini tetap menempatkan masalah Hijaz sebagai persoalan utama. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[49]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Sekalipun terdapat beda pendapat, akan tetapi kalangan Muhammadiyah dan Sarikat Islam maupun kalangan NU sama-sama memberikan perhatian besar terhadap keruntuhan khilafah Islamiyah dan memandangnya sebagai persoalan utama kaum Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap ini lahir dari keyakinan bahwa Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim. Umat Islam Indonesia saat itu memandang Sultan Turki sebagai Khalifah. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[50]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Di antara tokoh Indonesia dari Sarikat Islam, HOS Cokroaminoto, menyatakan bahwa khalifah bukan semata-mata untuk umat Islam di jazirah Arab, tetapi juga bagi umat Islam Indonesia. Ditegaskannya pula bahwa khalifah merupakan hak bersama sesama muslim dan bukan dominasi bangsa tertentu.&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:85%;" &gt; [51]&lt;/span&gt; Lebih tegas lagi, Cokroaminoto juga menyatakan selain dua kota suci Makkah-Madinah, khalifah adalah milik umat Islam sedunia. Ia menyarankan untuk mengirimkan utusan ke Kongres. Tujuannya untuk “mempertoendjoekan moeka terhadap oemat Islam sedoenia”, dan “melakoekan segala oesaha jang ditimbang bergoena bagi oemat Islam di negeri kita”. Di samping itu, mencari keterangan mengenai kelanjutan pemilihan khalifah. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[52]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Bahkan, beliau menganalogikan umat Islam laksana suatu tubuh. Karenanya, bila umat Islam tidak memiliki khalifah maka “seolah-olah badan tidak berkepala.” &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;[53]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa catatan sejarah di atas dapat disimpulkan bahwa kesultanan Islam di Indonesia memiliki hubungan yang sangat erat dengan Khilafah Utsmaniyah. Bahkan bukti-bukti tersebut menggambarkan kesultanan Islam di Indonesia sebagai bagian tak terpisahkan dari Khilafah Islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;h6 style="font-weight: normal; text-align: justify;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="messageBody"&gt;Hanya saja, disaat kekuatan Khilafah Utsmaniyah mulai melemah, penjajah kafir Barat (Inggris) melalui agennya, Mustafa Kamal, berhasil meruntuhkannya. Akibatnya, institusi pemersatu kaum Muslim sedunia itu pun lenyap dan wilayah negeri-negeri Muslim pun terpecah belah di bawah kekuasaan penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di Indonesia sendiri, pasca penjajahan secara fisik (militer), beberapa tokoh yang ingin membangun Indonesia berdasarkan sistem politik Islam, juga mengalami kegagalan akibat adanya ‘pengkhianatan’. Walhasil, Indonesia pun menjadi sebuah negara yang ‘merdeka’ atas dasar sekularisme dan nasionalisme. Hal ini menjadikan perpecahan negeri-negeri Muslim terus berlanjut dan menjadikan kaum Muslim tetap dalam kondisi lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada kenyataan sejarah yang ada, tampak jelas bahwa upaya menyatukan kaum Muslim di berbagai negeri Muslim, termasuk Indonesia, atas dasar Islam merupakan sebuah keniscayaan sejarah. Bagi kaum Muslim Indonesia, perjuangan untuk melanjutkan kehidupan Islam dan menyatukan negeri Islam dalam kekhilafahan bukan semata-mata wujud ketaatan kepada perintah Allah SWT. Aktivitas tersebut sesungguhnya juga merupakan upaya untuk meneruskan sejarah, di samping upaya untuk melanjutkan perjuangan para Sultan dan Ulama Saleh terdahulu yang telah mempersatukan Nusantara dengan Khilafah Islamiyah. Sebaliknya, penentangan terhadap upaya ini merupakan wujud pengingkaran terhadap sejarah Indonesia, di samping pengingkaran terhadap perintah Allah SWT.  [hizbuth tharir]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CATATAN KAKI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[1] Uka Tjandrasasmita, “Hubungan Perdagangan Indonesia-Persia (Iran) Pada Masa Lampau &lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Abad VII-XVII M) daan Dampaknya terhadaap Beberapa Unssur Kebudayaan” Jauhar Vol. 1, No. 1, Desember 2000 hal. 32.&lt;br /&gt;[2] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Edisi Revisi (Jakarta: Prenada Media, 2004) hal. 27-28.&lt;br /&gt;[3] Ibid. hal. 28&lt;br /&gt;[4] Farooqi, “Protecting the Routhers to Mecca,” hal. 215-6, dikutip dari Ibid hal. 44.&lt;br /&gt;[5] Metin Innegollu, “The Early Turkish-Indonesian Relation,” dalam Hasan M. Ambary dan Bachtiar Aly (ed.), Aceh dalam Retrospeksi dan Reflkesi Budaya Nusantara, (Jakarta: Informasi Taman Iskandar Muda, tt), hal. 54.&lt;br /&gt;[6] Azyumardi Azra, op.cit. hal. 44&lt;br /&gt;[7] Marwati Djuned Pusponegoro (eds.), Sejarah Nasional Indonesia, Jilid III (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hal. 54.&lt;br /&gt;[8] Metin Innegollu, op.cit. hal. 54&lt;br /&gt;[9] Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara ; Sejarah wacana dan kekuasaan. (Bandung : Rosda, 1997), hal. 116-118).&lt;br /&gt;[10] Snouck Hurgronje, 1994, Nasehat-nasehat C. Snouck Hurgronje semasa kepegawaiannya kepada pemerintah Hindia Belanda; 1889 –1936. (Jakarta : INIS), hal. 1631.&lt;br /&gt;[11] Peunoh Daly, ‘Hukum Nikah, Talak, Rujuk, Hadanah dan Nafkah dalam Naskah Mir’at al-Tullab Kaarya Abd Raauf Singkel,” Disertasi Fakultas Syariah IAIN Syarif Hidayatullah (Jakarta, 1982). Hal. 15-16.&lt;br /&gt;[12] Ibid. hal. 32&lt;br /&gt;[13] Ibid hal. 36&lt;br /&gt;[14] Para khalifah Turki Ustmani sering disebut sebagai “Sultan Rum” karena menduduki Konstantinopel yang merupakan bekas Kerjaaan Romawi Timur. Ini merupakan hasil wawancara tim Hizbut Tahrir Indonesia dengan Prof.Dr. Uka Tjandrasasmita, Selasa, 11 Januari 2005.&lt;br /&gt;[15] Azyumardi Azra, 2004, op.cit. hal. 36.&lt;br /&gt;[16] Ibid hal. 38&lt;br /&gt;[17] Ibid. hal. 36&lt;br /&gt;[18] Saleh Obazan, dikutip dari Azyumardi Azra, op.cit. hal. 40-41.&lt;br /&gt;[19] Dr. Yusuf ats-Tsaqafi, Mawqif Uruba min ad-Daulat al-Utsmaniyyah, hal. 37.&lt;br /&gt;[20] Saleh Obazan, op.cit. hal. 41&lt;br /&gt;[21] Marwati Djuned Pusponegoro (eds.), op.cit. hal. 33.&lt;br /&gt;[22] Azyumardi Azra, op.cit. hal. 42.&lt;br /&gt;[23] Lukman Thaib, “Aceh Case: Possible Solution to Festering Conflict,” Journal of Muslim Minorrity Affairs, Vol. 20, No. 1, tahun 2000 hal. 106&lt;br /&gt;[24] Metin Inegollu (the Ambassador of Turkey), The early Turkish-Indonesian Relations, Aceh dalam restrospeksi dan refleksi budaya Nusantara (Editor Hasan Muarif Ambary dan Bachtiar Aly), Informasi Taman Iskandarmuda (INTIM), Jakarta, tt, hal. 53-55.&lt;br /&gt;[25] Ibid, hal. 53.&lt;br /&gt;[26] Azyumardi Azra, op.cit. hal.. 43-44.&lt;br /&gt;[27] H.M. Zainuddin, Tarich Atjeh dan Nusantara (Medan: Pustaka Iskandar Muda, 1961) hal. 272-77; lihat juga, op.cit. hal. 44.&lt;br /&gt;[28] Azyumardi Azra, op.cit. hal. 44-45.&lt;br /&gt;[29]  Marwati Djuned Puspo dan Nugroho Notosusanto, op.cit. hal. 56.&lt;br /&gt;[30] Ibid. hal. 96.&lt;br /&gt;[31] Ibid. hal. 257.&lt;br /&gt;[32] Azyumardi Azra, op.cit. hal. 45.&lt;br /&gt;[33] Ali Muhammad Ash-Shalabi, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (Terj.), Pustaka Al Kautsar, tahun 2003, hal. 258-259.&lt;br /&gt;[34] Abd. Rahim Yunus, Posisi Tasawuf dalam Sistem Kekuasaan di Kesultanan Buton pada Abad ke-19, INIS Jakarta, tahun 1995, hal. 10.&lt;br /&gt;[35] W. Marsden, The History of Sumatra, London: Thomas Paine &amp;amp; Sons, 1783, 272, 283 dikutip oleh Ayzumardi, 2004, op.cit. hal. 33.&lt;br /&gt;[36] RZ. Leirissa, Shalfiyanti, dan Restu Gunawan, Ternate Sebagai Bandar Jalur Sutra, Jakarta: Ilham Bangun Karya, tahun 1999, hal. 59-60.&lt;br /&gt;[37] Mudzkirat as-Sulthan Abdul Hamid ats-Tsani, Pengantar oleh Dr. Muhammad Harb, Dar al-Qalam, 1412H/1991M, hal. 23.&lt;br /&gt;[38]Hamid Al-Gadri, Islam dan Keturunan Arab dalam Pemberontakan melawan Belanda, tahun1996, Mizan Bandung, hal. 132-152.&lt;br /&gt;[39] Snouck Hurgronje, op.cit. hal. 1691.&lt;br /&gt;[40] Ibid, hal. 1740.&lt;br /&gt;[41] Abu Bakar Atjeh, Salaf, Gerakan Salaf di Indonesia. Pertama, Jakarta, hal. 103-104.&lt;br /&gt;[42] H. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, tahun 1991, LP3ES Jakarta, hal. 81-82, dan 219.&lt;br /&gt;[43] Muhammad Zahid Abdul Fattah Abu Ghuddah, at-Tarikh al-Utsmaniy fi Syi’ri Ahmad Syauqi, Dar al-Raid Kanada, Cet. I, tahun 1417H/1996M, hal. 110.&lt;br /&gt;[44] Abdul Qadim Zallum, Konspirasi Barat meruntuhkan Khilafah Islamiyah (Terj.), Pustaka Thariqul ‘Izzah, tahun 2001, hal. 183.&lt;br /&gt;[45] Bandera Islam, 16 Oktober 1924&lt;br /&gt;[46] Bandera Islam, 8 Februari 1925. Lihat juga Deliar Noer, Gerakan modern Islam di Indonesia 1900-1942, tahun 1973, LP3ES Jakarta, hal. 242.&lt;br /&gt;[47] Hindia Baroe, 9 Januari 1925.&lt;br /&gt;[48] Deliar Noer, ibid. hal. 242.&lt;br /&gt;[49] Ibid, hal. 243.&lt;br /&gt;[50] Ibid, hal. 242.&lt;br /&gt;[51] Hindia Baroe, 9 Februari 1926.&lt;br /&gt;[52] Bintang Islam, bundel tahun 1927, hal. 19.&lt;br /&gt;[53] Hindia Baroe, 15 Januari 1926.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.facebook.com/topic.php?uid=80819722721&amp;amp;topic=10940"&gt;Seruan Global&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-5476109861137329666?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/5476109861137329666/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/01/sejarah-yang-disembunyikan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/5476109861137329666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/5476109861137329666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2011/01/sejarah-yang-disembunyikan.html' title='Sejarah Yang Disembunyikan'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i292.photobucket.com/albums/mm17/BangNonki/Serambi%20Melayu/th_aceh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-1547892161899731043</id><published>2010-09-23T02:01:00.003+07:00</published><updated>2010-09-23T02:19:30.705+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asal Usul'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelantan'/><title type='text'>Mêrah Silu, Melayu Atau Batak?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_LVgHmDROXV4/STK96dwsGbI/AAAAAAAAAEU/4K_ZBO1ZnfM/S1600-R/banner+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 600px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LVgHmDROXV4/STK96dwsGbI/AAAAAAAAAEU/4K_ZBO1ZnfM/S1600-R/banner+copy.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;INSTITUSI RAJA MENGEKALKAN WARISAN MELAYU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oleh kerana majlis ini diadakan sempena menyambut Hari Keputeraan KDYMM Al-Sultan Kelantan ini, maka saya ingin mengambil kesempatan di sini untuk menyentuh serba sedikit tentang sejarah kesultanan raja-raja Melayu dan kaitannya dengan kepimpinan dan pembangunan umat Melayu-Islam di rantau ini umumnya dan di Tanah Melayu khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Institusi raja Melayu adalah institusi yang telah berumur cukup panjang dalam sejarah kerajaan dan kepimpinan Melayu di rantau ini. Institusi kerajaan Melayu mulai membentuk sistem pemerintahan yang jelas dan teratur setelah Islam datang ke rantau ini. Menurut kajian beberapa orang ahli sejarah, Islam telah diperkenalkan di rantau ini sejak abad ke-9, iaitu di Perlak, di utara Sumatera. Apabila Marco Polo singgah di Perlak dalam tahun 1292, dia melaporkan bahawa sebahagian besar kawasan di sekitar Perlak, di pantai utara Sumatera, sudah memeluk agama Islam. Dalam Sulalat Al-Salatin atau ‘Sejarah Melayu’ karangan Tun Sri Lanang (yang siap dikarang dalam tahun 1612), diceritakan bahawa Mêrah Silu atau Marah Silau, ‘pengetua’ negeri yang bernama Pasai, telah memeluk agama Islam. Beliau di-Islamkan oleh seorang syeikh yang datang dari negeri Arab, dan menjadi raja Samudera-Pasai dengan gelaran Sultan Malik al-Salih. Beliau ialah menantu raja Perlak, dan telah meninggal dunia dalam tahun 1297.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ini bererti bahawa insitusi kerajaan Melayu di rantau ini telah wujud sejak lebih kurang sembilan ratus tahun dahulu. Dari Perlak dan Samudera-Pasai, beberapa buah kerajaan Melayu yang lain telah ditubuhkan di Tanah Melayu, di beberapa bahagian lain di Sumatera, di Borneo, di Kepulauan Moluku dan Ternate, di Makasar, di Patani, di Selatan Filipina, dan akhirnya di pulau Jawa. Di Semenanjung Tanah Melayu, telah wujud Kerajaan Melayu di Pantai Timur ini lama sebelum kerajaan Melayu Melaka ditubuhkan, misalnya di Terengganu di akhir abad ke-13. Ini ternyata berdasarkan batu bersurat Terengganu yang terkenal itu, yang bertarikh 22 Februari tahun 1303 (menurut bacaan Profesor Muhammad Naquid Al-Attas), yang ditemui semasa pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah. Nama raja Melayu yang tercatat pada batu ini ialah Raja Mandalika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sejarah institusi raja atau sejarah kerajaan Melayu ini kekal di Tanah Melayu hingga ke hari ini, walaupun selama lebih kurang sembilan ratus tahun itu, institusi ini telah mengalami pelbagai cabaran dan tentangan agama, budaya, politik dan ekonomi yang hebat dari dunia luar, khususnya bermula dengan kalahnya kerajaan Melayu Melaka di tangan penjajah Portugis dalam tahun 1511 dan bermulanya sejarah penjajahan tiga kuasa Barat di dunia Melayu-Islam ini, iaitu Portugis, Belanda dan kemudiannya Inggeris. Percubaan terakhir oleh pihak penjajah, iaitu British, untuk memusnahkan institusi kerajaan Melayu, atau kedaulatan raja-raja Melayu, berlaku dalam tahun 1946 melalui muslihat atau rancangan ‘Malayan Union’. Mujurlah ada pemimpin Melayu yang berjiwa Melayu, berjiwa rakyat, iaitu Dato’ Onn Jaafar, yang muncul ke depan untuk memimpin gerakan raksasa Melayu menentang rancangan British itu untuk memusnahkan kedaulatan raja-raja Melayu di negeri ini dan seterusnya untuk menjadikan Tanah Melayu sebagai koloni British. Kita tidak akan merdeka dalam tahun 1957 jikalau rancangan British itu tidak digagalkan oleh orang Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Agak penting kita fikirkan apakah faktor-faktor yang menyebabkan institusi raja atau kerajaan Melayu itu mampu kekal sepanjang sejarah yang cukup panjang itu hingga ke hari ini. Faktor utama yang penting disebutkan di sini ialah faktor agama Islam yang menjadi asas atau pedoman utama kerajaan atau raja-raja Melayu itu. Agama baru itu (Islam) membawa mesej atau risalah tentang kebebasan manusia di sisi Allah, yakni manusia adalah makhluk yang bebas daripada kuasa-kuasa lain selain Allah, Allah yang Mencipta segala makhluk di alam ini. Manusia diperintah supaya menyembah hanya Tuhan Yang Satu, iaitu Allah. Manusia hanya hamba kepada Allah, tidak kepada yang lain. Prinsip ketauhidan inilah yang mengangkat darjat manusia itu sebagai makhluk Allah yang bebas untuk mengadakan hubungan secara langsung dengan Tuhan-nya, tidak melalui orang tengah, tidak melalui perantara, dan tidak melalui para paderi dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dan sehubungan dengan ini, manusia Melayu itu diberitahu bahawa mereka adalah khalifah di dunia, ditugaskan untuk memerintah atau menguruskan dunia ini untuk kebaikan, untuk keamanan, dan kesejahteraan ummah menurut pedoman hidup – ad-Din – yang telah diwahyukan oleh Allah dalam Kitab-Nya, Al-Quran, dan menurut Sunnah Nabi-Nya, Muhammad S.A.W. Ini bererti bahawa ketua umat Islam Melayu itu, tidak kira apakah nama gelaran yang kita gunakan, sama ada ‘khalifah’ atau ‘raja’, atau ‘ presiden’, atau ‘perdana menteri’, diperintahkan oleh Allah supaya memerintah negeri menurut ajaran-ajaran Islam yang tauhid dan bersifat egalitarian itu, yang bererti bahawa manusia tidak dibeza-bezakan berdasarkan darjat keturunan, pangkat dan kekayaan, tetapi berdasarkan darjat ketakwaannya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Banyak orang tidak memahami mesej Islam ini lalu menyangka bahawa sistem pemerintahan raja Melayu dahulu adalah sistem ‘feudalistik’. Di bawah sistem itu raja-raja Melayu dahulu kala dikatakan memerintah secara autokratik, zalim dan tidak adil. Ini pandangan yang tidak benar sama sekali. Istilah ‘feudalisme’ atau ‘feudalistik’ bukan istilah kita. Ini istilah Barat yang lahir dari sejarah pemerintahan raja-raja mereka yang dicirikan oleh sistem pembahagian masyarakat antara golongan ‘serfdom’ (hamba abdi) dengan golongan bangsawan yang mempunyai struktur yang cukup banyak lapisannya: ada raja, ada sistem ‘dukeship’, ‘lordship’, ‘manorship’ dan sebagainya, yang masing-masing mempunyai hak milik tanah anugerah raja untuk dikerjakan oleh golongan hamba abdi atau ‘serfs’. Kerana inilah akhirnya berlaku pelbagai pemberontakan dan revolusi, misalnya di England dan di Perancis, menentang sistem yang feudalistik itu, menggantikannya dengan sistem yang dianggap lebih ‘liberal’, iaitu sistem demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Dalam sistem kerajaan Melayu diraja, kuasa raja diimbangi oleh peraturan yang dibina atas gabungan antara cara pemerintahan menurut ajaran Islam dan berdasarkan budaya atau adat Melayu yang serasi dengan ajaran agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Raja Melayu memerintah menurut nasihat para pegawainya, terutama bendahara (= ‘Perdana Menteri’ sekarang), temenggung (sebagai menteri dalam negeri), dan laksamana (misalnya Hang Tuah sebagai hulubalang diraja) atau ‘the royal warrior’ atau sebagai menteri pertahanan negara. Mereka tidak mempunyai hamba abdi, tidak mempunyai ‘tanah anugerah’ raja untuk dikerjakan oleh kaum hamba abdi atau ‘serf’. Dalam masyarakat Melayu, perkataan ‘hamba’ tidak bererti ‘hamba abdi’ atau ‘hamba sahaya’, tetapi merupakan perkataan yang membayang adat Melayu menghormati ketuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Dari beberapa segi, raja Melayu itu tidak ubah seperti raja berperlembagaan dalam sistem demokrasi hari ini. Kebanyakan urusan negeri diserahkan kepada Bendahara, Temenggung dan Laksamana. Raja dianggap sebagai ketua negeri yang memegang amanah dari Tuhan, atau disebut juga sebagai Zirullah fi’l-ard atau Zirullah fi’l-‘alam, iaitu sebagai cermin Allah di bumi, maka sebagai cermin atau wakil (khalifah) Allah di bumi, raja Melayu itu diwajibkan memerintah dengan adil berdasarkan hukum dan perintah Allah. Walaupun undang-undang dunia dan adat diamalkan, ini hendaklah tidak bercanggah atau melanggar hukum Allah. Pandangan ini dijelaskan oleh pepatah Melayu melalui kata-kata ‘Adat bersendikan Kitab’ (yakni, Quran). Di Barat, hukum ini tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Konsep raja sebagai pemegang amanah dari Tuhan ini dijelaskan oleh pengarang ‘Sejarah Melayu’ (yang siap dikarang dalam tahun 1612) melalui bahasa kiasan. Menurut pengarang itu, raja dianggap sebagai ‘pohon’ yang memayungi rakyat (yakni, membela dan melindungi rakyat), dan rakyat pula dianggap sebagai ‘akar’ yang memberi kekuatan kepada ‘pohon’ itu. Tanpa akar (= rakyat), pohon (= raja) tidak dapat berdiri teguh. Pengarang itu juga menjelaskan tentang pentingnya konsep permuafakatan antara raja dengan para pegawainya, dan menyifatkan segala amalan kerajaan Melayu sebagai ibadah kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Berdasarkan huraian yang dibuat oleh pengarang ‘Sejarah Melayu’ itu maka jelaslah bahawa institusi raja Melayu itu bukanlah institusi berdasarkan sistem autokrasi atau ‘dictatorship’, atau institusi yang melanggar ajaran Islam, tetapi merupakan institusi yang unik, institusi yang wujud berdasarkan tatacara dan ciri-ciri berlandaskan ‘model’ Melayu-Islam. Perihal bahawa ada raja Melayu yang tidak mematuhi prinsip-prinsip itu dan melakukan kesalahan peri laku buruk, yang boleh menyusahkan rakyat, ini jangan kita anggap sebagai perangai contoh, lalu menuduh seluruh institusi raja Melayu itu sebagai institusi feudalistik atau institusi anti-Islam. Pandangan ini dikelirukan oleh ahli sejarah – termasuk ahli sejarah dari kalangan sarjana Melayu sendiri – yang melihat sejarah Melayu itu dari luar, dan mungkin berdasarkan teori-teori atau perspektif penjajah atau ilmu orientalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Kita juga harus ingat bahawa dalam sistem demokrasi hari ini pun, ada juga pemimpin atau ketua kerajaan yang memerintah secara autokratik, tidak bermuafakat dengan orang lain, tidak mahu mendengar nasihat, tidak suka ditegur, dan sebagainya. Seperti yang telah disebutkan tadi, Raja Melayu dahulu kala kebanyakannya memerintah menurut nasihat para pegawainya. Jikalau pegawai tidak bercakap benar dan memberikan nasihat yang salah kepada rajanya, maka akan berlakulah kucar kacir dalam negeri. Bahkan dalam sejarah pemerintahan negara Islam, di bawah sistem khalifah, selepas wafatnya Nabi Muhammad S.A.W. dan selepas empat khalifah ar-rasyidin, banyak juga khalifah yang zalim, yang tidak adil, yang tidak memerintah menurut ajaran Islam dan Perintah Tuhan. Jadi, ini bukan salah sistem, tetapi salah orangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Satu lagi faktor yang menyebabkan tahannya institusi kerajaan Melayu itu ialah, kemampuannya untuk menjadi ‘epicentre’ atau pusat tumbuh dan berkembangnya tamadun Melayu. Dari istana Raja Melayulah lahir sistem kerajaan Melayu, sistem undang-undangnya, adat istiadat Melayu, bahasa Melayu ‘standard’, mengatasi bahasa-bahasa daerah atau loghat daerah bahasa Melayu, untuk menjadi ‘bahasa rasmi’ kerajaan Melayu, dan sebagai bahasa diplomasi kerajaan Melayu, dan di situlah atau dari situlah juga agama Islam dikembangkan dan merebak ke seluruh kawasan lain di rantau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Raja Melayu sering menjadi ‘patron’ atau pendukung kepada kegiatan penulisan. Merekalah yang menggalakkan perkembangan ilmu, usaha penulisan dan kegiatan mengembang dan menyebarkan ilmu. Demikianlah cara yang mendorong tumbuhnya kesusasteraan Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Raja Pasai, misalnya, sering mengadakan wacana atau perbincangan ilmu antara ulama’ tempatan dengan para fuqaha yang datang dari negeri Arab (Mekah dan Madinah, khususnya). Majlis perbincangan itu biasanya diadakan di masjid selepas sembahyang Jumaat atau selepas sembahyang Zuhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Di kota kerajaan Melayu itu jugalah tumbuh dan berkembang kegiatan perdagangan yang cukup aktif, diuruskan dengan cekap oleh pegawai-pegawai raja, iaitu syahbandar. Contohnya ialah, pada zaman pemerintahan kerajaan Melayu Melaka, pelabuhan Melaka merupakan sebuah ‘entreport’ atau pelabuhan perdagangan antarabangsa yang masyhur. Menurut Tome Prees, ‘diarist’ bangsa Portugis yang terkenal pada zaman itu, ‘…whoever is lord of Malaka has his hand on the throat of Venice.’ Pada zaman itu Pelabuhan Melaka dianggap oleh bangsa Eropah sebagai ‘competitor’ kepada pelabuhan Venice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Dari istana raja Melayu jugalah bahasa Melayu berkembang ke seluruh rantau ini, merentas sempadan etnik dan geografi, sehingga bahasa ini menjadi lingua franca di seluruh kawasan yang kini kita sebut sebagai kawasan Malaysia-Indonesia-Brunei. Dan raja Melayu menggunakan bahasa Melayu, tidak bahasa lain, sebagai bahasa diplomasi. Banyak surat dalam bahasa Melayu dikirimkan oleh raja-raja Melayu kepada raja Eropah, termasuk King James I di England, dan kepada raja Portugal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Itulah secara ringkasnya sejarah pertumbuhan tamadun bangsa Melayu di rantau ini melalui institusi kerajaan Melayu. Orang Melayu menganggap institusi raja Melayu penting sebagai ‘payung’ atau penaung dan pelindung kepada rakyat Melayu, sebagai penjaga agama Islam, budaya dan bahasa Melayu. Kerana inilah, seperti yang telah disebutkan tadi, apabila British cuba memusnahkan warisan atau sejarah ini melalui muslihat ‘Malayan Union’ dalam tahun 1946, seluruh bangsa Melayu bangkit menentang muslihat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Apabila kita mencapai kemerdekaan dalam tahun 1957, kita mengekalkan warisan bangsa Melayu itu. Kita mengekalkan raja dan institusi raja Melayu dalam sistem baru, iaitu sistem demokrasi berperlembagaan, di dalamnya raja Melayu menjadi sebahagian dari sistem pemerintahan kita, baik di peringkat persekutuan mahupun di peringkat negeri. Raja Melayu dianggap sebagai ‘constitutional monarch’, diberi kuasa untuk menandatangani segala bill parlimen atau bill dewan undangan sebelum bill itu menjadi undang-undang. Walaupun di bawah sistem yang baru ini – sistem yang mengikut model White Hall British – raja Melayu tidak lagi mempunyai kuasa politik atau kuasa eksekutif, tetapi peranan warisannya, iaitu sebagai penaung dan pelindung hak-hak Melayu yang telah wujud sejak sebelum kemerdekaan tetap kekal, sebagaimana termaktub dalam banyak Fasal Perlembagaan Persekutuan. Raja Melayu tetap menjadi ketua Islam di negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Jikalau tidak kerana adanya warisan itu berkemungkinan besar bangsa Melayu masih terjajah hari ini, atau jikalau pun kita diberikan kemerdekaan oleh pihak British, kemerdekaan itu mungkin tidak akan berasaskan warisan Melayu, dan kalau itu berlaku maka bangsa Melayu tidak akan kekal memerintah negeri ini sebagaimana halnya sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Bagi bangsa Melayu hari ini, sangat pentinglah kuasa politik diimbangi dengan kuasa agama, kuasa budaya Melayu yang sejati, selain diimbangi dengan nilai amanah, moral yang tinggi dan peri laku yang bersih dari segala unsur yang boleh merosakkan umat Melayu-Islam di negara ini. Imbangan inilah yang perlu ada, dan institusi raja Melayu yang telah kekal selama sembilan ratus tahun itu dan telah menjadi pusat pertumbuhan dan perkembangan tamadun Melayu, sebagaimana yang dihuraikan tadi, memainkan peranan penting dalam proses perimbangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Kalau kita mengambil iktibar daripada ‘model’ kepimpinan kerajaan Melayu itu, kita dapat mempelajari hal-hal yang berikut: Pertama, raja yang memperlihatkan ciri-ciri kepimpinan yang dapat membawa kemajuan kepada negeri dan rakyatnya ialah raja yang sentiasa menyedari akan tanggungjawabnya kepada Allah dan kepada agamanya untuk memerintah atau menguruskan halehwal negeri dan rakyatnya menurut nilai-nilai Islam dan berdasarkan ciri-ciri akal budi dan budi pekerti budaya atau adat Melayu yang baik dan yang dapat diterima oleh rakyat atau masyarakat Melayu yang terkenal dengan sifat ketelusannya, amanahnya, sifat keterbukaan mindanya, (sifat toleransinya, dan sebagainya) dan sifat permuafakatan dan budaya kerjasamanya (sebagaimana diungkapkan melalui kata-kata seperti ‘berat sama dipikul, ringan sama dijinjing’ atau ‘hati gajah sama dilapah, hati kuman sama dicecah’), sifat kerajinan Melayu, dan sifat ketaatan Melayu terhadap pemimpin yang baik. Sifat-sifat inilah yang memainkan peranan penting dalam ketahanan tamadun Melayu menghadapi segala macam cabaran dan keadaan. Dan pemimpin yang baik, cekap dan amanah, sentiasa menggalakkan sifat-sifat ini dalam usahanya untuk memajukan bangsanya. Pembangunan bangsa dan negara tidak akan kekal sekiranya sifat-sifat seperti itu digantikan dengan atau dimusnahkan melalui sistem atau ‘model’ pembangunan yang terlalu mementingkan ‘persaingan’ dan sifat ‘individualisme’ dalam usaha untuk mengejar kemajuan materialistik. Hari ini, kita sudah mulai melihat betapa orang Melayu makin lama makin tidak menghiraukan prinsip atau sifat permuafakatan, kerjasama, sifat amanah, baik sangka, dan sebagainya di bawah sistem pembangunan yang terlalu menggalakkan ‘persaingan’ melalui pasaran bebas – pasaran bebas dalam semua bidang, tidak hanya dalam pasaran bebas ekonomi dan perniagaan, tetapi juga dalam bidang politik, budaya dan pendidikan. Kita harus kembali mempertahankan sifat-sifat Melayu yang sudah tahan lama dalam sejarahnya menghadapi pelbagai cabaran dan ancaman yang datang dari luar, untuk menjamin kemajuan bangsa Melayu hari ini tidak dirosakkan oleh nilai-nilai yang sama sekali tidak serasi dengan nilai agama Islam dan adat Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Kedua, seperti yang telah saya sebutkan tadi, raja Melayu mentadbirkan negeri melalui nasihat para pembesarnya. Dalam hal ini, prinsip permuafakatan ditegaskan. Kita belajar dari peri laku raja dan pembesar raja yang baik dan dari peri laku raja dan pembesar raja yang buruk. Kucar-kacir berlaku apabila pembesar raja atau orang istana memberikan nasihat yang salah kepada raja – nasihat berdasarkan perasaan hasad dengki, iri hati dan fitnah para pegawai raja terhadap orang lain yang dipercayai dan disayangi oleh raja. Contohnya, Bendahara Tun Mutahir, bendehara Melaka yang dianggap ‘warak’ orangnya, difitnah, kononnya dia hendak merampas kerajaan Melaka. Yang memfitnahnya ialah ‘tauke’ atau saudagar asing (Mandeliar) yang mempunyai kepentingan terhadap Raja. Lalu raja dengan tidak usul periksa, menitahkan supaya bendahara itu dibunuh. Akibatnya, pentadbiran negeri Melaka menjadi lemah, dan dalam keadaan begitulah, Portugis menyerang Melaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Hang Tuah yang disayangi oleh raja kerana taat setianya, kerana sifat amanahnya, dan kerana kepintaran dan kebijaksanaannya sebagai penasihat raja, difitnah oleh para pegawai istana kerana iri hati terhadap Hang Tuah. Difitnahkan bahawa Hang Tuah menaruh hati kepada salah seorang gundik yang disayangi raja. Lalu, raja dengan tidak usul periksa, memerintahkan kepada Bendahara supaya Hang Tuah dihukum bunuh. Bendahara yang bijaksana tidak menjalankan perintah itu, kerana dia tahu Hang Tuah tidak bersalah. Dia menyorok Hang Tuah. Apakah akibatnya? Hang Jebat memberontak, ‘menderhaka’ kepada rajanya. Maka Hang Tuah dibawa semula menghadap raja. Lalu raja memerintahkan Hang Tuah supaya memulihkan keadaan dengan membunuh Hang Jebat, sahabatnya yang setia. Peristiwa inilah yang melahirkan kata-kata yang kekal dalam ingatan (memori) bangsa Melayu hingga hari ini, iaitu kata-kata ‘Raja Adil raja disembah, raja zalim, raja disanggah’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. Peristiwa lain ialah peristiwa Singapura dilanggar todak. Para penasihat raja yang tidak menggunakan akal atau tidak jujur, menyuruh rakyat bertahan dengan betis mereka. Maka banyaklah rakyat yang mati. Maka datang seorang budak yang mengemukakan idea yang lebih baik: dia mencadangkan supaya dipacak batang-batang pisang di sepanjang tebing. Maka banyaklah todak yang mati apabila muncungnya tersekat pada batang pisang itu. Lalu, para pegawai raja yang tidak menggunakan akal, yang cemburu dan iri hati, memberitahu raja bahawa budak yang cerdik itu berbahaya kepada raja. Raja pun memerintahkan supaya budak yang cerdik itu dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. Pelajaran yang dapat kita peroleh untuk dijadikan renungan kita hari ini ialah: apabila pemerintah atau pemimpin tidak menggunakan kebijaksanaan akal untuk memerintah negeri, apabila para pegawai dan ahli politik yang memagari raja atau pemimpin, tidak jujur, pengampu, memberi nasihat yang salah, berdasarkan kepentingan diri, kaki makan suap, maka buruklah padahnya kepada kerajaan atau pemimpin itu, dan susahlah rakyat. Kemajuan yang sebenar tidak akan tercapai dalam budaya dan politik pemerintahan yang tidak berdasarkan meritokrasi – meritokrasi ilmu dan akal, meritokrasi agama, meritokrasi budaya dan moral. Tanggungjawab raja atau pemimpin sebagai pembela rakyat, sebagai payung kepada rakyat, sebagai pemegang amanah dari Tuhan, sebagaimana yang menjadi model atau acuan asas nilai dan prinsip kerajaan Melayu dahulu, akan terabai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. Ketiga, dan yang terakhir, ialah kemajuan bangsa tidak akan berlaku jikalau kepimpinan Melayu atau sistem pembangunan tidak berlandaskan keadilan yang menyeluruh. Keadilan tidak boleh ditakrifkan berdasarkan kepentingan pemimpin atau kepentingan politik. Keadilan ialah nilai kemanusiaan yang seharusnya berdasarkan peraturan sunnatullah – peraturan Ilahi, peraturan ‘kulli’ atau sejagat, yang tidak mengira bangsa, agama, keturunan, dan kepentingan politik kepartian, atau kepentingan ‘mazhab’ tertentu. Dulu, di bawah pemerintahan British, tidak terdapat keadilan ekonomi, keadilan pendidikan dan keadilan sosial yang merentas sempadan kawasan (geografi) dan sempadan etnik. Akibatnya – akibat yang masih dapat kita lihat wajahnya pada hari ini – ialah (a) kemajuan di Tanah Melayu tidak merata. Bahagian pantai barat Semenanjung Tanah Melayu menjadi pusat kemajuan ekonomi, manakala kawasan pantai timur, yang paling banyak didiami penduduk Melayu, terbiar, dan terus menjadi kawasan kemiskinan hingga hari ini.  (b) Kemajuan di kawasan bandar dan kawasan luar bandar (kawasan majoriti penduduk Melayu) tidak seimbang. Hingga hari ini kita masih lagi bercakap tentang ‘kawasan luar bandar’ sebagai kawasan yang ‘tidak maju’ atau kurang maju berbanding dengan kawasan bandar yang ‘maju’. Dan nampaknya, ketidakseimbangan ini, baik antara kawasan mahupun antara golongan etnik, masih tidak dapat dirapatkan jurangnya, malah makin membesar, padahal kuasa pemerintahan dan kuasa untuk membangunkan negara ini secara seimbang menurut cara dan pilihan kita, telah beralih dari tangan British ke tangan bangsa kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. Untuk menyelesaikan masalah yang lama itu, maka kita mestilah memajukan negara atau bangsa menurut keadilan berdasarkan konsep atau prinsip wasatiah itu, iaitu konsep pembangunan ummah berdasarkan keseimbangan atau pembangunan pertengahan atau sederhana antara pembangunan materialistik atau fizikal dengan pembangunan manusia, antara pembangunan negara dengan pembangunan bangsa, di samping menggunakan apa-apa acuan lain yang sesuai. Negara boleh jadi ‘maju’, tetapi tidak semestinya bangsa atau penduduknya juga turut ‘maju’, tidak sahaja dari segi keadaan ekonominya tetapi lebih penting lagi dari segi kemajuan moral dan adabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. Kalau kita berpegang kepada ajaran Islam, maka sepatutnya kita mempunyai ‘model pembangunan’ yang cukup adil dan menyeluruh, pembangunan yang dapat mengimbangi kemajuan fizikal di peringkat negara dengan kemajuan kemanusiaan, budaya dan moral di peringkat bangsa kita. Kita sepatutnya mempunyai sikap yang terbuka, bahawa demi Islam, demi bangsa, bukan demi parti atau kepentingan puak, penduduk bangsa Melayu di kawasan yang masih belum maju itu perlu dibantu untuk maju bersama-sama kaum-kaum lain di kawasan pantai barat, tidak kira apakah orientasi politik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31. Sebagai kesimpulan, untuk menjadi bangsa yang maju dan kuat di negara ini, bangsa Melayu perlu dibentuk, melalui sistem dan kaedah pembangunan yang baik, untuk menjadi bangsa yang bermoral tinggi, tidak rakus, tidak rasuah, tidak biadab, amanah, terbuka mindanya, dan bekerjsama dan bermuafakat antara sesama bangsa, sebagaimana dilakukan oleh kaum-laum lain di negara ini. Kuasa pemerintahan harus diimbangi antara kuasa politik dengan nilai budaya, agama dan warisan bangsa. Dalam hal ini, institusi raja Melayu turut memainkan peranan penting sebagai ‘pohon’ kepada rakyat yang menjadi ‘akarnya’. Ingatlah kata-kata warisan Melayu: ‘Raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah’. ‘Raja’ di sini bererti ‘pemimpin Melayu’, dan perkataan ‘disembah’ bererti ‘menghormati’ pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidato Y.B.M. Tengku Razaleigh Hamzah - Penaung Majlis Tindakan Rakyat Kelantan, Pada Peresmian KONVENSYEN PERPADUAN RAKYAT KEDAULATAN RAJA  Dalam rangka HARI KEPUTERAAN KDYMM AL-SULTAN KELANTAN 2005 Di Hotel Grand Riverview, Kota Baharu, Kelantan (Sabtu pagi, 16 April 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://humbahas.blogspot.com/2006/11/marah-silo-melayu-atau-batak.html"&gt;HUMBAHASTimes&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-1547892161899731043?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/1547892161899731043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/09/merah-silu-melayu-atau-batak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/1547892161899731043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/1547892161899731043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/09/merah-silu-melayu-atau-batak.html' title='Mêrah Silu, Melayu Atau Batak?'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LVgHmDROXV4/STK96dwsGbI/AAAAAAAAAEU/4K_ZBO1ZnfM/s72-Rc/banner+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-2587461339634164745</id><published>2010-09-22T23:41:00.007+07:00</published><updated>2010-09-23T00:59:13.650+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Langkat'/><title type='text'>Undangan (Jemputan)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs695.snc4/63541_1511376876020_1582326295_31192783_1432402_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 600px; height: 916px;" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs695.snc4/63541_1511376876020_1582326295_31192783_1432402_n.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;UNDANGAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Halal Bihalal dan Sosialisasi Program Peringatan 100 Tahun Tengku Amir&lt;br /&gt;Hamzah; Sabtu, 25 September 2010 jam 12.00 wib - selesai di Hotel Grand&lt;br /&gt;Sahid Jaya Lt. 2 Room Candi Kalasan 1-2 Jakarta.&lt;br /&gt;(Tertanda H. Tengku&lt;br /&gt;Azwar Aziz - Pemangku Adat Kesulthanan Langkat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undangan ini adalah resmi sebagai pengganti undangan fisik yang akan disampaikan langsung, kepada undangan mohon konfirmasi kehadiran melalui telepon:&lt;br /&gt;021 722 1965 (Lilis)&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;0813 826262 30 (Irham).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-2587461339634164745?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/2587461339634164745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/09/undangan-jemputan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/2587461339634164745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/2587461339634164745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/09/undangan-jemputan.html' title='Undangan (Jemputan)'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-6812342545945690600</id><published>2010-09-08T07:30:00.006+07:00</published><updated>2010-09-08T07:39:23.801+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uncategorized'/><title type='text'>Salam Aidil Fitri 1431 H</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i292.photobucket.com/albums/mm17/BangNonki/Madrasah/kartu-keluarga-serambi-melayu-to-fb.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 600px; height: 550px;" src="http://i292.photobucket.com/albums/mm17/BangNonki/Madrasah/kartu-keluarga-serambi-melayu-to-fb.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Salam Ta'zim&lt;br /&gt;Abang Nonki &amp;amp; Keluarga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-6812342545945690600?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/6812342545945690600/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/09/salam-aidil-fitri-1431-h.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/6812342545945690600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/6812342545945690600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/09/salam-aidil-fitri-1431-h.html' title='Salam Aidil Fitri 1431 H'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i292.photobucket.com/albums/mm17/BangNonki/Madrasah/th_kartu-keluarga-serambi-melayu-to-fb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-5399031285025720616</id><published>2010-09-02T00:15:00.004+07:00</published><updated>2010-09-02T00:26:03.154+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Malaysia-Indonesia, Siapa Yang Diuntungkan?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://media.vivanews.com/thumbs2/2009/03/11/67194_anwar_ibrahim_300_225.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 0px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 236px;" src="http://media.vivanews.com/thumbs2/2009/03/11/67194_anwar_ibrahim_300_225.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;VIVAnews&lt;/span&gt; – Ketegangan Indonesia dan Malaysia makin menjadi. Di Jakarta, demonstrasi menentang Malaysia masih merebak. Benteng Demokrasi Rakyat atau Bendera, misalnya, beraksi di depan Kedutaan Besar Malaysia dengan vulgar. Mereka membakar bendera Malaysia, dan melempari bendera ‘Jalur Gemilang’ dengan kotoran, bahkan mengancam merazia warga Malaysia di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentu saja ada warga Malaysia yang berang. “Berapa lama lagi kami harus mentolerir ini?,” kata seseorang yang mengatasnamakan diri sebagai ‘Frustated Malaysian’ seperti dimuat situs berita Malaysia The Star.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disulut oleh insiden saling tangkap warga antar dua negara di perairan Bintan, 13 Agustus 2010 lalu, ketegangan merambat ke Jakarta dan Kuala Lumpur. Menteri Luar Negeri Malaysia, Anifah Aman mendesak RI bertindak tegas pada massa Bendera. Malaysia akan merilis saran-perjalanan (travel advisory) ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Bendera ingin menggunduli warga kami dan mengirim mereka pulang? Ini adalah penghinaan bukan hanya bagi Malaysia tapi juga Indonesia karena banyak masyarakat yang tidak menyetujui tindakan ini,” tegas Anifah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun ambil tindakan. Dia memberi instruksi khusus kepada Menko Polkam Djoko Suyanto untuk menangani ketegangan ini. Dua negara juga akan duduk satu meja membahas ribut-ribut itu pada 6 September 2010 nanti melalui ajang Joint Ministry Conference.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa sebenarnya yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dari sisi Malaysia, VIVAnews.com mewawancarai secara eksklusif mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Anwar menilai ketegangan terjadi saat ini sudah akut. Ini adalah akumulasi dari permasalahan yang berlarut. “Sudah sampai pada tingkat massa, ini sudah tidak sehat,” katanya kepada VIVAnews, Jumat, 27 Agustus 2010. Berikut petikannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Hubungan Indonesia-Malaysia makin panas. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya berpendapat, bahwa tension (ketegangan) sudah berlarut-larut, dari soal budaya hingga soal TKI. Dan kini soal sempadan (batas wilayah), juga marine (kelautan). Saya mendesak pimpinan dua negara berunding menangani masalah itu, karena ini sudah sampai pada tingkat massa, ini sudah tidak sehat. Karena betapapun ketegangan itu ada, kepentingan negara yang sangat strategis tak boleh dikorbankan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Sikap Anda soal pelemparan tinja ke kantor Kedutaan Besar Malaysia?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kedua rakyat Malaysia dan Indonesia tidak mendukung pendirian arogan itu. Pelemparan najis itu tidak wajar. Sekedar mengemukakan pandangan, memprotes, itu ya biasa dalam negara demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun di sini (di Malaysia) kurang mengerti, sebab di sini dilarang semua protes-protes. Mereka Yang disenangi pemerintah bisa, yang tidak, dilarang semua. Berbeda.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sudah diketahui saya punya pandangan yang relatif intim dengan Indonesia. Di sini disinggung seolah saya senang dengan sikap itu (Bendera). Tapi tidak benar. Bagi saya soal hubungan dua negara harus mengatasi kepentingan politik fraksi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Yang malang, pimpinan negara agak slow menangani. Dibiarkan begitu makanya parah. Ini persoalan yang harus ditangani dengan rujuk fakta. Kepala negara, wakil, atau pimpinan penting utama harus segera menangani. Soal sempadan, TKI,  ini soal lama, saya ingat terus. Dalam hubungan dulu dengan Pak Habibie saya direct call. Harus begitu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Apa persepsi warga Malaysia terhadap konflik ini?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Belum merebak. Cuma media main sentimen soal isu najis sebagai isu besar meski hanya melibatkan sejumlah kecil orang di Indonesia. Saya juga melihat di koran, dari liputan televisi, banyak yang tidak senang dengan itu. Saya sebagai sahabat sejati Indonesia, saya pun berfikir demikian. Sebab, kalau konflik ini diteruskan, hanya menguntungkan buat yang arogan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Siapa pihak arogan yang dimaksud?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kalangan yang tidak senang atau yang mengambil suatu penilaian tidak baik, atau tidak senang dengan hubungan baik dua negara.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Konflik sudah lama terjadi, bukan kali ini saja. Apa sebenarnya persoalan dasar antara Indonesia-Malaysia?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya tekankan, ini isu panjang, horisontal. Terutama isu soal TKI, itu sentral. Bahwa TKI harus diperlakukan baik, ada political will. Persepsi orang Indonesia saya tahu benar, bahwa pimpinan atau elit Malaysia selalu arogan. Ini terkungkung kenyataan, kondisi di sini tidak juga membantu. Akhirnya timbul reaksi yang memicu ketegangan. Panjang ceritanya, tapi pokoknya, pimpinan harus segera bertindak. Bukan berperang tapi untuk runding.&lt;/p&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Untuk media massa, Indonesia yang menganut demokrasi, aturan media bebas. Di sini liputan media dikontrol pemerintah. Jadi, lain. Perbedaan boleh, tapi kali ini yang bisa kita selesaikan, kita selesaikan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Apa yang harus dilakukan rakyat untuk menyikapi isu sensitif ini?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pandangan saya tidak sama dengan pemerintah, pandangan saya berbeda dan kritis. Pesan saya kepada rakyat Indonesia, tunduklah pada hukum. Kalau ada pelanggaran, harus konsisten, negara harus menyelesaikannya. Supaya rakyat Indonesia mengerti, ada kalangan (di Malaysia) yang mencintai saudara serumpun. Mereka bisa protes, itu hak demokrasi, tapi kawal tata susila.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ini pernyataan orang yang simpati dengan Indonesia. Kalau Anda lihat di sini, tiap kali disinggung, baik di parlemen maupun di luar parlemen, Anwar ini tidak nasionalis. Dikatakan pro sana pro sini. Saya tidak peduli, karena pendirian saya konsisten. Di kalangan UMNO dikatakan saya senang jika ada konflik, saya provokator. Buat saya itu politik murahan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Sikap Anda yang simpati pada Indonesia dipermasalahkan?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ya, secara terbuka oleh banyak menteri, parlemen, juga masyarakat luas. Saya mewakili pandangan yang mau Indonesia dan Malaysia lebih akrab. Kami dulu amat membutuhkan Indonesia. Saya masih ingat perundingan dengan Pak Harto, "Pak tolong Pak soal ini, kita merayu ke negeri jiran, banyak kawan berikan."&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penghinaan terhadap bendera Malaysia justru akan digunakan oleh pihak lain, yang rugi kan rakyat, termasuk kami yang menghendaki demokrasi di Malaysia. Mereka akan bilang, ”Itu kamu mau demokrasi, demokrasi itu bakar bendera.” Padahal itu tidak benar. Itu digunakan tangan tertentu untuk memukul kami.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beredar spekulasi ada kepentingan politik menggunakan isu ini sebagai alat, misalnya kekuatan-kekuatan politik di Indonesia atau di Malaysia untuk menaikkan popularitas mereka. Benarkah?&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ada juga tafsiran itu. Ada kesan soal internal--mereka sengaja mengabdikan ini seolah ada serangan, gugat. Saya lihat mainan spirit, survival Melayu yang keterlaluan, rasis. Isu ini dieksploitasi, termasuk isu konflik dengan Indonesia. Tapi saya tidak mendapat keterangan atau informasi yang jelas soal itu. Yang mampu saya katakan, bahwa media UMNO sengaja mengaktifkan isu ini. Namun apapun, yang terpenting, kepentingan dua negara jauh lebih penting. Ini yang saya tekankan. (kd)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://fokus.vivanews.com/news/read/173835--ada-yang-senang-ri-malaysia-konflik-"&gt;• VIVAnews&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-5399031285025720616?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/5399031285025720616/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/09/malaysia-indonesia-siapa-yang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/5399031285025720616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/5399031285025720616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/09/malaysia-indonesia-siapa-yang.html' title='Malaysia-Indonesia, Siapa Yang Diuntungkan?'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-2162098217231958314</id><published>2010-08-31T06:03:00.006+07:00</published><updated>2010-08-31T06:59:48.710+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Johor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riau'/><title type='text'>Hubungan Pelik Pascakolonial</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aKkG7DKVX34/S82LLMY8TvI/AAAAAAAADQM/Zz4f6KWXBbg/s400/Malaysia-Indonesia+-+Bendera.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 0px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 268px; height: 164px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aKkG7DKVX34/S82LLMY8TvI/AAAAAAAADQM/Zz4f6KWXBbg/s400/Malaysia-Indonesia+-+Bendera.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bayangkan jika peta Indonesia tidak seperti sekarang. Bayangkan jika Pulau Jawa terbelah menjadi dua negara, satu Indonesia, satu, sebutlah, Javanesia. Sebutlah Yogyakarta menjadi bagian dari Indonesia dan Jawa Tengah menjadi bagian negara lain itu. Akankah ada polemik soal siapa pemilik blangkon? Akankah pelaut tradisional di nonperairan masing-masing disebut pencuri?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ketegangan dengan Malaysia kembali tercipta pada pertengahan Agustus lalu. Penyebabnya, Indonesia menangkap nelayan Malaysia yang dianggap mencuri ikan di kawasan Indonesia, dan Malaysia menangkap orang Indonesia, pegawai negeri sipil. Persoalan kemudian tak hanya berpusat pada soal tangkap-menangkap, melainkan juga soal perbatasan. Perbatasan acap menjadi duri dalam hubungan kedua negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, ketika Indonesia kerap menuduh Malaysia sebagai pencuri, pelaut-pelaut Indonesia pun sering dituduh pencuri dan ilegal oleh Australia. Pelaut-pelaut Indonesia dianggap sering mencuri ikan di perairan Australia Barat. Padahal, sudah ratusan tahun, para pelaut Sulawesi, Maluku, atau Papua, menganggap kawasan tersebut sebagai kawasan tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bagaimana hukum laut secara internasional? The United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) menyebutkan, sebuah negara berhak atas laut teritorial sejauh 12 mil laut, zona tambahan 24 mil laut, zona ekonomi eksklusif 200 mil laut, dan landas kontinen 350 mil laut atau lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kawasan-kawasan yang berdekatan, Indonesia, termasuk Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, atau negara mana pun tentu saja tidak bisa menerapkan peraturan ini sepenuhnya dari garis pangkalnya. Dari Bintan atau Batam ke Malaysia atau Singapura, misalnya, jaraknya kurang dari 24 mil laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sosiohistoris Malaysia-Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membicarakan perbatasan dengan Malaysia atau negara mana pun, sangatlah penting untuk mengetahui sosiohistoris kedua negara ini. Tanjung Berakit, &lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/03/bintan-in-malay-history.html"&gt;Bintan&lt;/a&gt;, nama daerah yang menjadi tempat saling tangkap antara Indonesia-Malaysia, misalnya, sebetulnya merupakan halaman dari Kesultanan Johor, Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nenek moyang mereka dimakamkan di sana", begitu kata Mukhlis Paeni, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia, kepada penulis. Hanya saja, persoalannya menjadi pelik karena di sekitar daerah tersebut berdiri negara-negara baru, yakni Republik Indonesia dan Kerajaan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah dengan demikian kita tak memiliki basis sejarah? Tidak juga. Apa yang disebut &lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/06/selayang-pandang-kesultanan-johor.html"&gt;Kesultanan Johor&lt;/a&gt; pada kenyataannya kemudian pecah menjadi Kesultanan &lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/kesultanan-riau-lingga.html"&gt;Riau-Lingga.&lt;/a&gt; Di masa lalu, para kolonialis Eropa turut mempertajam konflik yang terjadi di internal Kesultanan Johor. Inggris mendukung anak tertua Raja Johor Sultan Mahmud Syah III, Husain, sementara Belanda mendukung adik tirinya, Abdul Rahman, untuk menjadi sultan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1824, dalam Traktat London, wilayah Kesultanan Johor pun terbelah dua. Johor, yang beribu kota di Singapura, berada di bawah pengaruh Kerajaan Inggris, sedangkan Riau-Lingga, yang menjadi Kesultanan tersendiri, berada di bawah kuasa Kerajaan Belanda. Kesultanan Johor kemudian masuk wilayah Malaysia, dan Riau-Lingga menjadi bagian Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku orang-orang Eropa ini terbukti menyulitkan posisi kawasan-kawasan yang kelak membentuk negara. Satu sama lain menjadi beradu. Dalam interaksinya, yang satu menuduh yang lain pencuri, yang lain menganggap yang satu rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman semacam ini semestinya menyadarkan Indonesia dan Malaysia, bahwa terbentuknya negara-negara di Asia Tenggara merupakan hasil dari pembagian kue kekuasaan antara Inggris dan Belanda di abad ke-19 hingga 20. Landasan pembagiannya semata berdasarkan kepentingan ekonomi dan politik mereka sendiri. Bahkan, praktik bagi-bagi daerah ini dilakukan di London, Inggris, atau Den Haag, Belanda, tanpa izin, bahkan sepengetahuan subjek-subjek jajahan mereka; seolah tidak ada manusia dan peradaban di wilayah-wilayah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pemahaman ini, wajarlah jika kebudayaan kedua negara memiliki sekian kesamaan. Adalah bodoh jika kita sekuat tenaga melakukan klaim atas kebudayaan. Siapa yang senang jika kita ribut atau perang dengan Malaysia? Tentulah Barat! Mereka akan beroleh kesempatan, untuk kedua kalinya mengobrak-abrik kawasan Asia Tenggara. Sayangnya, alih-alih mengklarifikasi persoalan, mencerdaskan rakyatnya, media massa Indonesia justru bertindak sebagai provokator. Padahal, media massa punya posisi strategis untuk meluaskan paradigma dunia orang Indonesia yang selama ini dikenal sempit sekaligus mendekatkannya pada sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pemahaman ini, tentulah kita harus bijak menyikapi negara tetangga itu. Kita sudah diasumsikan oleh mereka sebagai saudara tua. Jika si adik kita nilai salah, tentu bukan dengan melempar kotoran sebagai hukumannya. Yang kita perlukan adalah memberikan contoh tentang pembenahan keterampilan tenaga kerja yang ke luar negeri, meningkatkan kualitas pendidikan, meminimalisasi korupsi, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, menciptakan demokrasi tanpa akal-akalan, atau bahkan membiasakan diri untuk tertib berlalu lintas. Jika ini dibarengi dengan keberpihakan pada negara-negara lemah, sebagaimana yang Bung Karno pernah lakukan pada kawasan Asia-Afrika-Amerika Latin, siapalah tak segan pada si abang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia dan Malaysia punya sejarah yang sama (sama-sama diobrak-abrik Eropa), kebudayaan yang sama, dan warna kulit yang sama. Ini haruslah menjadi modal dalam setiap interaksi kedua negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Oleh &lt;a href="http://www.facebook.com/tengkudhaniiqbal"&gt;TM Dhani Iqbal&lt;/a&gt;, Pemred &lt;a href="http://wisataloka.com/"&gt;Wisataloka.com&lt;/a&gt; - &lt;a href="http://www.mediaindonesia.com/read/2010/08/31/165707/68/11/Indonesia-Malaysia-Hubungan-Pelik-Pascakolonial"&gt;MediaIndonesia.Com&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/kesultanan-johor-riau-lingga.html" title="Kesultanan Johor yang terkadang disebut juga sebagai Johor-Riau atau Johor-Riau-Lingga adalah kerajaan yang didirikan pada tahun 1528 oleh Sultan Alauddin Riayat Syah, putra sultan terakhir Melaka, Mahmud Syah. Sebelumnya daerah Johor-Riau merupakan..."&gt;Kesultanan Johor-Riau-Lingga&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/03/kerajaan-melayu-riau-bagian-dari.html" title="Pengakuan bahwa bahasa Melayu yang menjadi teras bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu Riau, secara implisit berarti juga pengakuan tentang adanya satu pusat kekuasaan yang telah memberi ruang dan kesempatan bahasa dan sastra Melayu itu tumbuh dan..."&gt;Kerajaan Melayu Riau, Bagian dari Sejarah Indonesia Atau Malaysia?&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/03/prof-dr-nik-anuar-ada-kuasa-besar.html" title="Hubungan Indonesia dengan Malaysia  mengalami pasang surut. Suatu kali tampak mesra, kali lain mengalami  ketegangan. Bahkan kedua negara yang sebenarnya serumpun ini pernah  bertempur di medan laga.Beberapa waktu lalu, nyaris saja dua  negara ini..."&gt;Prof. Dr. Nik Anuar: “Ada Kuasa Besar Halangi Terbentuknya Melayu Raya”&lt;/a&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-2162098217231958314?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/2162098217231958314/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/08/indonesia-malaysia-hubungan-pelik.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/2162098217231958314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/2162098217231958314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/08/indonesia-malaysia-hubungan-pelik.html' title='Hubungan Pelik Pascakolonial'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aKkG7DKVX34/S82LLMY8TvI/AAAAAAAADQM/Zz4f6KWXBbg/s72-c/Malaysia-Indonesia+-+Bendera.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-9173551391325080953</id><published>2010-08-29T07:59:00.038+07:00</published><updated>2010-08-31T07:56:36.198+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uncategorized'/><title type='text'>Hasil Sementara Angket Serambi Melayu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/THnaqzSeMUI/AAAAAAAAFNI/FVl2aqzoxxA/s1600/numbers.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 600px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/THnaqzSeMUI/AAAAAAAAFNI/FVl2aqzoxxA/s400/numbers.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510676047921557826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berikut adalah hasil sementara angket (polling) tentang konten situs &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Serambi Melayu&lt;/span&gt; ini sampai dengan jam 8:00 pagi, hari Minggu, tanggal 29 Agustus 2010 berdasarkan urutan suara responden terbanyak:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Asal Usul Dan Sejarah Melayu  &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;28&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;(42%)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Adat Istiadat Melayu  &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;24&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;(36%)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Menemukan Silsilah Keluarga yang Hilang   &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;22&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;(33%)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Penelitian Dan Kajian Tentang Melayu  &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;18&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;(27%)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Profil Tokoh Melayu  &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;15&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;(22%)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Aspek Agama Dan Budaya Melayu  &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;14&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt; (21%)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kuliner Dan Wisata Budaya Melayu  &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;12&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;(18%)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Informasi Tentang Melayu Terkini &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt; 8&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;(12%)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Resensi Buku Dan Literatur Melayu Lainnya  &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt; (10%)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Total responden: 66 dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:100%;" &gt;148&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;suara&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Total site hits: &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;5.506  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Total suara terhadap total hits:  &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;2,68% &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih kepada seluruh pembaca yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan respons pada angket ini sehingga membantu kami untuk belajar lebih memahami apa yang sesungguhnya sangat perlu untuk senantiasa diperhatikan dalam upaya memelihara situs  ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati angket ini belum dapat dikatakan "mewakili" suara seluruh pengunjung, namun dari catatan kecil di atas setidaknya kita sama-sama mendapat gambaran tentang konsentrasi minat baca responden seperti terlihat di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak pernah kami perkirakan sebelumnya adalah bahwa di urutan ketiga, atau 33%  dari total responden ternyata  berharap dapat menemukan petunjuk tentang silsilah keluarga  yang hilang melalui situs ini. Dan sejauh ini rasanya kami tidak dapat berbuat banyak, apalagi tanpa bekal petunjuk dan informasi dari para pencari "susur-galur" keluarga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sana kami menyadari bahwa ini menunjukkan bahwa ada topik-topik lain yang bisa jadi tak kalah penting, namun tidak terwakili oleh 9 pertanyaan di dalam angket. Oleh karena itu, melalui kesempatan ini kami mengharapkan kesediaan para responden agar untuk selanjutnya berkenanlah kiranya meninggalkan sebarang catatan, saran, atau sekedar alasan atas pilihan di dalam angket pada kolom komentar di bawah ini. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tentu akan sangat membantu tidak saja kami, namun juga pengunjung lain yang - siapa tahu, ternyata adalah bagian dari silsilah keluarga yang dicari, misalnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian lami sampaikan dengan harapan semoga mendapat respons yang baik dari pengunjung semua.&lt;br /&gt;Atas perhatian dan kerjasamanya, tidak lupa kami ucapkan terima kasih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Abang Nonki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-9173551391325080953?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/9173551391325080953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/08/hasil-sementara-angket-serambi-melayu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/9173551391325080953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/9173551391325080953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/08/hasil-sementara-angket-serambi-melayu.html' title='Hasil Sementara Angket Serambi Melayu'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/THnaqzSeMUI/AAAAAAAAFNI/FVl2aqzoxxA/s72-c/numbers.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-7849750172598049467</id><published>2010-08-29T07:31:00.006+07:00</published><updated>2010-08-29T07:46:38.109+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pantun'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Pantun Nasehat Agama</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/THmsI-otjsI/AAAAAAAAFMc/Vbzl2zyYt-I/s1600/sirih.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 600px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/THmsI-otjsI/AAAAAAAAFMc/Vbzl2zyYt-I/s400/sirih.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510624889317199554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Salah satu dari jenis pantun agama adalah pantun dakwah dimana berisikan syarak beserta sunah; berisikan amanah; juga berisikan jalan mengenal Allah dan berisikan ilmu untuk memahami akidah. Di dalam pantun agama juga tersirat jalan dunia menuju akhirat, menjauhkan orang dari maksiat, membersihkan hati yang berkarat, meluruskan akal yang tersesat, membaikkan orang yang salah niat, menghapuskan segala dengki dan hasad, mengikis segala perbuatan jahat. Semua ditujukan agar manusia selamat dunia akhirat, serta hidup dan mati beroleh rahmat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kegemaran masyarakat Melayu pada pantun tak perlu diragukan lagi. Sebagai tradisi yang sangat populer, para orang tua yang terdiri dari para ulama, pemangku adat dan cerdik pandai kemudian menggunakan pantun sebagai salah satu media untuk menyampaikan tunjuk ajar dan dakwah, dengan harapan ajaran agama tersebut lebih mudah diterima masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantun agama ini disebut pula pantun dakwah, karena isinya mengandung ajaran dan pedoman bagi masyarakat. Kelebihan sebuah pantun, disamping memang sudah sangat mengakar dalam masyarakat Melayu, juga sangat fleksibel untuk digunakan. Jika ceramah atau khutbah hanya dapat dilakukan pada saat dan momen tertentu, maka pantun dapat digunakan kapan saja dalam kehidupan sehari-hari. Pantun dapat diselipkan dalam percakapan atau perbualan dalam nyanyian ataupun dalam senda gurau. Karena itu, pantun sering disebut juga sebagai pemanis cakap, pelemak kata, penyedap bual, rencah perbualan dan buah bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan para orang tua Melayu, ada ungkapan: kalau bercakap sesama tua, banyaklah pantun pelemak kata; adat orang duduk berbual, banyaklah pantun penyedap bual; kalau yang tua duduk bercakap, banyalah pantun pemanis cakap. Dengan fleksibelnya penggunaan pantun ini, maka ajaran agama yang diselipkan di dalamnya juga bisa disampaikan kapan saja, tanpa menunggu momen tertentu. Dengan itu, penyampaian ajaran moral agama tetap berlangsung kapan dan di mana saja, tanpa terikat oleh waktu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pantun agama disebut juga pantun dakwah karena:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;Berisikan syarak beserta sunnah&lt;br /&gt;Berisikan petuah dengan amanah&lt;br /&gt;Berisikan jalan mengenal Allah&lt;br /&gt;Berisikan ilmu memahami aqidah&lt;br /&gt;Di situ disingkap benar dan salahnya&lt;br /&gt;Di situ dicurai halal dan haramnya&lt;br /&gt;Di situ dibentang manfaat mudaratnya&lt;br /&gt;Di situ didedahkan baik buruknya&lt;br /&gt;Di situ ilmu sama disimbah&lt;br /&gt;Di situ tempat mencari tuah&lt;br /&gt;Di situ tempat menegakkan marwah&lt;br /&gt;Menyebarkan Islam dengan akidahnya&lt;br /&gt;Supaya hidup ada kiblatnya&lt;br /&gt;Apabila mati ada ibadatnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kandungan dan  fungsi pantun gama dalam kehidupa sehari. Berikut ini beberapa contoh dari pantun agama tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kemumu di dalam semak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jatuh melayang selaranya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Meski ilmu setinggi tegak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tidak sembahyang apa gunanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Asam kandis asam gelugur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga asam riang-riang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menangis di pintu kubur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Teringat badan tidak sembahyang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kemumu di tengah pekan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dihembus angin jatuh ke bawah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ilmu yang tidak diamalkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagai pohon tidak berbuah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ambil galah kupaskan jantung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Orang Arab bergoreng kicap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kepada Allah tempat bergantung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kepada Nabi tempat mengucap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Asam rumbia dibelah-belah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Buah separuh di dalam raga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dunia ikut firman Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akhirat dapat masuk surga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Belah buluh bersegi-segi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Buat mari serampang ikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kuasa Allah berbagi-bagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lebih laut dan juga daratan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Buah ini buah berangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Masak dibungkus sapu tangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dunia ini pinjam-pinjaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akhirat kelak kampung halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Delima batu dipenggal-penggal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bawa galah ke tanah merah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lima waktu kalau ditinggal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ibu bapak pasti marah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Banyaklah hari antara hari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tidak semulia hari Jumat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Banyaklah nabi antara nabi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tidak semulia Nabi Muhammad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Orang Bayang pergi mengaji&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ke Cubadak jalan ke Panti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Meninggalkan sembahyang jadi berani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seperti badan tak akan mati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pangkal dibelit di pohon jarak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jarak nan tumbuh tepi serambi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jangan dibuat yang dilarang syarak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Itulah perbuatan yang dibenci Nabi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jarak nan tumbuh tepi serambi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pohon kerekot bunganya sama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Itulah perbuatan yang dibenci Nabi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Petuah diikut segala ulama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pohon kerekot bunganya sama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Buahnya boleh dibuat colok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Petuah diikut semua ulama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jangan dibawa berolok-olok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rusa banyak dalam rimba&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kera pun banyak tengah berhimpun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dosa banyak dalam dunia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Segeralah kita minta ampun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kera banyak tengah berhimpun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sandarkan galah pada pohon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Segeralah kita meminta ampun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kepada Allah tempat bermohon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tuman dipegang jatuh ke laut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Disambar yu jerung tenggiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Imanpun tetap sehingga maut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di situ baru tahukan diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Disambar yu jerung tenggiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sutan Amat mandi bersimbur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di situlah baru tahukan diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Malaikat memalu dalam kubur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kait-kait di padang temu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terap ditimbun di ujung galah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Baik-baik berpegang pada ilmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Harapkan ampun pada Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Temu itu banyak warnanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ada yang putih ada yang biru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ilmu itu banyak gunanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tiada boleh orang menggaru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pecah cawan di atas peti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cawan minum Sutan Amat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tuhan Allah yang mahasuci&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jangan dilupakan setiap saat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;[Dari &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/profile/02560830229514837271"&gt;Fahmi Riadl, S.Pd&lt;/a&gt;  - Blog &lt;a href="http://menulis-kata.blogspot.com/"&gt;MENULIS ADALAH BERJUANG&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 style="font-weight: normal;"&gt;&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-7849750172598049467?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/7849750172598049467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/08/pantun-nasehat-agama.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/7849750172598049467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/7849750172598049467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/08/pantun-nasehat-agama.html' title='Pantun Nasehat Agama'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/THmsI-otjsI/AAAAAAAAFMc/Vbzl2zyYt-I/s72-c/sirih.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-7593301355992488377</id><published>2010-08-14T21:35:00.016+07:00</published><updated>2010-08-15T01:24:25.652+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Salahsatu Rahasia Berpuasa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://karmafreecooking.files.wordpress.com/2009/04/fasting.jpg?w=453&amp;amp;h=335"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 610px; height: 400px;" src="http://karmafreecooking.files.wordpress.com/2009/04/fasting.jpg?w=453&amp;amp;h=335" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu &lt;/span&gt;&lt;strong style="font-style: italic;"&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;(QS. Al-Baqarah[2]: 183).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari- hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan  maka itulah yang lebih baik baginya. &lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.&lt;/span&gt;" &lt;/span&gt;(QS. Al-Baqarah[2]: 184).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dua ayat di atas menggambarkan tentang kewajiban puasa dan manfaatnya. Selain dimaksudkan agar menjadikan manusia yang berpuasa meningkatkan taqwa, juga memberikan manfaat di luar itu, yakni meningkatkan kesehatan. Setidaknya kita juga mendapati hadits yang menyatakan ’shûmû tashihhû’ - atau "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat!&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya puasa, setelah melalui berbagai penelitian ilmiah terhadap organ tubuh manusia dan aktivitas fisiologisnya, diyakini sebagai hal yang sangat baik untuk dilakukan oleh manusia sehingga tubuhnya dapat melanjutkan aktivitas kehidupan secara baik. Dan puasa benar-benar sangat penting dan dibutuhkan bagi kesehatan manusia sebagaimana manusia membutuhkan makan, bernafas, bergerak, tidur, dlsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika manusia tidak dapat tidur misalnya, bila terjadi dalam rentang waktu yang lama maka ia akan jatuh sakit.  Demikian pula tubuh manusia.  Ia akan mengalami hal yang buruk jika tidak berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasaa'i dari shahabat Abu Umamah dikatakan: "Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku satu amalan yang Allah akan memberikan manfaat-Nya kepadaku dengan sebab amalan itu". Maka Rasulullah bersabda, &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;"Berpuasalah, sebab tidak ada satu amalan pun yang setara dengan puasa". &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan pentingnya puasa bagi tubuh kita adalah karena puasa dapat membantu tubuh membuang sel-sel yang rusak, sekaligus juga sel-sel atau hormon, atau zat-zat lain yang melebihi jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. Dan puasa, sebagaimana dituntunkan oleh Islam dilakukan selama lebih kurang 14  jam, setelah mana baru kemudian makan untuk durasi waktu yang hanya beberapa jam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah metode yang baik untuk sistem pembuangan sel-sel atau hormon yang rusak dan membangun kembali kesehatan tubuh dengan dukungan sel-sel baru.  Ini sangat berbeda dengan apa yang difahami kebanyakan orang, bahwa puasa menyebabkan  tubuh menjadi lemah dan lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa yang baik bagi tubuh itu adalah dengan syarat dilakukan selama satu bulan penuh dalam setahun, dan bisa ditambahkan 3 hari setiap bulan. hal ini sesuai dengan anjuran Rasulullah  SAW dalam sebuah haditsnya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Barangsiapa yang berpuasa tiga hari setiap bulan, maka itu sama dengan puasa dahr (puasa sepanjang tahun)."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pesan Rasuullah SAW ini dianalisis dengan menggunakan matematika Al-Qurkan, kita akan menemukan relefansinya dengan firman Allah SWT yakni: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Barangsiapa yang beramal dengan satu perbuatan baik, maka Allah memberikan kepadanya 10 kali lipat dari amalan itu."&lt;/span&gt; (QS. Al-An’âm[165]: 160).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti, 1 hari puasa kita dihargai oleh Allah SWT sebanyak 10 hari. Maka 3 hari  amalan ini dihargai 30 hari. Dan bila kita berpuasa 3 hari pada tiap-tiap bulan, maka nilainya  akan sama dengan 36 hari, atau setara dengan 360 hari, atau sama dengan 1 tahun penuh dalam penghargaan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, berpuasa dengan niat dan tujuan untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan yang bersifat kosmis, pada hakekatnya juga merupakan peningkatan kualitas kesehatan fisik  kita. Manfaat puasa  satu bulan penuh itu ternyata bagaikan dua mata koin yang sangat bernilai bagi kehidupan kita tidak saja di dunia, akan tetapi juga di akhirat!&lt;br /&gt;Wallahualam Bissawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-7593301355992488377?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/7593301355992488377/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/08/salahsatu-rahasia-berpuasa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/7593301355992488377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/7593301355992488377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/08/salahsatu-rahasia-berpuasa.html' title='Salahsatu Rahasia Berpuasa'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-3608307088650563512</id><published>2010-08-06T21:44:00.012+07:00</published><updated>2010-09-08T16:06:18.803+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>MAUMU APA, MALAYSIA?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://img.antaranews.com/stockphotos/peristiwa/20100708105535-bedah-buku.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 0px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 195px; height: 141px;" src="http://img.antaranews.com/stockphotos/peristiwa/20100708105535-bedah-buku.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: MAUMU APA, MALAYSIA?&lt;br /&gt;(Konflik Indo-Malay dari kacamata seorang WNI di Malaysia)&lt;br /&gt;Penulis: Genuk Ch. Lazuardi&lt;br /&gt;Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, November 2009&lt;br /&gt;Tebal : xxii + 200 halaman&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tahukan anda pada tahun 2008 terdapat 35.000 warga Aceh yang menerima kartu tsunami 2005 dari pemerintah Malaysia? Dengan&lt;span class="text_exposed_show"&gt; memegang kartu itu mereka diperbolehkan mengungsi dan tinggal di Malaysia. Para pengungsi ini seharusnya sudah meninggalkan Malaysia pada 2007 (Karena izin tinggalnya hanya berlaku selama 2 tahun). Tapi ternyata mereka betah di Malaysia. Berkat lobi mereka dan dukungan dari mantan warga Aceh yang menjadi pejabat di Malaysia akhirnya izin tinggal diperpanjang hingga 2008. Namun sampai 2009 pun masih ada 24.000 warga Aceh pemegang kartu pengungsi yang diperpajang lagi izin tinggalnya di negeri Jiran ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Malaysia mereka dibebaskan untuk bekerja mulai dari kerja kantoran sampai pedagang kaki lima. Itulah salah satu data dan fakta yang diungkapkan buku ini. Data dan fakta semacam ini jarang sekali diberitakan oleh media-media di Indonesia. Pemberitaan seputar perilaku Malaysia terhadap Indonesia lebih banyak yang bersifat buruk saja seperti penyiksaan TKI, pemukulan wasit karate, isu klaim budaya, pelanggaran batas wilayah, gembong teroris sampai drama penculikan model Indonesia oleh Pangeran Kelantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat pemberitaan-pemberitaan buruk tersebut maka timbul pertanyaan-pertanyaan sinis dari orang Indonesia terhadap negeri jiran. "Apa sih maunya Malaysia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genuk Ch. Lazuardi seorang mantan wartawati yang ikut suaminya yang bertugas di Malaysia mencoba menjawab pertanyaan sinis warga Indonesia nun jauh di sana. Dari jarak dekat ia menilai sendiri seperti apa sebenarnya Malaysia dan bagaimana mereka mempelakukan orang Indonesia. Ternyata citra Malaysia tidak seburuk yang ditampilkan oleh media-media di Indonesia. Data dan fakta lain yang diungkapkan di buku ini adalah bahwa sesungguhnya begitu banyak keturunan Indonesia di Malaysia, terutama dari suku Jawa, Sunda, Minang, Aceh dan Bugis. Hal inilah yang menyebabkan Malaysia juga merasa memiliki budaya-budaya yang berasal dari Indonesia. Makanan-makanan Indonesia pun sudah sangat familiar di lidah orang Malaysia karena sebelum kedua negara terbentuk sampai sekarang, perantau asal Indonesia sudah menjadi bagian dari kehidupan warga Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab lain memaparkan tentang kisah-kisah pekerja asal Indonesia yang ternyata tidak hanya TKI yang memang mendapat predikat 3D (Dirty, Difficult &amp;amp; Dangerous). Terdapat juga kaum ekspat Indonesia yang menempati posisi penting di perusahaan-perusahaan minyak, komputer atau bekerja sebagai dosen. Citra kaum ekspat ini jauh lebih baik ketimbang citra TKI, namun karena mereka tidak memiliki "bad news" untuk dijual maka media jarang mengeksposnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini bukanlah solusi singkat bagi perbaikan hubungan Indonesia-Malaysia. Buku ini hanyalah langkah awal atau pembuka cakrawala bagi orang Indonesia yang selama ini hanya mengenal Malaysia lewat pemberitaan media-media Indonesia. Maka tugas kita selanjutnya adalah menyebarkan ide-ide baik yang ada di buku ini. Kita memang harus lebih mengenal tetangga kita sendiri apabila kita ingin rasa sayang antar kedua negeri bisa tumbuh karena seperti kata pepatah "tak kenal maka tak sayang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Damai, SaM-SaI (Sayang Malaysia, Sayang Indonesia)&lt;br /&gt;Dari &lt;a href="http://www.facebook.com/tengkudhaniiqbal"&gt;Tengku Dhani Iqba&lt;/a&gt;l, Sumber: Group Facebook: &lt;a href="http://www.facebook.com/pages/SAYANG-MALAYSIA-SAYANG-INDONESIA/109701442389615?ref=ts"&gt;Sayang Malaysia, Sayang Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/05/selayang-pandang-masyarakat-melayu.html"&gt;Masyarakat Melayu Malaysia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/09/malaysia-indonesia-siapa-yang.html"&gt;Malaysia-Indonesia, Siapa Yang Diuntungkan?&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/08/indonesia-malaysia-hubungan-pelik.html"&gt;Hubungan Pelik Pasca Kolonial&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/kesultanan-johor-riau-lingga.html" title="Kesultanan Johor yang terkadang disebut juga sebagai Johor-Riau atau Johor-Riau-Lingga adalah kerajaan yang didirikan pada tahun 1528 oleh Sultan Alauddin Riayat Syah, putra sultan terakhir Melaka, Mahmud Syah. Sebelumnya daerah Johor-Riau merupakan..."&gt;Kesultanan Johor-Riau-Lingga&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/03/kerajaan-melayu-riau-bagian-dari.html" title="Pengakuan bahwa bahasa Melayu yang menjadi teras bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu Riau, secara implisit berarti juga pengakuan tentang adanya satu pusat kekuasaan yang telah memberi ruang dan kesempatan bahasa dan sastra Melayu itu tumbuh dan..."&gt;Kerajaan Melayu Riau, Bagian dari Sejarah Indonesia Atau Malaysia?&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/03/prof-dr-nik-anuar-ada-kuasa-besar.html" title="Hubungan Indonesia dengan Malaysia  mengalami pasang surut. Suatu kali tampak mesra, kali lain mengalami  ketegangan. Bahkan kedua negara yang sebenarnya serumpun ini pernah  bertempur di medan laga.Beberapa waktu lalu, nyaris saja dua  negara ini..."&gt;Prof. Dr. Nik Anuar: “Ada Kuasa Besar Halangi Terbentuknya Melayu Raya”&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;resensi buku ini versi &lt;a href="http://resensibuku.com/?p=534"&gt;resensibuku.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-3608307088650563512?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/3608307088650563512/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/08/maumu-apa-malaysia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/3608307088650563512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/3608307088650563512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/08/maumu-apa-malaysia.html' title='MAUMU APA, MALAYSIA?'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-8729658470699063108</id><published>2010-08-03T01:04:00.008+07:00</published><updated>2011-05-30T23:05:11.232+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Mengangkat Batang Terendam.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://stat.kompasiana.com/files/2009/11/penguasa-istana-maimun.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 600px; height: 400px;" src="http://stat.kompasiana.com/files/2009/11/penguasa-istana-maimun.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sejak duduk di bangku SLTP samapai sekarang saya selalu bertanya, siapakah yang dimaksud suku melayu dan bagaimana rupanya. Pertanyaan ini selalu menggelitik karena di sekolah diajarkan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi bangsa dan negara berasal dari bahasa Melayu. Lho, kenapa bukan bahasa Jawa atau Sunda sebagai bahasa Indonesia? Padahal sejak jaman dulu mereka tergolong mayoritas dari segi jumlah penduduk, termasuk pada tahun 1928 sampai tahun kemerdekaan 1945, umumnya kaum terdidik berasal dari pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut pakar sejarah, mayoritas etnis Melayu di Indonesia berada di Sumatera Utara, hal ini ditandai sendiri kalau Gubernur Sumut Syamsul Arifin adalah orang Melayu yang memenangkan Pilkada pada tahun 2008 dan adanya peninggalan Istana Maimun di pusat Kota Medan sebagai artefak sejarah peninggalan kebesaran Etnis Melayu Deli yang berdiri sejak abad ke-18 Masehi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div id="attachment_20834" class="wp-caption aligncenter"  style="width: 510px; text-align: justify; font-weight: bold;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Istana Maimun&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saat ini, terutama di tingkat forum nasional orang melayu atau budaya melayu seperti batang yang terendam, terendam oleh hegemoni budaya-budaya dari suku lain yang ada di Indonesia. Namun ada tiga hal fenomenal yang membuat melayu tidak bisa dilupakan, yaitu bahasa Indonesia yang diadopsi dari bahasa melayu di mana 250 juta manusia Indonesia menggunakannya sebagai bahasa sehari-hari, munculnya Negara Malaysia sebagai negara maju dan modern di mana mayoritas penduduknya adalah etnis Melayu, dan ketiga; Melayu identik dengan Islam. Etnis Melayu saat ini memang berada di tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Tapi Malaysia sangat bangga akan budaya Melayu-nya bahkan memberikan hak-hak istimewa pada masyarakat etnis tersebut, etnis Melayu di Malaysia disebut Bumiputera.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut Wikipedia Indonesia, Pemerintah Malaysia mendefinisikan melayu sebagai penduduk pribumi yang bertutur dalam bahasa melayu beragama Islam dan yang menjalani tradisi dan adat-istiadat Melayu. Di negeri Siti Nurhaliza ini, penduduk pribumi dari keturunan Minang, Jawa, Aceh, Bugis, Mandailing (Batak), dan lain-lain, yang bertutur dalam bahasa Melayu, beragama Islam dan mengikuti adat istiadat Melayu, semuanya dianggap sebagai orang Melayu. Bahkan orang bukan pribumi yang menikah dengan orang Melayu dan memeluk agama Islam juga diterima sebagai orang Melayu. Mereka dikatakan telah “masuk Melayu”. Yang menarik, bila ditelusuri etnis Melayu di Malaysia sebetulnya sekitar 70 persen berasal dari berbagai suku di Indonesia, yakni Minang, Aceh, Jawa, Padang, Riau, dan Bugis.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://stat.kompasiana.com/files/2009/11/istana-maimun-penghuni-medan-874129_500_301.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 600px; height: 350px;" src="http://stat.kompasiana.com/files/2009/11/istana-maimun-penghuni-medan-874129_500_301.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Wakil Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Mohammad Najib, misalnya, keturunan Bugis. Ayahnya almarhum Tun Abdul Razak, Perdana Menteri Malaysia kedua adalah cucu Raja Gowa ke-15. Istri Najib pun, yakni Datin Sri Rosmah Mansoor, masih keturunan Minang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Malaysia adalah negara yang multi etnis. Secara garis besar penduduk Malaysia bisa dibagi ke dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah Bumi Putera yang terdiri atas etnis Melayu, kelompok kecil Melayu dan Orang Asli. Etnis Melayu merupakan mayoritas dan identik dengan Islam dan tinggal di Semenanjung Malaysia. Etnis Cina ada sebanyak 26 %, India 7,7 % dan sisanya 1 % terdiri dari Arab, Sinhalese, Eurasians serta Eropa. Etnis non-Bumi Putera ini tersebar di seluruh Malaysia dan yang paling menonjol adalah etnik Cina dan India.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sejak awal kemerdekaan Malaysia, secara ekonomi tampak ada ketimpangan yang cukup besar. Hingga tahun 1970, sebanyak 49 persen masyarakat Melayu masih hidup miskin. Roda perekonomian saat itu hanya 2,4 persen dipegang kelompok Bumi Putera (Melayu dan Dayak), masyarakat China dan India mengendalikan 33 persen, serta asing 60 persen. Jumlah penduduk Malaysia saat itu 10,81 juta jiwa. Melihat ketimpangan itu, Pemerintah Malaysia membuat kebijakan ekonomi baru (Dasar Ekonomi Baru/DBE) pada tahun 1970. Tujuannya, menaikkan taraf hidup masyarakat Bumi Putera agar setara dengan komunitas China dan India.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mula-mula didirikan berbagai perguruan tinggi. Warga Bumi Putera diberi peluang seluas-luasnya untuk kuliah. Para sarjana dari komunitas itu yang punya prestasi baik dikirim melanjutkan studi doktoral di Inggris, Australia, dan Negara lainnya. Setelah lulus, mereka kembali mengabdi di Malaysia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selain itu, bank-bank pemerintah diwajibkan memberi kredit lunak dengan suku bunga rendah kepada masyarakat Bumi Putera untuk usaha bidang pertanian, kerajinan, dan lainnya. Masyarakat juga didorong melakukan kegiatan ekonomi produktif lain untuk peningkatan pendapatan dan taraf hidup. Jika terjadi kredit macet, para debitor (terutama Bumi Putera) tak dikenai sanksi, tetapi cenderung diputihkan. Malah, yang bersangkutan dikucuri lagi kredit guna menggiatkan usahanya. Petugas perbankan juga aktif mendatangi pedagang kecil dan petani menawarkan kredit lunak. “Pokoknya, demi kesejahteraan kalangan Bumi Putera, apa pun dilakukan Pemerintah Malaysia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kesalahan mereka sebelumnya dengan mudah dimaafkan, langkah berani yang dilakukan Pemerintah Malaysia, boleh dibilang sukses. Terbukti, saat ini hampir semua posisi pemerintahan, dosen pada berbagai perguruan tinggi ternama, dan badan usaha milik negara (BUMN) di Malaysia dikendalikan kaum Bumi Putera.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jumlah warga miskin di kalangan Bumi Putera juga berkurang menjadi 17 persen dari target semula 16 persen. Kini, kalangan Bumi Putera mengendalikan 30 persen roda perekonomian. Sedangkan masyarakat India dan China sekitar 40 persen dan sisanya 30 persen dikuasai asing.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lain di Malaysia, lain pula di Indonesia. Suku Melayu di Indonesia paling banyak bermukim di pulau Sumatera dan sebagian pulau Kalimantan. Tapi perhatian terhadap masyarakat Melayu sebagai salah satu rumpun bangsa yang besar di Sumatera Utara masih relatif sedikit. Padahal pada abad ke-19 suku bangsa Melayu pernah memegang kekuatan yang sangat strategis di kawasan perairan Malaka. Mereka mencapai puncak kejayaan pada masa tersebut karena menguasai perdagangan, pelayaran, dan pertanian. Namun, kejayaan itu seolah tanpa bekas karena sekarang sangat minim orang Melayu yang menonjol dalam kehidupan sehari-hari.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Memang kemajuan etnis Melayu di Malaysia tidak terlepas dari kebijakan pemerintahnya yang pro pada mereka. Namun kebijakan yang memanjakan kaum Bumi Putera tidak menguntungkan untuk jangka panjang, terutama dalam membentuk etos kerja kaum Bumi Putera. Sebagai contoh, di luar lembaga dan perusahaan milik pemerintah Malaysia, kalangan Bumi Putera nyaris tak berkembang optimal. Untuk profesi dokter dan pengacara masih didominasi masyarakat India. Oleh karena itu untuk memajukan Melayu di Indonesia bukan berarti serta merta memindahkan apa-apa yang ada di Semenanjung Malaysia. Sebab bagi Melayu Indonesia yang terpenting adalah memanfaatkan potensi yang ada secara optimal. Inilah cara melayu Indonesia, bukan cara Malaka, Selangor ataupun Johor yang ada di negeri jiran.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ada yang bilang puak, rumpun, suku, bahkan orang ”Melayu”. Ucapan ini membuktikan betapa sohornya ”Melayu” di belahan bumi ini. Secara umum dari pendapat para tokoh-tokoh adat, Melayu bukanlah suku, melainkan ”puak.” Dengan ucapan puak, berarti cakupan Melayu semakin mengembrio. Pasalnya, baik dari suku manapun, sepanjang beragama Islam, dan bertutur dalam bahasa Melayu, bisa dikakatan sebagai ”puak Melayu.” Ini menambah aura melayu ”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sahabat semua suku&lt;/span&gt;”.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Biduk dikayuh kiambang berlalu. Jangan berpangku dagu, hadapi gelombang di depan sebagai bukti perjuangan menuju Melayu bersatu dengan kekuatan mengangkat batang terendam. ”Tak Melayu Lapuk Ditelan Zaman”.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Wallahualam.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;[&lt;a href="http://ichwankalimasada.wordpress.com/tentang-saya/"&gt;Ikhwan Kalimasada&lt;/a&gt;]&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-8729658470699063108?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/8729658470699063108/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/08/mengangkat-batang-terendam-tak-melayu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/8729658470699063108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/8729658470699063108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/08/mengangkat-batang-terendam-tak-melayu.html' title='Mengangkat Batang Terendam.'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-3772320331442182735</id><published>2010-07-25T17:27:00.002+07:00</published><updated>2010-07-25T17:33:29.096+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makassar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnal'/><title type='text'>Arus Balik Sejarah Melayu - Bugis Makassar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://harismibrahim.files.wordpress.com/2010/01/sulawesi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 600px; height: 400px;" src="http://harismibrahim.files.wordpress.com/2010/01/sulawesi.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sesungguhnya, kehadiran bangsawan Bugis-Makassar di Tanah Melayu tak ubahnya seperti fenomena arus balik sejarah. Jauh sebelum mereka masuk ke jantung kekuasaan Melayu, orang-orang Melayu-lah yang lebih dahulu berperan dalam dinamika lokal di negeri Bugis-Makassar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Menyusul kejatuhan Melaka ke tangan Portugis (1511), tidak sedikit kerabat istana yang pergi ke berbagai penjuru angin. Beberapa kelompok berkelana hingga ke Sulawesi. Di wilayah Kerajaan Gowa ini mereka bermukim di Salojo, daerah pesisir Makassar di perkampungan Sanrobone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelusuran Mukhlis PaEni, sejarawan-antropolog sosial dari Universitas Hasanuddin, memperlihatkan bahwa sampai 1615 roda perekonomian—khususnya perdagangan antarpulau melalui pelabuhan Makassar—dikuasai oleh orang Melayu. Baru pada 1621 orang-orang Bugis-Makassar ikut ambil bagian penting dalam dunia perdagangan dan pelayaran di Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sejak kedatangan orang-orang Melayu di Kerajaan Gowa, peranan mereka tidak hanya dalam perdagangan dan penyebaran agama, tapi juga dalam kegiatan sosial-budaya, bahkan di birokrasi. Dalam struktur kekuasaan Kerajaan Gowa, banyak orang Melayu yang memegang peran penting di istana,” kata Mukhlis, yang juga adalah Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman Raja Gowa X (1546-1565), misalnya, seorang keturunan Melayu-Makassar berdarah campuran Bajau yang amat terkemuka bernama I Mangambari Kare Mangaweang diangkat sebagai Syahbandar Kerajaan Gowa ke-2. Sejak saat itu, kata Mukhlis, secara turun-temurun jabatan syahbandar dipegang oleh orang Melayu, sampai dengan Syahbandar Incek Husa ketika Kerajaan Gowa kalah dalam perang melawan VOC tahun 1669.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabatan penting lainnya ialah juru tulis istana, yakni ketika Incek Amin menduduki jabatan itu pada zaman Sultan Hasanuddin (1653-1669). Juri tulis di istana ini sangat terkenal melalui syairnya yang amat indah, Shair Perang Mangkasar, mengisahkan saat-saat terakhir Kerajaan Gowa tahun 1669.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mukhlis, sumbangan utama orang-orang Melayu di wilayah timur Nusantara tidak terbatas di bidang perdagangan dan penyebaran agama Islam, tetapi juga di bidang pendidikan dan kebudayaan. Pada masa itulah naskah-naskah keagamaan dan sastra berbahasa Melayu diterjemahkan ke bahasa Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi intelektual ini berlanjut hingga abad ke-19. Salah satunya, penulisan ulang I La Galigo—karya sastra Bugis yang disebut-sebut sebagai karya sastra terbesar dari khazanah kesusastraan Indonesia—tahun 1860 oleh bangsawan Bugis dari Tanate bernama Collipujie Arung Pancana Toa Datu Tanate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Namun, siapa sebenarnya tokoh yang disebut bangsawan Bugis ini? Ia adalah Ratna Kencana. Ibunya bernama Siti Jauhar Manikan, putri Incek Ali Abdullah Datu Pabean, Syahbandar Makassar abad XIX, yang tak lain keturunan Melayu-Johor berdarah Bugis-Makassar,” tutur Mukhlis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses akulturasi budaya dan perkawinan antara orang Melayu dan orang-orang Bugis-Makassar, lahirnya ”generasi baru” Bugis-Makassar keturunan Melayu. Mereka ini secara umum dikenal sebagai masyarakat golongan tubaji (Makassar) atau tudeceng (Bugis). Dalam struktur sosial kemasyarakatan mereka ini menempati posisi terhormat, bahkan tak sedikit yang masuk ke struktur golongan bangsawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Benteng Somba Opu jatuh dan Sultan Hasanuddin harus tunduk pada isi Perjanjian Bongaya, kelompok masyarakat ”Melayu-Bugis-Makassar” inilah sebagai motor penggerak migrasi di kalangan bangsawan Kerajaan Gowa. Namun, terlepas dari adanya semacam ”arus balik” tersebut, perkawinan campuran Melayu-Bugis-Makassar ini telah melahirkan apa yang disebut Mukhlis PaEni sebagai masyarakat baru Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dalam diri para tubaji/tudeceng mengalir darah intelektual Melayu, bercampur heroisme Bugis-Makassar, dan kearifan Bajau. Sejarah mencatat, kehadiran masyarakat baru Nusantara ini berperan penting dalam sejarah Nusantara abad XVIII-XIX. Peran ini masih berlanjut hingga kini,” kata Mukhlis PaEni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diaspora Bugis-Makassar adalah sebuah keniscayaan, bagian dari sejarah bangsa ini menemukan keindonesiaannya. Dan memang, harus diakui, mereka adalah produk pluralistik yang lahir dari dinamika sejarah masyarakat Nusantara. (ken)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas |16 Jnuari 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-3772320331442182735?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/3772320331442182735/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/arus-balik-sejarah-melayu-bugis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/3772320331442182735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/3772320331442182735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/arus-balik-sejarah-melayu-bugis.html' title='Arus Balik Sejarah Melayu - Bugis Makassar'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-4033326508680888500</id><published>2010-07-25T03:07:00.008+07:00</published><updated>2010-07-25T16:50:14.089+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kajian'/><title type='text'>Cabaran Pendidikan Melayu Global</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_EBAQ2AqW4TQ/SIKlr74ENKI/AAAAAAAAAT0/BAVQPYDY_0k/s400/P1000093.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 600px; height: 400px;" src="http://bp3.blogger.com/_EBAQ2AqW4TQ/SIKlr74ENKI/AAAAAAAAAT0/BAVQPYDY_0k/s400/P1000093.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pendidikan adalah kepentingan awam. Peranan sistem pendidikan sangat penting dalam pembangunan setiap negara. Pendidikan yang berkualiti dan cemerlang merupakan wahana uasaha membangunkan generasi Melayu sejagat. Sistem pendidikan negara memerlukan usaha-usaha yang strategik yang boleh meningkatkan keupayaan dan kemampuan amalannya ke tahap kauliti yang tingggi dan cemerlang agar dapat menangani cabaran-cabaran abad ke-21. Sistem pendidikan akan berubah sejajar dengan peubahan aspek ekonomi, budaya dan politik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Perubahan aspek tersebut amat hebat dan pantas. Leka dan alpa boleh menyebabkan kita terpinggir dan tersingkir. Dengan itu Intellectual capital akan menjadi asas kukuh daripada kekayaan yang berupa tanah, wang atau bahan mentah. Persaingan melebihi batas kawasan kepada persekitaran sejagat dan terlalu sengit. Prinsip dan nilai sejagat akan menentukan kejayaan sesuatu institusi, organsisasi atau negara. Oleh itu sistem pendidikan dan persekolahan dalam menghadapi gelombang perubahan Melayu sejagat perlu berfungsi pada landasannya untuk menyumbang kepada pembangunan bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Melayu perlu melengkapkan diri dari segala sudut, dari ilmu pengetahuan yang berasaskan teknologi tinggi sehingga memupuk semangat Alam Melayu Raya yang unggul di dalam jiwa masing-masing. Jika orang Melayu tidak bersedia menghadapi perubahan dunia, bangsa Melayu  pasti tidak akan mampu bersaing dengan negara-negara maju lain. Disini saya turunkan ucapan dua pemimpin Melayu Malaysia. Meraka mahukan pembangunan pendidikan supaya memainkan peranan dalam pembangunan insan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         &lt;blockquote&gt;"Daripada pengalaman yang menakjubkan selama dua dasawarsa yang lalu di kalangan semua negara yang dulunya terbatas 'sumber alamnya', maka amatlah jelas bahawa sumber yang paling utama bagi sesebuah negara adalah bakat, kemahiran, daya cipta dan daya usaha rakyatnya. Tenaga otak kita adalah sumber yang jauh lebih berharga daripada sumber alam. Rakyat adalah sumber kita yang paling utama. Tanpa ragu-ragu lagi, pada tahun 1990-an dan seterusnya Malaysia mestilah memberi perhatian yang sepenuhnya terhadap pembangunan sumber yang amat penting ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                               Tun Dr. Mahathir bin Mohamad, 28hb. Februari, 1991&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Adalah menjadi misi kerajaan untuk menghasilkan sistem pendidikan yang bertaraf dunia dari segi kualiti ataupun dengan izin, a world class quality education system. Bagi memperkembangkan potensi individu sepenuhnya dan mencapai aspirasi Negara Malaysia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                               Ucapan Dato’ Sri Mohd Najib Tun Razak di Dewan Rakyat pada 18 Disember 1995&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penakrifan Melayu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Istilah "Melayu" ditakrifkan oleh UNESCO pada tahun 1972  seperti dalam projek kajiannya yang bertajuk “The Malay Culture Studiy Project”. UNESCO telah menakrifkan Melayu adalah satu suku bangsa yang mendiami di beberapa negara seperti Malaysia, Thailand, Indonesia, Filipina, dan Madagaskar. Walaupun begitu masih terdapat bangsa Melayu dari suku Jawa di negara Surinam dan bangsa Melayu asal suku bugis di Afrika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu masih terdapat beberapa perbezaan penakrifan di beberapa negara yang didiami bangsa Melayu. Di Malaysia, menurut Perlembagaan Malaysia, istilah "Melayu" hanya merujuk kepada seseorang yang berketurunan Melayu yang menganut agama Islam. Dengan kata yang lain, bukan semua orang yang berketurunan daripada nenek moyang Melayu adalah orang Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, Melayu adalah salah satu suku yang mendiami di Pulau Sumatra dan sebagainya. Bagi Thailand, Melayu adalah salah satu suku yang bertutur dalam bahasa Melayu dan mengamal kebudayaan Melayu. Sebaliknya jika orang Melayu itu telah diassimilasi dengan menggunakan bahasa Thai secara total, mereka disebut Thai Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah "Melayu" untuk merujuk kepada nama bangsa atau bahasa adalah suatu perkembangan yang agak baru dari segi sejarah, iaitu setelah adanya Kesultanan Melayu Melaka. Walaupun demikian, tidaklah sehingga abad ke-17 bahawa istilah "Melayu" yang merujuk kepada bangsa semakin digunakan secara meluas. Sebelum itu, istilah "Melayu" hanya merujuk kepada keturunan sebuah negeri di Sumatera sahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cabaran Bangsa Melayu di dalam bidang pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembinaan negara bangsa bagi sebuah negara adalah amat penting terutama dalam era globalisasi yang membenarkan pengaliran secara bebas dan pantas bukan sahaja maklumat, modal serta manusia tetapi juga sistem nilai, budaya dan kepercayaan dari pelbagai negara. Keupayaan membina negara bangsa bergantung kepada perkongsian nilai serta semangat patriotisme, lingua franca, integrasi, kewarganegaraan dan demokrasi.Cabaran globalisasi dan liberalisasi menuntut perubahan dinamik dalam system pendidikan bagi melahirkan warganegara “lokal” yang bertindak bijak menghadapi cabaran globalisasi dan liberalisasi mengikut acuan local atau tempatan. Fokus utama dalam membina negara bangsa mencakupi usaha-usaha seperti memperkasakan bahasa kebangsaan sebagai asas perpaduan, integrasi nasional dan bahasa ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menerima arus globalisasi di bidang pendidikan Melayu. Kita perlu menjalankan 2 proses iaitu pertama, Pembinaan Budaya Ilmu di kalangan pendidik Melayu sejagat dan kedua, Pembudayaan Masyarakat Melayu Sejagat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pembinaan Budaya Ilmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ilmu merupakan faktor terpenting dalam menentukan kebahagiaan individu dan kejayaan serta kekuatan bangsa Melayu. Ilmu membina kekuatan minda ke arah daya fikir tinggi dan daya kreatif di kalangan indidvidu dan masyarakat Melayu. Agama Islam dan sistem sosial bangsa Melayu mahukan ahlinya menguasai ilmu pengetahuan sama ada untuk kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Budaya Ilmu bermaksud kewujudan satu keadaan di mana setiap lapisan masyarakat melibatkan diri baik secara langsung mahupun tidak langsung dengan kegiatan-kegiatan keilmuan di setiap kesempatan: dan keadaan di mana segala tindakan manusia baik di tahap individu dan peringkat masyarakat, diputus dan dilaksanakan berdasarkan ilmu pengetahuan. budaya ilmu ialah satu budaya yang meletakkan nilai tertinggi dan asas kepada ilmu pengetahuan sebagai kunci segala kebaikan dalam kehidupan individu, keluarga, dan masyarakat Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pendidik Melayu perlu sedar bahawa dalam usaha kita menghadapi masa depan yang penuh saingan, pendidikan Melayu di setiap negara adalah bersifat futuristik, maka kita hendaklah mampu menyediakan generasi muda kita untuk menghadapi globalisasi. Kemungkinan berupa masyarakat industeri, ekonomi yang global, kebanjiran teknologi tinggi dan sentiasa bertambah canggih, penggunaan komputer sebagai keperluan urusan harian dan limpahan maklumat sejagat. Kita perlu lahirkan generasi berilmu untuk berfikir, bertindak dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat berlandaskan skop yang global dan teknologi yang terkini, serta berupaya menangani gelombang perkembangan dan perubahan masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Proses membina budaya ilmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap pendidik Melayu di setiap Negara perlu mempunyai kemampuan untuk menyusun, dan mensepadukan ilmu dengan perkembangan semasa, seperti:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;               Teknologi dan perkomputeran, pendidik Melayu  seharusnya mengorak langkah dan menggembleng peluang untuk melengkapkan diri berketrampilan sebagai pemimpin ilmu berasaskan teknologi serta bersedia menjurus kepada penguasaan dan penggunaan teknologi maklumat untuk pelbagai bidang dan menjadi mekanisme urusan harian.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kemahiran berfikir dan pemikiran konstruktif, pelajar-pelajar Melayu mestilah dididik menggunakan daya fikir tinggi dan minda untuk melahirkan pelajar-pelajar untuk belajar sepanjang hayat dan mempunyai modal intelektual tinggi menghadapi era globalisasi. Kemahiran berfikir danpemikiran konstruktif perlu juga terarah kepada pandangan jauh dan luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kebolehan menterjemah dan mengawal kurikulum yang luwes, pendidik Melayu seharusnya mempunyai kemahiran dan ketrampilan mengaitkan domain teori dengan praktis dan mesti bijak membina pengetahuan dan kemahiran secara developmental mengikut kadar pembelajaran untuk mencapai kemahiran thoughtful learning. Kurikulum sepatutnya mempunyai ruang untuk disesuaikan dengan perkembangan semasa berdasarkan keperluan negara, perkembangan semasa dan kemajuan sejagat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Menerapkan nilai-nilai murni/moral/akhlak, nilai-nilai murni menitikberatkan perlakuan baik, peradaban dan tatasusila insan dalam hubungannya sesama manusia, alam dan Tuhan. Elemen ini sangat penting dalam usaha pembudayaan masyarakat yang dapat mewujudkan kesejahteraan dan keharmonian negara.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Menguasai pengetahuan dan kemahiran industri – melahirkan generasi untuk pasaran tenaga kerja industri merupakan dasar pembangunan setiap negara. Usaha ini ialah sebagai sumbangan kepada melahirkan sumber manusia yang menyumbang kepada tenaga buruh yang berkualiti, seba boleh dan responsive kepada perubahan keadaan perindustrian. Kurikulum dan daya didik di dalam sistem pendidikan hendaklah berupaya merealisasikan masyarakat sainstifik, teknologis dan progresif yang inovatif dan berpandangan jauh ke hadapan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pembudayaan Masyarakat Melayu Sejagat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan ekonomi dan industri yang berlaku dengan pesat dan menyebabkan masyarakat Melayu di setiap negara perlu mencari rakan kongsi, kawan serumpun untuk bersatupadu menerima arus globalisasi.  YAB Menteri Besar Negeri Melaka, Dato’ Seri Mohd Ali Mohd Rustam telah menerajui sebuah badan yang dinamakan Dunia Melayu Dunia Islam(DMDI. Badan ini dapat menjadi badan payung kepada pertubuhan-pertubuhan Melayu di Alam Melayu. Dengan pembudayaan masyarakat Melayu Sejagat ini dengan mengadakan seminar, bengkel dan sebagainya. Dapatalah menjaringkan pertubuhan-pertubuhan Melayu yang berada di seruluh dunia untuk mengenali diantara satu sama lain. Dan dengan cara inilah dapat memupuk semangat masyarakat Melayu Sejagat. Disini saya cadangan menubuhkan sebuah badan pendidikan Melayu Sejagat untuk menjaringkan pendidik-pendidik Melayu yang berada di negara Melayu dan bukan negara Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; Majlis Permufakatan Pendidikan Melayu Sejagat, negara-negara yang berbahasa Melayu seperti Indonesia, Malaysia dan Brunei telah menubuhkan sebuah badan yang bernama Majlis Antarabangsa Bahasa Brunei-Indonesia-Malaysia ataupun ringkasannya MABBIM. Dengan majlis inilah negara-negara Melayu tersebut dapat menyelaraskan kata-kata bahasa Melayu yang agaknya sedikit beza di antara ketiga-tiga negara. Dengan itu, setiap masyarakat Melayu sejagat baik yang mendiami negara Melayu ataupun mereka sebagai minority perlu menyatukan dalam bidang pendidikan Melayu. Badan ini boleh menyelaraskan, mengubahsuai, menerapkan kurikulum pendidikan Melayu kepada setiap masyarakat Melayu.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendidikan Melayu di Alam Melayu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Melayu dibahagikan kepada 2 bahagian iaitu pertama, masyarakat Melayu yang menjadi penduduk majoriti di negara mereka. Negara-negara itu terdiri dari Malaysia, Indonesia dan Brunei. Kedua,  masyarakat Melayu yang jadi penduduk minoriti di negara mereka seperti masyarakat Melayu di Singapura, Filipina, Thailand, Cambodia, Vietnam, Afrika Selatan, Sri Lanka dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini tidak akan menghuraikan secara terperinci pendidikan Melayu di negara-negara yang bangsa Melayu sebagai bangsa majoriti. Kerana bangsa Melayu di negara tersebut dapat menentukan hala tuju pendidikan mereka untuk memajukan bangsa Melayu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Negara Brunei Darussalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah negara Melayu yang beramal konsep Melayu Islam Beraja(MIB), masyarakat Melayu Brunei dapat menikmati sistem pendidikan yang berkualiti dan menjamin kepentingan bangsa Melayu. Sejak tahun 1984 Negara Brunei Darussalam telah memperkenalkan dasar pendidikan dwibahasa bagi menjamin pelajar berkebolehan dalam menguasai kedua-dua bahasa iaitu bahasa Melayu dan bahasa Inggeris. Mulai dari peringkat pra-sekolah hingga darjah III, bahasa pengantar bagi semua mata pelajaran adalah bahasa Melayu kecuali mata pelajaran bahasa inggeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada darjah IV dan seterusnya pelajar akan mengikuti pengajaran yang menggunakan dua bahasa. Bahasa Melayu digunakan bagi mengajar mata pelajaran Bahasa Melayu, Pengetahuan Agama Islam, Pendidikan Jasmani, Lukisan dan Pertukangan Tangan, Sivik, dan MIB (Melayu Islam Beraja). Manakala bahasa Inggeris pula digunakan bagi mengajar mata pelajaran seperti Sains, Matematik, Geografi, Sejarah, dan Bahasa Inggeris itu sendiri. Sehingga sekarang kadar kenal huruf di Negara Brunei Darussalam berada pada tahap  92.7%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah negara yang kaya, Negara Brunei Darussalam telah menawar beberapa biasiswa kepada pelajar dari luar negara.  YM Pengiran Dato Seri Setia Dr. Haji Mohammad bin Pengiran Haji Abdul Rahman telah memberitahu penulis bahawa Negara Brunei memberi berapa biasiswa kepada pelajar dari masyarakat Melayu Patani untuk melanjutkan pelajaran di negara tersebut. Ini membuktikan sebuah negara Melayu yang simpati terhadap serumpun bangsanya di mana Melayu sebagai minoriti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masyarakat Melayu Malaysia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Melayu menjadi masyarakat majoriti di Malaysia. Walaupun penakrifan Melayu di Malaysia agaknya beza dari penakrifan ilmu antropologi. Penakrifan mengikut undang-undang Malaysia dalam pekara 160(2) Perlembagaan Malaysia, Melayu adalah:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Seorang yang beragama Islam&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bertutur bahasa Melayu &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengamal adat istiadat Melayu&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Dan lahir sebelum hari merdeka sama ada di Persekutuan Tanah Melayu (Malaya) atau di Singapura atau pada hari merdeka, dia bermastautin di Persekutuan atau di Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang Malaysia telah menjamin keistimewaan orang Melayu seperti Perkara 153 Perlembagaan Malaysia Artikel 153 menjelaskan  Perlembagaan Malaysia memberikan tanggungjawab kepada Yang di-Pertuan Agong menjaga kedudukan keistimewaan orang Melayu dan penduduk asal Malaysia, secara kumpulannya dirujuk sebagai Bumiputera. Artikel ini mengspesifikkan bagaimana kerajaan pusat melindungi kepentingan kumpulan-kumpulan ini dengan mendirikan kuota kemasukan ke dalam perkhidmatan awam, biasiswa dan pendidikan awam. Ia juga biasanya dianggap sebagai sebahagian daripada kontrak sosial, dan biasanya dikatakan sebagai pertahanan legal bagi ketuanan Melayu dan kepercayaan orang Melayu bahawa mereka adalah penduduk asal Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaysia bukan sahaja memainkan peranan dalam pembangunan pendidikan orang Melayu di Malaysia. Beberapa universiti di Malaysia juga terbuka untuk pelajar-pelajar dari Alam Melayu. Seperti Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM) terdapat pelajar Melayu dari masyarakat Melayu Patani di Arab Saudi, Melayu Cham dan sebagainya. Begitu juga dengan Universiti Malaya, Universiti Kebangsaan Malaysia, Universiti Sains Malaysia. Malahan, Universiti Utara Malaysia yang terletak tidak jauh dari sempadan Malaysia-Thailand juga menjadi tarikan bagi pelajar-pelajar dari Selatan Thailnd. Ini adalah salah satu sumbangan Malaysia terhadap masyarakat Melayu di luar Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masyarakat Peribumi Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, masyarakat Melayu sebagai masyarakat pribumi yang menjadi majoriti di negara tersebut. Sistem pendidikan di Indonesia juga telah menjamin kepentingan kaum peribumi di negara itu. Bahasa pengantar adalah bahasa Melayu yang disebut bahasa Indonesia. Nasib bangsa peribumi di Indonesia juga terjamin seperti di Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat Melayu minoriti, khususnya masyarakat Melayu Patani. Pada peringkat awal distinasi pendidikan mereka jika ingin melanjutkan pelajaran di negara Melayu. Institusi Pengajian Tinggi di Indonesia adalah pilihan mereka. Kerana kos sara hidup dan kos pengajian di Indonesia tidak beza dari Selatan Thailand. Tetapi pada masa kini, oleh kerana sisuasi politik dan ekonomi menyebababkan masyarakat Melayu Patani lebih minat ke Malaysia daripada Indonesia. Walaupun begitu masih ramai belia Melayu Patani yang memohon biasiswa Darmasiswa yang ditawarkan Pemerintah Indonesia untuk melanjut pendidikan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini akan menjelaskan perkembangan pendidikan di negara yang mana Melayu sebagai kaum minoriti. Masyarakat Melayu tersebut berada di Singapura,  Sri Lanka, Afrika Selatan, Vietnam, Cambodia, Eropah, Selatan Filipina dan Selatan Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masyarakat Melayu Singapura&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selepas Singapura berpisah dari Malaysia pada tahun 1965, tiada lagi keistimewaan ataupun kuota yang khusus untuk orang-orang Melayu di Negara tersebut. Maka dalam tahun 1981 masyarakat Melayu Singapura telah menubuhkan sebuah bada yang bernama “Majlis Pendidikan Anak-Anak Islam” ataupun ringkasannya MENDAKI. Dengan penubuhan badan tersebut penuntut-penuntut Melayu Islam jelas telah dapat manfaat daripada penubuhan majlis tersebut.Sebilangan daripada mereka mencapai keputusan dalam peperiksaan yang sangat baik. Bilangan yang berjaya ke institusi pengajian tinggi juga turut bertambah. Jadi, masyarakat Melayu Singapura walaupun berstatus minoriti tetapi tahap pendidkan mereka sangat berkualiti jika dibanding dengan masyarakat Melayu minoriti yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masyarakat Melayu Sri Lanka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Melayu Sri Lanka juga melibat diri dalam pembangunan pendidikan. Sebuah kolej yang terkenal di kalangan masyarakat Islam dan Melayu Sri Lanka iaitu Zahira College. Kolej ini adalah kolej Islam pertama di Sri Lanka yang ditubuh pada tahun 1892 sebagai Al Madrasathul Zahira. Kolej ini telah melahirkan beberapa cendekiawan Melayu Sri Lanka. Salah seorang mantan pengetua kolej ini ialah  Tuan Branudeen Jayah atau lebih dikenali dengan nama TB Jayah. Beliau adalah mantan menteri buruh di dalam kabinet Perdana Menteri pertama Sri Lanka iaitu Perdana Menteri D.S.Senanayake.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolej ini sekarang diterajui seorang aktivis masyarakat Melayu Sri Lanka, Saudara  T.K. Azoor. Beliau adalah Presiden kepada sebuah pertubuhan Melayu yang bernama The Conference of Sri Lankan Malays (COSLAM). Masyarakat Melayu Sri Lanka adalah sebuah masyarakat yang aktif sekali dalam bidang pendidikan. Terdapat beberapa pertubuhan Melayu di Sri Lanka selain The Conference of Sri Lankan Malays (COSLAM) iaitu Sri Lanka United Malay Organisation (SLUMO) dan Sri Lanka Malay Conferation (SLAMAC). Pertubuhan-pertubuhan Melayu ini juga telah memainkan peranan penting dalam pembangunan pendidikan Melayu di negara tersebut. Dan terdapat beberapa pertubuhan Melayu Sri Lanka di luar Sri Lanka seperti Sri Lanka Malay Association of Toronto di Kanada, Sri Lanka Malay (UK) Association di Britain dan Sri Lanka Malay Australia Association di Australia. Mereka kebanyakan terdiri dari kalangan ahli professional di negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masyarakat Melayu Afrika Selatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Melayu Afrika Selatan ataupun dikenali dengan nama Melayu Tanjung (The Cape Malay) adalah sebuah masyarakat Islam yang kebanyakan mendiami bandar Cape Town di Wilayah West Cape. Masyarakat Islam di Afrika Selatan, termasuk masyarakat Melayu adalah masyarakat yg mementingkan pendidikan. Mereka telah menubuhkan beberapa institusi pendidikan seperti Islamic College of Southern Africa (ICOSA) dan Darul Arqam Islamic Institute. Kemudian kedua-dua institusi ini telah bergabung menjadi sebuah universiti Islam dengan nama International Peace University of South Africa. Di institusi ini adalah tempat mengasah bakat belia Melayu Afrika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat beberapa pertubuhan Melayu Afrika Selatan seperti The Cape Malay Chamber of Commerce, The South African Malay Cultural Society, Indonesia &amp;amp; Malaysia Seamen Club dan Forum for Malay Culture in South Africa. Disini kita tidak dapat menafikan sumbangan DMDI untuk mengembangkan bahasa Melayu di sana dengan menempatkan seorang guru bahasa Melayu di International Peace University of South Africa, Cape Town.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masyarakat Melayu Cham Vietnam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Melayu Cham adalah masyarakat minoriti di Vietnam. Mereka bertaburan di Vietnam bahagian selatan. Masa kin mereka masih tiada institusi pengajian milik bangsa mereka sendiri. Dalam bidang pengajian agama, masyarakat Melayu Cham dari Vietnam dan Cambodia memilih Patani, Selatan Thailand dan Kelantan Darul Naim sebagai distinasi pengajian agama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang akademi, seorang kawan penulis, Saudara Phu Van Han atau nama Melayu Chamnya Ja (Raja) Samad Han telah menubuh sebuah badan akademi dengan nama “Champa-Melayu Center for Southeast Asian Studies” terletak di National Center for Social and Human Sciences, Institute of Social Sciences, HochiMinh City, Vietnam. Beliau juga menyumbang tenaga untuk pembangunan pendidikan di kalangan masyarakat Cham di Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masyarakat Melayu Cham Cambodia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Melayu Cham di Cambodia juga adalah masyarakat minoriti di negara itu seperti masyarakat Cham di Vietnam. Mereka bertaburan di beberapa wilayah seperti di Wilayah Kampong Cham, Wilayah Kampong Chhnang dan di utara ibu kota Phnom Penh. Walaupun sekarang masih tiada sebuah institusi pengajian tinggi Islam di Cambodia. Tetapi di masa akn datang, sebuah kolej Islam yang bernama Selangor International Islamic College (KUIS) akan membuka cawangan kampusnya di Cambodia. Cawangan kampus ini akan dinamakan Cambodia Islamic College. Ini adalah salah satu untuk mengembangkan pendidikan Melayu Malaysia di Cambodia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;  Masyarakat Melayu Selatan Filipina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Melayu Filipina yang dikenali dengan nama Bangsa Moro. Sebuah nama yang menggantikan 13 suku bangsa Muslim di selatan Filipina iaitu suku Maguindanao, Maranao, Tausug, Samal, Bajau, Banguingui, Sangil, Illanun, Yakan, Kalagan dll. Jika dibanding dengan masyarakat Melayu Patani di Selatan Thailand, masyarakat Bangsa Moro agaknya lebih bernasib baik di segi politik. Kerana mereka telah dibenarkan oleh kerajaan Filipina untuk menubuhkan sistem pentadbiran tersendiri yang dinamakan “Autonomous Region in Muslim Mindanao”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun mereka dapat meneruskan pembangunan di bidang pendidikan tersendiri. Tetapi mereka belum lagi dapat menubuhkan institusi pendidikan tinggi bertaraf universiti milik bangsa mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terdapat hanya beberapa jabatan pengajian Islam ataupun Islam Studies Center di universiti kerajaan seperti di Instutute of Islamic Studies di University of the Philippines dan sebagainya. Bagi institusi swasta di peringkat kolej terdapat beberapa kolej milik Bangsa Moro seperti:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Philippine Islamic College di Bandar Zamboanga yang menawarkan pengajian di peringkat sarjana muda dalam bidang pendidikan, perniagaan, computer dan lain lain lagi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mindanao Islamic College terletak di Marawi City menawar pendidikan di peringkat Sarjana Muda dalam bidang pendidikan dan perniagaan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Muslim Teachers' College di Marawi City mengadakan pengajian dalam bidang pendidikan. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Jamiatu Muslim Mindanao  di Marawi city yang menawar pengajian hingga ke peringkat Sarjana dalam bidang pendidikan dan pentadbiran. Terdapat lagi beberapa institusi swasta milik Bangsa Moro seperti Kamilol Islam Colleges di Marawi City, The Philippine Muslim College di Jolo dan Jamiatul Philippine Al-Islamia di Marawi City.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Mindanao State University, Marawi City terdapat sebuah bangunan yang dinamakan “Pahang Center for Malay Studies”. Ini terbukti bahawa Malaysia khusnya negeri Pahang telah menyumbang dana untuk pembangunan pendidikan masyarakat Bangsa Moro di Selatan Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Melayu Filipina sangat memerlu institusi pendidikan bertaraf universiti. Beberapa pemimpin masyarakat mencadangkan penubuhan universiti Islam di Mindanao, Selatan Filipina. Cadangan tersebut dating dari Saudari Faysah Dumarpa, seorang ahli The Lower House of The Philippines mencadangkan penubuhan sebuah universiti Islam supaya dapat menampung pendidikan masyarakat  Bangsa Moro. Begitu juga dengan Dr. Hamid Barra, vice president of Ulama Conference of the Philippines yang juga Dekan di King Faizal Center for Islamic, Arabic and Asian Studies, Mindanao State University, Philippines  dan Professor Moner M. Bajunaid, secretary-general of the National Ulama Conference of the Philippines. Mereka mencadangan penubuhan sebuah universiti Islam di Mindanao.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masyarakat Melayu di Arab Saudi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Melayu di Arab Saudi terdiri dari beberapa suku Melayu baik dari Indonesia, Malaysia dan Patani, Selatan Thailand. Mereka kebanyakan bermukimin di Kota suci Mekah. Masyarakat  Melayu Arab Saudi terbahagi kepada 2 bahagian iaitu pertama, Melayu berwarganegara Arab Saudi dan kedua, Melayu bermastautin yang masih memegang warganegara negara asal mereka atau ibu bapa mereka. Masyarakat Melayu Arab Saudi ini juga melibatkan diri dalam pembangunan pendidikan. Selain dari ulama-ulama dari Alam Melayu yang bertapak di Arab Saudi di abad 19 seperti Sheikh Daud Al-Fatani, Sheikh Ahmad bin Mohd Zin Al-Fatani dan sebagainya.Terdapat beberapa nama besar ahli akademi Melayu Arab Saudi di abad 21 ini. Disini akan ketengahkan Melayu Arab Saudi yang berasal dari keturunan Melayu Patani seperti Sheikh Abdullah Al-Fatani, mantan Timbalan Menteri Pendidikan Arab Saudi; Tan Sri Sheikh Hussein Al-Fatani, mantan Duta Besar Arab Saudi di Malaysia; Dr. Jamal Al-Fatani, mantan dekan fakulti perubatan Universiti Riyadh; Dr. Hameedah Al-Fatani, mantan pengarah Girls’ College, University of Ummu Qura, Kota Mekah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masyarakat Melayu di Europah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di negara barat juga terdapat masyarakat Melayu. Baik masyarakat Melayu asal Malaysia di United Kingdom, masyarakat Melayu Jawa asal Indonesia di Belanda dan masyarakat Melayu Patani di Sweden. Di University of Lund, Sweden terdapat seorang pakar asia tenggara yang berasal dari Patani, Selatan Thailand. Begitu juga dengan seorang kawan penulis di Swedwn yang sedang menyiapkan kamus bahasa Swedish-Melayu yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Dato’ Yunus Rais yang berasal dari Malaysia menceburi bidang pendidikan di Britain. Beliau telah menubuhkan sebuah kolej swasta dinamakan Sels College dan menghasilan ribuan lulusan dari kolej itu. Kolej tersebut merupakan salah sebuah institusi pendidikan untuk para penuntut serta pelajar bukan inggeris mempelajari bahasa inggeris sebagai bahasa kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masyarakat Melayu Selatan Thailand&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagi Selatan Thailand, kerena saya dari masyarakat Melayu di Selatan Thailand. Dengan itu saya akan menjelaskan secara panjang tentang perkembangan pendidikan di Selatan Thailand. Selatan Thailand dibahagikan kepada 2 bahagian iaitu pertama, Patani, sebuah karajaan Melayu lama yang kini terbahagi kepada 3 wilayah (Wilayah Pattani, Wilayah Yala dan Wilayah Narathiwas). Kedua, Wilayah Setul, sebuah bekas tanah jajahan negeri Kedah Darul Aman. Setelah kedua-kedua bahagian ini diterap ke dalam pemerintahan Siam. Kerajaan Siam telah menjalankan dasar Siamisasi terhadap masyarakat Melayu di wilayah-wilayah tersebut. Dasar ini diteruskan supaya masyarakat Melayu menerima kebudayaan dan pendidikan ala Siam. Dengan dasar inilah menyebabkan masyarakat Melayu di Selatan Thailand tergugat. Untuk mempertahankan jadidiri Melayu, beberapa projek telah dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar  Siamisasi yang telah dijalankan oleh kerajaan Thailand dapat memberi kesan kepada  penduduk Melayu sehingga segolongan penduduk Melayu khususnya di wilayah Narathiwas  lebih   menggalakkan anak-anak mereka belajar  di  negeri  Kelantan yang lebih terjamin masa depan mereka serta dapat  mempertahankan  jatidiri Melayu  mereka. Penghantaran  anak-anak  tersebut   telah  menimbulkan tandatanya bagi  pihak  kerajaan  Thailand  mengenai keselamatan negera. Pihak   kerajaan Thailand telah membuat bancian ke atas pelajar-pelajar Melayu di wilayah Narathiwas yang   sedang  belajar  di negeri  Kelantan. Contohnya  pada  tahun 1983 terdapat seramai   888   orang pelajar. Kemungkinan jumlah ini telah bertambah  dalam tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat beberapa projek yang telah dijalankan oleh  kelompok cendekiawan Melayu  Patani    untuk  mempertahankan  jatidiri Melayu di Selatan  Thailand. Walaupun begitu  usaha  ini   terlalu   kecil  jika dibandingkan dengan dasar Siamisasi  yang  sedang  dijalankan  oleh  kerajaan  Thailand. Projek  yang  telah  diusahakan  oleh  kelompok  cendekiawan  Melayu tersebut  adalah   seperti   berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt; projek tenaga pengajar bahasa Melayu di Prince of  Songkhla  University,  Kampus Pattani. Projek ini dijalankan oleh  universiti tersebut  melalui MOU dengan Dewan  Bahasa dan  Pustaka  Malaysia. Begitu juga dengan Yala Islamic University telah mengadakan MOU dalam bidang bahasa Melayu dengan Universiti Brunei Darussalam(UBD).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt;  projek   pakej   bantuan  pendidikan, kemahiran   dan   pengurusan  masjid.  Projek  ini  dijalankan  oleh  Majlis  agama  Islam   di  wilayah - wilayah  Melayu   dengan  kerjasama  dari  sebuah  badan  NGO di  bawah  naungan  Dato’ Paduka  Dr.  Abdul   Hamid   Othman.  Projek   ini   telah  dijalankan    dengan   mengambil  pelajar-pelajar   Melayu   dari   wilayah – wilayah  Melayu   untuk   belajar ilmu  kemahiran   di  Giat  Mara   dan  Institut  Kemahiran  Mara di  Malaysia.          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha   ini   bukan   sahaja  pelajar-pelajar  tersebut  dapat  mempelajari   ilmu   kemahiran   di  Malaysia, tetapi  mereka   dapat   membawa  bahasa  Melayu  standard dan  minda  keMelayuan    pulang   ke  tempat  masing-masing. Satu   lagi   yang   telah  dijalankan   oleh   projek   ini   ialah   mengadakan  kursus   bahasa   Melayu   di  Majlis  agama  Islam  di  wilayah-wilayah  melayu.  Pengkaji  telah  memantau dan cuba  mengikuti  kursus  tersebut, didapati  peserta-peserta   yang   terdiri   dari  guru-guru   TADIKA  dan   sekolah – sekolah  agama   masih  mempunyai   tahap   penguasaan   bahasa  Melayu  standard  di  tahap  amat   rendah. Mengikut  seorang  tenaga  pengajar   yang   datang   dari   negeri   Kelantan, kursus   tersebut  adalah  pakej  ketiga. Pada  pakej  pertama  dan  kedua beliau  telah  membuat penilaian bahawa   pakej-pakej tersebut tidak  berjaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat   beberapa   kegiatan  kebudayaan   Melayu    yang  telah  dijalankan   oleh   beberapa   badan.  Selain  dari  Prince  of  Songkhla   University,  Kampus Pattani yang  kerjasama  dengan  GAPENA  (Gabungan  Persatuan  Penulis  Nasional  Malaysia )  dan  Dewan  Bahasa  dan  Pustaka   Malaysia mengadakan   beberapa    seminar   kesusasteraan  Melayu     termasuk   program  " Malam    Puisi   Melayu " yang   diadakan  di Kampus Universiti tersebut.  Salah  satu lagi badan   yang  memainkan  peranan  menegakkan jadidiri Melayu ialah Badan penyelarasan  dan  penerapan   bahasa  Melayu   yang   mengadakan " Malam  Kesusasteraan  Melayu ". Kegiatan  Badan  ini  berlainan  dari   Jabatan  Melayu   di   Prince  of  Songkhla  University, kampus  Pattani, mereka   mengadakannya   dengan   bergilir-giliran  tempat  contohnya  Malam  Kesusasteraan  Melayu  ke  III  diadakan  di   Daerah  Bachok, Wilayah  Narathiwas sebelum   itu    mereka   mengadakannya   di   Daerah  Muang,  Wilayah  Pattani   dan  Daerah   Reman, Wilayah   Yala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sistem pendidikan Pondok di Selatan Thailand &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pondok adalah institusi pendidikan pertama di Patani. Usaha asimilasi dan integrasi kerajaan menyebabkan kebanyakan institusi pondok memasukkan sistem sekolah dan pendidikan kebangsaan. Kini institusi pondok di wilayah-wilayah Melayu di Selatan Thailand dapat dibahagikan kepada dua iaitu institusi pondok tradisional dan institusi pondok yang juga menyediakan sistem sekolah. Bahagian pendidikan pondok bagi kedua-dua ini memiliki bentuk, fungsi dan tujuan yang sama. Institusi pondok tradisional disediakan bagi mereka yang ingin mempelajari secara tradisi, sementara pendidikan pondok di sekolah agama merupakan magnet utama yang menarik perhatian ibu bapa untuk menghantar anaknya belajar di institusi-institusi tersebut kerana mereka akan dapat mempelajari kedua-dua sistem, sama ada sistem sekolah dan sistem pondok. Ini adalah pilihan terbaik pada masa kini untuk mengekalkan kelangsungan sistem pondok dan identiti Melayu Patani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk institusi pendidikan agama lain yang tidak menyediakan pendidikan pondok juga mempunyai hubungan erat dengan institusi pondok, sama ada  melalui tenaga guru dari institusi pondok atau pernah belajar di pondok, kitab Jawi, penginapan di pondok, aktiviti pendidikan dengan menghantarkan pelajar kelas 10 untuk berlatih mengajar di sekolah agama yang wujud sistem pondok dan lain-lain aktiviti perinteraksian antara institusi pondok dan institusi pendidikan lain. Dengan melalui aktiviti pendidikan di pondok dan di institusi-institusi pendidikan agama lain yang wujud di Patani di samping lain-lain faktor seperti ulama Patani, kitab Jawi, percetakan, toko kitab, masjid, khutbah Jumaat, ceramah agama, adat-adat dan pakaian Melayu adalah peranan pondok di wilayah-wilayah Melayu di Selatan Thailand dalam mempertahankan identiti Melayu Patani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penubuhan   institusi  pendidikan   Melayu Patani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terdapat beberapa institusi  pendidikan  yang  telah  ditubuhkan  oleh  pendidik-pendidik  Melayu.  Institusi-institusi   tersebut   menjalankan   kegiatan  pendidikan mengikut kurikulum kerajaan Thailand dan di tidak mengikut kurikulum kerajaan Thailand. Institut-institut  tersebut  adalah  seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Institut   pendidikan  Islam   atau  dikenali   dengan   nama   ringkasnya IPI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan  Thailand   mengeluarkan    arahan   supaya   pondok-pondok  pendidikan  Islam   di   Selatan  Thailand   didaftarkan   dengan   pihak  kerajaan.   Ustaz  Abdul  Karim  Hassan, Tuan  guru  Pondok   Nahdatul   Syuban  di   Daerah  Rusu  atau  Jabat, Wilayah  Narathiwas  adalah   pengasas  pertubuhan  pemisah  yang  bernama  BRN(Barisan  Revolusi  Nasional Patani). Dalam  penentangan  dasar  Siamisasi  itu  beliau   memilih   jalan   menentang  kerajaan  dengan   berjuang   secara  bawah  tanah. Maka  beliau   menubuhkan   sebuah  institusi  pendidikan  tersebut  di   negeri  Kelantan  untuk   mendidik   dan   melatih   anak-anak  Melayu  Patani.  Peristiwa  ini  berlaku  sekitar   tahun  1968   dengan   institusi   pendidikan  tidak  formal   ini   bertapak  di   bangunan   Madrasah  Al-Asriyah, Wakaf   Baru, Tumpat, Kelantan. Pada  peringkat   awal  institusi  ini   terletak   di   Langgar, Kota  Bharu, Kelantan. Bagaimanapun   institusi   ini   hanya  bertahan  beberapa  tahun   sahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Kuliyah  At-Tarbiah   Wal   Dakwah  Al-Fatani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Institusi   ini   menjalankan   pengajaran    pada  hari   minggu   atau   hari  sabtu-ahad. Dengan  itu  institusi    Kuliyah  ini  lebih  dikenali   dengan   nama   Kuliyah  Sore. Institusi  ini  ditubuhkan  sekitar  tahun 1977 oleh   Sdr.  Ahmad   Samuddin,  yang  berkelulusan  dari  Indonesia. Kuliyah  Sore  dianggap  sebagai  institusi  tidak  formal, kerana   menumpang   bangunan  di  sebuah  sekolah  agama   yang   terletak  di  Cerang  Batu   di pinggir  Bandar  Pattani.  Mengikut  bekas  pelajarnya, setelah  pelajar-pelajar   tamat   dari  Kuliyah   ini, mereka  boleh  menyambung  pelajaran di   beberapa   Universiti   swasta  di  Indonesia   yang  telah   membuat   perjanjian    persefahaman   dengan  kuliyah   tersebut.  Pada   awal   tahun  1980-an   kegiatan  Kuliyah  ini   terhenti   setelah   Sdr.  Ahmad  Samuddin  ditembak  mati  oleh  pihak   tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.  Institut   Sheikh   Daud   Bin   Abdullah   Al-Fatani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Institusi   ini   dianggap    sebagai   bahagian    pendidikan   tinggi    bagi   sekolah  agama   yang  bernama  Maahad  Al-Bitsa'   yang   terletak  di  Bandar  Yala.  Institusi   ini   mempunyai   kurikulum   tersendiri   seperti   juga   dengan  Kuliyah  Sore, iaitu   mereka  telah   membuat   perjanjian   persefahaman   dengan  3  buah  Universiti  swasta  di  Indonesia   pelajar-pelajarnya   dapat  menyambung  pelajaran  di  Universiti  tersebut Sekarang   Institusi  ini   masih  menjalankan  kegiatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.  Universiti Islam  Yala (Yala  Islamic  University)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam   tahun  1963, sekelompok   pendidik-pendidik   Melayu   Patani   melahirkan  pemikiran   untuk     menubuhkah    sebuah      Kolej     Islam    swasta   dengan   terbentuknya    "Jawatankuasa penaja   projek   Kolej  Islam   swasta   Selatan   Thailand ".  Kemudian   dalam   tahun   1985   Jawatankuasa penaja  tersebut  telah    membuat   permohonan  kepada  kerajaan   untuk menubuhkan  Kolej   swasta. Dalam   tahun    tersebut  juga   sebuah   yayasan  yang  bernama   " Yayasan  Islam   Wilayah   Yala  " telah meminta bantuan dari   pihak Islamic Development Bank (IDB )  untuk    menubuhkan   sebuah    Kolej  Islam.  Kemudian   dalam    tahun   1986   pihak   IDB  telah   meluluskan   bantuan   untuk    penubuhan   Kolej  Islam    tersebut .  Maka   dalam   tahun 1987 Yayasan  Islam Wilayah  Yala  telah  bergabung   menjadi   satu    dengan Jawatankuasa  penaja  projek   Kolej  Islam   swasta   Selatan   Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembinaan   Kolej    Islam   tersebut    telah siap pada tahun 1989. Kemudian kegiatan Kolej ini  terhenti  beberapa lama kerana kekurangan   peruntukan    untuk   menjalankan   kegiatannya. Kolej Islam ini telah diambilalih oleh sebuah  yayasan  yang  bernama "Yayasan pendidikan tinggi  Islam Selatan Thailand " pada  1995. Kolej   ini   telah   menjalankan    pengajarannya     beberapa  tahun   sebelum   mendapat  kebenaran   secara   rasmi   dari   pihak   kementerian   pendidikan  tinggi  Thailand   pada   tahun 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolej   ini    mempunyai    kurikulum    tersendiri   dengan    terdapat   2   fakulti  iaitu   Fakulti    Usuluddin   dan  Fakulti   Shariah. Sesuai  dengan   penubuhan  dan    pengurusan  Kolej  yang  diuruskan  oleh  mereka   yang   berkelulusan  dari  negara-negara   timur  tengah. Kemudian kolej ini telah dinaiktaraf kepada sebuah universiti. Bagaimanapun universiti boleh  dianggap   sebagai   universiti  Islam tunggal yang   mendapat    kebenaran   dan   pengiktirafan   kurikulumnya   dari  pihak  kerajaan  Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Maahad Darul  Maarif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Institut  ini  diataskan  oleh  Haji  Mohd.  Sulong  Tok  Mina, seorang  ulama  Melayu  Patani. Institut  ini  juga  dianggap  institut  pengajian  tinggi  di  peringkat “Al-Aliyah”.  Bangunannya   terletak  di  dalam  kawasan  pejabat  Majlis  agama  Islam  Wilayah  Patani.&lt;br /&gt;   Pada tahun 1999, seorang    lulusan   dari  Universitas  Nasional   Indonesia   yang   berasal   dari  Wilayah   Narathiwas  telah mencetuskan satu cadangan iaitu mewujudkan   pengajian  Jarak  Jauh  dari  Universitas  Nasional( UNAS ), Jakarta. Cadangan   tersebut   mendapat   sokongan dan persetujuan dari beberapa  cendekiawan dan tuan guru di Wilayah Narathiwas. Kemudian  pencetus  cadangan  tersebut   telah  meninggal  dunia  secara  mengejut  sehingga  cadangan  tersebut  terkubur  begitu  sahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam   bidang  pendidikan  Islam  ini,  pihak  kerajaan  Thailand telah  berusaha    menarik   minat   penduduk  Melayu   dari  menghantar  anak-anak   mereka  melanjut   pelajaran  di   timur  tengah    dengan   menubuhkan   sebuah  Kolej  yang  bernama  " Kolej  Pengajian  Islam "  atau " College  of   Islamic   Studies ". Kolej   ini   dinaikkan  taraf   dari   Jabatan   pengajian   Islam     di  bawah   Fakulti   Sains  sosial   dan   kemanusiaan  menjadi  sebuah  kolej   atau   setaraf  fakulti     di Prince  of   Songkhla  University, Kampus Pattani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prince  of   Songkhla  University, Kampus Pattani juga telah lama mewujudkan 2 jurusan yang berkaitan dengan pengajian Melayu iaitu Jurusan Bahasa Melayu yang khusus kepada pengajian bahasa Melayu dan Jurusan Pengajian Melayu yang khusus kepada pengajian sosio-budaya Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kota Bangkok terdapat sebuah institusi pengajian tinggi swasta yang bertaraf universiti. Institusi ini dinamakan Kasem Bundit University. Pemilik universiti ini adalahlah seorang Melayu yang bernama Dr. Wanlop Suwandee. Universiti ini juga menjadi tempat tarikan pelajar Melayu dari Selatan Thailand menimba ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahun 2015 negara-negara anggota ASEAN akan mewujudkan ASEAN Community. Pada tahun tersebut negara-negara anggota ASEAN akan disatukan dan bebas bergerak di mana mana Negara anggotanya. Bagi sesetengah cendikiawan Melayu Patani sedang menyiapkan untuk menjadi orang pengantaran penubuhan cawangan mana mana universiti Malaysia di Selatan Thailand. Kerana taraf kualiti pendidikan Malaysia adalah taraf dunia. Dengan cara ini dapatlah mana mana institusi pengajian tinggi di Malaysia memainkan peranan pembangunan pendidikan masyarakat Melayu di selatan Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Melayu di Alam Melayu sangat berbeza dari segi politik, ekonomi dan latar belakang mengikut negara yang mereka mendiami. Terdapat masyarakat Melayu yang teguh dan masyarakat Melayu yang lemah. Masyarakat Melayu segajat tidak akan maju ke depan tanpa bantuan dan bimbingan dari masyarakat Melayu yang lebih teguh dari segi ekonomi dan pendidikan kepada masyarakat Melayu yang lebih dari segi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Universiti-universiti di negara Melayu khususnya Malaysia perlu terbuka menjadi pusat pengajian tinggi untuk melatih dan membimbing cendikiawan-cendikiawan di Alam Melayu. Dan Malaysia juga perlu menjadi pusat pembanunan pendidikan  Melayu Sejagat. Dengan Malaysia yang mempunyai kualiti pendidikan bertaraf dunia  dapatlah membantu dan merialisasikan pendidikan sejagat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan DMDI sebagai sebuah badan untuk penyatuan masyarakat Melayu sejagat perlu menjadi “orang tengah” ataupun “badan payung” supaya dapat memajukan pendidikan Melayu sejagat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam.&lt;br /&gt;Nik Abdul Rakib  Bin Nik Hassan&lt;br /&gt;                                                                                       Malay Studies Section&lt;br /&gt;Prince of Songkla University, Pattani.&lt;br /&gt;                                                                                       Email: nikrakib@gmail.com&lt;br /&gt;Sila download salinan dokumen ini &lt;a href="http://www.google.com/url?sa=t&amp;amp;source=web&amp;amp;cd=23&amp;amp;ved=0CBsQFjACOBQ&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fwww.dmdi.org%2Ffiles%2FPaper%2520-%2520En%2520Nik%2520Abdul%2520Rakib%2520Nik%2520Hasan%2520%28Thailand%29.doc&amp;amp;ei=akZLTN3_CMi9rAfo6uG5Dg&amp;amp;usg=AFQjCNFQePftacOnFsL6gLG5LHp58wmQWQ&amp;amp;sig2=2gDuPDxg3Oncb0vUNry93w"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan:&lt;br /&gt;Committee Meeting Report on UNESCO’s The Malay Culture Study Project, Kuala Lumpur, 1972.&lt;br /&gt;Hamzah  Mohd Kassim, Dato’ Haji.kertas kerja bertajuk “Terbang Tinggi di Laut Biru:Cabaran Dan Kejayaan Masyarakat Melayu Sejagat” Persidangan Antarabangsa Pengajian Melayu ke 2, 2-7 Oktober 2002 di Beijing, China.&lt;br /&gt;Hasan Madmarn (1990). Traditional Muslim Institutions in Sounthern Thailand: A&lt;br /&gt;Critical Study of Islamic Education  and Arabic Influence in the Pondok and Madrasah Systems of Pattani. Ph.D. Thesis., University of Utah.&lt;br /&gt;Mohamad Bin Muda, Ketua Penolong Pengarah, Bahagian Pendidikan Guru, Kementerian Pendidikan Malaysia. Teks ucapan tajuk “Cabaran dan harapan dalam pendidiakn menghadapi alaf baru”.tanpa tarikh&lt;br /&gt;Nik Abdul Rakib  Nik Hassan (2003). Siamisasi Masyarakat Melayu di Selatan Thailand : Satu Kajian Kes di Kampung Duku, Daerah Bachok, Wilayah Narathiwas. Tesis M.A. Universiti Malaya, Kuala Lumpur.&lt;br /&gt;Worawit Baru @ Ahmad Idris “Pendidikan Pondok di Negara Thailand : Satu Sistem&lt;br /&gt;Pendidikan ke Arah Keseimbangan Insan,” Kertas kerja perbentangan Persidangan Antara bangsa Bahasa, Sastera dan Budaya Melayu. York Hotel, Nanyang, Singapura, 17-18 Julai 1998.&lt;br /&gt;Zawawi Pakda Amin.(2004) Tesis M.A. Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya, Kuala Lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-4033326508680888500?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/4033326508680888500/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/cabaran-pendidikan-melayu-global.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/4033326508680888500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/4033326508680888500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/cabaran-pendidikan-melayu-global.html' title='Cabaran Pendidikan Melayu Global'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_EBAQ2AqW4TQ/SIKlr74ENKI/AAAAAAAAAT0/BAVQPYDY_0k/s72-c/P1000093.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-1131114213380944683</id><published>2010-07-24T19:54:00.009+07:00</published><updated>2010-07-24T23:57:07.544+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesultanan'/><title type='text'>Kesultanan Aceh Darussalam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i595.photobucket.com/albums/tt33/BayeuenTeureubang/Baiturrahman%20Great%20Mosque/BaiturrahmanMosqueBandaAceh1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 0px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 407px;" src="http://i595.photobucket.com/albums/tt33/BayeuenTeureubang/Baiturrahman%20Great%20Mosque/BaiturrahmanMosqueBandaAceh1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kesultanan Aceh Darussalam berdiri menjelang keruntuhan dari Samudera Pasai yang pada tahun 1360 ditaklukkan oleh Majapahit hingga kemundurannya di abad ke-14. Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh) dengan sultan pertamnya adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada pada Ahad, 1 Jumadil awal 913 H atau pada tanggal 8 September 1507. Dalam sejarahnya yang panjang itu (1496 - 1903), Aceh telah mengukir masa lampaunya dengan begitu megah dan menakjubkan, terutama karena kemampuannya dalam mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, komitmennya dalam menentang imperialisme bangsa Eropa, sistem pemerintahan yang teratur dan sistematik, mewujudkan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan, hingga kemampuannya dalam menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Awal Mula&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kesultanan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496. Di awal-awal masa pemerintahannya wilayah Kesultanan Aceh berkembang hingga mencakup Daya, Pedir, Pasai, Deli dan Aru. Pada tahun 1528, Ali Mughayat Syah digantikan oleh putera sulungnya yang bernama Salahuddin, yang kemudian berkuasa hingga tahun 1537. Kemudian Salahuddin digantikan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar yang berkuasa hingga tahun 1568.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masa Kejayaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kesultanan Aceh mengalami masa keemasan pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636). Pada masa kepemimpinannya, Aceh telah berhasil memukul mundur kekuatan Portugis dari selat Malaka. Kejadian ini dilukiskan dalam La Grand Encyclopedie bahwa pada tahun 1582, bangsa Aceh sudah meluaskan pengaruhnya atas pulau-pulau Sunda (Sumatera, Jawa dan Kalimantan) serta atas sebagian tanah Semenanjung Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Aceh juga melakukan hubungan diplomatik dengan semua bangsa yang melayari Lautan Hindia. Pada tahun 1586, kesultanan Aceh melakukan penyerangan terhadap Portugis di Melaka dengan armada yang terdiri dari 500 buah kapal perang dan 60.000 tentara laut. Serangan ini dalam upaya memperluas dominasi Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu. Walaupun Aceh telah berhasil mengepung Melaka dari segala penjuru, namun penyerangan ini gagal dikarenakan adanya persekongkolan antara Portugis dengan kesultanan Pahang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lapangan pembinaan kesusasteraan dan ilmu agama, Aceh telah melahirkan beberapa ulama ternama, yang karangan mereka menjadi rujukan utama dalam bidang masing-masing, seperti Hamzah Fansuri dalam bukunya Tabyan Fi Ma'rifati al-U Adyan, Syamsuddin al-Sumatrani dalam bukunya Mi'raj al-Muhakikin al-Iman, Nuruddin Al-Raniri dalam bukunya Sirat al-Mustaqim, dan Syekh Abdul Rauf Singkili dalam bukunya Mi'raj al-Tulabb Fi Fashil.&lt;br /&gt;Kemunduran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemunduran Kesultanan Aceh bermula sejak kemangkatan Sultan Iskandar Tsani pada tahun 1641. Kemunduran Aceh disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya ialah makin menguatnya kekuasaan Belanda di pulau Sumatera dan Selat Malaka, ditandai dengan jatuhnya wilayah Minangkabau, Siak, Deli dan Bengkulu kedalam pangkuan penjajahan Belanda. Faktor penting lainnya ialah adanya perebutan kekuasaan diantara pewaris tahta kesultanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Traktat London yang ditandatangani pada 1824 telah memberi kekuasaan kepada Belanda untuk menguasai segala kawasan British/Inggris di Sumatra sementara Belanda akan menyerahkan segala kekuasaan perdagangan mereka di India dan juga berjanji tidak akan menandingi British/Inggris untuk menguasai Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir November 1871, lahirlah apa yang disebut dengan Traktat Sumatera, dimana disebutkan dengan jelas "Inggris wajib berlepas diri dari segala unjuk perasaan terhadap perluasan kekuasaan Belanda di bagian manapun di Sumatera. Pembatasan-pembatasan Traktat London 1824 mengenai Aceh dibatalkan." Sejak itu, usaha-usaha untuk menyerbu Aceh makin santer disuarakan, baik dari negeri Belanda maupun Batavia. Setelah melakukan peperangan selama 40 tahun, Kesultanan Aceh akhirnya jatuh ke pangkuan kolonial Hindia-Belanda. Sejak kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Aceh menyatakan bersedia bergabung ke dalam Republik indonesia atas ajakan dan bujukan dari Soekarno kepada pemimpin Aceh Tengku Muhammad Daud Beureueh saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perang Aceh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perang Aceh dimulai sejak Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873 setelah melakukan beberapa ancaman diplomatik, namun tidak berhasil merebut wilayah yang besar. Perang kembali berkobar pada tahun 1883, namun lagi-lagi gagal, dan pada 1892 dan 1893, pihak Belanda menganggap bahwa mereka telah gagal merebut Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Snouck Hurgronje, seorang ahli Islam dari Universitas Leiden yang telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari banyak pemimpin Aceh, kemudian memberikan saran kepada Belanda agar serangan mereka diarahkan kepada para ulama, bukan kepada sultan. Saran ini ternyata berhasil. Pada tahun 1898, J.B. van Heutsz dinyatakan sebagai gubernur Aceh, dan bersama letnannya, Hendricus Colijn, merebut sebagian besar Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan M. Dawud akhirnya meyerahkan diri kepada Belanda pada tahun 1903 setelah dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Kesultanan Aceh akhirnya jatuh seluruhnya pada tahun 1904. Saat itu, hampir seluruh Aceh telah direbut Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sultan Aceh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sultan Aceh merupakan penguasa/raja dari Kesultanan Aceh, tidak hanya sultan, di Aceh juga terdapat Sultanah/Sultan Wanita. Daftar Sultan yang pernah berkuasa di Aceh dapat dilihat lebih jauh di artikel utama dari Sultan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Tradisi kesultanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar-Gelar yang Digunakan dalam Kerajaan Aceh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Teungku &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teungku (juga disingkat Tgk.) secara umum merupakan gelar sapaan bagi laki-laki dewasa di Aceh. Setiap laki-laki dewasa dari suku Aceh dapat disapa dengan sapaan teungku, seperti ditegaskan dalam hadih maja Aceh teungku, Meulayu abang, Cina toke, kaphe tuan. Pepatah tersebut dalam Bahasa Indonesia dapat ditafsirkan bahwa orang Aceh bergelar teungku, orang Melayu bergelar abang, orang Cina bergelar toke, dan orang Eropa bergelar tuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, secara khusus teungku juga merupakan gelar kepakaran dalam keagamaan di Aceh misalnya; Teungku Chik Di Tiro dan Teungku Daud Beureueh. Gelar kepakaran teungku juga dapat disandang oleh wanita misalnya Teungku Fakinah. Sebagai pembedaan gender pemakai, gelar teungku bagi wanita sering dilengkapi dengan sebutan teungku nyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengku jika digunakan oleh wanita itu menandakan statusnya sebagai anak perempuan raja. Sedangkan untuk anak laki-laki raja digelar Tuanku. Sedangkan Tengku bila laki-laki maka menandakan seorang guru ngaji atau kyai. Hal ini disebabkan ketika Aceh mengundang guru-guru ngaji atau kyai dari Padang, dimana di Padang disebut Angku Guru, namun lidah rakyat Aceh merubahnya menjadi Tengku[rujukan?]. Di kemudian hari, sebutan Tengku lebih dikenal sebagai sebutan untuk Kyai atau Guru Ngaji. Sedangkan gelar Tengku untuk putri raja tidak terlalu diketahui oleh rakyat Aceh karena para putri raja ini sangat dijaga didalam istana. Jika putri Raja menjadi Ratu maka berubah nama menjadi Sultana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga menyebabkan banyak buku sejarah yang salah mengartikan gelar Tengku. Bahkan seringkali terdapat kesalahan dalam pengejaan Teuku menjadi Tengku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Tuanku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Teuku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teuku adalah gelar ningrat atau bangsawan untuk kaum pria suku Aceh yang memimpin wilayah nanggroë atau kenegerian. Teuku adalah seorang hulubalang atau ulèë balang dalam bahasa Acehnya. Sama seperti tradisi budaya patrilineal lainnya, gelar Teuku dapat diperoleh seorang anak laki-laki, bilamana ayahnya juga bergelar Teuku.&lt;br /&gt;Banyak kekeliruan serta kesalah pahaman rakyat Indonesia dalam melafalkan atau menulis nama-nama tokoh Aceh, contohnya kesalahan dalam membedakan siapa yang Teuku dan Teungku.  Contoh: Teuku Umar, bukan Teungku Umar (karena beliau memang seorang Ningrat dari sebuah kerajaan kecil di Aceh Barat), Teungku Chik Di Tiro, bukan Teuku Chik Di Tiro (Beliau bukan seorang ningrat, tetapi adalah seorang ulama besar di wilayah Tiro, Pidie)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Cut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cut adalah salah satu gelar kebangsawanan di Aceh yang diperuntukkan untuk kaum perempuan. Gelar ini diturunkan sampai ke anak cucunya jika perempuan bangsawan tersebut menikah dengan laki-laki dari kalangan bangsawan juga, yang lazim disebut dengan "Teuku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Laksamana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Laksamana adalah istilah dalam Bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Melayu, yaitu panglima tertinggi di laut. Seperti halnya digunakan pada masa Sultan Iskandar Muda (1593-1636) di Kesultanan Aceh yang memiliki seorang panglima angkatan laut perempuan bernama Laksamana Malahayati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hang Tuah, yang diduga berasal dari Kepulauan Riau, dihikayatkan dalam Sastra Melayu menjadi seorang laksamana di Kerajaan Malaka pada abad ke-14.Nama Laksamana berasal dari tokoh Laksmana dalam kisah Ramayana, yang populer di Asia Tenggara. Gelar Laksamana konon dianugerahkan kepada Hang Tuah, yang menurut Sejarah Melayu merupakan panglima laut tertinggi Malaka. Gelar ini kemudian digunakan oleh penerus Hang Tuah sebagai panglima laut di Kesultanan Malaka, dan di Kesultanan Johor-Riau. Dengan demikian, istilah Laksamana kemudian digunakan untuk mengacu pangkat panglima laut tertinggi secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Ulee Balang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ulee Balang atau Hulu Balang dalam bahasa Melayu adalah golongan bangsawan dalam masyarakat Aceh yang memimpin sebuah kenegerian atau nanggro, yaitu wilayah setingkat kabupaten dalam struktur pemerintahan Indonesia sekarang. Ulee balang digelari dengan gelar Teuku untuk laki-laki atau Cut untuk perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. Meurah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meurah adalah gelar raja-raja di Aceh sebelum datangnya agama Islam. Dalam bahasa Gayo disebut Marah, seperti Marah Silu yang merupakan pendiri kerajaan Samudera Pasai. Contoh lainnya adalah putra Sultan Iskandar Muda digelari dengan Meurah Pupok. Setelah datangnya agama Islam, setiap raja Aceh berganti gelar menjadi Sultan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari &lt;a href="mailto:Lickz_z@yahoo.com"&gt;Bang Indra&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;Simak lebih jauh tentang Aceh Darussalam &lt;a href="http://acehpedia.org/"&gt;di sini&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://acehdalamsejarah.blogspot.com/"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-1131114213380944683?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/1131114213380944683/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/kesultanan-aceh-darussalam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/1131114213380944683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/1131114213380944683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/kesultanan-aceh-darussalam.html' title='Kesultanan Aceh Darussalam'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i595.photobucket.com/albums/tt33/BayeuenTeureubang/Baiturrahman%20Great%20Mosque/th_BaiturrahmanMosqueBandaAceh1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-6067585899804105685</id><published>2010-07-24T11:37:00.008+07:00</published><updated>2010-07-24T12:27:33.329+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seni Budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tradisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muhar Omtatok'/><title type='text'>Tok  Pawang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://melayuonline.com/pict/p464ec4ed951ee.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 0px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 239px; height: 267px;" src="http://melayuonline.com/pict/p464ec4ed951ee.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Peran PAWANG Bagi Orang Melayu Sumatera Utara Bagian Timur&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 51);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;"&gt;Batasan mengenai siapa itu Melayu acapkali saling tumpang tindih dan salah kaprah, hal ini terjadi karena adanya pengertian Melayu berdasarkan Bahasa, Ras, Etnis/Puak, atau ada juga berdasarkan religi, yaitu Melayu sama dengan Islam.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;"&gt;Setelah pusat imperium melayu berada di Malaka 1400 M dan Parameshwara di"Islam"kan dari Pasai maka sejak itu terbentuk suatu citra jati diri Etnis Melayu baru yang tidak terikat kepada faktor genekologis (pertautan darah) namun dipersatukan oleh faktor Adat Resam, Islam, dan Bahasa.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;"&gt;Melayu Sumatera Timur adalah Orang yang dipersatukan oleh faktor-faktor Adat Resam, Islam, dan Bahasa Melayu di wilayah Tamiang (masuk dalam wilayah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara), beberapa tempat di Sumatera Utara seperti Langkat, Deli, Serdang, Batubara, Asahan, Kualuh, Panai, Bilah, Bedagai, Tebing Tinggi, dan bahagian Riau seperti Siak Sri Indrapura. Orang Melayu Sumatera Timur terkenal sangat spiritual hidupnya, sehingga fungsi Tok Pawang menempati kedudukan yang penting.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;"&gt; Tok Pawang bagi Orang Melayu Sumatera Timur adalah seseorang yang mempunyai talenta supranatural yang difungsikan dalam setiap mobilitas kehidupan Orang Melayu. Memindahkan hujan, memindahkan makhluk halus, meminak ikan, dan lain sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;"&gt;Dalam Masyarakat Melayu Sumatera Timur, Pawang; Tukang Ceritera; Tuan Guru; mempunyai arti yang bisa disamakan dengan Tok Bomo (Dukun).&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;"&gt;Dalam Ritual Jamu Laut, Tulak Bala, dan Tari Lukah misalnya, pemimpin ritual disebut Tok Pawang. Sedangkan dalam Ritual Mandi Berminyak disebut Tuan Guru atau Orang Pintar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;"&gt;Kata Dukun sendiri, bagi Orang Melayu Sumatera Timur sering ditabalkan untuk Dukun Patah (tabib spesialis tulang), Dukun Urut, Tukang Kusuk (pemijat) atau Dukun Beranak (Bidan tradisional).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;"&gt; Di perkampungan yang sudah ada bidan, terkadang dukun beranak masih tetap difungsikan karena diyakini bahwa dukun beranak mempunyai kemahiran ganda yaitu membantu persalinan dan juga menguasai ilmu ghaib. Diyakini bahwa perempuan yang akan dan sedang menjalani persalinan sering diganggu oleh makhluk gaib. Dukun Beranak membuat Buhul atau memotong dan menyimpul tali pusat bayi lelaki dengan bilangan 7 dan bayi perempuan dengan bilangan 6 sebagai syarat tuah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;PAWANG JAMU LAUT&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;"&gt;Nelayan Melayu Sumatera Timur sangat percaya akan kekuatan gaib yang ada di laut dapat mempengaruhi hasil tangkapannya. Orang yang mampu bernegosiasi dengan jembalang laut dan mambang laut (makhluk gaib di laut) adalah Tok Pawang Jamu Laut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;"&gt;Seseorang menjadi Tok Pawang Jamu Laut merupakan profesi turun temurun yang kabarnya tidak bisa terelakkan, jika tidak ingin kena fuaka. Tok Pawang biasanya sudah berusia lanjut, mengetahui silsilah kampung makhluk dan prosesi jamu laut serta wajib memahami siroh nabi dan aksara arab gundul. Tok Pawang sangat disegani dilingkungan masyarakat nelayan Melayu Sumatera Timur karena selain mampu "mendongkrak" hasil tangkapan ikan, ia juga diyakini dan terbukti mampu memerintahkan makhluk gaib yang ada dilaut untuk menyembunyikan ikan-ikan yg ada dilaut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;PAWANG MANDI BERMINYAK&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;"&gt;Dalam ritual mandi berminyak, Tok Pawang disebut Tuan Guru atau Orang Pintar yang merupakan profesi warisan juga. Ritual ini berhubungan dengan kesaktian, kekebalan atau beladiri hingga Tuan Guru adalah sosok yang piawang dalam ilmu beladiri atau kesaktian melayu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;PAWANG TARI LUKAH&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;"&gt;Sewaktu pertunjukan ritual tari lukah, Tok Pawang menyanyikan mantera sehingga seorang pawang tari lukah mesti berbakat berlagu. Sewaktu ia mendendangkan mantera, ia dapat membuat hadirin trance, kesurupan, seiring musik yg mengiringi. Pawang Selalu menetapkan waktu yang sesuai untuk melakukan pertunjukan. Ia menguasai pemahaman makna 30 nama hari berdasarkan perjalanan bulan. Sehingga tari lukah ditetapkan pada hari baik sesuai almanak yang dipahami Tok Pawang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;PAWANG TULAK BALA&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;"&gt;Biasanya Tok Pawang Tulak Bala dalam sebuah ruwatan kampung tidak satu orang. Mereka bersama-sama mempersiapkan ritual dan berkolaborasi bengan perbedaan kemampuan dan kepahamannya masing-masing. Pada umumnya mereka memahami dengan baik ilmu-ilmu persulukan.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari:  M. Muhar Omtatok&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try  {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/S8OKtrEa41I/AAAAAAAAEfw/JESrYCWU4x0/s1600/MOTM-Thumb.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 106px; height: 126px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/S8OKtrEa41I/AAAAAAAAEfw/JESrYCWU4x0/s200/MOTM-Thumb.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459359690563183442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 0, 0); text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-6067585899804105685?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/6067585899804105685/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/tok-pawang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/6067585899804105685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/6067585899804105685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/tok-pawang.html' title='Tok  Pawang'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/S8OKtrEa41I/AAAAAAAAEfw/JESrYCWU4x0/s72-c/MOTM-Thumb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-4308774294984977149</id><published>2010-07-04T22:43:00.006+07:00</published><updated>2010-07-04T23:33:24.299+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Singapore'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Singapore, a brief history</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/TDCvUfYGb7I/AAAAAAAAE-s/E5pSPZZ6Mn4/s1600/historysingapore.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 0px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 382px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/TDCvUfYGb7I/AAAAAAAAE-s/E5pSPZZ6Mn4/s400/historysingapore.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5490080712319463346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Written                               accounts of the early history of Singapore are                               sketchy and the names used to refer to the place                               are varied.  A Chinese account of the third                               century refers to Singapore as Pu-luo-chung,                               translating the Malay words Pulau Ujong that                               refers to it as the 'island at the end' of the                               peninsula.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;                               &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;The                               1365 Javanese epic poem Negarakretagama identified                               a settlement called Tamasek, Water Town, on                               Singapore island.  Chinese trader, Wany                               Dayuan, who visited Singapore around 1330 and                               referred to the settlement as Danmaxi, reported                               that there were also some Chinese living on the                               island.  The Sejarah Melayu or                               Malay Annals has the most colorful account of                               how Singapore got its present name.  As the                               story goes, Sang Mila Utama (or Sri Tri Buana),                               ruler of Palembang, landed at Temasek one day                               while seeking shelter from a storm.  Sighting                               an animal that his followers calleda lion, he                               decided to establish a settlement and named it                               Singapura - Lion City.  The island became                               commonly known as Singapura by the end of the 14th                               century.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;                               &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;During                               the 14th century, Singapore was caught in the                               struggle between Siam (now Thailand) and the                               Java-based Majapahit Empire for control over the                               Malay Peninsula.  According to to                                Sejarah Melayu, Singapore was defeated in one                               Majapahit attack.  Later a prince of                               Palembang, Iskandar Shah, also known as                               Parameswara, killed the local chieftain and                               installed himself as the island's new ruler.                                Shortly after, he was driven out, either by the                               Siamese or by the Javanese forces of the Majapahit                               and fled north to Malacca where he founded the                               Malacca Sultanate.  Singapore remained an                               important part of the Malacca Sultanate; it was                               the fief of admirals, including Hang Tuah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;                               &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 51, 51);" class="body_darkblue"&gt;In                               the early 15th century, Singapore was a Thai                               vassal state, but the Malacca Sultanate which                               Iskandar had founded quickly extended its                               authority over the island. After the Portuguese                               seizure of Malacca in 1511, the Malay admiral fled                               to Singapura and established a new capital at                               Johor Lama, keeping a port officer in Singapura.                               The Portuguese destroyed Johor Lama in 1587 and                               the subsequent obscurity of Singapura probably                               dates from 1613 when the Portuguese reported                               burning down a Malay outpost at the mouth of the                               river.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;                               &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 51, 51);" class="body_darkblue"&gt;In                               1819, Singapore was established as a trading                               station by Sir Stamford Raffles under an agreement                               between the British East India Company and the                               Sultan of Johor and the Malay ruler of the island.                               In 1824, Singapore was ceded in perpetuity to the                               East India Company by the Sultan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;                               &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 51, 51);" class="body_darkblue"&gt;During                               World War II, Singapore was occupied by the                               Japanese from 1942 to 1945. Following the                               surrender of Japan, Singapore was re-occupied by                               the Allied Forces.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;                               &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 51, 51);" class="body_darkblue"&gt;In                               August 1958, the State of Singapore Act was passed                               in the United Kingdom Parliament providing for the                               establishment of the State of Singapore. Singapore                               achieved internal self-government on 3 June 1959.                               On 1 September 1962, 73 percent of the electorate                               voted in favour of merger with Malaysia. Singapore                               became a part of the Federation of Malaysia on 16                               September 1963. The union was short-lived and                               Singapore separated from Malaysia on 9 August 1965                               becoming a fully independent and sovereign nation.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;                               &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 51, 51);" class="body_darkblue"&gt;Singapore                               became the 117th member of the United Nations on                               21 September 1965. On 22 December 1965, the                               Constitution Amendment Act was passed under which                               the Head of State became the President and the                               State of Singapore became the Republic of                               Singapore.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(51, 51, 51);" class="body_darkblue"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;                               &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);" class="body_darkblue"&gt;[Information                               provided by the  &lt;a href="http://www.blogger.com/Written%20accounts%20of%20the%20early%20history%20of%20Singapore%20are%20sketchy%20and%20the%20names%20used%20to%20refer%20to%20the%20place%20are%20varied.%20%20A%20Chinese%20account%20of%20the%20third%20century%20refers%20to%20Singapore%20as%20Pu-luo-chung,%20translating%20the%20Malay%20words%20Pulau%20Ujong%20that%20refers%20to%20it%20as%20the%20%27island%20at%20the%20end%27%20of%20the%20peninsula.%20%20The%201365%20Javanese%20epic%20poem%20Negarakretagama%20identified%20a%20settlement%20called%20Tamasek,%20Water%20Town,%20on%20Singapore%20island.%20%20Chinese%20trader,%20Wany%20Dayuan,%20who%20visited%20Singapore%20around%201330%20and%20referred%20to%20the%20settlement%20as%20Danmaxi,%20reported%20that%20there%20were%20also%20some%20Chinese%20living%20on%20the%20island.%20%20The%20Sejarah%20Melayu%20or%20Malay%20Annals%20has%20the%20most%20colorful%20account%20of%20how%20Singapore%20got%20its%20present%20name.%20%20As%20the%20story%20goes,%20Sang%20Mila%20Utama%20%28or%20Sri%20Tri%20Buana%29,%20ruler%20of%20Palembang,%20landed%20at%20Temasek%20one%20day%20while%20seeking%20shelter%20from%20a%20storm.%20%20Sighting%20an%20animal%20that%20his%20followers%20calleda%20lion,%20he%20decided%20to%20establish%20a%20settlement%20and%20named%20it%20Singapura%20-%20Lion%20City.%20%20The%20island%20became%20commonly%20known%20as%20Singapura%20by%20the%20end%20of%20the%2014th%20century.%20%20During%20the%2014th%20century,%20Singapore%20was%20caught%20in%20the%20struggle%20between%20Siam%20%28now%20Thailand%29%20and%20the%20Java-based%20Majapahit%20Empire%20for%20control%20over%20the%20Malay%20Peninsula.%20%20According%20to%20to%20%20Sejarah%20Melayu,%20Singapore%20was%20defeated%20in%20one%20Majapahit%20attack.%20%20Later%20a%20prince%20of%20Palembang,%20Iskandar%20Shah,%20also%20known%20as%20Parameswara,%20killed%20the%20local%20chieftain%20and%20installed%20himself%20as%20the%20island%27s%20new%20ruler.%20%20Shortly%20after,%20he%20was%20driven%20out,%20either%20by%20the%20Siamese%20or%20by%20the%20Javanese%20forces%20of%20the%20Majapahit%20and%20fled%20north%20to%20Malacca%20where%20he%20founded%20the%20Malacca%20Sultanate.%20%20Singapore%20remained%20an%20important%20part%20of%20the%20Malacca%20Sultanate;%20it%20was%20the%20fief%20of%20admirals,%20including%20Hang%20Tuah.%20%20In%20the%20early%2015th%20century,%20Singapore%20was%20a%20Thai%20vassal%20state,%20but%20the%20Malacca%20Sultanate%20which%20Iskandar%20had%20founded%20quickly%20extended%20its%20authority%20over%20the%20island.%20After%20the%20Portuguese%20seizure%20of%20Malacca%20in%201511,%20the%20Malay%20admiral%20fled%20to%20Singapura%20and%20established%20a%20new%20capital%20at%20Johor%20Lama,%20keeping%20a%20port%20officer%20in%20Singapura.%20The%20Portuguese%20destroyed%20Johor%20Lama%20in%201587%20and%20the%20subsequent%20obscurity%20of%20Singapura%20probably%20dates%20from%201613%20when%20the%20Portuguese%20reported%20burning%20down%20a%20Malay%20outpost%20at%20the%20mouth%20of%20the%20river.%20%20In%201819,%20Singapore%20was%20established%20as%20a%20trading%20station%20by%20Sir%20Stamford%20Raffles%20under%20an%20agreement%20between%20the%20British%20East%20India%20Company%20and%20the%20Sultan%20of%20Johor%20and%20the%20Malay%20ruler%20of%20the%20island.%20In%201824,%20Singapore%20was%20ceded%20in%20perpetuity%20to%20the%20East%20India%20Company%20by%20the%20Sultan.%20%20During%20World%20War%20II,%20Singapore%20was%20occupied%20by%20the%20Japanese%20from%201942%20to%201945.%20Following%20the%20surrender%20of%20Japan,%20Singapore%20was%20re-occupied%20by%20the%20Allied%20Forces.%20%20In%20August%201958,%20the%20State%20of%20Singapore%20Act%20was%20passed%20in%20the%20United%20Kingdom%20Parliament%20providing%20for%20the%20establishment%20of%20the%20State%20of%20Singapore.%20Singapore%20achieved%20internal%20self-government%20on%203%20June%201959.%20On%201%20September%201962,%2073%20percent%20of%20the%20electorate%20voted%20in%20favour%20of%20merger%20with%20Malaysia.%20Singapore%20became%20a%20part%20of%20the%20Federation%20of%20Malaysia%20on%2016%20September%201963.%20The%20union%20was%20short-lived%20and%20Singapore%20separated%20from%20Malaysia%20on%209%20August%201965%20becoming%20a%20fully%20independent%20and%20sovereign%20nation.%20%20Singapore%20became%20the%20117th%20member%20of%20the%20United%20Nations%20on%2021%20September%201965.%20On%2022%20December%201965,%20the%20Constitution%20Amendment%20Act%20was%20passed%20under%20which%20the%20Head%20of%20State%20became%20the%20President%20and%20the%20State%20of%20Singapore%20became%20the%20Republic%20of%20Singapore.%20%20Information%20provided%20by%20the%20Singapore%20Embassy"&gt;Singapore                               Embassy&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-4308774294984977149?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/4308774294984977149/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/history-of-singapore.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/4308774294984977149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/4308774294984977149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/history-of-singapore.html' title='Singapore, a brief history'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/TDCvUfYGb7I/AAAAAAAAE-s/E5pSPZZ6Mn4/s72-c/historysingapore.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-6202133327479502759</id><published>2010-07-04T22:07:00.004+07:00</published><updated>2010-07-04T22:29:34.111+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Kerajaan-Kerajaan Islam di Pulau Jawa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/TDCn5lvYOzI/AAAAAAAAE-g/NjGQRK7ngrE/s1600/walisongo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 620px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/TDCn5lvYOzI/AAAAAAAAE-g/NjGQRK7ngrE/s400/walisongo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5490072553589848882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;1) Yang terpenting terdapat hingga kini adalah para sultan  Cirebon, keturunan langsung dari SUSUHUNAN GUNUNG JATI. Hanya kepada para Alawi  (Sayid) diperkenankan ziarah makam moyangnya. Belanda melarang gelar sultan  digunakan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2) Keluarga para sultan Banten, keturunan langsung dari  seorang putra SUSUHUNAN GUNUNG JATI, dibuang oleh Belanda ke Surabaya. Suatu  cabang dari keluarga para Sultan Banten adalah para Regen Cianjur, kedudukan  mana ditetapkan pada tahun 1815. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;3) Keturunan SUSUHUNAN KALIJOGO adalah para Pangeran  Kadilangu dekat Demak, sedangkan keturunan SUSUHUNAN DRAJAT tinggal di atas  tanah milik Drajat, sebesar lebih kurang 9 hektar dekat Sedayu; inilah yang  merupakan sisa dari Kerajaan Drajat. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;4) Sejarah keluarga BA-SYAIBAN: Pada permulaan abad ke XVIII  datang dari Hadramaut ke Cirebon Sayid Abdurrahman bin Muhammad, dimana beliau  menikah dengan puteri Sultan Cirebon. Kedua puteranya Sulaiman dan Abdurrahim  memperoleh gelar KIAHI MAS, semula tinggal di Surabaya dan kemudian di Krapyak  (Pekalongan). Suatu cabang dari keluarga ini menetap di Surabaya. Seorang putera  dari Abdurrahim, bernama SA'ID, menikah dengan puteri RADEN ADIPATI DANU REJO,  Pengurus Kerajaan Jogjakarta. Dari ketiga puteranya, yang tertua Hasyim  bergelar RADEN WONGSO ROJO, yang kedua Abdallah bergelar hanya RADEN, sedangkan  yang ketiga Alwi kemudian pada tahun 1813, menjadi REGEN MAGELANG dengan nama  dan gelar RADEN TUMENGGUNG DANU NINGRAT I. Pada tahun 1820 beliau bergelar RADEN  ADIPATI. Keturunan dari Hasyim dan dari Abdallah tinggal di Jogjakarta, dan  beberapa dari mereka memangku jabatan-jabatan penting pada Ke-Sultanan. Pada  tahun 1826, Hamdani bin Alwi yang menggantikan ayahnya sebagai Regen Magelang  bergelar RADEN TUMENGGUNG ARIO DANU NINGRAT II. Pada tahun 1862 beliau diganti  oleh puteranya Sa'id yang bergelar RADEN TUMENGGUNG DANU (KUSUMO) NINGRAT III.  Pada tahun 1879 beliau diganti oleh puteranya SAYID AHMAD BIN SA'ID yang  bergelar RADEN TUMENGGUNG DANU KUSUMO. Sayid Sa'id bin Hamdani balik dari haji  (Makkah) pada tahun 1881, seorang sayid dari keturunan para pangeran Jawa kuna. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;5) Sejarah keluarga pelukis masyhur RADEN SALEH. Namanya yang  betul adalah Sayid Salih bin Husain bin Yahya. Neneknya Awadh datang dari  Hadramaut ke Jawa pada permulaan abad ke XIX dan menikah dengan puteri Regen  Lassem, Kiahi Bostam. Puteranya, Seyid Husain bin Awadh tinggal di Pekalongan,  dimana beliau menikah dengan puteri Regen Wiradesa. Beliau memperoleh dua putera  dengan gelar Sayid dan dua puteri dengan gelar Syarifah. Putera yang kedua  bergelar pula RADEN. Seorang puterinya dinikahkan dengan Patih Galuh. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;6) Suatu cabang dari keluarga BIN-YAHYA tiba di Pulau Pinang  pada permulaan abad ke XIX juga, dan namanya TAHIR. Beliau menikah dengan  seorang puteri dari keluarga Sultan Jogjakarta, Sultan mana dibuang ke Pulau  Pinang selama 1812-1816. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sayid Tahir datang ke Jawa tinggal di Semarang. Puteranya  yang ketiga AHMAD RADEN SUMODIRJO yang kemudian tinggal di Pekalongan dan  memperisterikan seorang syarifah dari keluarga BA'ABUD. Puteranya Seyid Salih  bergelar RADEN SUMO DI PUTRO. Satu-satu puterinya menikah dengan seorang Seyid  dari Hadramaut. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;7) Keluarga AL-BA'ABUD: Seyid Ahmad bin Muhsin Ba'abud tiba  dari Hadramaut di Pekalongan pada perrmulaan abad ke XIX, dan menikah dengan  seorang puteri REGEN WIRADESA. Seorang anak cucunya Sayid Muhsin bin Husain bin  Ahmad Ba'abud bergelar RADEN SURO ATMOJO. Saudaranya Ahmad bergelar RADEN SURO  DI PUTRO. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;8) Keluarga JAMAL-AL-LAIL. Di Priaman (Sumatra Barat) ada  suatu cabang dari keluarga JAMAL-AL-LAIL, dan kepada para anggautanya penduduk  memberi gelar SIDI. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;9) Pada Kerajaan JAMBI, banyak terdapat anggauta keturunan  BARAQBAH dan AL-JUFRI, begitu pula di Aceh, pun dari keturunan JAMAL-AL-LAIL. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;10) Di Kesultanan Pontianak dan di Kubu, banyak sekali  terdapat keturunan AL­QADRI, AL-AYDRUS, BA-ABUD, MUTAHHAR, AL-HINDUAN,  AL-HABSYI, AL­HADDAD, AL-SAQQAF dan lain-lain Alawiyin. Semua ini  bersanak-saudara dengan keluarga Sultan AL-QADRI. Sayid-sayid bergelar Wan,  ringkasan dari Tuan, dan untuk wanita: Wan Ipa, ringkasan dari Tuan Syarifah. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;11) Keluarga para Sultan Siak dan keluarga penguasa Palalawan  adalah semua Alawiyin, begitu pua di Palembang. Keluarga-keluarga para Alawi  yang terkemuka di Palembang adalah SYAIKH ABU BAKR, ALHABSYI, BIN SYIHAB,  AL-SAQQAF, BARAQBAH, AL-KAF, AL-MUNAWWAR dan AL-JUFRI. Antara mereka ada yang  berkeluarga dengan sultan-sultan dahulu. Banyak sekali terjadi percampuran darah  antara keluarga-keluarga Alawi (Sayid) dengan para terkemuka Indonesia, seperti  puteri Sultan dari Pulau Bacan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;12) Para sultan keturunan Alawi dari Siak, Palalawan,  Pontianak dan dari Kubu namanya disebut dalam khotbah Jumahat. Pendiri  kesultanan Siak adalah SEYID ALI BIN UTHMAN BIN SYIHAB, dari Palalawan adalah  SEYID ABDURRAHMAN BIN UTHMAN BIN SYIHAB, dan dari PONTIANAK adalah SEYID  ABDURRAHMAN BIN HUSEIN AL-QADRI. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;13) Pendiri kesultanan SULU adalah SAYID ABUBAKR dari  Palembang dengan gelar SULTAN SHARIF (orang-orang Sulu menyebutnya ASSULTAN  ASSYARIF ALHASYIMI). Urutan para sultan adalah sebagai berikut: MAHARAJA UPU –  PANGIRAN BUDIMAN – SULTAN TANGA – SULTAN BUNGSU – SULTAN NASIRUDDIN – SULTAN  KARAMAT – SULTAN SYAHABUDDIN – SULTAN MUSTAFA gelar SAPIUDDIN – SULTAN MUHAMMAD  NASARUDDIN – SULTAN ALIMUDDIN I – SULTAN MUHAMMAD MU'IZZIDDIN – SULTAN ISRAIL –  SULTAN ALIMUDDIN II – SULTAN MUHAMMAD SARAPUDDIN – SULTAN ALIMUDDIN III. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;14) Masuknya Islam dan terdirinya dynasti Islam di Sulu: 1380  – 1450. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;*(No. 13 dan 14 dikutip dari THE HISTORY OF SULU oleh Najeeb  M. Saleeby, Manila, 1963). &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;* Yang terurai di atas  digali dari buku LE HADHRAMOUT ET LES COLONIES ARABES DANS L'ARCHIPEL INDIEN par  L.C.W. van den Berg, .Ouvrage publié par ordre du Gouvernement, Batavia,  Imprimerie du Gouvernement, 1886/Museum Pusat, Jakarta, XXI/1387 &amp;amp; XXI/6076.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;[Dari: &lt;a href="http://www.asyraaf.net/"&gt;Asyraaf Malaysia&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-6202133327479502759?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/6202133327479502759/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/kerajaan-kerajaan-islam-yang-didirikan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/6202133327479502759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/6202133327479502759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/kerajaan-kerajaan-islam-yang-didirikan.html' title='Kerajaan-Kerajaan Islam di Pulau Jawa'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/TDCn5lvYOzI/AAAAAAAAE-g/NjGQRK7ngrE/s72-c/walisongo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-2491033366379019671</id><published>2010-07-04T19:55:00.004+07:00</published><updated>2010-07-04T20:45:33.380+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wikipedia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesultanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Kesultanan Riau-Lingga</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/TDCHQlF0lWI/AAAAAAAAE-I/mwcJlwtp60g/s1600/cogan1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 620px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/TDCHQlF0lWI/AAAAAAAAE-I/mwcJlwtp60g/s400/cogan1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5490036664668820834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Kesultanan Riau-Lingga&lt;/b&gt; adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan" title="Kerajaan"&gt;kerajaan&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam" title="Islam"&gt;Islam&lt;/a&gt; yang berpusat &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Lingga" title="Kepulauan Lingga"&gt;Kepulauan Lingga&lt;/a&gt; yang merupakan pecahan dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Johor" title="Kesultanan Johor"&gt;Kesultanan Johor&lt;/a&gt;. Kesultanan ini dibentuk berdasarkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_London_tahun_1824" title="Perjanjian London tahun 1824"&gt;perjanjian&lt;/a&gt; antara &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Britania_Raya" title="Britania Raya"&gt;Britania Raya&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda" title="Belanda"&gt;Belanda&lt;/a&gt; pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1824" title="1824"&gt;1824&lt;/a&gt; dengan Sultan Abdul Rahman Muadzam Syah sebagai sultan pertamanya. Kesultanan ini dihapuskan oleh pemerintah kolonial Belanda pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/3_Februari" title="3 Februari"&gt;3 Februari&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1911" title="1911"&gt;1911&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Wilayah Kesultanan Riau-Lingga mencakup provinsi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Riau" title="Kepulauan Riau"&gt;Kepulauan Riau&lt;/a&gt; modern, tapi tidak termasuk provinsi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Riau" title="Riau"&gt;Riau&lt;/a&gt; yang didominasi oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Siak" title="Kesultanan Siak" class="mw-redirect"&gt;Kesultanan Siak&lt;/a&gt;, yang sebelumnya sudah memisahkan diri dari Johor-Riau.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kesultanan ini memiliki peran penting dalam perkembangan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Melayu" title="Bahasa Melayu"&gt;bahasa Melayu&lt;/a&gt; hingga menjadi bentuknya sekarang sebagai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia" title="Bahasa Indonesia"&gt;bahasa Indonesia&lt;/a&gt;. Pada masa kesultanan ini bahasa Melayu menjadi bahasa standar yang sejajar dengan bahasa-bahasa besar lain di dunia, yang kaya dengan susastra dan memiliki kamus ekabahasa. Tokoh besar di belakang perkembangan pesat bahasa Melayu ini adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raja_Ali_Haji" title="Raja Ali Haji" class="mw-redirect"&gt;Raja Ali Haji&lt;/a&gt;, seorang pujangga dan sejarawan keturunan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Melayu-Bugis" title="Melayu-Bugis"&gt;Melayu-Bugis&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;h2&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Sejarah"&gt;Sejarah&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Riau-Lingga pada awalnya merupakan bagian dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Malaka" title="Kesultanan Malaka"&gt;Kesultanan Malaka&lt;/a&gt;, dan kemudian &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Johor" title="Kesultanan Johor"&gt;Kesultanan Johor-Riau&lt;/a&gt;. Pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1811" title="1811"&gt;1811&lt;/a&gt; Sultan Mahmud Syah III mangkat. Ketika itu, putra tertua, Tengku Hussain sedang melangsungkan pernikahan di Pahang. Menurut adat Istana, seseorang pangeran raja hanya bisa menjadi Sultan sekiranya dia berada di samping Sultan ketika mangkat. Dalam sengketa yang timbul &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Britania" title="Britania" class="mw-redirect"&gt;Britania&lt;/a&gt; mendukung putra tertua, Husain, sedangkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda" title="Belanda"&gt;Belanda&lt;/a&gt; mendukung adik tirinya, Abdul Rahman. Traktat London pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1824" title="1824"&gt;1824&lt;/a&gt; membagi Kesultanan Johor menjadi dua: Johor berada di bawah pengaruh Britania sedangkan Riau-Lingga berada di dalam pengaruh Belanda. Abdul Rahman ditabalkan menjadi raja Riau-Lingga dengan gelar Sultan Abdul Rahman Muadzam Syah, dan berkedudukan di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Lingga" title="Kepulauan Lingga"&gt;Kepulauan Lingga&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sultan Hussain yang didukung Britania pada awalnya beribukota di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Singapura" title="Singapura"&gt;Singapura&lt;/a&gt;, namun kemudian anaknya Sultan Ali menyerahkan kekuasaan kepada Tumenggung Johor, yang kemudian mendirikan kesultanan Johor modern.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada tanggal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/7_Oktober" title="7 Oktober"&gt;7 Oktober&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1857" title="1857"&gt;1857&lt;/a&gt; pemerintah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hindia-Belanda" title="Hindia-Belanda"&gt;Hindia-Belanda&lt;/a&gt; memakzulkan Sultan Mahmud IV dari tahtanya. Pada saat itu Sultan sedang berada di Singapura. Sebagai penggantinya diangkat pamannya, yang menjadi raja dengan gelar Sultan Sulaiman II Badarul Alam Syah. Jabatan raja muda (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yang_Dipertuan_Muda" title="Yang Dipertuan Muda" class="mw-redirect"&gt;Yang Dipertuan Muda&lt;/a&gt;) yang biasanya dipegang oleh bangsawan keturunan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bugis" title="Bugis"&gt;Bugis&lt;/a&gt; disatukan dengan jabatan raja oleh Sultan Abdul Rahman II Muadzam Syah pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1899" title="1899"&gt;1899&lt;/a&gt;. Karena tidak ingin menandatangani kontrak yang membatasi kekuasaannya Sultan Abdul Rahman II meninggalkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Penyengat" title="Pulau Penyengat"&gt;Pulau Penyengat&lt;/a&gt; dan hijrah ke &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Singapura" title="Singapura"&gt;Singapura&lt;/a&gt;. Pemerintah Hindia Belanda memakzulkan Sultan Abdul Rahman II &lt;i&gt;in absentia&lt;/i&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/3_Februari" title="3 Februari"&gt;3 Februari&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1911" title="1911"&gt;1911&lt;/a&gt;, dan resmi memerintah langsung pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1913" title="1913"&gt;1913&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kesultanan_Riau-Lingga&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=2" title="Sunting bagian: Daftar sultan"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Daftar_sultan"&gt;Daftar sultan&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;table class="wikitable" style="font-size: 95%;" width="625" align="center" border="1" cellpadding="3"&gt; &lt;caption&gt;&lt;b&gt;Sultan Riau-Lingga&lt;/b&gt;&lt;/caption&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr bgcolor="lightgrey"&gt; &lt;th&gt;#&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Nama&lt;/th&gt; &lt;th&gt;Masa pemerintahan&lt;/th&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td align="center"&gt;1&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Sultan Abdul Rahman Muadzam Syah&lt;/td&gt; &lt;td align="center"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1818" title="1818"&gt;1818&lt;/a&gt;–&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1832" title="1832"&gt;1832&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td align="center"&gt;2&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Sultan Muhammad II Muadzam Syah&lt;/td&gt; &lt;td align="center"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1832" title="1832"&gt;1832&lt;/a&gt;–&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1835" title="1835"&gt;1835&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td align="center"&gt;3&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Sultan Mahmud IV Mudzafar Syah&lt;/td&gt; &lt;td align="center"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1835" title="1835"&gt;1835&lt;/a&gt;–&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1857" title="1857"&gt;1857&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td align="center"&gt;4&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Sultan Sulaiman II Badarul Alam Syah&lt;/td&gt; &lt;td align="center"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1857" title="1857"&gt;1857&lt;/a&gt;–&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1883" title="1883"&gt;1883&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td align="center"&gt;5&lt;/td&gt; &lt;td&gt;Sultan Abdul Rahman II Muadzam Syah&lt;/td&gt; &lt;td align="center"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1885" title="1885"&gt;1885&lt;/a&gt;–&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1911" title="1911"&gt;1911&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;h2&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kesultanan_Riau-Lingga&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=3" title="Sunting bagian: Lihat pula"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Lihat_pula"&gt;Lihat pula&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/kesultanan-johor-riau-lingga.html" title="Kesultanan Johor"&gt;Kesultanan Johor-Riau-Lingga&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;h2&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kesultanan_Riau-Lingga&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=4" title="Sunting bagian: Pranala luar"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Pranala_luar"&gt;Pranala luar&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="cursor: help;font-family:'Courier New',monospace;" title="Situs atau karya ini dalam bahasa Inggris."  lang="en"&gt;(en)&lt;/span&gt;&lt;a href="http://cip.cornell.edu/Dienst/UI/1.0/Summarize/seap.indo/1107127220" class="external text" rel="nofollow"&gt;Mahmud, Sultan of Riau and Lingga (1823 -- 1864)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="cursor: help;font-family:'Courier New',monospace;" title="Situs atau karya ini dalam bahasa Inggris."  lang="en"&gt;(en)&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.worldstatesmen.org/Indonesia_princely_states1.html" class="external text" rel="nofollow"&gt;Indonesian Traditional States I&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="cursor: help;font-family:'Courier New',monospace;" title="Situs atau karya ini dalam bahasa Indonesia."  lang="id"&gt;(id)&lt;/span&gt;&lt;span style="cursor: help;font-family:'Courier New',monospace;" title="Situs atau karya ini dalam bahasa Melayu."  lang="ms"&gt;(ms)&lt;/span&gt;&lt;span style="cursor: help;font-family:'Courier New',monospace;" title="Situs atau karya ini dalam bahasa Inggris."  lang="en"&gt;(en)&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.riaulingga.com/" class="external text" rel="nofollow"&gt;Situs keluarga raja-raja Riau-Lingga&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="cursor: help;font-family:'Courier New',monospace;" title="Situs atau karya ini dalam bahasa Inggris."  lang="en"&gt;(en)&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.4dw.net/royalark/Indonesia/lingga.htm" class="external text" rel="nofollow"&gt;Silsilah Wangsa Bendahara di situs Royal Ark&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="cursor: help;font-family:'Courier New',monospace;" title="Situs atau karya ini dalam bahasa Inggris."  lang="en"&gt;(en)&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.4dw.net/royalark/Indonesia/riau.htm" class="external text" rel="nofollow"&gt;Silsilah Wangsa Bugis di situs Royal Ark&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="cursor: help;font-family:'Courier New',monospace;" title="Situs atau karya ini dalam bahasa Inggris."  lang="en"&gt;(en)&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.uq.net.au/%7Ezzhsoszy/states/indonesia/lingga.html" class="external text" rel="nofollow"&gt;Kesultanan Lingga di University of Queensland&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="cursor: help;font-family:'Courier New',monospace;" title="Situs atau karya ini dalam bahasa Inggris."  lang="en"&gt;(en)&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.uq.net.au/%7Ezzhsoszy/states/indonesia/riau.html" class="external text" rel="nofollow"&gt;Negeri Riau sebagai bagian dari kesultanan di situs University of Queensland&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8492115473073570561-2491033366379019671?l=massahar-tiga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/feeds/2491033366379019671/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/kesultanan-riau-lingga.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/2491033366379019671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8492115473073570561/posts/default/2491033366379019671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/07/kesultanan-riau-lingga.html' title='Kesultanan Riau-Lingga'/><author><name>Bang Nonki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09418786848853579258</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/SwmyNGKq0FI/AAAAAAAADQA/4UsouNklqDg/S220/thumb-ns.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dxgDrtE97T4/TDCHQlF0lWI/AAAAAAAAE-I/mwcJlwtp60g/s72-c/cogan1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8492115473073570561.post-3929642019609166513</id><published>2010-07-04T19:04:00.014+07:00</published><updated>2010-10-17T13:29:38.250+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wikipedia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesultanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Brunei'/><title type='text'>Kesultanan Brunei Darussalam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i292.photobucket.com/albums/mm17/BangNonki/Serambi%20Melayu/brunreiroyalfamily.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 610px; height: 284px;" src="http://i292.photobucket.com/albums/mm17/BangNonki/Serambi%20Melayu/brunreiroyalfamily.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="mw-headline" id="Asal-usul_Brunei"&gt;Asal-usul Brunei&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Silsilah kerajaan Brunei didapatkan pada &lt;i&gt;Batu Tarsilah&lt;/i&gt; yang menuliskan Silsilah Raja-Raja Brunei yang dimulai dari &lt;b&gt;Awang Alak Betatar&lt;/b&gt;, raja yang mula-mula memeluk agama Islam (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1368" title="1368"&gt;1368&lt;/a&gt;) sampai kepada Sultan Muhammad Tajuddin (Sultan Brunei ke-19, memerintah antara 1795-1804 dan 1804-1807).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Brunei adalah sebuah negara tua di antara kerajaan-kerajaan di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tanah_Melayu&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Tanah Melayu (halaman belum tersedia)"&gt;tanah Melayu&lt;/a&gt;. Keberadaan Brunei Tua ini diperoleh berdasarkan kepada catatan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab" title="Bangsa Arab"&gt;Arab&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cina" title="Cina"&gt;Cina&lt;/a&gt; dan tradisi lisan. Dalam catatan Sejarah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cina" title="Cina"&gt;Cina&lt;/a&gt; dikenal dengan nama &lt;i&gt;Po-li&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Po-lo&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Poni&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Puni&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Bunlai&lt;/i&gt;. Dalam catatan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab" title="Bangsa Arab"&gt;Arab&lt;/a&gt; dikenali dengan &lt;i&gt;Dzabaj&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Randj&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Catatan tradisi lisan diperoleh dari &lt;i&gt;Syair Awang Semaun&lt;/i&gt; yang menyebutkan Brunei berasal dari perkataan &lt;i&gt;baru nah&lt;/i&gt; yaitu setelah rombongan klan atau suku Sakai yang dipimpin &lt;b&gt;Pateh Berbai&lt;/b&gt; pergi ke Sungai Brunei mencari tempat untuk mendirikan negeri baru. Setelah mendapatkan kawasan tersebut yang memiliki kedudukan sangat strategis yaitu diapit oleh bukit, air, mudah untuk dikenali serta untuk transportasi dan kaya ikan sebagai sumber pangan yang banyak di sungai, maka mereka pun mengucapkan perkataan &lt;i&gt;baru nah&lt;/i&gt; yang berarti tempat itu sangat baik, berkenan dan sesuai di hati mereka untuk mendirikan negeri seperti yang mereka inginkan. Kemudian perkataan &lt;i&gt;baru nah&lt;/i&gt; itu lama kelamaan berubah menjadi Brunei.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Replika stupa yang dapat ditemukan di Pusat Sejarah Brunei menjelaskan bahwa agama &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hindu" title="Hindu" class="mw-redirect"&gt;Hindu&lt;/a&gt;-&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buddha" title="Buddha"&gt;Buddha&lt;/a&gt; pada suatu masa dahulu pernah dianut oleh penduduk Brunei. Sebab telah menjadi kebiasaan dari para musafir agama tersebut, apabila mereka sampai di suatu tempat, mereka akan mendirikan stupa sebagai tanda serta pemberitahuan mengenai kedatangan mereka untuk mengembangkan agama tersebut di tempat itu. Replika batu nisan &lt;i&gt;P'u Kung Chih Mu&lt;/i&gt;, batu nisan Rokayah binti Sultan Abdul Majid ibni Hasan ibni Muhammad Shah Al-Sultan, dan batu nisan Sayid Alwi Ba-Faqih (Mufaqih) pula menggambarkan mengenai kedatangan agama &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam" title="Islam"&gt;Islam&lt;/a&gt; di Brunei yang dibawa oleh musafir, pedagang dan mubaligh-mubaliqh Islam, sehingga agama Islam itu berpengaruh dan mendapat tempat baik penduduk lokal maupun keluarga kerajaan Brunei.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Islam mulai berkembang dengan pesat di Kesultanan Brunei sejak Syarif Ali diangkat menjadi Sultan Brunei ke-3 pada tahun 1425 M. Sultan Syarif Ali adalah seorang Ahlul Bait dari keturunan / pancir dari Cucu Rasulullah Shalallahualaihi Wassallam yaitu Amirul Mukminin Hasan / Syaidina Hasan sebagaimana yang tercantum dalam Batu Tarsilah / prasasti dari abad ke-18 M yang terdapat di Bandar Sri Begawan, Brunei. Keturunan Sultan Syarif Ali ini kemudian juga berkembang menurunkan Sultan-Sultan disekitar wilayah Kesultanan Brunei yaitu menurunkan Sultan-Sultan Sambas dan Sultan-Sultan Sulu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h2 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:85%;" &gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Brunei&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=2" title="Sunting bagian: Sejarah Brunei"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline" id="Sejarah_Brunei"&gt;Sejarah Brunei&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="dablink noprint"&gt;&lt;img alt="!" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/ef/Crystal_Clear_app_xmag.png/20px-Crystal_Clear_app_xmag.png" width="20" height="20" /&gt;  Artikel utama untuk bagian ini adalah: &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Brunei" title="Sejarah Brunei"&gt;Sejarah Brunei&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Para peneliti sejarah telah mempercayai terdapat sebuah kerajaan lain sebelum berdirinya Kesultanan Brunei kini, yang disebut orang Tiongkok sebagai Po-ni. Catatan orang Tiongkok dan orang Arab menunjukkan bahwa kerajaan perdagangan kuno ini ada di muara Sungai Brunei awal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abad_ke-7" title="Abad ke-7"&gt;abad ke-7&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abad_ke-8" title="Abad ke-8"&gt;ke-8&lt;/a&gt;. Kerajaan itu memiliki wilayah yang cukup luas meliputi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sabah" title="Sabah"&gt;Sabah&lt;/a&gt;, Brunei dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sarawak" title="Sarawak"&gt;Sarawak&lt;/a&gt; yang berpusat di Brunei. Kesultanan Brunei juga merupakan pusat perdagangan dengan China. Kerajaan awal ini pernah ditaklukkan Kerajaan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya" title="Sriwijaya"&gt;Sriwijaya&lt;/a&gt; yang berpusat di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatra" title="Sumatra" class="mw-redirect"&gt;Sumatra&lt;/a&gt; pada awal abad ke-9 Masehi dan seterusnya menguasai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Borneo" title="Borneo" class="mw-redirect"&gt;Borneo&lt;/a&gt; utara dan gugusan kepulauan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Filipina" title="Filipina"&gt;Filipina&lt;/a&gt;. Kerajaan ini juga pernah menjadi taklukan (vazal) &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Majapahit" title="Kerajaan Majapahit" class="mw-redirect"&gt;Kerajaan Majapahit&lt;/a&gt; yang berpusat di pulau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Jawa" title="Pulau Jawa" class="mw-redirect"&gt;Jawa&lt;/a&gt;. Nama Brunai tercantum dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Negarakertagama" title="Negarakertagama" class="mw-redirect"&gt;Negarakertagama&lt;/a&gt; sebagai daerah bawahan Majapahit. Kekuasaan Majapahit tidaklah lama karena setelah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hayam_Wuruk" title="Hayam Wuruk"&gt;Hayam Wuruk&lt;/a&gt; wafat Brunai membebaskan diri dan kembali sebagai sebuah negeri yang merdeka dan pusat perdagangan penting.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada awal abad ke-15, Kerajaan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Malaka" title="Malaka"&gt;Malaka&lt;/a&gt; di bawah pemerintahan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Parameswara" title="Parameswara"&gt;Parameswara&lt;/a&gt; telah menyebarkan pengaruhnya dan kemudian mengambil alih perdagangan Brunei. Perubahan ini menyebabkan agama Islam tersebar di wilayah Brunei oleh pedagangnya pada akhir abad ke-15. Kejatuhan Melaka ke tangan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Portugis" title="Portugis" class="mw-redirect"&gt;Portugis&lt;/a&gt;
