Sunday, July 10, 2011

Siak Negeri Istana

"Negeri Istana (gelar kota) itu, mengingatkan aku pada satu kota lain di Malaysia, yakni Negeri Malaka. Dari pengalamanku, kedua kota itu layak disebut sebagai kota kembar, karena tata kotanya sangat mirip. Bedanya, Siak berada dipinggiran sungai, sedangkan Malaka berada di tepian pantai." [Khalik]

Bagi penikmat sejarah, khususnya Melayu, kurang lengkapnya rasanya bila tidak menjejakkan kaki di negeri ini. Sejarahnya yang panjang, telah meninggalkan warisan peradaban Melayu yang mengagumkan dan pantas dibanggakan. Hingga kini, keagungan itu masih terasa, melalui berbagai situs budaya yang terpelihara dengan baik. Tak salah rasanya, jika ungkapan “Takkan Melayu Hilang Di Bumi” dilekatkan pada kota itu. Warisan budaya itu, dilengkapi pula dengan sejumlah bangunan modern yang belakangan dipacu pembangunannya oleh pemerintah daerah setempat. Tak pelak, kota itu menjadi salah satu lokasi wisata sejarah yang sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Dari Pekan Baru, Siak hanya berjarak sekira dua jam ke arah Timur. Aku mengunjungi negeri itu bertolak dari Pangkalan Kerinci, ibu kota Kab. Pelalawan. Dari kota yang dibangun PT Riau Andalan Pulp And Paper (RAPP) itu, dengan mengambil jalan pintas, jaraknya kurang lebih sama. Lintasannya juga mulus, meski pada beberapa ruas jalan ada kerusakan, tapi tidak terlalu mengganggu kenyamanan berkenderaan.

Berbekal pengalaman sebelumnya, Aku langsung berburu ke berbagai lokasi situs budaya peninggalan Kerajaan Siak Sri Indrapura itu. Dari bilboard yang terpampang di taman kota, di kabupaten itu terdapat 17 situs budaya yang bisa dikunjungi, sekaligus mendapatkan data tentang keberadaannya. Situs budaya itu, yakni Masjid Sultan Siak, Makam Sultan Syarif Kasim II (Pahlawan Nasional), Balai Karapatan Tinggi, Makam Syekh Abdurrahman, Jembatan Agung Sulthanah Latifah.

Kemudian, Makam Raja Kecik (Pendiri Kerajaan Siak), Kolam Hijau, Danau Naga Sakti, Monumen Pompa Angguk, Danau Zamrud, Makam Marhum Mempura, Tangsi Belanda, Klenteng Tua, Makam Koto Tinggi, Istana Sultan Siak (Asserayah Hasyimiyah), Kapal Kato dan Gereja Tua. Situs budaya itu berserak di berbagai wilayah Kab. Siak. Namun sebagian besar ada di Kota Siak.

Istana Sultan Siak dengan sebutan Istana Asserayah Hasyimyah (Matahari Timur), lokasi yang pertama kusambangi. Komplek istana berada di areal seluas 32.000 meter, sedangkan istana memiliki luas 1.000 meter. Istana menghadap langsung ke sungai Siak, berjarak sekira 200 meter dari tepian. Bangunan itu didirikan pada 1889 oleh Sultan Assyaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi (1784-1810).

Istana itu terdiri dari dua lantai. Di lantai dasar, terdapat beberapa ruangan, yakni ruang kebesaran, ruang rapat, ruang makan, ruang tamu dan ruang istirahat. Sedangkan dilantai atas, terdapat peraduan sultan dan istri serta ruangan keluarganya. Di luar istana, ada juga kediaman para petugas istana. Dalam beberapa tahun ini, Pemkab Siak juga membangun sebuah istana di belakangnya dengan arsitektur Istana Siak sebelumnya.

Di lantai dasar tersimpan berbagai peninggalan sejarah kerajaan. Beberapa peninggalan yang sempat teramati, yakni meriam kerajaan, sejumlah perjanjian antara sultan dengan beberapa kerajaan luar, silsilah raja-raja Siak. Kemudian foto-foto masa lalu terkait aktifitas kerajaan. Benda-benda peninggalan istana, mulai dari guci (buatan China) hingga piala ucapan selamat rakyat kepada sultan serta berbagai bentuk senjata tombak, keris dan pistol yang digunakan dalam berbagai peperangan. Sebelum memasuki istana, Aku menyempatkan melihat Kapal Kato (kapal api) yang tertambat di halaman samping istana sebagai kenderaan resmi sultan berpergian.

Selanjutnya dengan berjalan kaki sekira 50 meter arah Timur dari Istana, Aku memasuki komplek pemakaman Koto Tinggi. Di pemakaman keluarga kerajaan itu, sebagian besar bisa dilihat makam para sultan. Di antaranya makam Sultan Syarif Hasyim dan keluarga. Komplek itu terdiri dari satu bangunan yang diisi makam para sultan, sedangkan di luarnya ada makam keluarga kerajaan. Luasnya, 15 x 15 meter dengan perkiraan sekira 20 makam.

Berjalan kaki lagi ke arah Timur, Aku bertemu klenteng tua. Diperkirakan, klenteng itu berusia ratusan tahun. Karena dari data yang ada di istana, salah satu etnis yang berdiam di Kerajaan Siak, adalah etnis Tionghoa. Warga Tionghoa kala itu, menjadi salah satu tulang punggung kejayaan ekonomi Kerajaan Siak. Terdapat beberapa piala ucapan selamat kepada sultan dari taipan (pengusaha besar) warga Tionghoa, saat ulang tahun kerajaan maupun sultan, tersimpan di istana. Kebanyakan etnis Tionghoa di kerajaan itu berprofesi pedagang. Klenteng itu, berlokasi di pusat pasar tua Kota Siak.

Hingga kini, wajah pasar itu masih menyisakan cerita masa lalu. Bangunan-bangunan papan berlantai dua, terjaga dengan baik, karena dipelihara penghuninya yang juga keturunan Tionghoa. Pasar tua Siak, berada di bantaran sungai Siak dan berdekatan dengan dok (pelabuhan sungai). Para pedagang juga menggerai usahanya secara tertib. Tak terlihat kesemrawutan di pasar tua Siak itu. Sedangkan jalannya terlihat bersih dan rapi. Sulit menemukan sampah berserakan di jalanan. Kondisi pasar itu lah yang jadi pengingat, adanya hubungan kembar Kota Siak dengan Negeri Malaka di Malaysia.

Lebih ke ujung, terdapat gereja tua, namun kini pengelolaannya diambil oleh HKBP. Dari data yang terpampang di plang gereja, izin pendirian gereja itu bertarikh 1936. Bagian atap gereja terlihat sudah direnovasi, tapi bagian bawahnya, arsitektur klasik sebagai pertanda bangunan itu sudah berusia lama, masih terlihat.
Keberadaan gereja itu, menunjukkan adanya pemeluk Kristiani di Kerajaan Siak. Diperkirakan, pedagang Eropah maupun Belanda punya hubungan baik dengan kerajaan Melayu itu, hingga diijinkan membangun gerejaa. Misalnya, saat pembangunan istana sultan, dikabarkan dirancang dan dikerjakan oleh arsitek dan insinyur Eropah. Bahkan, Sultan Syarif Kassim I mendapat undangan penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada 1889 sebagai salah satu bukti hubungan erat itu. Di istana juga terdapat patung Ratu Wilhelmina setengah badan yang dibuat sultan, sebagai tanda kekagumannya atas ratu kerajaan penjajah itu.

Puas mengitari sisi Timur Kota Siak, setelah rehat sejenak, Aku melacak sebelah Barat kota tua itu. Yang pertama kutemukan adalah Masjid Sultan Siak atau Masjid Syahabuddin. Disamping masjid tua itu, terdapat makam Sultan Syarif Kasim II sultan terakhir Kerajaan Siak. Di masa Presiden BJ Habibie, sultan itu dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, karena pengabdian yang besar pada perjuangan Kemerdekaan RI. Sultan, kabarnya menghibahkan kekayaannya mencapai Rp13 juta Golden serta istana dan negerinya, demi perjuangan kemerdekaan. Makam Sultan Syarif Kassim II berada di sebelah masjid. Jirat makam sultan berbentuk 4 undak dari tegel dan marmer berukuran panjang 305 Cm, lebar 153 Cm dan tinggi 110 Cm.

Masjid Syahabuddin sendiri, berdiri pada 1926 oleh Sultan Syarif Kassim I ayah dari sultan terakhir Kerajaan Siak itu, kemudian selesai pada 1935. Dana pembangunan berasal dari kas kerajaan dan sumbangan masyarakat Siak, kala itu. Posisinya persis berada di bantaran sungai Siak. Luasnya mencapai 21,6x18,5 meter. Telah mengalami tiga kali renovasi tanpa menghilangkan keasliannya, yakni pada 1935, 1956 dan 2003. Nama Syahabuddin diambil dari kata Syahad, satu suku di Arabia asal dari sultan Kerajaan Siak, berawal dari sultan ke 2 Sultan Muhammad Ali. Arsitektur bangunan ini perpaduan antara Timur Tengah dan Eropah.

Asik dengan berbagai situs budaya Kerajaan Melayu Siak Sri Indrapura, tak terasa matahari mulai meninggi. Besar keinginan untuk terus melacak peninggalan keagungan kerajaan itu. Namun, waktu tak memberi peluang melakukannya. Aku pun mengaso di sebuah lokasi yang kusebut “Taman Tepian Sungai Siak.” Taman itu, berada di bantaran sungai Siak dengan Jalan Indragiri.

Jalan ini, merupakan areal jajanan kota yang telah ditata sedemikian rupa oleh Pemkab setempat. Lebar taman antara tepian sungai dan pinggir jalan, sekira 10 meter, tapi panjangnya mencapai 1.000 meter. Pada tepian sungai dibuat beronjong berfungsi sebagai jalan (speksi) dilengkapi pagar pengaman. Sedangkan rumah-rumah warga yang berjualan di pinggir Jalan Indragiri, depan rumah mereka menghadap jalan dan sungai. Penataan bantaran sungai terkesan sederhana, tapi bagi siapa saja yang datang ke sana, pasti akan terpesona. Bagi para pengambil kebijakan yang ingin memanfaatkan sungai sebagai lokasi wisata, tak salah kiranya melihat penataan taman tepian sungai Siak itu.

Sebagai penutup, jangan lupakan pula mengunjungi sejumlah bangunan modern yang dibangun Pemkab Siak, melengkapi kemegahan kota itu. Ada jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah (istri Sultan Syarif Kassim II), Masjid Raya Siak, kantor Bupati Siak dan Gedung DPRD Siak, Balai Karapatan Adat Melayu. Sedang dibangun pula GOR Siak serta beberapa fasilitas publik bercirikan ornamen Melayu. Bangun itu semua masuk kategori megah dan berbiaya miliyaran rupiah. Tak salah, jika Kab. Siak menyebut dirinya sebagai ‘Negeri Istana.’

Jembatan Ratu Agung Sultanah Latifah di atas sungai Siak, misalnya memiliki panjang 1.196 meter, lebar 16.95 meter dengan dua trotoar masing-masing 2,25 meter. Ketinggian 23 meter di atas permukaan sungai dengan lebar sungai Siak sekira 300 meter. Jembatan ditopang dua menara di sisi kedua tepi jembatan setinggi 80 meter. Pada puncak menara dirancang restoran yang dinaiki dengan lift untuk menerima wisatawan yang bakal menikmati kelokan sungai Siak bak ular. Kabarnya jembatan itu dibangun teknisi ITB Bandung dengan biaya Rp27 milyar, murni berasal dari APBD Kab. Siak. Diresmikan Presiden SBY bersama Gubernur Riau H. Rsuli Zainal dan Bupati Siak Arwin AS pada 2002. Jembatan itu dirancang sebagai ikon pariwisata Riau.

Yang lain adalah Masjid Raya Siak. Keluar dari jembatan penyeberangan memasuki inti kota, mata pun akan disambut kehadiran Masjid sangat megah itu. Masjid dengan lima kubah dan satu menara itu, diperkirakan bisa menampung 1.000 jemaah sholat. Terdiri dari ruang utama dan beranda, berhias ornamen dan ukiran Arab dan Melayu. Dilengkapi dengan perpustakaan, area parkir dan taman masjid. Yang jelas, masjid itu merupakan isyarat kemakmuran warga dari pendapatan asli daerah berasal dari minyak bumi dan minyak nabati (sawit) itu. Abdul Khalik

Sejarah Singkat Kerajaan Siak

Kerajaan Siak diperkirakan berdiri pada 1723 M oleh Raja Kecik bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah, putra dari Raja Johor Sultan Mahmudsyah dengan istri Encik Pong. Semasa Raja Kecik masih dalam kandungan, terjadi perebutan tahta di Kerajaan Johor, sekira 1699. Raja Johor Sultan Mahmudsyah tewas dibunuh Megat Sri Rama. Permaisuri Encik Pong yang lagi hamil tua, melarikan diri ke Singapura, kemudian menyeberang Ke Jambi. Dalam pelarian itulah Encik Pong melahirkan Raja Kecik. Belakangan Raja Kecik dipelihara oleh keluarga Kerajaan Pagaruyung Minangkabau.

Sepeninggal Sultan Mahmudyah, Kerajaan Johor diperintah sultan baru Datuk Bendahara Tun Habib bergelar Sultan Abdul Jalil Riayatsyah.

Akan halnya daerah Siak, masuk dalam teritorial Kerajaan Johor. Namun selama 100 tahun wilayah itu tidak memiliki pemimpin, hanya berada dalam pengawasan kesyahbandaran yang bertugas mengutip pajak dan cukai dari rakyat. Kata “Siak” berasal dari nama sejenis tumbuhan yang banyak di daerah itu, yakni siak-siak

Akan halnya Raja Kecik, setelah dewasa pada 1717 berhasil merebut tahta Kerajaan Johor. Namun, pada 1727, tampuk kekuasaan Raja Kecik justru berusaha dikudeta iparnya sendiri Tengku Sulaiman, anak dari Sultan Abdul Jalil Riayatsyah. Tengku Sulaiman, dalam upaya kudeta itu dibantu para bangsawan Bugis. Akibatnya Raja Kecik terpaksa mengundurkan diri dari pusat kekuasaan Kerajaan Johor.

Dalam beberapa kali pertempuran, terjadi pertumpahan darah yang besar. Kedua belah pihak kemudian, melakukan gencatan senjata dan mundur ke wilayah yang dikuasai. Tengku Sulaiman tetap berada di Johor, sedangkan Raja Kecik mundur ke Pulau Bintan. Kemudian, menyusuri sungai Siak dan mendirikan kerajaan di pinggiran sungai Buantan (anak sungai Siak). Dari situlah awal berdirinya Kerajaan Siak.

Sejak berada di tepian sungai Buantan, pusat kerajaan Raja Kecik selalu berpindah-pindah. Dari Buantan berpindah ke Mempura, lalu ke Senapelan Pekan Baru, Kemudian kembali lagi ke Mempura. Semasa pemerintahan Sultan Assyaidis Syarif Ismail Jalil Jalaluddin (1827-1864), pusat Kerajaan Siak berpindah ke Siak Sri Indrapura dan menetap di sana hingga melebur ke dalam NKRI pada 1946.

Kerajaan Siak bertahan selama 223 tahun (1723-1946) dengan sultan yang memerintah sebanyak 12 orang. Mereka adalah, Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah I (1725-1746), Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah II (1746-1765), Sultan Abdul Jalil Jalaluddin Syah (1765-1766), Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (1766-1780), Sultan Mhd. Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (1880-1782), Sultan Yahya Abdul Jalil Muzaffar Syah (1782-1784).

Kemudian, Sultan Assyaidis Asyarif Ali Abdul JalilSyaifuddin Baalawi (1784-1810),Sultan Assyaidis Syarif Ibrahim Abdul Jalil Khaliluddin (1810-1815), Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin (1815-1854), Sultan Assyaidis Syarif Kasyim Abdul Jalil Syaifuddin I (Syarif Kasim I) (1884-1889), Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin (1889-1908) dan Sultan Assyaidis Syarif Kasyim Abdul Jalil Syaifuddin I (Syarif kasim II) (1908-1946).

Sebagai catatan, Kerajaan Siak mencapai masa kegemilangannya di masa Sultan Assyaidis Assyarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi. Di masa pemerintahan sultan itu, kekuasaan Siak mencapai 12 wilayah jajahan, meliputi Temiang, Langkat, Deli, Serdang, Asahan, Kota Pinang, Pagarawan, Batubara, Bedagai, Kualuh, Panai, Bilah, bahkan hingga ke Sambas Kalimantan.Selain itu, kekuasaan di Riau meliputi, Pelalawan, Kubu, Bangka dan Tanah Putih. Itu sebabnya, reputasi Kesultanan Siak telah mewarnai berbagai proses kesejarahan berbagai Kerajaan Melayu di Sumatera Bagian Timur.

Dalam catatan Kerajaan Padang yang berpusat di Kota Tebingtinggi, pendiri kota itu, yakni Datuk Bandar Kajum, merupakan seorang laksamana angkatan laut Kerajaan Siak untuk wilayah Bedagai.

Pasca Sultan Assyaidis Assyarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi memerintah, kekuasaan Kerajaan Siak mulai menyusut. Selain terjadinya berbagai intrik di lingkungan istana, faktor terbesar adalah kehadiran Inggris dan Belanda di perairan Malaka. Dalam salah satu perjanjian antara Kerajaan Siak dan Belanda, seluruh jajahan Siak diserahkan kepada Belanda. Sehingga teritorial Siak hanya sebatas nama yang disandangnya. Wilayah hasil perjanjian dengan Belanda itulah yang kemudian melebur dengan NKRI.

BALAIRUNG SIAK : Balairung Sultan Sika, tempat bermulanya berbagaikebijakan kerajaan dalam rangka kesejhateraan rakyat.

ISTANA SIAK : Pusat pemerintahan Kerajaan Siak yang dibangun 1889.

MASJID RAYA : Masjid Raya Siak yang dibangun Pemkab Siak. Simbol Siak Negeri Istana.

[Dari Blog KhalikNews]
Lihat juga: Kesultanan Siak Sri Inderapura


9 comments:

Post a Comment



Jika anda memiliki akun di facebook, silahkan klik tombol FOLLOW THIS NETWORK di atas, atau klik di sini. Jika diminta, loginlah seperti biasa. Lalu klik tombol FOLLOW. Tunggu beberapa saat sampai notifikasi kofirmasi muncul, saat mana anda dapat segera logout. Satu klik dari anda sangat berarti bagi blog ini. Atas semua sumbangsih yang telah diberikan, tidak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebesarnya



KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT DAFTAR SELURUH ARSIP