Monday, June 28, 2010

Definisi Melayu Salah Kaprah?

Penulisan buku ini berawal dari keresahan yang dirasakan Mahyudin Al Mudra atas salah kaprah yang menggelayuti dunia Melayu sedunia selama ini. Salah kaprah yang dimaksud tentu saja mengenai pendapat yang mengatakan bahwa orang Melayu harus beragama Islam, harus berbahasa Melayu, harus berbudaya Melayu, dan harus berdomisili di wilayah Semenanjung Melayu. Dalam pandangan Mahyudin Al Mudra, pendapat yang bercita-rasa konvensional seperti ini dirasa sudah tidak relevan, tidak kontekstual, dan tidak memadai lagi, terlebih di era globalisasi dan multikultural seperti sekarang ini (hal. 27).

Buku yang berisi semacam ”gugatan” dari Mahyudin Al Mudra ini terdiri dari beberapa tema pembahasan yang dapat digunakan sebagai pijakan awal untuk mewujudkan pemahaman Melayu dengan cara yang lebih elegan dan egaliter. Berangkat dari keresahan yang ia rasakan itulah kemudian Mahyudin Al Mudra bertekad untuk memperjuangkan upaya pembenahan pola pikir masyarakat tentang Melayu dan kemelayuan.

Mahyudin bergerak cepat dalam mewujudkan tekadnya, salah satunya adalah dengan menulis dan menerbitkan buku yang diberi judul Redefinisi Melayu; Upaya Menjembatani Perbedaan Konsep Kemelayuan Bangsa Serumpun ini. Bahkan, sebelum buku ini diterbitkan, putra Melayu kelahiran Riau yang telah cukup lama menjadi diasporian di Yogyakarta ini melakukan gerakan nyata dengan memprakarsai dan mendirikan Balai Kajian dan Pengembangan Melayu (BKPBM) di Yogyakarta yang kemudian disusul dengan peluncuran sejumlah pangkalan data tentang kemelayuan, antara lain melayuonline.com, wisatamelayu.com, dan rajaalihaji.com, serta critarakyatnusantara.com.

MelayuOnline, Langkah Nyata Menuju Redefinisi Melayu
Mengenai peluncuran melayuonline.com sebagai perpustakaan digital tentang Melayu dan kemelayuan yang terbesar dan terlengkap di dunia serta sebagai media untuk mencapai cita-cita redefinisi Melayu, Mahyudin Al Mudra melontarkan pernyataan melalui buku ini: “Kehadiran portal ini (melayuonline.com) adalah sebagai ekspresi dari kecintaan dan kegelisahan saya terhadap Melayu. Saya mencintai Melayu karena saya ditakdirkan oleh Tuhan menjadi orang Melayu. Sedangkan kegelisahan saya disebabkan karena warisan dan nilai-nilai budaya Melayu semakin terpinggirkan dari tengah-tengah kehidupan masyarakat Melayu modern” (hal. 35).

Apa yang dimaksud oleh Mahyudin Al Mudra tentang “warisan dan nilai-nilai budaya Melayu semakin terpinggirkan dari tengah-tengah kehidupan masyarakat Melayu modern” tidak lain adalah merujuk pada pemahaman salah kaprah yang selama ini dianut dan diyakini, bahkan oleh orang Melayu sendiri. Dengan “mewajibkan” orang Melayu harus beragama Islam, misalnya, justru menunjukkan bahwa orang Melayu seolah-olah telah melupakan budaya dan leluhurnya sendiri.

Bagaimana mungkin orang-orang Melayu pada masa pra-Islam tidak bisa digolongkan ke dalam rumpun Melayu? Bagaimana mungkin kebesaran dan kejayaan kerajaan-kerajaan Melayu yang sudah tegak berdiri sebelum “diambil-alih” oleh politik Islam, sebut saja Kerajaan Sriwjaya di Palembang atau Kerajaan Kutai Kertanegara di Kalimantan Timur, tidak boleh disebut sebagai bangsa Melayu? Atau, dalam konteks kekinian, bagaimana mungkin orang-orang Melayu non-muslim yang jelas-jelas berdarah Melayu, sebutlah orang-orang Dayak di Borneo, orang-orang Batak Karo di Tapanuli, orang-orang asli Nias, umat Nasrani di Minahasa dan Maluku, serta yang lain-lainnya tidak layak menjadi bagian dari keluarga besar Melayu? Kesalahan berpikir yang mendasar inilah yang diperjuangkan Mahyudin Al Mudra melalui upaya meredifinisi Melayu.

Secara ontologis, kemelayuan dan keislaman merupakan dua dimensi yang berbeda. Etnik Melayu merupakan kumpulan individu-individu yang hidup di suatu tempat dan membentuk struktur sosial. Sementara itu Islam adalah agama yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Melayu untuk menjalin hubungan dengan Tuhan. Yang pertama menciptakan hubungan horisontal, sedangkan yang kedua hubungan vertikal (hal.35). Islam merupakan salah satu elemen pendukung kekuatan rumpun bangsa Melayu di samping elemen-elemen lain yang selama ini cenderung diabaikan, bahkan ditiadakan. Islam memang telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari peradaban bangsa Melayu, namun bukan satu-satunya.

Redefinisi Melayu, Perjuangan Tanpa Akhir
Pengertian Melayu seringkali dipahami dengan cara pandang yang sempit sehingga membentuk pemikiran dan pengertian yang terkungkung dalam lingkaran parsial. Istilah Melayu pada akhirnya kerap ditinjau lewat sudut pandang tertentu, bahkan oleh kalangan ilmuan dan orang Melayu sendiri, yang nyaris selalu didefinisikan melalui sekat-sekat perspektif, termasuk lewat pandangan linguistik, politik, geografi, etnik, dan agama. Salah kaprah dalam memaknai Melayu inilah yang kemudian justru membuat kebesaran rumpun Melayu semakin lama semakin tergerus dan kian lirih gaungnya.

Kejayaan Melayu sebagai salah satu rumpun bangsa yang besar di jagat raya ini seolah-olah lenyap tanpa bekas, tenggelam di tengah riuh-rendah persaingan peradaban di bumi, terasing dari gegap-gempita semesta. Hal ini disebabkan oleh efek eksklusifitas yang berdampak pada kecongkakan etnis/suku bangsa tertentu dan memecah-belah serta menempatkan bangsa-bangsa Melayu serumpun ke dalam kotak-kotak yang berdiri sendiri-sendiri. Melayu tidak lagi dipandang secara utuh melainkan diartikan dengan subjektif atas nama kepentingan masing-masing etnis/bangsa yang merasa “memiliki” hak membawa nama rumpun Melayu dengan congkak dan angkuh.

Mahyudin Al Mudra berusaha melakukan upaya pencerahan agar bangsa Melayu tidak melupakan asal-usul dan nenek-moyangnya. Di bagian awal dari buku ini, Mahyudin Al Mudra menjelaskan fase-fase perjalanan bangsa Melayu dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa bangsa Melayu adalah bangsa yang sudah ada sejak lama, jauh sebelum Islam datang dan menebar pengaruh.

Dalam buku ini, Mahyudin Al Mudra memaparkan kenyataan bahwa bangsa Melayu adalah bangsa yang sudah tua, bangsa yang sudah ada sejak zaman purbakala, tepatnya sejak tahun 3000 Sebelum Masehi. Kenyataan bahwa bangsa Melayu telah ada sejak zaman pra Hindu-Buddha, kemudian berkembang dan menyebar ke berbagai penjuru dunia merupakan alasan www.MelayuOnline.com meredefinisikan Melayu berdasarkan kesamaan sejarah dan budaya, bukan atas dasar kepentingan politik, etnik, dan bahkan agama sekalipun.

Mahyudin Al Mudra mengakui, memang tidak mudah memberikan redefinisi Melayu yang dapat memuaskan semua pihak. Sejauh ini, upaya yang Mahyudin Al Mudra untuk meredefinisikan Melayu dan telah diwujudkannya dalam struktur dan isi dalam portal www.MelayuOnline.com dinilai oleh beberapa orang masih problematis. “Melalui melayuonline.com, saya meredefiniskan Melayu sebagai bangsa di manapun mereka berada yang pernah atau masih mempraktekkan budaya Melayu tanpa dibatasi sekat-sekat agama, ras, bahasa, geografi, dan afiliasi politik,” jelas Mahyudin Al Mudra (hal. 5).

Mahyudin Al Mudra menegaskan, upaya redefinisi Melayu bertujuan untuk mengakomodir dan menyatukan seluruh puak-puak Melayu di seluruh dunia dengan memanfaatkan teknologi informasi, bukan untuk menambah daftar perbedaan definisi. Bangsa Melayu adalah manusia-manusia diaspora yang sering berkelana ke negeri-negeri lain. Gerak diaspora yang dilakukan oleh orang-orang Melayu itu mengemban peran penting dalam upaya penyebaran budaya Melayu. Maka tidak mengherankan bila puak-puak Melayu tersebar di berbagai tempat dan masih mengamalkan tradisi Melayu hingga saat ini.

Sebagian besar orang Melayu memang menghuni wilayah di sekitar Semenanjung Melayu. Dalam konteks negara dan bangsa saat ini, orang-orang Melayu itu berdiam di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Namun, orang-orang Melayu yang hidup di luar areal Semenanjung Melayu juga tidak bisa diabaikan kemelayuannya. Orang-orang Melayu yang ada di Thailand, Filipina, Kamboja, Laos, Vietnam, Srilanka, Asia Selatan, bahkan Pulau Cocos dan Pulau Krismas di Oceania, serta Madagaskar, Afrika Selatan, dan Suriname, tidak berbeda dengan orang-orang Melayu Semenanjung. Semuanya masih terhimpun dalam satu rumpun, yakni rumpun bangsa Austronesia.

Upaya untuk mewujudkan redefinisi Melayu demi terciptanya kesatuan bangsa Melayu serumpun yang bebas dari segala bentuk kekangan parsial memang diperlukan kerja yang ekstra keras. Sudah saatnya bangsa Melayu sedunia dipersatukan agar bangsa Melayu lebih dikenal dunia global. Caranya adalah dengan bersama-sama membenahi pandangan tentang Melayu dengan membangun paradigma yang berbeda dalam tataran horisontal melalui perspektif yang tidak lagi sempit. Salah kaprah dalam kemelayuan harus diluruskan dengan mengembalikan perspektif asal-usul bangsa Melayu.

Perjuangan meredefinisi Melayu bisa dilakukan dengan memetakan serta mencari kelebihan dan kekurangan dengan tujuan memberi keleluasaan pada bangsa-bangsa Melayu untuk berkembang secara utuh. Dengan demikian, orang Melayu diharapkan akan terus belajar dalam melihat dan mengidentifikasi dirinya sendiri untuk kemudian bersiap memberikan sumbangsih yang berarti bagi dunia.

[Iswara N. Raditya - Adicita.com]
Baca juga: Redefinisi Melayu

0 comments:

Post a Comment



Jika anda memiliki akun di facebook, silahkan klik tombol FOLLOW THIS NETWORK di atas, atau klik di sini. Jika diminta, loginlah seperti biasa. Lalu klik tombol FOLLOW. Tunggu beberapa saat sampai notifikasi kofirmasi muncul, saat mana anda dapat segera logout. Satu klik dari anda sangat berarti bagi blog ini. Atas semua sumbangsih yang telah diberikan, tidak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebesarnya



KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT DAFTAR SELURUH ARSIP