Sunday, March 21, 2010

Selayang Pandang Sejarah Melayu Purba

Bab I
Pendahuluan

Penulisan Sejarah Dan Budaya Melayu

Istilah “sejarah” dalam konteks ini berartti cerita masa lalu berupa “penulisan sejarah” yang merujuk kepada sumber atau karya yang dihasilkan penulis tempatan. Uraian di dalamnya berupa tafsiran masa lampau. Tafsiran dibuat berdasarkan uji dan analisis kritis terhadap data yang diperoleh dari rekaman atau peninggalan masa lalu itu. ”Sejarah” dalam uraian berikut tidak terpisah dari “budaya” atau kebudayaan (cultural historiography).

Secara terpisah kebudayaan diartikan sebagai hasil karya dan karsa manusia, baik dalam bentuk materiil, buah pikiran maupun corak hidup manusia. Dengan demikian, kebudayaan lebih mengarah kepada cara hidup manusia, baik masa kini ataupun kehidupan masa silam. Bahkan menurut E.B Taylor; kebudayaan mencakup aspek yang amat luas, yakni pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral dan adat istiadat dan segala kebiasaan yang dilakukan dan dimiliki oleh manusia sebagai masyarakat. Segala yang diterima dan dipercayai dilakukan secara berkekalan.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa kebudayaan adalah ajaran atau doktrin yang diamalkan oleh suatu bangsa. Ajaran tumbuh pada dasarnya oleh kehendak mempertahankan hidup, yang bermula bagi dirinya dan seterusnya anak keturunannya secara turun-temurun. Sifat dan bentuknya tergantung dengan kondisi alam tempat hidupnya. Karena itu kebudayaan senantiasa berubah, baik karena disempurnakan ataupun karena bersentuhan dengan kebudayaan lain. Persentuhan dengan kebudayaan lain tidak selamanya dapat memperkukuh kebudayaan suatu bangsa, bahkan dapat memperlemah dan mungkin menghancurkannya.

Berkait dengan kebudayaan Melayu, sejarah pertumbuhannya dapat ditelusuri sejak zaman prasejarah. Untuk memperoleh keterangan yang diperlukan dapat mengacu pada dua sumber. Pertama; peninggalan manusia prasejarah serta kebudayaannya masa itu yang meliputi fosil-fosil dan artefak-artefak yang ditemukan di dalam tanah melalui penggalian atau ditemukan secara kebetulan.

Kedua; Suku-Suku Bangsa yang waktu hidup terbelakang. Di Sumatera, khususnya Riau menghadapi persoalan prasejarah yang sulit, terutama dalam usaha memperoleh gambaran tentang asal-usul penghuni pertama, beserta kebudayaannya. Kondisi ini di Sumatera dan Riau pada umumnya hampir tidak ditemukan fosil-fosil dan artefak-artefak yang dapat mendukung ke arah penelitian itu. Hal ini berbeda dengan di Jawa di mana ditemukan berbagai fosil dan artefak. Hingga sekarang Sumatera tidak menghasilkan tulang-tulang dari manusia pertama. Kenyataan tidak mengahasilkan suatu bukti, baik tulang belulang maupun sisa-sisa tanaman, untuk menunjukkan sesuatu yang timbul disana sebelum akhir Zaman Pleistosein,10-15.000 tahun yang lalu.Semua penyelidikan geologi yang dilakukan di Sumatera selama abad terakhir tidak berhasil menemukan fosil mamalia prasejarah, seperti yang banyak ditemukan di Jawa. Walaupun di Riau belum ditemukan fosil-fosil dan kurangnya artefak-artefak sebagai sumber utama untuk mendapat keterangan tentang kehidupan manusia pertama di Riau, tetapi para peneliti masih dapat mengambil manfaat terdapatnya suku-suku yang terbelakang yang hidup di beberapa daerah Riau saat ini. Suku-suku yang dimaksud antara lain: Suku Sakai di daerah Minas, Duri, Siak, Sungai Apit; Suku Orang Hutan atau Orang Bonai di Kec. Kuto Darussalam dan Kepenuhan Kampar; Suku Akik di Siberida, Rengat dan Pasir Penyu; Suku Laut atau Orang Laut di Inderagiri Hilir dan Kepulauan Riau.

Masih terdapatnya suku-suku terbelakang di atas memperkirakan adanya gelombang kedatangan nenek moyang itu ke daerah Riau. Gelombang pertama terdiri dari Ras Weddoide (Wedda) yang datang sesudah zaman es terakhir dan Zaman Mesolitikum yang oleh kebanyakan ahli dinyatakan sebagai suku Ras pertama penghuni Nusantara ini. Menurut Van Heekeren, kedatangan ras Wedda ini diikuti pula oleh Ras Melanesia, Austroloida dan Negrito. Mereka mencapai pulau-pulau Nusantara dengan berperahu. Sisa dari Ras Weda ini masih terdapat di Riau sekarang ini, yaitu Suku Sakai, Kubu dan Suku Orang Utan, sebagaimana disebutkan di atas.

Para ahli mensejajarkan Suku Sakai yang mendiamin daerah Bengkalis dengan suku-suku Senoi di Malaysia, suku Tokeo dan Toela di Sulawesi, sebagai sisa yang termurni dari orang Wedda. Bahkan Setyawati Sulaiman memperkirakan orang Senai di Melaka sebagai sisa yang termurni dari orang Wedda. Di Indonesia menurutnya ciri-ciri orang Wedda itu ada pada orang Sakai di Riau dan Orang Kubu di Jambi dan Palembang. Ciri-ciri mereka antara lain rambut berombak-ombak, warna kulit sawo matang, bertubuh pendek (1,55 meter), dan berkepala “mesocephal”.

Kemudian menyusul kedatangan ras rumpun Melayu. Gelombang pertama datang sekitar tahun 2500-1500 SM yang disebut bangsa “Proto-Melayu” atau “Austronesian” ke Asia menyebar ke Semenanjung Tanah Melayu dan terus ke bagian barat Nusantara. Mereka adalah pendukung Kebudayaan Zaman Batu (Neolitikum) atau yang mencerminkan kehidupan manusia dalam zaman Neolithic. Pada masa itu manusia telah mampu menghasilkan bahan makanan dengan cara bertani. Keturunan mereka banyak tinggal di pedalaman Kepulauan Melayu, dan di Riau diidentifikasikan sebagai suku Talang Mamak dan suku Laut. Gelombang kedua terjadi sekitar tahun 300 SM, disebut Deutro Melayu. Kedatangan mereka menyebabkan terdesaknya suku Proto-Melayu, sehingga memaksa terdesaknya suku Proto-Melayu, sehingga memaksa mereka pindah ke daerah pedalaman, dan sisanya bercampur dengan pendatang baru.

Dalam proses selanjutnya, suku Deuto Melayu yang berasimilasi dengan pendatang terdahulu serta dengan orang-orang yang datang kemudian, menurunkan generasi yang hidup sekarang ini. Keturunan mereka itu yang pada umumnya mendiami Nusantara (Asia Tenggara), terutama di Kepulauan Melayu. Setelah masuknya Islam di wilayah ini, identitas Melayu menemukan jati dirinya.

Istilah “Melayu” di dalam tulisan ini digunakan untuk menunjuk kepada suku bangsa yang mendiami wilayah-wilayah Islam di Indonesia, Malaysia (Semenanjung), Pathani (Thailand Selatan) dan Mindanao (Filipina Selatan). Dalam cakupan wilayah demikian, juga disamakan pengertiannya dengan Asia Tenggara atau Nusantara yang mencakup wilayah yang sama pula, tidak tebatas pada wilayah kepulauan yang kini masuk kekuasaan Republik Indonesia. Dalam konteks yang terakhir sekali, istilah Melayu merujuk secara terbatas kepada Semenanjung Malaysia. Inilah yang disebut V. Matheson dan B. W Andaya sebagai Melayu dalam arti sempit, yaitu negara (wilayah) yang melanjutkan dan mewarisi tradisi Melaka. Ciri yang paling akrab adalah adanya bahasa yang sama, yaitu bahasa Melayu.

Sebelum Islam, Melayu dikenal sebagai salah satu suku bangsa yang menggunakan bahasa tertentu yang disifatkan sebagai salah satu bahasa daerah. Dengan kepercayaan terhadap Hindu-Buddha, mereka tersebar di seluruh Asia Tenggara dengan cirri-ciri budaya dan keagamaan yang sama. Setelah Islam masuk dan berkembang, kawasan ini menjadi suatu rumpun yang memiliki identitas berbeda dari segi keagamaan. Identitas rumpun ini menjadi jelas, setelah Islam memilih menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa penyebaran agama Islam di kawasan ini. Dengan demikian bahasa Melayu yang dahulunya merupakan salah satu bahasa daerah dan bersifat pinggiran diangkat menjadi bahasa yang mampu membicarakan persoalan ilmiah dan rasional, dan bangsa yang mendukung bahasa tersebut turut terangkat derajatnya bersama bangsa Melayu. Setelah Islamisasi meluas di Nusantara istilah Melayu ini digunakan untuk semua rumpun di Nusantara, sehingga ia dikenal pula sebagai ”Alam Melayu” atau “Dunia Melayu”. Karena itu, dari segi istilah, Melayu disinonimkan dengan istilah-istilah Islam, Melayu dan Jawi merupakan rangkaian kata yang berhubungan rapat. Contoh, istilah masuk Islam sering dikatakan masuk Melayu, kitab Jawi tidak lain adalah kitab bertuliskan Arab-Melayu.

Bab II
Definisi Melayu

Pengertian orang mengenai Melayu sering saja keliru dan dicampurbaurkan. Hal ini disebabkan karena Melayu oleh karena pengertian “Bahasa” ada karena pengertian “Ras” dan ada pula karena pengertian etnis sukubangsa dan kemudian dalam pengertian umum” sesama agama Islam”. Maka mau tidak mau haruslah kita telusuri kembali sejauh mungkin apa yang dicatat oleh sejarah. Orang Melayu mendiami wilayah: Thailand Selatan, Malaysia Barat dan Timur, Singapura, Brunei, Kalimantan Barat, Temiang (Aceh Timur), pesisir Timur Sumatera Utara, Riau, Jambi dan Pesisir Palembang.

Asal Usul Nama Melayu

1.Berdasarkan Mitos Bukit Seguntang
Berdasarkan pembahasan tradisi Melayu, kedudukan raja dan kerajaan dipandang sebagai anugerah yang datang dari atas dan karena itu dianggap suci. Kesucian itu di buktikan dengan mitos asal usul raja yang dikaitkan erat dengan seorang tokoh yang dianggap sebagai keturunan Iskandar Zulkarnain., yaitu Sang Sapurba. Raja Iskandar Zulkarnain atau lebih dikenal sebagai Alexander The Great merupakan tokoh agung yang memiliki kerajaan yang terbentang dari Eropa hingga ke Asia sehingga keberhasilannya menjadi inspirasi bagi Napoleon Bonaparte bahkan Adolf Hitler, di kemudian hari. Hal itu menjadi sanjungan serta kebanggaan bagi keturunannya, sehingga menjadikannya sebagai asal usul keturunan Raja-Raja besar, termasuk kemaharajaan Melayu. Dalam bukunya, Sejarah Melayu, Suatu Kajian Aspek Pensejarahan Budaya Kuala Lumpur, Harun Daud mengidentifikasikan Iskandar Zulkarnain sebagai Alexander The Great dari Macedonia. Di situ dikatakan bahwa: ”Raja Iskandar anak Raja Darab (Darius), Rum (Romawi) bangsanya, Macedonia negerinya, Zulkarnain gelarnya…”

Dalam buku Shorter Encyclopedia Of Islam disebutkan bahwa gelar “Zulkarnain” dalam literatur Arab diberkan kepada beberapa tokoh, termasuk Ali Bin Abi Thalib. Akan tetapi paling banyak di berikan kepada Alexander The Great. Ketika Sang Sapurba muncul di Bukit Seguntang Mahameru, ia bersama saudara-saudaranya menjelaskan bahwa kehadiran mereka dengan kata-kata: ”Kami ini bangsa manusia, asal kami dari Raja Nusyirwan Adil, Raja Masyriq dan Magrib, serta pancar kami dari Raja Sulaiman Alaihissalam.” Selanjutnya disebutkan dalam Sejarah Melayu (Sulatat Al Salatin) , ia lahir di alam Dika dan di sanalah ia memperoleh “mahkota koderat” sebagai bukti asal-usulnya sebagai keturunan Iskandar Zulkarnain. Ketika sampai di Bukit Seguntang, ia diminta oleh dua orang petani agar membuktikan kesaktiannya. Waktu itu juga ia membuat padi berbuah emas, berdaun perak dan berdaun tembaga. Sementara itu di tempat lain, yaitu Pulau Bintan terdapat seorang Raja perempuan yang bernama Wan Seri Beni (Benai), setelah beberapa lama Sang Sapurba menjadi raja di Bukit Seguntang ia berangkat ke Bintan melalui Tanjung Pura. Setiba di Bintan ia menikahkan anaknya, Nila Utama dengan seorang Puteri dari Ratu Seri Beni tersebut. Nila Utama menetap di Bintan dan menjadi raja di sana. Kemudian dengan bantuan Ratu Bintan, Nila Utama mendirikan kerajaan di Singapura dengan memakai gelar Sri Tri Buana. Di Singapura dinasti Sri Tri Buana berlanjut selama 32 tahun sampai pada masa cicit nya, yaitu Iskandar Syah yang pada masa pemerintahannya Singapura diserang Majapahit sehingga ia melarikan diri ke Muar. Setelah itu ke Bertam. Di Bertam itulah dia mendirikan kerajaan Melaka.

2.Nama Melayu Berasal Dari Kerajaan Melayu Purba
Menurut berita yang ditulis di dalam Kronik Dinasti Tang di Cina, sudah tertulis nama kerajaan di Sumatera yang ditulis pada tahun 644 dan 645 Masehi. Seorang Pendeta Buddha Cina yang bernama I-Tsing dalam perjalanannya ke India pernah bermukim di Sriwijaya (She Li Fo She) untuk belajar bahasa Sansekerta selama 6 bulan. Menurut tulisannya, dari sini ia menuju Mo Lo Yue dan tinggal selama 6 bulan pula sebelum berangkat ke Kedah dan ke India. Dalam perjalanan pulang kembali ke Cina tahun 685 M ia singgah lagi di Mo Lo Yu yang ternyata sudah menjadi bagian dari She Li Fo She.

Rupanya Kerajaan Melayu itu sudah di taklukkan ataupun menjadi satu dengan kerajaan Sriwijaya (antara tahun 645-685 M) menurutnya, perjalanan pelayaran dari Sriwijaya ke Melayu ditempuh selama 15 hari dengan menggunakan kapal layar yang sederhana. Dimana letak pusat kerajaan Melayu itu banyak sarjana Sejarah berbeda pendapat, tetapi kebanyakan menetapknnya berada di hulu sungai Jambi (sungai Batanghari). Memang dalam eskavasi kepurbakalaan akhir-akhir ini, banyak sekali ditemukan reruntuhan candi, patung-patung dan peninggalan kepurbakalaan lainnya yang cukup tua usianya. Di dalam mitologi orang Melayu seperti tertera di dalam “Sejarah Melayu,” turunnya Sang Sapurba bersama ke-2 saudaranya adalah ditempat yang disebut “Bukit Seguntang Maha Meru” di hulu Palembang, namun di puncak bukit tersebut terdapat makam kuno yang dipercayai makam Datok Tenggorok Berbulu, yang mengingatkan kita akan salah satu nama Dewa Siwa yaitu Nelakantha (Si Leher Hitam).

Apabila kita mengikuti pendapat dari Prof. Dr. J. G. Casparis, maka kerajaan Melayu yang telah ditaklukkan Sriwijaya itu sesuai dengan prasasti yang berisi kutukan di Karang Berahi. Menurut De Casparis, sekitar akhir abad ke-11 sampai tahun 1400 M kerajaan Melayu itu telah pulih kembali. Bahkan untuk menangkis bahaya dari Sriwijaya Kerajaan Melayu itu bekerjasama dengan Kerajaan Jawa Singosari sehingga Kerajaan Jawa itu mengirimkan balatentara yang besar menghancurkan Sriwijaya yang disebut dengan Ekspedisi Pamalayu (1275 M), dan dikirimkannya arca Amoghapasa Lokeswara (1286 M) di Padang Roco, pengiriman itu disambut oleh rakyat Melayu secara gembira bahkan oleh Raja Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa. Di belakang Arca itu kemudian ditulis prasasti Raja Adityawarman (1347 M). Yang kemudian melanjutkan Kerajaan Damasraya (Melayu) itu. Baik Kerajaan Damasraya (melayu) maupun kerajan Sriwijaya menggunakan bahasa dan aksara Melayu Kuno, sebagai contohnya adalah Prasasti Boom Baru (Pinggiran Sungai Musi) yang berasal dari akhir abad ke-7 M.

Kemudian Kerajaan Melayu yang berpusat di hulu sungai Jambi itu pindah ke wilayah Minangkabau (suruaso). Raja Asityawarman tidak pernah menyebut kerajaannya itu sebagai Kerajaaan Minangkabau, tetapi sebagai “Kanakamedinindra Suwarnabhumi” yaitu Penguasa Negeri Emas, yang dulunya dikuasai Sriwijaya dan Melayu. Setelah masa pudarnya Sriwijaya dan Melayu (Jambi dan kemudian di Pagarruyung) karena serangan dari Jawa, maka orang Jawa menguasai kehidupan di Palembang dan Jambi seperti yang dilaporkan penulis Portugis Tome Pires, dalam bukunya Summa Oriental: ”Jambi kini di bawah Patih Rodim, Raja Demak. Penduduk Jambi sudah lebih mendekati penduduk Palembang yaitu lebih ke-Jawa-annya daripada ke-Melayuan-nya”.

Tapi bagaimanapun Bahasa Melayu yang menjadi Lingua Franca di Nusantara sejak disebarkan oleh Imperium Sriwijaya dan Melayu sejak abad ke-6 M itutermasuk adat-istiadat raja-rajanya yang di bawa Parameswara ke Melaka ditahun 1400-an telah memperkuat jati diri Melayu.Setidaknya sekarang ini orang Jambi dan Palembang masih disebut sebagai “Orang Melayu”.
Mengenai asal usul nama “Melayu” itu Prof. Dr. R. C. Majumdar mengatakan bahwa ada satu di India bernama Malaya dan Orang Yunani menyebut mereka Malloi dan ada lagi nama gunung Malaya. Banyak lagi nama-nama tempat di Asia Tenggara dan Nusantara yang berasal dari India. Bahkan pada suku Karo ada Marga Sembiring yang berasal dari India.

3.Definisi Melayu berkaitan dengan masuknya Islam tahun setelah 1400 M
Setelah pusat Imperium Melayu berada di Melaka 1400 M dan Parameshwara di-Islamkan oleh Syekh dari Pasai, maka sejak itu terbentuklah suatu wadah baru bagi orang Islam yang disebarkan dari Melaka ke segenap penjuru di Nusantara. Penyebaran melalui rute dagang ini sambil diikuti perkawinan dengan puteri raja setempat, bukan saja membentuk masyarakat Islam tetapi juga membentuk “Budaya Melayu,” sehingga kita lihat pada masa kedatangan orang Barat kemari telah terbentuk kerajaan-kerajaan maritime di sepanjang kuala-kuala sungai di pesisir timur Sumatera dan Kalimantan serta di Thailand Selatan, bahkan sampai di Jayakarta dan Indonesia Timur. Sejak itu terbentuklah definisi jatidiri Melayu yang baru yang tidak lagi terikat kepada faktor genealogis (hubungan darah) tetapi dipersatukan oleh faktor cultural (budaya) yang sama, yaitu kesamaan dalam beragama Islam, berbahasa Melayu dan beradat-istiadat Melayu. Berikut pengertian orang Melayu menurut kesepakatan para ahli-ahli Barat:

”Orang-orang Melayu (Malaios) adalah orang Islam dengan bahasa Melayu, mempunyai kebiasaan mempelajari bahasa mereka tetapi juga berusaha memperluas pengetahuan mereka dan juga mempelajari bahasa Arab. Suka mengembara, suatu ras yang paling gelisah di dunia, suka mendirikan kampung-kampung namun dengan mudah meninggalkannya. Mereka bersih dan berketurunan baik, sangat gemar akan musik dan sangat berkasih sayang.”

4. Definisi Jatidiri Melayu Menurut J. M Gullick
Menurut J. M Gullick dalam Malay Society In The Late 19th Century, The Beginning Of Change, terbitan Oxford University Press. Singapore 1989, hal 277. Pada orang Melayu ada beberapa nilai (norma) yang menonjol yaitu:
  • Adanya konsep status,yaitu senang mengejar status yang lebih tinggi
  • Bertindak patut menurut adat dan pendapat orang banyak
  • Jika menerima malu dapat berbuat amok atau sindiran
  • Tidak suka berbicara keras-keras dengan tekanan terhadap setiap kata atau kalimat.
  • Cenderung bersifat konservatif
  • Berpijak pada yang esa
  • Sangat mementingkan penegakan hokum untuk keamanan,ketertiban dan kemakmuran masyarakat.Hal ini banyak dituangkan dalam bentuk adat.
  • Mementingkan sekali budi dan bahasa yang menunjukkan sopan dan santun dan tingginya peradaban Melayu.
  • Mengutamakan pendidikan dan ilmu.
  • Mementing budaya Melayu
  • Musyawarah dan mufakat merupakan sendi kehidupan sosial orang Melayu
  • Ramah tamah dan terbuka kepada tamu
  • Melawan hanya pada saat terdesak
Menurut pengakuan Vallentijn (1712 M) seorang peneliti Belanda,bahasa Melayu tidak hanya dituturkan di seluruh Nusantara dan juga negeri-negeri Timur,sebagai suatu bahasa yang dikenal dan dimengerti semua orang,ia juga diketahui dan digunakan di Persia,bahkan melampaui negeri dan sampai ke Filipina. Penterjemah beliau bahkan telah mendengar Bahasa Melayu digunakan di jalanan kota Kanton.

Dari uraian di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa orang Melayu itu adalah:
  1. Melayu adatnya
  2. Melayu bahasanya
  3. Islam agamanya
Pandangan ini di sempurnakan lagi oleh Ismail Hamid dari Dewan Bahsa dan Pustaka Malaysia yang mengatakan bahwa Melayu itu adalah seseorang yang menganut agama Islam,lazimnya berbahasa Melayu,mengikuti adat-istiadat Melayu.Pandangan ini melahirkan sebutan bahwa orang bukan Islam lalu masuk Islam disebut “Masuk Melayu”.Sebaliknya orang Melayu yang keluar dari agama Islam tidak lagi diakui sebagai orang Melayu,tetapi disebut ”Orang Lain” atau “Budak Asing”.

Bab III
Zaman Kerajaan Melayu

Kerajaan Melayu Hindu (644 M-1400 M)

  1. Kerajaan Damasraya terletak di Bukit Seguntang Mahameru dan didirikan oleh Sang Sapurba,sepeninggal Sang Sapurba yang pergi ke Bintan kerajaan ini di pindahkan ke hulu sungai Jambi dan akhirnya berpusat di Pagarruyung.
  2. Kerajaan Bintan Hindu yang dipimpin oleh Ratu Wan Sri Beni
  3. Kerajaan Singapura Hindu yang didirikan oleh Sang Nila Utama di Tumasik.

Kerajaan Melayu Hindu berakhir ketika Penguasa Melaka yang bernama Parameswara memeluk agama Islam pada tahun 1400 M dan bergelar Megat Iskandar Syah.

Kerajaan Melayu Islam (1400 M - Sekarang)
Meskipun Sultan Malaka yang pertama yaitu Iskandar Syah telah memeluk agama Islam,agama Islam justru baru menyebar dengan pesat pada masa kekuasaan Sultan Muhammad Syah yang masuk Islam setelah melihat seorang Syekh dari maghribi melakukan shalat di pinggir pantai. Pada umumnya banyak terdapat kerajaan-kerajaan Melayu di Semenanjung Malaysia seperti Selangor, Sabah, Brunai dan Tempasok (Terengganu) namun yang menonjol hanyalah kerajaan Melaka, Johor-Riau dan Lingga-Riau.

A.Kerajaan Melaka (1400 M - 1511 M)
Kedaulatan dan kekuasaan ada di tangan Sultan,dalam pemerintahan Sultan di Bantu oleh Datuk Bendahara dan dewan permusyawaratan yang disebut Wazir Berempat sedangkan angkatan perang dipegang oleh seorang Laksamana.

Sultan-Sultannya adalah:
  1. Parameswara,bergelar Sultan Iskandar Syah (1400 M-1424 M)
  2. Raja Kecil Besar atau Sri Maharaja,bergelar Sultan Muhammad Syah (1424 M-1444 M)
  3. Sultan Muzaffar Syah (1444 M-1458 M)
  4. Sultan Mansur Syah (1458 M-1477 M)

B.Kerajaan Johor-Riau (1511 M - 1784 M)
Pada tahun 1511 M Portugis datang dan menyerang Malaka akibat serangan ini Sultan beserta perangkat Pemerintahan terpaksa mengungsi dan memindahkan pusat kerajaan dari Melaka ke Johor sehingga Kesultananan ini lebih dikenal sebagai Kerajaan Johor-Riau.

Sultan- Sultannya adalah:
  1. Sultan Mahmud Syah I (1511 M-1528 M) merupakan Sultan terakhir Kerajaan Melaka sekaligus Sultan Pertama Kerajaan Johor-Riau. Sultan ini sangat gigih dalam usaha-usahanya mengusir Portugis dan memulihkan kedaulatan Kerajaan Melaka.
  2. Sultan Alauddin Righayat Syah II (1528 M-1564 M) pada masa ini Kerajaan Johor-Riau mendapat serangan dari Aceh.Baginda Sultan beserta istri nya ditawan di Aceh dan meninggal di sana.
  3. Sultan Muzaffar Syah (1564 M-1570 M) Bekerjasama dengan Portugis untuk menangkis serangan dari Aceh.
  4. Sultan Abdul Jalil Syah I (1570 M-1571 M) cucu Sultan Muzafar Syah yang ditunjuk langsung menjadi pewaris ini meninggal pada umur 9 tahun diduga karena diracun,berhubung pada saat itu terjadi perselisihan kekuasaan antara Bendahara dan Ibu Sultan.
  5. Sultan Ali Jalla Abdul Jalil Syah II (1571 M-1597 M) Ayah dari Sultan Abdul Jalil Syah I.Sultan ini membantu Pasukan Pati Unus dari Demak dalam usahanya menyerang Portugis di Malaka.
  6. Sultan Alauddin Righayat Syah III (1597 M-1615 M) Sultan ini tidak mengakui Johor sebagai Kerajaan jajahan Aceh dan akhirnya Johor di serang oleh Aceh. Sultan di bawa ke Aceh namun dikembalikan lagi ke Johor dengan isyarat agar mau menjadi jajahan Aceh. Namun setelah kembali ke Johor Sultan menolak tunduk kepada Aceh dan berkawan dengan Portugis.Akhirnya Sultan ditangkap lagi di Aceh dan dibunuh di sana.
  7. Sultan Abdul Jalil Syah III (1623 M-1677 M)
  8. Sultan Ibrahim Syah (1677 M-1685 M)
  9. Sultan Mahmud Syah II (1685 M-1699 M) sultan ini tidak memiliki putra sehingga berakhirlah dinasti Sultan-Sultan keturunan Melaka.
  10. Sultan Abdul Jalil Righayat Syah IV (1699 M-1718 M) sebelumnya adalah Bendahara, namun setelah Sultan meninggal tapi tidak mempunyai Putra akhirnya ia yang ditunjuk menggantikan Sultan.
  11. Raja Kecil, bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (1718 M-1722 M) Ia mengaku sebagai putera dari Sultan Mahmud Syah II sehingga merasa berhak atas tahta kerajaan. Akhirnya Ia menyerang Johor dengan dibantu oleh Raja Pagarruyung dan menang. Namun 4 tahun kemudian kekuasaannya digulingkan, ia pun mengungsi ke Senapelan dan mendirikan Kerajaan Siak di sana.
  12. Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah (1722 M-1760 M) Dalam usahanya menggulingkan Raja Kecil ia dibantu oleh 4 Bangsawan Bugis yaitu Daeng Marewah, Daeng Cellak dan Daeng Perani. Atas jasa-jasanya, pihak bugis minta ikut berkuasa sebagai pemerintah di samping Sultan dengan gelar Yang Dipertuan Muda. Akibatnya kekuasaan Bugis begitu besar dan Sultan hanya tinggal lambang.Bahkan banyak intrik-intrik yang memperebutkan kekuasaan selalu berujung pada meninggalnya Sultan karena dibunuh oleh Pihak Bugis.
  13. Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah (1760 M-1761 M)
  14. Sultan Ahmad Righayat Syah (1761 M) kematiannya dicurigai sebagai akibat ada upaya pihak-pihak tertentu yang ingin lebih leluasa berkuasa.
  15. Sultan Mahmud Syah III (1761 M-1784 M) Pada masa ini Raja Haji Fisabilillah selaku YDM IV melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Belanda yang semakin menekan kerajaan Johor Riau, namun dalam melakukan pejuangannya beliau gugur. Akhirnya Belanda dapat menancapkan pengaruhnya dengan leluasa di Kerajaan Johor-Riau. Hal ini dibuktikan dengan memaksa agar ibukota Johor di pindahkan ke Lingga dengan alasan lebih dekat ke Batavia. Dengan dipindahkannya Kerajaan ke Lingga maka berakhirlah riwayat Kerajaan Johor-Riau.

C. Kerajaan Lingga-Riau (1784 M-1913 M)
Pada masa ini kekuasaan Belanda sudah kuat di kerajaan Lingga-Riau hal ini dapat dilihat dengan penempatan seorang Residen di tanjungpinang yang di maksudkan untuk dapat mengawasi tindak-tanduk Sultan. Sultan sebagai kepala negara berkedudukan di Tanjungpinang sedangkan YDM sebagai jabatan yang turun-temurun dipegang bangsawan Bugis dan berfungsi sebagai kepala Pemerintahan berkedudukan di Pulau Penyengat.

Sultan-Sultannya adalah:
  1. Sultan Mahmud Syah III (1784 M-1812 M)
  2. Sultan Abdurrahnan (1812 M-1824 M) Pada masa ini Inggris berebut kekuasaan atas Lingga-Riau dengan Belanda.
  3. Sultan Abdurrahman II (1824 M-1832 M) Kekuasaan Sultan ini dimulai setelah Traktat London yang membagi dua kekuasaan Lingga-Riau dengan wilayahnya yang ada di semenanjung Malaya diberlakukan
  4. Sultan Muhammad Syah (1832 M-1834 M)
  5. Sultan Mahmud Muzafar Syah (1834 M-1857 M)
  6. Sultan Badrul Alam Syah (1857 M-1883 M)
  7. Sultan Abdurrahman Muazam Syah (1883 M-1913 M) Sultan ini diam-diam sedang merencanakan perlawanan melawan Belanda,namun rencana nya telah diketahui dan Beliau diturunkan dari tahtanya. Melalui Surat Keputusan Pemerintah Belanda STBL 1913/19 maka Kesultanan Melayu Lingga-Riau dihapuskan. Dengan ini berakhir sudah kekuasaan Kerajaan Melayu di Indonesia.
Bab IV
Penutup

KESIMPULAN

Dari uraian makalah kami yang berjudul “Periwayatan Sejarah Melayu” ini, dapatlah kita menarik kesimpulan tentang apa, siapa dan bagaimana yang disebut sebagai orang Melayu berikut perangkat-perangkat peradaban yang mewarnai sepak terjang Melayu sebagai salah satu Bangsa di Nusantara. Secara umum yang dimaksud sebagai Orang Melayu itu adalah suatu suku bangsa yang mendiami wilayah Semenanjung Melayu, Sumatera bagian Timur dan Kalimantan Barat. Sedangkan secara spesifiknya, para ahli dan sejarawan telah bersepakat bahwa apa yang dimaksud sebagai Orang Melayu itu adalah mereka yang Beragama Islam, beradat Melayu dan berbahasa Melayu. Hal ini erat kaitannya dengan masuknya agama Islam di sela-sela kehidupan Melayu. Agama Islam meresap dalam setiap perbuatan-perbuatan yang digariskan oleh hukum adat Melayu.

Setelah Islam masuk, agama ini menjadi identitas Melayu. Kebiasaan terdahulu yang bertentangan dengan nilai-nilai Islami ditinggalkan, diganti dengan yang sesuai dengan ketentuan hukum Islam. Pengaruh Islam dalam bidang kebudayaan memberikan corak khusus dan menentukan jalan perkembangan kebudayaan material dan rohaniah. Kebudayaan material tercermin dari surau, musholla, mesjid, makam dan nisan-nisan, seni suara dan dan seni tari.

Dalam bidang bahasa dan kesusasteraan pengaruh Islam sangatlah kentara. Aksara Melayu yang satu-satunya dikenal adalah aksara yang berasal dari bahasa Arab. Selain itu kehidupan kerajaan di Melayu ternyata memilki pengaruh yang sangat vital dalam lalu lintas perdagangan Nusantara sampai pada masa kedatangan bangsa-bangsa Barat yang mendesak dan memusnahkan kerajaan Melayu tersebut.

SARAN

Hendaknya keunggulan peradaban bangsa Melayu pada bidang Bahasa dan Kesusasteraan dapat kita lestarikan dan kita kembangkan sebagai usaha mempertahankan khazanah budaya Melayu. Bangsa Melayu terkenal dengan kerajan-kerajaannya yang gigih berjuang menentang segala bentuk penjajahan yang ada termasuk dari Pihak Belanda, Inggris, Aceh dan Jambi. Walaupun kerajaan-kerajaan Melayu tersebut hanya tinggal peninggalan saja, tetapi kita harus dapat mengamalkan segala teladan yang baik yang ditinggalkan mereka, karena semangat mereka tetap hidup dalam diri kita. Lagipula bukan tidak mungkin apabila kejayaan Melayu terulang kembali pada masa kini, namun dalam konsep keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Dari Bang Rudy - Blog Hiduplah Indonesia Raya


Daftar Pustaka
Luckman Sinar SH, Tengku, Jatidiri Melayu, Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Seni Budaya Melayu, Medan, 1994. Mahdini, MA, Dr, Raja dan Kerajaan dalam Kepustakaan Melayu, Yayasan Pusaka Riau, Pekanbaru, 2003. Mahdini, MA, Dr, Islam dan Kebudayaan Melayu, Daulat Riau Pekanbaru, 2003 Pemda Prov. Riau, Dari Kesultanan Melayu Johor-Riau ke Kesultanan Melayu Lingga-Riau, Pemda Prov. Riau, Pekanbaru, 1993.

6 comments:

  • "Iskandar Zulkarnain" atau "Alexander the Great of Macedonia" yang saya tahu dari pembacaan sejarah mengenainya adalah seorang lelaki yang tidak baik budi pekerti...beliau lebih meminati kaum sejenis dan beliau juga adalah seorang pagan. Manakala Iskandar Zulkarnain yang disebut Allah dalam Al-Quran adalah lelaki yang beragama tauhid dan 'alim...saya percaya raja2 Melayu berketurunan daripada Iskandar Zulkarnain yang disebut dalam Al-Quran yang dikenali sebagai 'Cyrus The Great' iaitu, salah seorang pemerintah empayar Parsi Kuno. Wallahu'alam.

    January 31, 2012 at 4:36 PM

  • belum ada fosil purba atau artefak yg mejelaskan tantabg asal muasal orang Melayu hanya karena belum ada penggaalian yg dilakukan oleh para ahli saja , coba penulis menghubungi para arkelolog dunia untuk menggalilah didaerah2 yg masih didiami orang pedalaman seperti orang Sakai, orang Kubu , suku orang Hutan , dll , kalo mau yah minta usulan penggalian ke orang National Geographiclah di Amerika : http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CCYQFjAA&url=http%3A%2F%2Fwww.nationalgeographic.com%2F&ei=6h4UU4eDM4mOrQftoYGwDQ&usg=AFQjCNGvYT8_Gbose4ucEnVS8teSFrU5nA&bvm=bv.61965928,d.bmk
    . Pemerintah pusat tidak perlu tau dan tak usah melalui mereka , langsung saja dipublish dulu hasil penggaliannya baru diberitahu pada pemerintah untuk menghindari penyembunyian seperti di buku sejarah Indonesia slama ini , mereka bilang yg bangun andi Borobudur itu orang Jawa padahal manuscript yg ada dlm prasasti itu ketika dibaca oleh orang Sumatera asli dari Bangka itu dibangun oleh kerajaan Sriwijaya, namanya Haji Muslihun . Kemudian akhirnya di halaman Borobudur di internet ahli dari Jawa karena kalah malu menulis belum pasti siapa yg membangunnya , yah mmg sudah pasti Orang Sumatera , kerajaan Sriwijaya .

    March 3, 2014 at 1:22 PM

  • nanti terus dibandingkan mana lebih tua dari orang Batak di danau Toba , di gunung Pusuk Buhit sebab mengapa banyak sama bahasanya, adatnya ? Memang adat orang Batak itupun sama dengan orang Jahudi di Israel tapi orang Batak zaman purba beragama Parmalim ( Suci ) mereka tidak memakan daging babi kalau orang Kristen dilarang makan daging ( Alkitab Perjajanjian lama , Kejadian 1, 29 ) .

    March 3, 2014 at 1:30 PM

  • “PERJALANAN SIMALUNGUN/DAMANIK DALAM TINJAUAN HABONARON”
    December 7, 2010
    Oleh M Muhar Omtatok

    A.1. DINASTI NAGUR

    Bangsa Timur yang selanjutnya disebut Simalungun, telah melakukan perjalanan panjang dalam tata nilai kepemerintahan dan civilisasi. Setidaknya sejak era Dinasti Nagur – Dinasti Damanik dan Silau –Tua/Batang Hiou – Dinasti Saragih (Harajaon na Dua – Kerajaan Nan Dua, Parpandanan Na Bolag, Deisa na Ualuh).

    Selanjutnya Kerajaan nan Empat (Harajaon na Opat) yaitu Kerajaan Siantar (morga Damanik), Panai (morga Purba Dasuha), Silau (morga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (morga Sinaga).

    Hingga era Kerajaan nan Tujuh (Harajaon na Pitu) yaitu kerajaan Siantar (Morga Damanik), Panai (morga Purba Dasuha), Silau (morga Purba Tambak), Tanoh Jawa (morga Sinaga), Raya (morga Saragih Garingging), Purba (morga Purba Pakpak) dan Silimakuta (morga [Purba] Girsang). Serta kerajaan-kerajaan Simalungun lain, baik yang berada di wilayah Simalungun kini, Serdang Bedagai maupun di wilayah Deli Serdang sekarang.

    Perjalanan panjang historical dan tamaddun Hasimalungunan ini, menjadi bukti ketuaan sejarah dan peradaban Simalungun yang bukan sempalan Bangso Simbalog (etnis lain).

    Kerajaan Nagur mendominasi wilayah Simalungun dan sepanjang pantai utara, yang terbentang luas dari pantai barat berbatas dengan lautan Hindia, sampai keselah Timur dengan Selat Malaka, dari sebelah Utara berbatas dengan wilayah yang disebut Jayu sampai berpatas dengan Danau Toba di selatan.

    Menurut Hikayat dalam Pustaha Parpadanan Na Bolag, Kerajaan Nagur digambarkan sebagai satu kerajaan yang kaya dan jaya, dengan Pamatang (ibu negeri) mempunyai benteng yang kuat, berpagar besi, pintu gerbang disebut layar-layar terbuat dari tombaga holing dan gombok (kunci) terbuat dari perak.

    Pustaha Parmongmong Bandar Syahkuda, menyatakan bahwa Istana Raja Nagur berada di Tolbak Pargambirian. Pustaha Parpadanan Na Bolag menyebutkan nama seorang Raja, yaitu Sianas Bondailing.

    Pada Masa Kerajaan Nagur ini, marga-marga sudah ada dan struktur kekuasaan Simalungun tradisional sudah berkembang. Eksistensi kerajaan ini berlangsung sampai akhir abad XIII khususnya ketika daerah ini menjadi sasaran perluasan pengaruh politik Kerajaan Singosari dari Jawa bagian Timur dengan ekspedisi Pamalayu.

    Sepanjang yang padat diketahui melalui catatan (analis) Tiongkok sewaktu Dinasti Sui ( Sui Chao) (581 – 618) adalah sebuah dinasti yang menjadi peletak dasar bagi kejayaan Dinasti Tang sesudahnya. Kerajaan Nagur sebagai Simalungun Tua, telah disebut-sebut.

    Pada abad ke V sudah ada Kerajaan Nagur yang sudah mempunyai hubungan dagang dengan bangsa-bangsa lain terutama dengan Tiongkok. (Buku Sejarah Perkembangan Pemerintah Dalam Negeri Kabupaten Daerah Tingkat II Simalungun, 1999)

    Sumber lain ialah Buzuruq Bin Syahriar, seorang musafir Parsi pada abad X dalam memori perjalanannya telah mencatat adanya negeri yang bernama Nakus (Nagur).

    Selanjutnya MD Purba dalam bukunya berjudul “Mengenal Kepribadian Asli Rakyat Simalungun”, menyatakan bahwa menurut catatan Marcopolo seorang pengembara dari Venesia (Italy) pernah mengunjungi Kerajaan Nagur (tahun 1271-1295) karena pada saat itu ia terpaksa harus terhenti di Kerajaan Pasei untuk memperbaiki kapalnya yang rusak diterpa badai di Selat Malaka. Sambil menunggu perbaikan kapal, ia sempat mengadakan penyelidikan terhadap pedalaman Pulau Perca, dalam catatannya ada tertera Kerajaan Nagur yang disebut Nagore atau Nakur.".........
    http://simalungunonline.com/%E2%80%9Cperjalanan-simalungundamanik-dalam-tinjauan-habonaron%E2%80%9D.html
    http://suhuomtatok.wordpress.com/2007/05/28/pustaha-laklak/
    http://suhuomtatok.files.wordpress.com/2007/05/rajah2-simalungun.jpg?w=500
    http://halibitonganomtatok.files.wordpress.com/2010/04/22441_1262408254059_1645307310_636077_6677367_n.jpg?w=250&h=300

    May 27, 2014 at 5:28 AM

  • PUSTAHA LAKLAK, Naskah kuno Tamaddun Batak
    Posted on Mei 28, 2007 | 10 Komentar
    oleh: Muhar Omtatok (SekumYayasan Simalungun Sauhur)

    ........."Diyakini, Aksara Simalungun ini memiliki pemimpin-pemimpin gaib, dalam pustaha laklak diterangkan nama – nama pemimpin2 gaibnya yaitu:

    RAJA I DABIYA, TUAN DIBORAKU, ASAL NABU, SITUNAGORI, TUWAN NABI ALLI, ALAM SADIYA, ALAM SADIA SAH, ALAM JAHARI, TUWAN MARJANDIHI, RAJA SIPORAT NANGGAR, RAJA ENDAH DUNIYA, RAJA DI PUSUK SUNGEI, TUWAN NABI ALI MUHAMMAD, TUWAN SI NAHAR NANGKIR, OMPUNG ANGLAH TAALA, PUWANG AJI BORAIL.

    Bagi murid-murid yang belajar dunia spiritual Simalungun, dianjurkan untuk menghormati pimpinan-pimpinan gaib dari abjad diatas, dengan ritual khusus yg menyediakan sesaji berupa Ayam Merah yang disusun diatas daun dan diletakkan di tikar yang masih baru, sira pege yaitu cocolan garam, lada dan jahe 7 iris, bunga kembang sepatu 7 tangkai. Semua bahan ini dilingkari dengan benang putih. Masih dalam pustaha laklak, bahan diatas dilengkapi dengan nira, air, rudang, minyak saloh, beras sangrai yang dibuat tepung, 19 lembar sirih, kue nitak (tepung beras dicampur gula aren) serta huruf-huruf yang telah disediakan.

    Seluruh murid mengelilingi tikar tempat sesaji dan huruf yang diletakkan, lalu sang guru membacai mantra:
    “Borkat ma hamu RAJA I DABIYA, Borkat ma hamu TUAN DIBORAKU, Borkat ma hamu ASAL NABU, Borkat ma hamu SITUNAGORI, Borkat ma hamu TUWAN NABI ALLI, Borkat ma hamu si ALAM SADIYA, Borkat ma hamu si ALAM SADIA SAH, Borkat ma hamu si ALAM JAHARI, Borkat ma hamu TUWAN MARJANDIHI, Borkat ma hamu RAJA SIPORAT NANGGAR, Borkat ma hamu RAJA ENDAH DUNIYA, Borkat ma hamu RAJA DI PUSUK SUNGEI, Borkat ma hamu TUWAN NABI ALI MUHAMMAD, Borkat ma hamu TUWAN SI NAHAR NANGKIR, Borkat ma hamu OMPUNG ANGLAH TAALA, Borkat ma hamu PUWANG AJI BORAIL, harannya ham Puwang ni Surat Sapuluh Siyah, na mannaikhon hosah, iya Tuwanku Jungjunganku” .

    Lalu murid disuruh memilih huruf yang disukainya secara intuitif. huruf inilah yang bisa dijadikannya sebagai washilah berupa jimat dan sebagainya untuk menyatukan diri dengan alam gaib. huruf yang dipilih bisa di jadikan mantra handalan. Dalam Pustaha Laklak, ada beberapa mantra yang digunakan dengan membaca huruf yang dipilih tadi, membacanya dengan mandoding yaitu bersenandung; misalnya untuk Pagar Pertahanan".........
    http://suhuomtatok.wordpress.com/2007/05/28/pustaha-laklak/
    http://suhuomtatok.files.wordpress.com/2007/05/rajah2-simalungun.jpg?w=500 http://simalungunonline.com/%E2%80%9Cperjalanan-simalungundamanik-dalam-tinjauan-habonaron%E2%80%9D.html

    May 27, 2014 at 5:42 AM

  • Penulis M Muhar Omtatok
    KALENDER SIMALUNGUN
    Dalam Pustaha yang ditemukan di Talang Tua, yang ditulis pada tanggal Mudaha Ni Mangadop (11) bulan Sipaha Opat (4) tahun 686M (608 Saka), ditulis dalam bahasa lingua franca Sriwijaya dan Nagur, begini bunyinya:
    “Syaka warsyatita 608 ding pratipada tahun saka leat 608 dina parmula syukpalaksya wulon waisyaka tatkalanya mudaha ni poltak bulan sipaha opat hatihani yang mangmang sumpah ini nipahat di welanya yang wala shariwidjaya kaliwat hatihani bola sariwidjaya leat manapik yang bhuni Jawa tidak bakti mengalah bumi Jawa naso tunduk ka Syariwidjaya hu ariwidjaya”.
    Jika kita artikan dalam gaya tutur bahasa Simalungun, begini jadinya: “Sanggah bani mudaha ni Popoltak (mangadop) tahun saka 608 na salpu bulan sipaha ompat, panorang aima bulawan on iuhirhon sangat dunghonsa (dobkonsi) ialah bala ni ariwidjaya tanoh Jawa nao tunduk hu bani sariwidjaya”..............
    ==============
    Disamping memuat hal ikhwal Supranatural dan pengobatan, Pustaha Laklak juga memuat hal lain; seperti Pustaha simalungun “Parpadanan na Bolag” yang mengisahkan asal usul marga Damanik sebagai Penguasa Dinasti Nagur.
    ===================
    KERAJAAN NAGUR DI SIMALUNGUN:
    CATATAN DARI PENGELANA ASING DI SUMATRA TIMUR
    Oleh:
    Erond L. Damanik, M.Si
    http://massahar-tiga.blogspot.com/2010/03/pengantar-sejarah-peradaban-di-ujung.html

    Demikian pula dalam hikayat ”Parpadanan Na Bolag” yang mengisahkan kerajaan ”Nagur” yakni kerajaan Batak Timur Raya. Dalam catatan pengembara asing, kerajaan ini sering disebut ”Nakur”, atau ”Nakureh” maupun ”Jakur”. Kerajaan ini, menurut M.O. Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao (1964) berdiri pada abad ke 6-12. Rajanya yang terkenal adalah Mara Silu yang oleh penulis Karo disebut bermarga Ginting Pase dan masyarakat Batak Timur Raya menyebut marga Damanik. Nama Mara Silu banyak disebut didalam ”Hikayat Raja-raja Pasai”, ”Sejarah Melayu”, dan ”Parpadanan Na Bolag” dan diyakini sebagai Raja Nagur dari Batak Timur Raya. Menurut catatan MOP dalam bukunya ”Tuanku Rao” sepenakluk Aceh terhadap ”Nagur”, Mara Silu dan laskar yang tersisa menghancurkan bandar Pase (Aceh) pada tahun 1285 dan masuk Islam serta berganti nama menjadi Malikul Saleh, Sultan Samudra Pase yang pertama. Sejak saat itu, kerajaan Nagur tidak lagi ditemukan dalam tulisan-tulisan selanjutnya.".....

    2. Catatan Tentang Nagur
    Namun demikian, apabila angka yang disebutkan oleh Parlindungan tersebut dikomparasikan dengan laporan admiral Zheng Zhe (Cheng Ho) maka akan didapat bahwa, hingga tahun 1423, kerajaan Nagur masih berdiri. Didalam buku Zheng Zhe: Bahariawan Muslim Tionghoa (2002) disebut bahwa, admiral tersebut mengunjungi Nagur sebanyak 3 (tiga) kali. Pasukannya sangat terkenal dengan senjata panah beracun dan berhasil menewaskan raja Aceh. Dalam laporan pengelana Tionghoa tersebut, nama Nagur dituliskan dengan ‘Nakkur’; ‘Nakureh’ atau ‘Japur’. Hal senada juga diketahui dalam laporan Ma Huan yakni Ying Yei Seng Lan, dimana nama Nagur yakni ‘Napur’ merupakan kerajaan ‘Batta’
    =====================
    http://ipie3.wordpress.com/2009/06/06/kerajaan-nagur-di-simalungun/
    http://id.wikipedia.org/wiki/Damanik
    http://dearmawantomunthe.wordpress.com/2012/01/04/100/
    http://simalungunonline.com/alamanank-simalungun.html
    http://simalungunonline.com/%E2%80%9Cperjalanan-simalungundamanik-dalam-tinjauan-habonaron%E2%80%9D.html
    http://suhuomtatok.wordpress.com/2007/05/28/pustaha-laklak/
    http://puakmelayu.wordpress.com/2008/12/29/tok-pawang/
    http://puakmelayu.wordpress.com/category/uncategorized/
    http://puakmelayu.blogspot.com/search/label/IKHWAL%20DAN%20SEJARAH%20MELAYU
    http://puakmelayu.blogspot.com/
    http://puakmelayu.blogspot.com/2008/12/siapa-agaknya-melayu-itu.html
    http://suhuomtatok.files.wordpress.com/2007/05/rajah2-simalungun.jpg?w=500
    http://halibitonganomtatok.files.wordpress.com/2010/04/22441_1262408254059_1645307310_636077_6677367_n.jpg?w=250&h=300

    May 27, 2014 at 10:39 AM

Post a Comment



Jika anda memiliki akun di facebook, silahkan klik tombol FOLLOW THIS NETWORK di atas, atau klik di sini. Jika diminta, loginlah seperti biasa. Lalu klik tombol FOLLOW. Tunggu beberapa saat sampai notifikasi kofirmasi muncul, saat mana anda dapat segera logout. Satu klik dari anda sangat berarti bagi blog ini. Atas semua sumbangsih yang telah diberikan, tidak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebesarnya



KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT DAFTAR SELURUH ARSIP