Monday, March 15, 2010

PUTRI MELAYU, Sebuah Novel Berlatar Sejarah Langkat

Menyelamatkan Bangsa yang Bangsawan

Apakah bangsawan Melayu di Langkat mementingkan dirinya sendiri, kekuasaannya dan kelanggengan martabatnya saja? Ataukah kaum bangsawan ini memberikan warna pada perjuangan merebut kembali kemerdekaan dari tangan Belanda? Novel karya Amiruddin Noor mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

Ia menemukan Tengku Farida, seorang gadis sebagai mata pancing. Mencoba memancing pembaca dengan sentuhan Melayu yang unik dan berbudaya.
Cerita bermula dari peringatan ulang tahun Tengku Farida yang ketujuh belas. Ia menikmati masa remajanya dengan kelimpahan dan kecukupan. Bersama-teman-temannya yang juga bangsawan, ia menikmati indahnya masa remaja itu. Farid, anak lelaki yang juga berasal dari keluarga bangsawan telah mencuri hati Tengku Farida melaui sikap dan surat-suratnya.

Perjumpaan antara Farida dan Farid terbatas karena perbedaan jarak, Farida tinggal di Tanjungpura sementara Farid masih bersekolah pada STOVIA, sekolah kedokteran di Batavia. Keluarga Farid dan Farida telah saling menjajaki agar keduanya bisa menjadi pasangan suami istri.
Gejojak perang pasca proklamasi 1945 menjungkirbalikkan keadaan. Satu sisi, kalangan bangsawan sangat cemas dengan kemerosotan hidup mereka. Selama ini, kalangan bangsawan dianggap foedal dan mendukung kedudukan Belanda. Mereka diuntungkan dengan status kebangsawanannya.

Hal ini memberikan pembenaran kepada kaum revolusioner kiri (kelompok laskar) memberlakukan hukuman kepada kelas ini. Pancung kepala dan berbagai kesadisan lainnya mewarnai gerakan mereka. Organisasi ini kuat dari pusat sampai ke daerah. Namun Amiruddin Noor masih malu-malu menyatakan kalau kelompok ini merupakan sempalan dari partai komunis.
Sementara di sisi lain, Belanda masih bernafsu melakukan parampasan atas hak-hak kemerdekaan republik.

Agresi milter yang dilancarkan Belanda menciderai berbagai kesepakatan di meja perundingan.
Posisi TKR, Tentara Keamanan Rakyat, terjepit di antara dua kepantingan tersebut. Ketika harus memberikan pengawalan terhadap kelompok-kelompok laskar, pada saat yang sama juga harus menghadapi serangan Belanda. Dalam kondisi ini, Farid memutuskan bergabung dengan TKR di pulau Jawa. Seperti pejuang lain, ia termotivasi menyelamatkan republik. Namun di balik itu, ia juga menyimpan keinginan untuk menyelamatkan sanak keluarganya.

Seiring dengan tugasnya, Farid mencari celah untuk kembali ke tanah kelahirannya.
Dalam kegalauan itu, Tengku Farida terpisah dari keluarganya di Tanjungpura. Ia ditawan oleh laskar. Perlakukan kasar yang ia terima selama masa penawanan itu mempertemukannya dengan seorang perwira TKR lainnya, Umar. Pria ini merupakan pribadi yang kukuh, cerdas dan terpelajar. Pertemuannya dengan Tengku Farida menciptakan efek kejut yang teramat dalam. Nyaris Tengku Farida menjadi korban perkosaan bila tidak diselamatkan oleh Umar.

Perang yang belum berkesudahan memisahkan antara Tengku Farida, Farid dan Umar. Farid memutuskan kembali ke Jawa untuk meneruskan perjuangan dengan caranya sendiri. Ia dibantu Sri, teman sekolahnya dulu.
Umar terlempar dari pertempuran yang ganas, satu kakinya harus diamputasi. Sebelum pertempuran berakhir, ia berhasil menyelamatkan Tengku Farida melalui salah seorang anak buahnya. Tengku Farida dititipkan pada satu keluraga, ia hidup pada keluarga tersebut. Tapi lantaran fitnah perbuatan mesum membuat ia harus menyingkir dan kembali ke rumahnya yang nyaris hancur. Pertemuan kembali antara Tengku Farida dengan Umar berlangsung tanpa sengaja. Keduanya kemudian mencari ibunda Farida yang katanya tinggal di Medan. Kedekatan mereka akhirnya menjurus pada hubungan serius, mengikatkan diri pada tali perkawinan. Di ranah lain, Farid memilih mempersunting Sri.

Amiruddin Noor merancang sketsa pada plot-plot pendek yang menggugah. Ia bertutur dengan aroma dan cengkok melayu yang khas, tak jarang istilah yang digunakan pun sangat lokal. Namun justru karena itu, novel ini berkarakter sungguh kuat.
Kronologis peristiwa tersusun rapi, walau kadang alurnya harus maju mundur. Noor, memberikan peluang bagi pembaca merekonstruksi kejadian yang diceritakannya dengan penggambaran yang terkadang abstrak.

Novel ini penuh semangat perjuangan kemerdekaan. Noor banyak mengisahkan episode sejarah penting di kawasan Langkat, Sumatera Utara, maupun Indonesia secara keseluruhan. Akan tetapi, Noor sering tergelincir pada persoalan tersebut daripada mengemas sosok Farida, Umar dan Farid secara gamblang.
Farida yang menjadi inspirator dalam novel ini belum mampu berpenampilan sebagai seorang bangsawan yang pro-republik. Ia hanya peduli pada nasibnya sendiri, keluarganya dan kaum bangsawan lainnya. Ia merepresentasikan kaum bangsawan yang cenderung oportunis daripada ideologis.

Terkadang Noor terbawa emosi bila menceritakan perjuangan revolusioner kaum kiri. Mereka semata-mata dianggap pemberontak, pengacau keamanan, musuh dalam selimut, menggunting dalam lipatan. Sementara di sisi lain, pengkultusan ditujukan kepada kaum bangsawan. Pada titik ini, terselip sedikit sinisme pada gerakan revolusioner kiri dan pada saat itu juga ada pembelaan terhadap kaum bangsawan.(*)


Putri Melayu, Kisah Cinta dan Perjuangan Seorang Gadis Melayu Ditengah Kecamuk Pembantaian
Oleh: Amiruddin Noor
Cetakan Pertama, Februari 2009
Diterbitkan oleh Penerbit Bentang



Dari: KABAR INDONESIA | Oleh Syafrizaldi | 17-Apr-2009, 02:52:44 WIB


0 comments:

Post a Comment



Jika anda memiliki akun di facebook, silahkan klik tombol FOLLOW THIS NETWORK di atas, atau klik di sini. Jika diminta, loginlah seperti biasa. Lalu klik tombol FOLLOW. Tunggu beberapa saat sampai notifikasi kofirmasi muncul, saat mana anda dapat segera logout. Satu klik dari anda sangat berarti bagi blog ini. Atas semua sumbangsih yang telah diberikan, tidak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebesarnya



KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT DAFTAR SELURUH ARSIP