Wednesday, March 10, 2010

Mahyudin Al Mudra

Setiap hari disaat matahari sepenggalah, mobil bernomor polisi AB 2 MM berhenti tepat di depan gedung Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, yang biasa disebut Balai Melayu. Sesaat kemudian seorang pria turun dari mobil itu dan berjalan memasuki Balai Melayu. Langkahnya mantap, sorot matanya tajam, raut mukanya bersih bersinar, dan penampilannya necis. Derap langkah dan penampilannya yang meyakinkan begitu pas dengan sikapnya yang selalu optimis. Optimismenya bahkan telah menjadi ruh Balai Melayu itu.

Senyumnya sedikit terkembang ketika ia disapa atau menyapa para staf Balai Melayu. “Assalamualaikum Bang MAM” atau “selamat sore Bang”, begitu biasanya para staf menyapanya. Sapaan MAM itu sendiri singkatan dari nama lengkapnya, Mahyudin Al Mudra. Dialah pendiri Balai Melayu itu.


Tas jinjing hitam yang selalu dibawanya tampak begitu berat. “Apa gerangan isi tas itu?”, para staf terkadang bertanya. Isinya bukan uang, tetapi tumpukan kertas, buku agenda, cover buku, foto-foto dunia Melayu, booklet dan leaflet MelayuOnline.com, WisataMelayu.com, dan RajaAliHaji.com. Bagi mereka yang tidak tahu apa arti perkakas itu, mungkin akan berkomentar, “gak penting amat bawaannya”. Tetapi, sesungguhnya perkakas itu adalah representasi dari sekelumit ide dan pemikiran besar MAM yang telah atau sedang direalisasikan melalui aktivitas-aktivitas Balai Melayu. Untung saja baru sekelumit ide yang dituangkan dalam tulisan dan gambar. Seandainya semua ide dan pikirannya ditulis di atas kertas, dijamin Balai Melayu harus menyewa andong (kereta kuda) untuk membawanya.


Mengenal MAM

Mahyudin Al Mudra, S.H., M.M., lahir di Tembilahan, Indragiri Hilir, Riau, pada tanggal 4 Juli 1958. Gelar S1-nya ia peroleh dari Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, pada tahun 1985. Pada tahun 1997 ia meraih gelar Magister Manajemen dari universitas yang sama. Kecintaanya kepada buku-buku lintas disiplin begitu besar, sehingga membuka cakrawala pikirannya yang tidak terbatas pada satu bidang saja.


Jika ia diajak ngobrol soal filsafat, pembicaraannya mengalir seolah tidak berujung, karena memang MAM pernah kuliah di Jurusan Filsafat UGM, meskipun tidak dirampungkan. Diajak berbual tentang hukum dan manajemen tentu saja cas...cis...cus. Berbicara masalah kebudayaan, banyak jurus dan teori budaya yang dapat dikeluarkan, karena sekarang ia sedang menyelesaikan Program Master di Antropologi UGM. Mau diajak bicara tentang keislaman atau kesufian juga oke, seolah itu adalah makanan sehari-hari, sebagai hasil pergaulan eratnya dengan para kyai top di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Diajak cakap soal bisnis ia ahlinya, sebab sampai detik ini MAM adalah direktur utama AdiCita Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penerbitan buku-buku anak-anak, pendidikan, dan kebudayaan.


Seabrek pengetahuan yang ia miliki dan segudang pengalamannya di berbagai organisasi sosial-kemasyarakatan dan dunia bisnis menjadikannya sebagai tamu kehormatan pada studi banding Vocational Training di New York, Washington, Baltimore, dan Virginia, USA selama tiga bulan, pada tahun 1994. Kegiatan itu dibiayai oleh The United States Information Agency (USIA) bidang International 1 Visitor.


Perusahaan AdiCita sendiri di bawah kepemimpinannya telah mendapatkan penghargaan Adikarya IKAPI Award, sebuah penghargaan tertinggi di bidang perbukuan yang diterbitkan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) yang diserahkan oleh Presiden RI Megawati Soekarno Putri. Penghargaan Adikarya IKAPI Award diperoleh selama lima tahun berturut-turut sejak tahun 1998 hingga tahun 2002. Penghargaan lain yang pernah diterimanya adalah Kehati Award pada tahun 2001 untuk kategori Citra Lestari Kehati. Penghargaan yang sangat prestisius ini diberikan oleh Yayasan KEHATI (melalui Presiden Megawati Soekarno Putri) untuk keseriusannya menerbitkan buku-buku mengenai pelestarian lingkungan hidup.


Sejak tahun 2003, MAM mendirikan Balai Melayu di kota miniatur Indonesia, Yogyakarta. Apa gerangan yang melatari pendirian Balai Melayu itu?


MAM dan Balai Melayu

Akhir-akhir ini, sebagian besar waktu MAM dihabiskan untuk mengembangkan Balai Melayu. Balai Melayu itu didirikan di atas rasa cintanya yang begitu besar pada budaya Melayu. Kecintaannya pada Melayu tidak sebatas pada pemakaian simbol-simbol kemelayuan yang menempel di gedung yang ia bangun, tetapi sudah mengejawantah ke dalam sikap, prilaku, dan pola pikirnya, yang ia cerap dari tunjuk ajar Melayu.


Sikapnya yang santun merefleksikan penghayatannya terhadap salah satu ajaran Melayu, “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Jika berbicara bahasa Jawa rasanya tidak percaya kalau MAM adalah orang Melayu. Cara bicaranya halus dan medhok, tidak kalah dengan orang Jawa asli. Hal itu mengingatkan kita kepada kisah Laksamana Hang Tuah yang mampu membuat Maha Patih Gadjah Mada tersipu malu karena bahasa Jawanya kalah halus dibandingkan bahasa Jawanya Laksamana Hang Tuah yang orang Melayu itu.


Resah akan pijar tunjuk ajar Melayu yang kian meredup di tengah masyarakatnya, dan galau akan nasib budaya Melayu yang kian tergusur oleh peradaban modern, MAM akhirnya memutuskan untuk berjuang membangun Melayu dari Yogyakarta. Beberapa aktivitas di Balai Melayu digalakkan untuk mendukung cita-cita luhur itu. Pada tanggal 1 Muharram 1428 (20 Januari 2007) Balai Melayu meluncurkan www.melayuonline.com, sebuah pangkalan data (portal) yang mencakup segala hal ihwal Melayu. Setahun kemudian, pada 1 Muharram 1429 (20 Januari 2008) Balai Melayu meluncurkan portal www.wisatamelayu.com. Dan pada 12 Rabi’ul Awal 1429 (20 Maret 2008) Balai Melayu kembali meluncurkan pangkalan data, yaitu www.rajaalihaji.com.


MelayuOnline.com diorientasikan untuk memberikan pencerahan (enlightenment) dan menyatukan puak-puak Melayu di seluruh dunia. Gagasan peluncuran portal ini didasarkan atas kesadaran MAM bahwa sebenarnya semua puak Melayu di dunia memiliki akar sejarah dan budaya yang sama. Kepentingan politik penjajahlah yang kemudian memecah belah bangsa Melayu menjadi beberapa negara bangsa, seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Oleh karena itu melalui MelayuOnline.com ia berusaha merekonstruksi pemahaman akan kesatuan Melayu berdasarkan fakta-fakta sejarah dan budaya.


Adapun WisataMelayu.com diorientasikan untuk membantu bangsa Melayu memperoleh keuntungan dari meningkatnya gairah wisata masyarakat dunia. Melalui dunia maya, MAM mencoba memperkenalkan kepada dunia obyek-obyek wisata sejarah, budaya, alam, religius, kuliner, minat khusus, olah raga, dan belanja, di negara-negara yang berakar budaya Melayu. Kunjungan wisata terbukti secara efektif dapat membangun saling pengertian antara budaya-budaya yang berbeda, saling menghargai, dan secara langsung memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat yang dikunjungi.


Sedangkan RajaAliHaji.com diluncurkan untuk mengapresiasi Raja Ali Haji atas jasa-jasanya yang telah mengangkat martabat bangsa Melayu, terutama melalui bahasa dan sastra. Ide dan pikiran Raja Ali Haji tertulis di beberapa karyanya. Dan, kajian-kajian tentang sosok dan pikirannya terus berkembang hingga dewasa ini. Melihat khazanah pemikiran Melayu yang begitu berharga, MAM berinisitif meluncurkan RajaAliHaji.com agar segala hal tentang Raja Ali Haji dan pikiran-pikirannya terhimpun dalam satu wadah yang utuh. Dengan cara demikian, akan membantu siapa saja yang ingin mengetahui sosok dan pikiran sang tokoh secara mudah.


Ada yang menggairahkan kala kita melihat aktivitas Balai Melayu. Gairah itu dibangkitkan oleh MAM dengan menggandeng orang-orang muda yang merasa dirinya Melayu. Gairah yang dimaksud adalah gairah menghidupkan dan mengembangkan budaya Melayu. Bagi MAM, menjadi Melayu berarti menjadi aktif dan adaptif. Di era gelombang ketiga ini, Melayu harus bergerak cepat, secepat dinamika zaman yang semakin meningkat. Untuk menjadi Melayu tidaklah berhenti pada penyebutan “saya adalah orang Melayu”. Lebih penting dari itu adalah pemaknaan ulang atas kemelayuannya untuk dapat beradaptasi dengan perubahan-perubahan zaman. Namun, dialektika antara orang Melayu dengan zamannya, dalam beberapa kasus, menimbulkan penafsiran yang berbeda antara orang Melayu yang satu dengan lainnya tentang jati diri Melayu. Sehingga sering muncul perselisihan antarpuak Melayu.


Dalam konteks ini, MAM sering melontarkan ide besarnya bahwa bangsa Melayu haruslah bersatu. Saatnya bangsa Melayu berpikir global, tanpa dibatasi sekat-sekat politik, bahasa, ras, geografi, dan agama. Di Balai Melayu, ide dasar Melayu global yang lintas batas sudah dibangkitkan. Kali ini Melayu tidak hanya dimonopoli sekelompok masyarakat saja, tetapi dimiliki siapa saja yang merasa dirinya Melayu. Pandangan MAM yang ditulis di secarik kertas dan disimpan di tas hitamnya menjelma menjadi ide yang mendunia. Ide-ide itu dirangkai di ruang-ruang kecil di Balai Melayu dan didengungkan melalui jejaring dunia maya. Dari sini perjuangan salah satu putra Melayu membangun budayanya benar-benar dimulai. Ia sedang membangun pusaka yang akan dikenang sepanjang masa. Selamat berjuang Bang MAM. (by RI)


Sumber: MahyudinAlmudra.Com


1 comments:

Post a Comment



Jika anda memiliki akun di facebook, silahkan klik tombol FOLLOW THIS NETWORK di atas, atau klik di sini. Jika diminta, loginlah seperti biasa. Lalu klik tombol FOLLOW. Tunggu beberapa saat sampai notifikasi kofirmasi muncul, saat mana anda dapat segera logout. Satu klik dari anda sangat berarti bagi blog ini. Atas semua sumbangsih yang telah diberikan, tidak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebesarnya



KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT DAFTAR SELURUH ARSIP