Tuesday, February 24, 2009

Tuanku Luckman Sinar Basyarsyah II


Sejarawan sekaligus Budayawan Melayu adalah dua identitas yang melekat pada Tengku Luckman Sinar, S.H., Sultan Pemangku Adat Kesultanan Melayu Negeri Serdang yang bergelar Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, S.H. Dua identitas itu sangat jelas terlihat dalam berbagai karya tulis, pemikiran, dan aktivitas beliau. Maka layaklah jika sederet prestasi dan beragam penghargaan, mengisi lembaran kisah kehidupannya.


Parta Kesultanan Serdang

Beliau lahir di Istana Kraton Kota Galuh Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara pada 27 Juli 1933 (Basarshah II, 2008: 118). Kehidupan masa kecil sampai masuk ke dunia pendidikan formal, semuanya dihabiskan di Medan. Berturut-turut beliau menempuh pendidikan formal di Hestel Lagere School di Medan (tamat 1950), R.K. Middlebare Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Medan (tamat 1953), SMA di Medan (tamat 1955), kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara di Medan (Sarjana Muda 1962), dan Pendidikan Kemiliteran LPKW (1963).

Setelah menempuh pendidikan di Medan, pengetahuan Tengku Luckman Sinar semakin lengkap ketika hijrah ke Jakarta untuk menempuh kuliah di Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Jayabaya (Sarjana Hukum 1969). Tidak berhenti sampai di situ saja, beliau juga menjalankan Kursus Manajemen Perkebunan di Bandung (1964). Pada 1976, beliau melakukan penelitian ke Belanda berkat kerjasama antara Pemerintah Republik Indonesia dan Belanda (1976-1980) (Basarshah II, 2005: 266).


Tuanku Luckman Sinar Basarshah II bersama sang permaisuri,
Tengku Hj. Daratul Qamar yang bergelar Tengku Suri Serdang

Suami dari Tengku Hj. Daratul Qamar yang bergelar Tengku Suri Serdang ini memang layak ditahbiskan sebagai “Sejarawan yang Konsisten Mengkaji Sejarah Kebudayaan Melayu”. Sebutan ini diterima beliau ketika mendapat Anugerah MelayuOnline 2009 dalam kategori Sejarawan yang Konsisten Mengkaji Sejarah Kebudayaan Melayu, pada 20 Januari 2009 di Gedung Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta (Tasyriq Hifzhillah, “Milad (Hari Jadi) MelayuOnline.com Ke-II: Anugerah MelayuOnline 2009 untuk Para Pelestari Budaya Melayu, “ tersedia di http://melayuonline.com/news/. Diakses pada 26 Juni 2009).


Tuanku Luckman Sinar Basarshah II ketika menerima
Anugerah MelayuOnline 2009 dalam kategori Sejarawan yang
Konsisten Mengkaji Sejarah Kebudayaan Melayu, pada 20 Januari 2009
di Gedung Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta.

Pentahbisan ini sepertinya tidak berlebihan mengingat kiprah beliau sangat luar biasa dalam menjaga, membina, sampai mengembangkan Kebudayaan Melayu. Tidak kurang dari 35 penulisan karya ilmiah dalam bentuk buku atau majalah, 108 pengalaman di bidang seni dan Kebudayaan Melayu, 215 seminar/ karya ilmiah/ wawancara, serta 294 artikel dan karya ilmiah telah beliau dedikasikan selama ini (Basarshah, 2002: 634-670).

Sebagai putera dari Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah (Sultan Serdang), maka sejak 12 Juni 2002, beliau diangkat menjadi Kepala Adat Kesultanan Serdang bergelar Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, S.H (Basarshah II, 2003: 76). Meski berperan penting sebagai penjaga adat Serdang, beliau juga masih menampakkan sisi kerakyatan yang merupakan sifat bawaan dari ajaran sang ayah. Naiknya Tengku Luckman Sinar menggantikan posisi sang ayah, tidak serta merta menggantikan karakter pribadinya yang tetap dekat dengan rakyat, pengamat Budaya Melayu sejati, dan yang paling penting adalah kebiasaan beliau untuk tetap menulis, baik budaya maupun Sejarah Melayu.


Penobatan Tuanku Luckman Sinar Basarshah II pada 12 Juni 2002
di Tanah Lapang Perbaungan, Kabupaten Serdang-Bedagai,
Provinsi Sumatera Utara. Tampak pada gambar adalah persembahan
kerbau dari masyarakat Serdang Hulu

Kekafahan beliau untuk menjaga adat Melayu tetap terpelihara, meski sejumlah pekerjaan lain juga membutuhkan perhatiannya. Beberapa pekerjaan tersebut antara lain Presiden Komisaris P.T. Banteuka (Eksportir dan Ekspedisi Pertamina Sumatera Utara); Dosen Luar Biasa Etnomusikologi Melayu, Sejarah Sumatera Utara dan Sejarah Kerajaan-Kerajaan di Sumatera Timur pada Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara di Medan; serta kolumnis Harian Waspada (sejak 1987).

Sebagai mantan Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) periode 2001-2004, beliau sadar betul bahwa adat Melayu harus tetap ditegakkan, dipelihara, dan dikembangkan. Pengenalan tentang adat Melayu, tidak hanya dilakukan melalui berbagai seminar semata, tetapi lebih jauh dari itu, beliau juga melakukan penulisan tentang kebudayaan (adat) sampai Sejarah Melayu. Mulai sejarah kerajaan di Sumatera Timur, sejarah Kota Medan, etnomusikologi dan Tarian Melayu, adat perkawinan dan tatarias pengantin Melayu, sampai buku Mengenang Kewiraan Pemuka Adat dan Masyarakat Adatnya di Sumatera Utara Menentang Kolonialisme Belanda (2007).

Bagi Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, proses penggalian sejarah dan Budaya Melayu tidak akan pernah selesai. Alasannya bukan hanya sekadar kapasitas beliau sebagai Kepala Adat Kesultanan Serdang semata, tetapi lebih jauh dari itu, kecintaan beliau akan identitas Budaya Melayu. Kebudayaan Melayu tidak boleh luntur dan sudah merupakan bagian dari tugas beliau untuk tetap memelihara kebudayaan dan memberikan informasi kepada anak muda tentang identitas kemelayuan mereka. Maka tidak mengherankan, ketika ada orang bertanya tentang sejarah Sumatera Utara (khususnya Medan) maupun Kebudayaan Melayu, rujukan pertama pastilah saksi hidup yang bernama Tengku Luckman Sinar, S.H.

Pemikiran

Merenungi pemikiran Tuanku Luckman Sinar Basarshah II adalah perenungan tentang eksistensi Kebudayaan Melayu itu sendiri. Lewat beragam aktivitas, baik tema budaya, akademisi (mengajar kuliah), sampai penulisan, merupakan gambaran tentang kebesaran pemikiran beliau.

Dilihat dari aktivitas yang senantiasa beliau geluti, pemikiran Tuanku Luckman Sinar Basarshah II dapat dipetakan menjadi dua. Pertama, beliau terus mencoba menggali akar Sejarah Melayu. Kedua, beliau concern dengan Kebudayaan Melayu. Kedua pemikiran ini tertuang dalam dua cara. Pertama melalui tulisan, misalnya buku Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur (2002) dan Adat Budaya Melayu: Jati Diri dan Kepribadian (2005). Kedua melalui keikutsertaan beliau dalam berbagai seminar yang bertemakan sejarah maupun Budaya Melayu, baik sebagai peserta maupun pemakalah.

1. Pemikiran Tuanku Luckman Sinar Basarshah II tentang Sejarah Melayu

Pemikiran Tuanku Luckman Sinar Basarshah II tentang Sejarah Melayu, telah teraplikasikan ketika beliau mulai aktif menulis dan berbicara tentang Sejarah Melayu. Sebagian besar penulisannya menyoroti sejarah di seputar Pulau Sumatera, mulai Sumatera Timur (dulu), Sumatera Utara (khususnya Medan), sampai Aceh. Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur (2002) merupakan buku karya beliau yang mengurai sejarah suatu wilayah yang disebut oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai wilayah “Karesidenan Sumatera Timur”. Karesidenan ini terdiri dari wilayah Kerajaan Langkat (yang berbatasan dengan Residensi Aceh), Kerajaan Deli, Kerajaan Serdang (wilayahnya kini dalam Kabupaten Deli-Serdang dan Kabupaten Bedagai), Kerajaan Asahan, Kedatukan di Batubara, Kerajaan Panai, Kerajaan Bilah, Kerajaan Kota Pinang dan Kerajaan Kualuh-Leidong di Kabupaten Asahan dan Kabupaten Labuhan Batu, Kerajaan Simalungun dan Kerajaan-Kerajaan di Tanah Tinggi Karo (Basarshah II, 2002: i).

Sejak zaman purba sampai pasca Kemerdekaan 17 Agustus 1945, dikupas tuntas dalam buku ini. Tidak ketinggalan, dikupas pula berbagai masalah yang melingkupi kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur. Mulai “Politik Kontrak”, “Korte Verklaring” (Pernyataan Pendek), “Zelfbestuurregeling 1919” (Peraturan tentang Pemerintah Kerajaan), “Extraterialiteitcommissie 1926” yang bertujuan untuk melenyapkan wilayah pemerintahan yang otonomi ketika kekuasaan raja sudah mulai lemah (bahkan lenyap), sehingga demokrasi lokal akan berkembang, kasus Negara Bagian (yang diciptakan van Mook), sampai “Revolusi Sosial” di mana raja-raja diturunkan dan kerajaan diambil alih pada 3 Maret 1946 (Ibid.: iii).

Tidak berhenti sampai di Sumatera Timur saja, beliau juga menuliskan secara khusus Sejarah Medan Tempoe Doeloe (2007). Buku yang awalnya ditulis dalam Bahasa Inggris dengan judul The History of Medan in the Olden Time (2008) ini, telah menjadi salah satu buku rujukan ketika para peneliti atau orang awam sekalipun ingin mengetahui tentang asal usul Medan. Sebagaimana disampaikan dalam kata pengantar di buku The History of Medan in the Olden Time (2008),

“This book starts from the overview of the ancient era, then the Islamic Kingdom of Haru in Deli, the migration of the Karo etnic from The High Land to the region of Deli, The Sultanate of Deli and its relationship to the Dutch Indies government...also covers the growth of Medan as the centre of administrative town, the municipality authority, its problem of archeological and architecture buildings” (Basarshah II, 2008: i).

Masih di kajian sejarah, bahkan Tuanku Luckman Sinar Basarshah II juga menulis sejarah tentang kewiraan para pejuang di Tanah Melayu. Sebuah kajian yang jarang diangkat dalam peta penulisan sejarah Nusantara. Seperti salah satu buku beliau yang berjudul Mengenang Kewiraan Pemuka Adat dan Masyarakat Adatnya di Sumatera Utara Menentang Kolonialisme Belanda (2007). Dalam buku ini, beliau menulis bagaimana para pemuka adat dan masyarakat Sumatera Utara melakukan perlawanan terhadap kolonialis Belanda. Mulai perlawanan pemuka dan masyarakat adat di Tapanuli Tengah, kepahlawanan Raja Orahili di Nias, sampai Tengku Usman Husin “Wira Melayu: Pejuang Anti-Kolonialisme/ Pencetus ‘The Confederation of Malay States‘” (lihat buku Mengenang Kewiraan Pemuka Adat dan Masyarakat Adatnya di Sumatera Utara Menentang Kolonialisme Belanda (2007)).

Selain menulis, beliau juga secara aktif ikut dalam berbagai seminar, baik sebagai peserta maupun pemakalah. Dalam “Seminar Nasional Sultan Alam Bagagarsyah” yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar di Hotel Bumiminang, pada 17 Maret 2008, Tuanku Luckman secara khusus mendukung penganugerahan pahlawan nasional pada Sultan Alam Bagagarsyah.

Tuanku Luckman mengemukakan bahwa, “Meskipun secara lahir beliau adalah aparat pemerintahan, tetapi secara batin ia masih dianggap sebagai Raja Alam Minangkabau. Sehingga ia senantiasa berpikir tentang keselamatan rakyat, serta selalu berusaha untuk mengusir penjajah Belanda”. Ini dibuktikan dengan terjadinya perlawanan besar-besaran di seluruh daerah Minangkabau pada 11 Januari 1833 yang dipicu surat dari Sultan Alam Bagagarsyah kepada beberapa orang pimpinan rakyat di daerah Minangkabau. Namun perlawanan yang dirancang itu akhirnya menghantarkan Sultan Alam Bagagarsyah ke penjara. Hingga beliau dibuang ke Batavia sampai meninggal pada 12 Februari 1849. Waktu itu ada tiga kekuatan perlawanan rakyat, yaitu kekuatan Paderi di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol, kekuatan Raja Alam Minangkabau di bawah pimpinan Sultan Alam Bagagarsyah, serta kekuatan pasukan Diponegoro di bawah Pimpinan Sentot Ali Basya (“Dari Seminar Nasional Sultan Alam Bagagarsyah, Layak Jadi Pahlawan Nasional,” tersedia di http://www.padangekspres.co.id/content/view/875/100/. Diakses pada 22 Juni 2009).

Perhatian Tuanku Luckman untuk mengangkat Sultan Alam Bagagarsyah menjadi pahlawan nasional, merupakan kiprah beliau dalam meluruskan sejarah. Di medium seperti seminar inilah, Tuanku Luckman berbicara dengan disertai bukti bahwa pelurusan sejarah tentang kebenaran dari kiprah Sultan Alam Bagagarsyah didasarkan pada bukti yang didapatkan Tuanku Luckman dari dokumen-dokumen Belanda (Ibid.).

Selain Seminar “Dari Seminar Nasional Sultan Alam Bagagarsyah, Layak Jadi Pahlawan Nasional”, Tuanku Luckman juga berperan sebagai pemakalah dalam beberapa seminar dengan tema sejarah lainnya. Seminar-seminar tersebut di antaranya: Ceramah dalam Dialog Angkatan 45 – Generasi Muda Karo dan Pengusulan Pahlawan Karo di Kabanjahe, dengan makalah “Perang Sunggal”, pada 30 Oktober 1988; “Medan Tempoe Doeloe dalam Lintasan Sejarah”, ceramah ilmiah untuk para guru sejarah SMA se-Sumatera di Medan pada 4 Maret 1991; dan “Bandar Tua di antara Muara Sungai Deli dan Sei. Belawan,” dalam Seminar Perhimpunan Pecinta Bandar Lama Pusaka Bangsa (PPBLPB) pada 27 Februari 2006 di Tiara Convention Hall, Medan (Basarshah II, 2002: 646, 647, dan 656).

Seminar di atas hanya beberapa contoh dari ratusan seminar yang telah beliau ikuti, baik sebagai peserta maupun pemakalah. Berbicara di berbagai seminar sampai wawancara oleh berbagai media massa merupakan cara untuk tetap menggali dan mewartakan Sejarah Melayu di Nusantara. Di luar seminar dan wawancara, beliau juga mengajar sebagai Dosen Luar Biasa Etnomusikologi Melayu, Sejarah Sumatera Utara dan Sejarah Kerajaan-Kerajaan di Sumatera Timur pada Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara di Medan. Lewat tatap muka dengan anak muda penerus garis kemelayuan inilah, beliau menularkan berbagai ilmu dan pengetahuan tentang Melayu. Pengenalan secara langsung terhadap penerus tradisi Melayu, merupakan obat yang manjur untuk tetap meneruskan jejak sejarah, budaya, dan tradisi Melayu di Nusantara.

2. Pemikiran Tuanku Luckman Sinar Basarshah II tentang Budaya Melayu

Pemikiran Tuanku Luckman Sinar Basarshah II tentang Budaya Melayu terwakili setidaknya lewat dua hal. Pertama kedudukan beliau selaku Kepala Adat Kesultanan Serdang, Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) periode 2001-2004, serta Pengurus Harian Forum Komunikasi Antar Lembaga Adat (FORKALA) Provinsi Sumatera Utara sesuai SK Gubernur Sumatera Utara No. 189.1/486.K tanggal 12 April 2006. Kedua, lewat tulisan-tulisan beliau, baik yang berbentuk buku, artikel, maupun ratusan karya tulis ilmiah.

Kesenian yang merupakan cabang dari kebudayaan, turut serta pula menjadi salah satu pemikiran dari Tuanku Luckman Sinar Basarshah II. Darah seni Tuanku Luckman Sinar Basarshah II tampaknya didapatkan dari sang ayah, Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah. Seperti dikutip dari Waspada online, diceritakan bahwa Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah merupakan pengayom kesenian Serdang. Salah satu indikasinya adalah pembuatan sebuah teater bangsawan “Indera Ratu” yang melakukan pertunjukan ke wilayah pesisir timur Sumatera dan Kalimantan Barat atas biaya sendiri. Bahkan pada awal abad ke-20, “Indera Ratu” melakukan pentas keliling di berbagai daerah di Jawa, Malaya, dan Singapura dengan membawakan cerita Melayu, salah satunya berjudul “Cempaka Biru”. Cerita ini dilakonkan oleh putera Tuanku Sulaiman sendiri, Tengku Rajih Anwar bergelar Putera Mahkota Kerajaan Serdang dan Tengku Luckman Sinar yang kala itu masih berusia 9 tahun (H.M Said,‘‘Selintas Daerah Serdang Masa Lampau‘‘, Harian Waspada, 3 September 1985 dalam Afrion, “Sultan Sulaiman pengayom kesenian Serdang,” tersedia di http://www.waspada.co.id/index.php?option=com. Diakses pada 22 Juni 2009).

Ketika Tuanku Luckman Sinar Basarshah II naik menjadi Kepala Adat Kesultanan Serdang, perhatian dan pemikiran tentang Kesenian Melayu masih pula terjaga. Bahkan perhatiannya di bidang Kesenian Melayu dikembangkan pula ke tingkat yang lebih luas, yaitu Kebudayaan Melayu. Lembaga adat akhirnya dijadikan medium bagi Tuanku Luckman untuk menjaga agar eksistensi Budaya Melayu tetap terpelihara. Di sinilah Tuanku Luckman Sinar Basarshah II memainkan peran sebagai penjaga gawang Budaya Melayu dari serbuan budaya asing yang datang silih berganti.

Lewat kapasitas ini pula beliau menunjukkan perhatian yang sangat serius tentang pengaruh budaya luar yang mungkin mengancam eksistensi Budaya Melayu. Salah satunya ditunjukkan ketika beliau hadir dalam acara "Coffee Morning" dalam rangka menyerap aspirasi untuk penjaringan anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumatera Utara masa bakti 2008-2011. Dalam acara yang digelar di Aula Badan Infokom Provinsi Sumatera Utara di Medan pada Kamis, 8 November 2008, secara tegas beliau menyampaikan bahwa kini banyak siaran dari media elektronik nasional, terutama televisi swasta di Jakarta, yang materi siarannya terindikasi bertentangan dengan nilai-nilai adat dan budaya daerah masuk ke Sumatera Utara, bahkan beberapa di antaranya dikhawatirkan sudah mengarah kepada hal-hal yang dapat menyesatkan masyarakat. Penjaringan anggota KPID Sumatera Utara yang peduli dengan Adat Melayu, diharapkan mampu memberikan filter yang cukup bisa menjaga eksistensi Budaya Melayu terhadap serbuan budaya luar (“Banyak Siaran Bertentangan Nilai Adat dan Budaya Daerah Masuk Sumut,” tersedia di http://hariansib.com/2007/11/. Diakses pada 22 Juni 2006).

Di sisi lain, Tuanku Luckman Sinar Basarshah II juga sadar betul, bahwa memelihara adat serta budaya, bukan barang murah. Butuh sebuah upaya maksimal dan prima untuk menjadikannya cukup bernilai. Materi sering menjadi alasan mandegnya upaya pemeliharaan kebudayaan ini, tapi frame tersebut tidak berlaku bagi beliau.

Bagi Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, seribu satu jalan akan ditempuh untuk tetap kukuh pada pendiriannya, yaitu tetap berupaya menjaga eksistensi Budaya Melayu. Hal ini setidaknya tercermin ketika beliau hadir dalam Milad MelayuOnline Ke-II yang diadakan oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) di Yogyakarta. Pertemuan ini menghadirkan 4 raja Melayu, yaitu Raja Landak, Drs. Gusti Suryansyah, M.Si.; Raja Sanggau, Drs. Gusti Arman, M.Si.; Raja Palembang Darussalam, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin; dan Raja Serdang, Tuanku Luckman Sinar Basarshah II. Dalam pertemuan yang digelar pada Selasa, 20 Januari 2009 ini, muncul lontaran tentang peran raja sebagai salah satu pemangku Budaya Melayu dalam revitalisasi kebudayaan.

Menanggapi lontaran mengenai peran raja dalam revitalisasi kebudayaan, Gusti Suryansyah, menuturkan bahwa kesulitan terbesar bagi para raja untuk turut serta dalam revitalisasi budaya adalah kurangnya kekuatan ekonomi yang dimiliki. “Semisal yang terjadi dalam Keraton Landak. Untuk melakukan upacara Adat Tumpang Negeri, yang merupakan upacara syukur terhadap panen yang didapat, pihak Keraton Landak harus mengemis dulu kepada pemerintah, agar mendapatkan dana untuk melaksanakan upacara tersebut,” tuturnya. Menanggapi pernyataan dari Gusti Suryansyah, Tuanku Luckman Sinar Basarshah II memaparkan bahwa peran raja dalam revitalisasi budaya dapat saja terjadi, selama ada penyesuaian dengan perkembangan zaman. “Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah melalui industri pariwisata. Keraton yang memiliki khazanah kebudayaan, dapat dijadikan daya tarik bagi wisatawan,” tambahnya (Des Christy, "Milad (Hari Jadi) MelayuOnline.com ke-II: Peran Raja dalam Revitalisasi Budaya Melayu," tersedia di http://www.malaytourism.com/id/news/php. Diakses pada 22 Juni 2009).

Di sinilah pentingnya kreativitas dalam menjaga idealisme untuk memegang teguh tekad dalam memakmurkan Budaya Melayu. Bahkan dalam keadaan yang cukup leluasa untuk melakukan segalanya sekalipun, Tuanku Luckman Sinar Basarshah II pun tetap pada karakter sejatinya, tetap rendah hati, merakyat, dan tetap semangat. Setidaknya sikap ini tercermin dalam keseharian beliau.

“Beliau sungguh seorang lelaki yang sangat bersahaja walau di benaknya sangat sarat pengetahuan. Di rumahnya yang asri di Medan, ia mudah dijumpai sedang mengetik di ruangan yang tanpa AC. Padahal, ia sangat mampu untuk membeli alat pendingin udara yang sudah merupakan barang sehari-hari di kota besar itu” (Kompas, 24 September 2001, dalam Ardhian Novianto, “Tengku Luckman Sinar: Memajukan Melayu Lewat Tulisan dan Teladan,” tersedia di http://ardh14n.multiply.com/journal. Diakses pada 22 Juni 2009).

Lewat kesederhanaan beliau sukses melahirkan ratusan tulisan yang telah terpampang di koran, majalah, jurnal, maupun telah dibukukan. Pemikiran beliau tidak hanya berhenti di ujung lidah saja sebagai orator di berbagai seminar, tetapi telah diwujudkan secara nyata lewat karya tulis yang lebih abadi dibanding kata. Scripta manent verba volant (yang tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan terbang bersama angin), demikian kira-kira ungkapan yang cukup sesuai untuk menggambarkan sepakterjang beliau. Beragam buku bernafaskan adat, kebudayaan, hingga sejarah, telah menjadi tolok pegangan bagi siapapun yang bermaksud belajar tentang Melayu. Mulai sejarah Kota Medan, sejarah Kerajaan-Kerajaan di Sumatera Timur, sampai kewiraan pemuka adat dan masyarakat adatnya di Sumatera Utara menentang kolonialisme Belanda, telah membuka mata setiap insan, betapa luar biasa Kebudayaan Melayu.

Karya

Pentahbisan Tuanku Luckman Sinar Basarshah II sebagai “Sejarawan yang Konsisten Mengkaji Sejarah Kebudayaan Melayu” bukan didapat melalui proses yang singkat. Penyebutan ini didapat karena beliau telah membuktikan dengan melahirkan berbagai karya tentang sejarah maupun Budaya Melayu.

Beliau menulis tidak kurang dari 35 penulisan karya ilmiah dalam bentuk buku/ majalah. Beberapa buku atau majalah tersebut antara lain: Sari Sejarah Serdang (Jilid I dan II di Medan 1971 dan dicetak ulang oleh Departemen P dan K di Jakarta pada 1986); Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur, Medan: Universitas Sumatera Utara Press, 2002; dan Adat Budaya Melayu: Jati Diri dan Kepribadian, Sumatera Utara: FORKALA, 2005 (Basarshah II, 2002: 642-643).


Beberapa tulisan Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, S.H. yang telah dibukukan

Sementara karya lainnya adalah pengalaman yang telah beliau geluti dalam mengkampanyekan budaya dan Sejarah Melayu. Sedikitnya, 108 pengalaman di bidang seni dan kebudayaan Melayu telah beliau lakoni selama ini. Dari angka tersebut, beberapa di antaranya adalah Ketua Bidang Kebudayaan ICM I – ORWIL Sumatera Utara sejak 1991; Diangkat sebagai Kepala Adat/ Ketua Dewan Adat dan Sesepuh Masyarakat Melayu di Sumatera Utara oleh Musyawarah Besar Ke-VIII Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) pada 12 Oktober 2004; dan sebagai Sejarawan dan Budayawan Melayu memberikan bahan tentang masalah konflik Perkebunan Besar dengan Masyarakat Lokal dari Laten ke Manifes yang diselenggarakan Dewan Riset Daerah Sumatera Utara di Medan pada 18 Juli 2006 (Ibid.: 634-641).

Karya lain dalam mengenalkan, memelihara, dan mengembangkan tradisi Melayu, telah beliau lakukan dengan aktif berbicara di berbagai seminar yang bertaraf regional, nasional, bahkan internasional. Tidak kurang dari 215 seminar telah beliau ikuti untuk kelanggengan adat dan Budaya Melayu. Beberapa seminar yang telah beliau ikuti sebagai pemakalah, antara lain: “Riau Selaku Basis Imperium Melayu di Abad ke-16”, Seminar Sejarah Riau di Pekanbaru 1975; “Perkembangan Sejarah Musik dan Tari Melayu dan Usaha Pelestariannya”, dalam Seminar Pesta Budaya Melayu Sumatera Utara di Stabat, Kabupaten Langkat pada 1987; dan “Kasus Kesultanan Pontianak Mempertahankan Hukum Adat Melayu (Adat Melayu Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah)”, dalam Seminar Adat-Budaya Melayu Kalimantan Barat di Ketapang pada 6 Februari 2006 (Ibid.: 642-656).

Selain seminar, beliau juga menulis tidak kurang dari 294 artikel dan karya ilmiah. Beberapa di antaranya adalah: “Mencari Hari Jadi Kota Medan”, harian Bintang Indonesia, Medan April 1971; “Adat Pemimpin dalam Etnosentris Melayu”, Harian Waspada edisi 3 April 2005; dan “Memperingati 140 Tahun Kewiraan Datuk Laksemana Putera Raja Wakil Sultan Serdang di Batubara”, Harian Analisa, edisi 10 Juni 2006 (Ibid.: 657-669).

Penghargaan

Melalui berbagai karya dan dedikasi yang telah beliau berikan, maka tidak berlebihan kiranya jika banyak penghargaan diterima oleh Tuanku Luckman Sinar Basarshah II. Beberapa penghargaan tersebut di antaranya:

  1. Menerima penghargaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI atas peran serta pada Pameran Kebudayaan Indonesia di Belanda pada 1995.
  2. Pemenang Ciptaan Motto untuk Kabupaten Langkat “Bersatu Sekata, Berpadu Berjaya”, di Stabat pada 16 Mei1995.
  3. Menerima penghargaan (menjadi anggota) “Member of the National Geographic Society (AmerikaSerikat)” pada 1 Januari 1997.
  4. Menerima Medali Penerus Jiwa Angkatan 1945 dari DHD-45 Pusat pada 27 Februari 1997.
  5. Dinobatkan oleh Kerapatan Adat Negeri Serdang di depan 8.000 orang wakil rakyat kampung Serdang/ pembesar dan undangan dari Malaysia, Thailand Selatan, Pontianak, Bangka-Bengkalis, Riau, Sumatera Barat, Aceh, Australia, India, dan lain-lain, di Perbaungan pada 12 Juni 2002, bergelar Tuanku Sultan Luckman Sinar Basarshah II, S.H. (Kepala Adat Kesultanan Negeri Serdang).
  6. Menerima Anugerah Sagang pada 6 Desember 2003 di Pekanbaru.
  7. Menerima Piagam Penghargaan Kota Medan dalam hari lahir Medan di Stadion Teladan pada 1 Juli 2004.
  8. Menerima Piagam Penghargaaan dari “Walikota Medan” pada 1 Juli 2004.
  9. Menerima Piagam Anugerah Penghargaan dari Sekretaris Dunia Melayu Dunia Islam sebagai “Tokoh Pemimpin Adat Melayu Serumpun”, yang diserahkan oleh Wakil Perdana Menteri Malaysia, Datuk Sri Najib Tun Razak pada Upacara Sidang Dunia Melayu Dunia Islam ke-6 di MITC Melaka, pada 12 September 2005 (Ibid.: 634-641).
  10. Menerima Anugerah MelayuOnline 2009 dalam kategori Sejarawan yang Konsisten Mengkaji Sejarah Kebudayaan Melayu, pada 20 Januari 2009 di Gedung Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta (Tasyriq Hifzhillah, “Milad (Hari Jadi) MelayuOnline.com Ke-II: Anugerah MelayuOnline 2009 untuk Para Pelestari Budaya Melayu, “ tersedia di http://melayuonline.com/news/. Diakses pada 26 Juni 2009).

(Tunggul Tauladan/tkh/03/06-2009)

Referensi

Basarshah II, Tuanku Luckman Sinar, Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur, Medan: Universitas Sumatera Utara Press, 2002.

..... , Kronik Mahkota Kesultanan Serdang, Medan: Yandira Agung. 2003.

..... , Adat Budaya Melayu: Jati Diri dan Kepribadian, Sumatera Utara: FORKALA, 2005.

..... , Mengenang Kewiraan Pemuka Adat dan Masyarakat Adatnya di Sumatera Utara Menentang Kolonialisme Belanda, Sumatera Utara: FORKALA. 2007.

..... , The History of Medan in the Olden Time cet. 10, Medan: Yayasan Kesultanan Serdang. 2008.

Artikel di Internet

“Banyak Siaran Bertentangan Nilai Adat dan Budaya Daerah Masuk Sumut,” tersedia di http://hariansib.com/. Diakses pada 22 Juni 2006.

“Dari Seminar Nasional Sultan Alam Bagagarsyah, Layak Jadi Pahlawan Nasional,” tersedia di http://74.125.153.132/. Diakses pada 22 Juni 2009

Kompas, 24 September 2001, dalam Ardhian Novianto, “Tengku Luckman Sinar: Memajukan Melayu Lewat Tulisan dan Teladan,” tersedia di http://ardh14n.multiply.com/. Diakses pada 22 Juni 2009.

Des Christy, "Milad (Hari Jadi) MelayuOnline.com ke-II: Peran Raja dalam Revitalisasi Budaya Melayu," tersedia di http://www.malaytourism.com/id/news/php. Diakses pada 22 Juni 2009.

H.M Said,‘‘Selintas Daerah Serdang Masa Lampau‘‘, Harian Waspada, 3 September 1985 dalam Afrion, “Sultan Sulaiman pengayom kesenian Serdang,” tersedia di http://74.125.153.132/ Diakses pada 22 Juni 2009.

Tasyriq Hifzhillah, “Milad (Hari Jadi) MelayuOnline.com Ke-II: Anugerah MelayuOnline 2009 untuk Para Pelestari Budaya Melayu, “ tersedia di http://melayuonline.com/. Diakses pada 26 Juni 2009).

Sumber foto

0 comments:

Post a Comment



Jika anda memiliki akun di facebook, silahkan klik tombol FOLLOW THIS NETWORK di atas, atau klik di sini. Jika diminta, loginlah seperti biasa. Lalu klik tombol FOLLOW. Tunggu beberapa saat sampai notifikasi kofirmasi muncul, saat mana anda dapat segera logout. Satu klik dari anda sangat berarti bagi blog ini. Atas semua sumbangsih yang telah diberikan, tidak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebesarnya



KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT DAFTAR SELURUH ARSIP