Tuesday, February 24, 2009

Dari Leiden Kulihat Deli

Oleh Tengku Ryo Riezqan
Manusia pada dasarnya tumbuh dan berkembang pada suatu lingkungan, yang membentuk karakter, gaya dan cara pandang terhadap kehidupan disekitarnya, pemikiran manusia berasal dari data_base_ memori ( kumpulan kenangan ) yang sudah terekam dalam sel – sel otak, sejak masa anak – anak, remaja hingga dewasa dan kemudian di usia tua, semua data kenangan itu sangat menentukan dalam cara mengambil keputusan dari seseorang terhadap kehidupan pribadinya. Sudah tentu penyerapan memori itu akan berbeda kapasitas volumenya pada masa – masa pertumbuhan, pengkarakteran pribadi, dan kemudian pada masa kristalisasi diri.

Salah satu dari proses hidup manusia adalah mencari jati diri atau pengukuhan identitas personal, hal ini diperlukan untuk bisa menempatkan diri dalam mencari penyesuaian bagi suatu pribadi terhadap lingkungan sekitarnya, segala sesuatu yang terjadi dan berlaku ditatanan kehidupan di muka bumi ini bukanlah hal yang abstrak, identitas sangat diperlukan sebagai energi magnet dalam lingkaran kehidupan, baik dari segi sosial, politik,budaya, hingga idealisme pribadi dan agama.

Dengan identitas itu manusia bisa mengedepankan keberadaan pribadinya atau dengan kata lain sebagai sebuah eksistensi diri, ini adalah seperti suatu manifestasi yang ditawarkan kepada publik untuk bisa dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan-nya, semakin suatu identitas pribadi mampu membuat eksistensi dirinya meluas maka semakin luas kesempatan yang akan terbuka untuknya, seperti hukum alam, hal ini pasti akan berlaku terhadap siapapun.

Ada istilah, bila tak kenal maka tak sayang, istilah yang tidak asing bagi semua orang, untuk itu setiap pribadi perlu untuk memperkenalkan dirinya kepada masyarakat agar setiap pribadi – pribadi itu bisa ikut berputar pada roda kehidupan, mendapatkan posisi dan fungsinya masing – masing, memanfaatkan dan dimanfaatkan oleh lingkungannya, seperti hukum tarik menarik.

Namun, untuk membentuk suatu identitas yang memiliki nilai pada suatu pribadi di kehidupan sosial bukanlah hal yang mudah, banyak faktor yang harus digali dan dikembangkan dalam diri seseorang hingga memiliki nilai lebih dari manusia lain disekelilingnya, karena pada hakikatnya kehidupan itu adalah arena persaingan dalam ruang dan merupakan masa dari sebuah kompetisi, bila kita kaitkan dengan pengertian ruang dan waktu.

Salah satu faktor yang menentukan sebuah usaha pembentukan atau pengukuhan identitas adalah sejarah, untuk itu menurut saya suatu identitas akan kehilangan nilai bila kehilangan sejarah. Setiap pribadi manusia pasti memiliki sejarah, baik secara genetika maupun secara komunal, dari situ sebuah pribadi terbentuk, dari titik itupula sebuah alam pemikiran dan sikap berawal, secara sadar ataupun tidak sadari.

Dalam hal ini saya menyoroti secara khusus tentang perkembangan identitas pada generasi muda Melayu di tanah air, khususnya generasi muda di tanah Deli, baik yang masih menetap dikampung halaman-nya maupun yang sudah memiliki kehidupan di daerah lain. Pada suatu diskusi santai dengan beberapa orang tua, seringkali saya menemui sikap apatis dan rasa cemas tentang kelangsungan eksistensi jatidiri Melayu, yang kian redup dan lapuk oleh zaman, sikap itu timbul atas dasar asumsi bahwa generasi Melayu tidak lagi perduli dengan akar budayanya, tidak menjadikan nilai – nilai budaya itu menjadi pegangan dalam kehidupan sosial ber – masyarakat, dengan kata lain yang lebih khusus bahwa generasi muda Melayu sudah kehilangan resam – nya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu memang terjadi, degradasi atau penurunan kadar budaya dalam diri anak – anak Melayu sudah sedemikian akut-nya, tetapi hal ini tidak bisa hanya disikapi dengan apatis dan cemas, bila dicari pastilah ada sebabnya bak kata orang Melayu, “ tak mungkin ada asap bila tak ada api “, untuk itu dibeberapa kesempatan diskusi saya coba menyampaikan pendapat bahwa generasi muda Melayu bukan tidak perduli kepada budaya dan resam-nya melainkan tidak mampu, ini dikarenakan mereka sudah kehilangan sejarahnya, memang saya sadari bahwa pernyataan saya terkesan ekstrim tapi setidaknya itulah yang saya amati dan saya rasakan sendiri.

Dalam suatu proses kehidupan saat ini, segala sesuatu menuju kearah yang bersifat metropolitan, tidak hanya dibidang pembangunan fisik dan infrastruktur saja namun juga dengan atau tanpa disadari berlaku pada prilaku ekonomi, sosial, politik, pendidikan dan budaya, seperti yang kita ketahui bersama bahwa bangsa kita adalah bangsa yang sedang berkembang, perkembangan kearah mana atau kebentuk apa, saya yakin kita semua merasakan bahwa kita hanya melaju dengan sesuatu yang bersifat abstrak dan saya merasa tidak memiliki kapasitas membahas hal yang begitu kompleks dan abstrak itu lebih jauh lagi, setidaknya untuk saat ini.

Dalam skala nasional, sejarah bangsa ini masih bisa kita akses dengan mudah, tetapi secara lebih spesifik yaitu sejarah masing – masing daerah, etnik atau tradisi suatu suku, tidaklah mudah bisa kita dapatkan, kalaupun ada dan tersedia, masih perlu dipertanyakan tentang akurasi dan ke-absahan dari data – data tersebut, institusi yang dibangun oleh pemerintah untuk memberikan fasilitas kesejarahan memang tidak bisa dikatakan tidak ada, namun belum memadai.

Begitu pula yang terjadi dengan kesejarahan Melayu di Sumatera Utara, perpustakaan atau museum sejarah belum begitu lengkap untuk bisa dijadikan sumber sebuah penelitian, disaat saya mencoba menggali lagi tentang sejarah Melayu dalam rangka mengkaji ulang identitas saya sebagai putera Melayu, saya mencoba mencari data dan informasi sebanyak – banyaknya dan ternyata begitu minim, tetapi saya tidak putus asa dengan mencoba mencari dibeberapa perpustakaan atau lembaga sejarah , tidak hanya di Sumatera Utara, saya juga mengunjungi beberapa tempat di Riau Daratan dan Kepulauan, karena memang memiliki kaitan yang cukup kuat, dengan harapan Riau bisa memberi tambahan informasi yang saya butuhkan, tetapi lagi – lagi saya merasa belum cukup, kemudian saya mencoba untuk melakukan kontak dengan beberapa kawan yang berada di luar negri, seperti Malaysia, Brunei, Singapore, Inggris, Belanda, Jerman hingga Russia dan Jepang melalui media internet, dan juga meng-akses beberapa situs yang memiliki informasi sejarah.

Akhirnya melalui seorang kawan warga negara Belanda, saya bisa mendapat informasi tentang Melayu di Sumatera Utara dari sebuah perpustakaan di kota Leiden Belanda, hasilnya cukup memuaskan hampir seluruh informasi saya dapatkan, dari photo dokumentasi hingga silsilah kerajaan yang pernah ada di Sumatera Utara dari dulu hingga saat ini, saya sangat terkesan dan sekaligus terkejut, begitu lengkap dan terperincinya koleksi mereka tentang kita, tidak hanya tentang Melayu tapi sejarah daerah dan etnis lainpun tersedia, saya kira koleksi – koleksi atau catatan – catatan itu seharusnya dimiliki oleh bangsa kita juga dengan suatu usaha dari pemerintah dan lembaga terkait.

Sungguh saya cukup prihatin terhadap nasib suku – suku di Indonesia yang begitu banyak, tidak hanya sejarahnya yang tidak didokumentasikan secara baik, lebih daripada itu, eksistensi tradisi dari masing – masing suku atau etnis kian memudar dan cepat atau lambat akan hilang sama sekali, padahal seperti yang kita pahami bahwa bangsa Indonesia berpijak pada paham Bhineka Tunggal Ika, dengan kata lain bahwa Negara Kesatuan Repuplik Indonesia terbentuk dari bermacam – macam suku didalam tubuhnya, dengan pengertian yang cukup tegas dan otentik seperti itu seharusnya bermacam – macam suku budaya itu diperlakukan seperti sel – sel atau organ – organ tubuh manusia, yang harus dijaga dan dirawat agar tetap ada dan sehat untuk mampu memberikan daya aktifitas yang optimal, tetapi pada kenyataan-nya yang terjadi adalah lembaga – nya yang menjadi nomer satu dan terus diperindah tetapi elemen – elemen didalamnya dibiarkan dalam kondisi hidup segan mati tak mau, saya menggambarkan hal ini seperti sebuah bendera yang berkibar begitu gagah perkasa dan mempesona tetapi tiangnya dibiarkan berkarat dan lapuk dimakan rayap, seperti gelas berhias emas berlian namun isinya hanya embun yang melekat.

Karena itu kita tidak perlu heran bila bangsa kita sering salah kaprah dalam menyikapi perubahan zaman dalam lingkup perkembangan dunia, seperti ribuan tulisan, artikel, pernyataan, diskusi yang dilemparkan lewat berbagai media di negri ini oleh para pemerhati baik dari dalam maupun luar negri, tentang degradasi budaya yang menyeluruh, supremasi salah satu etnisitas ataupun suatu kelompok terhadap lain-nya yang menciptakan kondisi minoritas dan mayoritas, membuat masing – masing budaya di nusantara semakin kehilangan daya pijakan terhadap akarnya, tak ayal lagi cepat atau lambat akan tercerabut dan kehilangan nilai, dengan otomatis akan membuat negri yang kita diami ini menjadi kropos dan kosong, memberikan kesempatan luas bagi siapa saja yang dianggap lebih maju untuk bisa bercokol dan mengakar pada tatanan prilaku dan pikiran kita semua, dimana kita hanyalah menjadi sasaran empuk dari sebuah catatan grafik perhitungan pasar.

Begitupula dengan kondisi generasi muda Melayu, rasa ketidak pedulian itu timbul sebagian besar karena para generasi yang lebih tua sudah jarang yang mau memberikan suatu pengertian atau pondasi kesadaran bahwa sejarah itu penting ditambah lagi sarana yang kurang tersedia saat informasi itu ingin digali, kondisi ini harus cepat disikapi sebaik mungkin agar anak cucu kita nanti juga tidak mengalami hal yang sama, dimana saat mereka ingin mencari jati diri-nya dan bangsanya harus melakukan riset malah di negri orang lain, seperti surat – surat yang terus mengalir untuk mengisi kekosongan saya, menjawab keingintahuan dan mengajak saya mengembara untuk melihat kampung halaman saya sendiri, dan surat – surat itu adalah e-mail dari Leiden.








Source: Tengku Irham Kelana | www.themalay.com | For
um | Jakarta, Januari 2009


0 comments:

Post a Comment



Jika anda memiliki akun di facebook, silahkan klik tombol FOLLOW THIS NETWORK di atas, atau klik di sini. Jika diminta, loginlah seperti biasa. Lalu klik tombol FOLLOW. Tunggu beberapa saat sampai notifikasi kofirmasi muncul, saat mana anda dapat segera logout. Satu klik dari anda sangat berarti bagi blog ini. Atas semua sumbangsih yang telah diberikan, tidak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebesarnya



KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT DAFTAR SELURUH ARSIP